NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Izin yang Kembali

Ia mulai terlihat seperti pintu yang bisa dibuka.

Pintu pertama ternyata bukan ruang interogasi, bukan sidang lama, dan bukan rumah Dewi.

Pintu itu berada di lantai tiga kantor Dinas Kesehatan Jawa Timur, di ruang rapat yang dingin, rapi, dan penuh map.

Ardi duduk di salah satu sisi meja panjang. Jas putihnya tidak ia pakai. Hari itu ia datang dengan kemeja polos, rambut disisir rapi, dan map dokumen di depan. Di sebelahnya duduk Dokter Fajar. Di ujung meja, Direktur Hendra dari RSUD Soetomo membuka berkas dengan wajah tenang.

Di sisi lain, beberapa pejabat Dinas Kesehatan membaca dokumen tanpa banyak bicara.

Hendro juga ada di ruangan itu.

Ia duduk dua kursi dari Fajar, membawa map sendiri. Wajahnya sopan, tapi mata yang sesekali melirik Ardi menyimpan sesuatu yang tajam.

“Permohonan pemulihan Surat Izin Praktik dr. Ardi Pratama,” kata salah satu pejabat, seorang perempuan berkacamata. “STR masih berlaku, masa hukuman telah selesai, tidak ada catatan pelanggaran baru sejak bebas. Namun ada keberatan tertulis dari pihak internal rumah sakit.”

Semua orang tahu “pihak internal” itu siapa.

Hendro merapikan posisi duduk. “Saya hanya menjalankan kehati-hatian, Bu. RSUD Soetomo melayani masyarakat luas. Kita bicara tentang dokter dengan riwayat pidana malpraktik. Kalau izin praktik dipulihkan terlalu cepat, kepercayaan publik bisa terganggu.”

Kata-katanya terdengar wajar.

Itu yang membuatnya berbahaya.

Ardi tidak langsung membantah. Dulu, ia terlalu sering kalah karena berusaha membuktikan diri di meja yang sejak awal dimiringkan. Hari ini, meja itu harus tetap lurus.

Pejabat lain membuka berkas. “Ada surat dari Kantor Hukum Prabowo & Rekan. Mereka menyatakan tidak ada larangan hukum bagi pemohon untuk mengajukan SIP baru selama STR valid dan fasilitas pelayanan bersedia menampung praktik.”

Hendro tersenyum tipis. “Firma hukum bisa menulis banyak hal. Tapi etik kedokteran tidak hanya soal boleh atau tidak boleh.”

Pintu ruang rapat terbuka.

Pak Lukito masuk dengan langkah pelan, didampingi seorang staf. Wajahnya masih pucat, tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari operasi, tapi kehadirannya membuat kursi-kursi di ruangan itu mendadak lebih tegak.

“Maaf terlambat,” katanya. “Dokter melarang saya terlalu lama keluar, jadi saya akan bicara singkat.”

Pejabat berkacamata berdiri. “Pak Lukito, Bapak tidak perlu memaksakan diri.”

“Justru karena saya hampir mati, saya perlu bicara.”

Ia duduk, lalu menatap semua orang, bukan sebagai pejabat yang menekan bawahannya, tapi sebagai pasien yang membawa tubuhnya sendiri sebagai bukti.

“Saya tidak datang untuk memerintah siapa pun. Saya datang sebagai orang yang diselamatkan di pinggir jalan. Kalau Dokter Ardi tidak berada di ambulans hari itu, saya mungkin tidak duduk di sini.”

Ruangan sunyi.

Hendro membuka mulut, tapi Pak Lukito mengangkat tangan lemah.

“Saya tahu prosedur harus berjalan. Jalankan. Tapi jangan tutup mata pada fakta medis hanya karena masa lalu seseorang lebih mudah dijadikan label.”

Fajar menunduk sedikit, menyembunyikan napas lega.

Direktur Hendra mendorong satu dokumen ke tengah meja. “RSUD Soetomo bersedia memberikan posisi penuh kepada dr. Ardi Pratama sebagai dokter spesialis bedah di bawah struktur instalasi kami. Selama masa transisi, pengawasan klinis sudah dilakukan. Rekam tindakan beberapa hari terakhir juga kami lampirkan.”

Pejabat membuka lampiran.

Transplantasi jantung paralel kiri.

Jahitan kosmetik wajah Rania Ayu.

Stabilisasi trauma Pak Lukito.

Operasi diseksi aorta Pak Haji Qosim.

Nama-nama itu tidak perlu diteriakkan. Mereka berdiri sendiri seperti saksi.

“Ada juga rekomendasi tertulis dari dr. Hasan Mulyadi, Sp.BTKV,” kata pejabat lain. “Beliau menyatakan pemohon menunjukkan kemampuan teknis di atas standar dalam operasi emergensi kardiovaskular.”

Hendro mengepalkan jari di bawah meja.

Ardi melihatnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu membalas dengan kata-kata.

Pejabat berkacamata menatap Ardi. “dr. Ardi, apakah Anda ingin menyampaikan sesuatu?”

Ardi mengangkat wajah. “Saya tidak meminta ruangan ini melupakan masa lalu saya.”

Beberapa orang berhenti membalik kertas.

“Saya hanya meminta kesempatan untuk bekerja dalam prosedur yang benar. Saya sudah menjalani hukuman atas putusan yang dijatuhkan kepada saya. Saya sedang menyiapkan langkah hukum untuk meninjau fakta lama, tapi hari ini saya tidak datang untuk memaksa siapa pun percaya cerita saya.”

Ia meletakkan telapak tangan di atas map.

“Hari ini saya datang sebagai dokter yang ingin kembali menyelamatkan pasien secara legal, terbuka, dan bertanggung jawab.”

Tidak ada kata indah setelah itu.

Tidak perlu.

Rapat berlangsung dua puluh menit lagi. Pertanyaan diajukan. Berkas diperiksa. Keberatan Hendro dicatat, lalu satu per satu kehilangan beratnya di hadapan dokumen, rekomendasi, dan pasien yang masih hidup.

Akhirnya, pejabat berkacamata menutup map.

“Berdasarkan kelengkapan administrasi, rekomendasi fasilitas kesehatan, keterangan pendukung, dan tidak adanya larangan hukum aktif, permohonan SIP dr. Ardi Pratama disetujui.”

Kalimat itu tidak keras.

Tapi bagi Ardi, bunyinya seperti rantai yang putus.

Hendro menatap meja.

Pak Lukito menghela napas lega.

Fajar memejamkan mata sebentar.

Direktur Hendra berdiri dan mengulurkan tangan. “Selamat kembali secara resmi, Dokter Ardi.”

Ardi menjabat tangan itu. “Terima kasih, Pak Direktur.”

Di koridor Dinas Kesehatan, Fajar akhirnya memegang bahu Ardi dengan kedua tangan.

“Selamat, Ardi. Sekarang kamu resmi.”

Ardi menatap map berisi salinan keputusan sementara dan jadwal pengambilan dokumen final. Kertas itu tidak berkilau. Tidak mewah. Tapi beratnya melebihi semua kartu nama, semua janji, semua pujian.

SIP.

Satu lembar izin yang membuatnya bisa berdiri dengan namanya sendiri.

“Pak Fajar,” katanya pelan, “terima kasih sudah mempertaruhkan nama Bapak.”

Fajar mendengus. “Jangan bikin saya menyesal.”

“Saya usahakan.”

“Bukan usahakan. Pastikan.”

Ardi hampir tersenyum.

Malam itu, ia tidak merayakan di restoran. Tidak ada pesta, tidak ada ucapan selamat dari keluarga, tidak ada anak-anak yang bisa ia peluk.

Ia duduk di kamar kost Gubeng dengan semangkuk mie goreng instan, satu telur ceplok, dan salinan dokumen SIP di samping gelas plastik.

Kipas angin tua berputar di atas kepalanya.

Ardi membuka ponsel, menekan tombol rekam suara.

Beberapa detik pertama hanya napas.

Lalu ia berkata, “Gatra, Sari... Ayah sekarang sudah jadi dokter lagi.”

Suaranya berhenti sebentar.

Ia menatap foto kecil di meja.

“Belum bisa Ayah kirim pesan ini. Tapi suatu hari kalian akan dengar. Ayah sedang jalan pulang ke kalian. Pelan-pelan, tapi Ayah tidak berhenti.”

Ia menyimpan rekaman itu tanpa mengirim.

Di depan matanya, panel biru muncul.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Skill Baru Tersedia】 ║

║ ║

║ Status praktik pengguna berubah. ║

║ SIP aktif terdeteksi. ║

║ ║

║ Skill tersedia untuk upgrade: ║

║ ▸ Toksikologi Diagnostik - Pemula ║

║ ▸ Kedokteran Darurat Klinis - ║

║ Pemula ║

║ ║

║ Poin Modifikasi: 60 PM ║

║ Upgrade sekarang? [YA] [NANTI] ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi menatap panel itu, lalu dokumen SIP di meja.

Hari ini ia mendapatkan kembali izin untuk menjadi dokter.

Besok, dunia akan memberinya alasan baru untuk menjadi lebih kuat.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!