Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 13 Kurangi Porsi Makanmu
Dengan cepat Arifah mengusap sisa air matanya dipipi. "Hei kenapa ada kucing sebening kamu ada ditempat ini? Apa kamu mempunyai pemilik?" Ucap Arifah meraba leher si kucing berharap ada kalung penanda. Namun itu tak ditemukannya.
"Miau.." Kucing itu menatap Arifah seolah merasa kasihan.
Dengan senyum mengembang, "Mengapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat seperti gadis malang? Tidak punya teman atau keluarga? Ya? Apakah itu yang ingin kamu katakan?" Ia tersenyum getir lalu memeluk kucing itu.
Karena terlalu banyak menangis dan berpikir, akhirnya ia tertidur beralaskan rerumputan, tangannya memeluk kucing itu. Kucing itu belum diberi nama olehnya. Ia akan memberi nama yang tepat nanti.
Beberapa jam kemudian Arifah terbangun dari tidur nyenyaknya, ia tersentak dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya berkali-kali seakan tidak percaya. Ia sudah berada dikasur empuknya. Bukankah aku tadi ditepi danau? Ucapnya membatin. "Siapa yang membawaku pulang kerumah? Dan kucing itu.." Gumamnya. Matanya berkeliling menyusuri setiap sudut ruangan kamarnya, namun tak menemukan seekor kucing yang menemaninya didanau tadi. "Apakah tadi cuma mimpi? Berarti Mami dan Papi masih hidup, syukurlah." Gumamnya lagi sembari memegang dadanya, ia merasa sangat lega.
Beranjak dari tempat tidur dan membuka tirai jendela merah miliknya. Terlihat gelap yang menandakan ia terbangun dimalam hari, ia melirik jam dinding kamarnya sudah menunjukkan angka dua.
"Hoamm.. Sebaiknya aku tidur lagi!" Ia menutup tirai dan kembali ketempat ternyamannya dan memeluk guling kesayangannya. Tidak berapa lama ia pun terlelap, Arifah tidak menyadari jika ada yang memperhatikannya sejak tadi.
***
Aska yang membiarkan Arifah pergi tampak mondar-mandir didepan pagar dihalaman rumahnya. Sesekali mendengar suara langkah kaki ia berharap itu adiknya.
"Arifah kamu kemana." Gumamnya. Aska membiarkannya pergi begitu saja karena berpikir mungkin Arifah ingin menenangkan diri dikamar. Namun setelah kekamarnya, Aska tidak melihat keberadaan adik kecilnya. Ia juga keliling rumah, mencari ke setiap sudut ruangan namun tidak menemukan keberadaan adiknya. Ia bingung harus mencari Arifah kemana, selain menunggunya dirumah.
Hari pun sudah gelap namun Arifah tak kunjung pulang. Aska sangat khawatir, akhirnya ia pergi dengan berjalan kaki dan bertanya pada tetangganya ataupun orang yang sedang lewat dengan menunjukkan foto adiknya yang sedang tersenyum melihat kedepan kamera. Namun tak satupun yang tahu. Aska semakin bingung dan khawatir, ia terus menyusuri setiap gang yang ada di kompleks itu.
"Sudah menunjukkan pukul empat dini hari." Aska melirik jam tangannya. Karena tidak mendapatkan hasil ia berniat mencari adiknya lagi besok. Langkahnya gontai menyesali semua yang telah terjadi, seharusnya ia memberitahu Arifah saat itu juga tidak dengan menundanya, hingga berakibat adiknya pergi darinya.
Sesampainya didepan pagar rumahnya Aska merogoh saku celana sebelah kiri hendak mengambil kunci untuk membuka gembok pagar yang terkunci rapat. Pagar itu menjulang sangat tinggi, bercat cokelat dengan desain menarik dan elegan.
Setelah berhasil membuka gembok pagar ia masuk kedalam dan menguncinya kembali. Ia berjalan dihalaman yang sangat luas dengan rerumputan yang tersusun rapi dan terawat, belum lagi beberapa pepohonan dan bunga yang berwarna-warni terlihat asri menambah kesan mewah rumah itu.
Didepan rumah, perlahan Aska memasukkan kunci yang ia pegang kelubang kecil lalu memegang handle pintu dan membukanya. Aska pun berniat tidur dikamar Arifah, ia merasa sangat bersalah.
Menaiki anak tangga selangkah demi selangkah Aska sampai didepan pintu kamar milik Arifah, ia membaca tulisan kecil, "PERINGATAN!! SEBELUM MASUK BUDAYAKAN KETUK PINTU DULU..!" Bibir Aska tertarik membacanya, "Dasar." Gumamnya.
Tanpa memperdulikan tulisan didepan pintu Aska memegang handle pintu, ia masuk dan menutupnya perlahan. Matanya langsung tertuju ketempat tidur. Seakan tak percaya, Aska berusaha mengucek matanya sekali dua kali dan tiga kali. Bukankah aku tadi sudah berkeliling rumah dan tak satupun sudut rumah ini yang terlewatkan? Kemana dia bersembunyi? Aska membatin.
Aska mendekatinya lalu duduk disampingnya. Ia membelai rambut adik kecilnya dengan lembut, "Mas pikir kamu pergi meninggalkan Mas sendiri. Mas sudah mencari kamu kemana-mana ternyata kamu tiduran disini. Baiklah kita bicarakan lagi besok." Gumamnya bernafas lega dan berlalu pergi meninggalkan kamar Arifah menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar ia berlalu kekamar mandi hendak mengambil wudu untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah selesai dengan acara wudu ia keluar dari kamar mandi lalu mengambil sajadah kemudian Aska menggelar sajadahnya. Ia melakukan shalat dengan khusyuk dan tawadu. Didalam doanya ia menyematkan doa untuk kedua orang tuanya dan adiknya.
Selesai dengan aktifitas shalatnya Aska melipat sajadah. Tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Keningnya mengkerut melihat nomor asing menghubunginya.
"Halo.."
"Halo Pak Aska.." Seseorang dari seberang sana.
Suara laki-laki, membatin. "Ya, siapa disana?"
"Saya Daniel Mananta pengacara dari Pak Kusuma Wijaya, Ayahanda Pak Aska. Maaf sudah mengganggu, ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
Aska mengerutkan keningnya mengingat-ingat pertemuannya dengan Daniel, ya Papi pernah mengajaknya berkenalan dengan pengacara yang dibanggakan Papi padanya, Daniel juga termasuk sahabat dekat Papi. "Oh ya Pak Daniel, katakan apa yang ingin anda bicarakan?"
"Begini Saya akan membacakan surat warisan, saya akan kerumah Pak Aska pukul tujuh nanti. Apakah Pak Aska memiliki waktu itu, karena siang ini Saya akan keluar negeri, jadi Saya tidak ingin menundanya lagi." Ucap Daniel dari seberang.
"Ya tentu saja, saya akan menunggu."
"Baik, terima kasih dan maaf sudah mengganggu."
"Tidak mengapa." Aska mengakhiri obrolannya. Bahkan Papi sudah mempersiapkan semuanya, Aska membatin mengusap wajahnya.
Sejak tadi Aska belum memejamkan matanya, ia sangat mengantuk dan lelah. Perlahan matanya menutup dan langsung masuk kedalam mimpi indahnya bertemu dengan Mami dan Papi. Mereka tampak muda, bersih berseri dengan senyum yang tak pernah putus memandang Aska.
***
Hari ini libur sekolah, Arifah sangat malas bangkit dari tempat tidurnya. "Miauu.." Ia tersentak dan terduduk mencari suara yang tidak asing ditelinganya.
Seekor kucing tengah duduk disamping tubuh Arifah. Ia mengambil kucing itu dan membelainya. "Aku mencarimu tadi malam, kamu kemana, aku kira pertemuan denganmu adalah mimpi. Hah tunggu, berarti Mami dan Papi.." Matanya membulat seolah tak ingin mempercayai apa yang telah terjadi padanya.
Tok.. Tok
Suara itu mengagetkannya.
Karena tak ada jawaban dari dalam, Aska langsung masuk mendekati Arifah. "Ayo adik kecil persiapkan dirimu, kita harus bertemu pengacara Papi pagi ini" Ucap Aska.
Pengacara? Untuk apa? Arifah membatin. Ia ingin menanyakan kebingungannya pada Aska, namun. "Ayo lekas mandi dan kita sarapan dulu. Mas sudah membuatkan nasi goreng spesial untuk adik Mas." Aska tersenyum manis sekali dan berlalu pergi meninggalkan Arifah yang terlihat bingung.
Karena perutnya meronta-ronta minta diisi, Arifah bergegas membersihkan tubuhnya kekamar mandi. Usai mandi dan mengganti bajunya dengan kaos berwarna putih bersih, rok berwarna pink selutut, dan rambut tersisir rapi. Aska yang melihatnya diruang keluarga tersenyum simpul.
Arifah yang melihat Aska diruang keluarga. "Ayo Mas aku sudah sangat lapar." Adunya.
"Baiklah."
Sesampainya dimeja makan Aska menggeserkan kursi untuk Arifah dan juga untuknya. Lalu duduk bersamaan. Arifah menikmati nasi goreng yang sangat enak menurutnya, ia selalu makan makanan yang dimasak Aska dengan lahap.
Melihat Arifah makan dengan lahap, "Mas membuat nasi goreng ini hanya dua porsi saja." Ucap Aska memperjelas.
Mendengar itu Arifah yang belum menyelesaikan nasi gorengnya cemberut mendengarkan penjelasan Aska. Padahal ia sangat lapar pagi ini.
"Kamu harus mengurangi porsi makan, supaya tidak gendut. Lihat pipimu sudah terlihat seperti bakpao saja." Aska meledek sembari menyendok nasi goreng masuk kedalam mulutnya.
Arifah semakin mempercepat sarapannya tanpa memperdulikan ucapan Aska.
Selesai sarapan, Aska membersihkan meja makan dan menyusul Arifah diruang keluarga. Belum sampai diruang keluarga, ia mendengar suara bel.
Ting.. Tong..
"Itu pasti Pak Daniel." Gumamnya. Aska berlari kecil menuju pintu pagar. Dari kejauhan tampak seseorang sedang berdiri didepan pagar dengan pakaian rapi.
Sesampainya didepan pagar Aska membuka dan mempersilahkan Daniel untuk masuk setelah berjabat tangan sebelumnya. Daniel masuk kedalam mobil dan membawanya memasuki rumah mewah dengan halaman sangat luas.
Aska menyusul Daniel yang tengah menunggunya dengan berlari kecil. "Mari masuk Pak daniel." Aska mempersilahkan Daniel untuk masuk kedalam.
Daniel memperhatikan rumah berwarna abu-abu sedangkan cat didalamnya berwarna putih, perabotan disana juga tertata rapi. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah, batinnya.
"Silahkan duduk!" Aska yang memperhatikan Pak Daniel sejak tadi sedikit mengerutkan dahinya.
"Rumah ini tidak ada yang berubah. Padahal Saya sudah lama tidak main kesini." Sembari duduk disofa Pak Daniel melanjutkan ceritanya. "Pak Wijaya seringkali mengundang Saya untuk sekedar makan malam dirumah ini, tapi karena sibuk dengan pekerjaan akhirnya kita sangat jarang sekali bertemu. Terakhir bertemu dengan Pak Wijaya sekitar setengah tahun yang lalu, beliau menitipkan surat warisan ini kepada Saya."
Daniel berhenti sejenak mengingat kenangannya bersama Wijaya sembari meletakkan map berisi surat itu diatas meja. Wijaya adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ia menyandarkan bahunya di sofa dan memperhatikan Aska. "Saya sungguh tidak menyangka Pak Wijaya dan istrinya akan pergi secepat ini, Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya." Ucap Daniel menundukkan wajahnya.
"Terima kasih Pak Daniel. Ini semua sudah takdir, tidak ada yang bisa menghindar dari takdir bukan?" Ucap Aska menahan air matanya mengingat kematian orang tuanya yang tiba-tiba.
"Ya, Anda benar Pak Aska. Kita tidak tahu kapan kematian akan datang. Lagipula kita hidup hanya untuk menunggu mati."
Aska mengangguk mengiyakan ucapan Daniel.
"Dimana Adikmu? Dia pasti sudah besar bukan?" Tanya Daniel.
.
.
.
Jangan lupa like 👍
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️