NovelToon NovelToon
After Yesterday

After Yesterday

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa / Tamat
Popularitas:96.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xiie Lu

"Tidak semua wanita tidak perawan pandai bermain di atas ranjang, Sialan!"

"But, you still a b*tch," ucap sang lelaki dengan nada sinis, bibirnya menyeringai, mencengkram kuat dagu wanita yang berada di bawah tubuhnya.

Dia bukanlah wanita luar biasa. Tapi mampu menjerat seorang iblis tampan, dia masuk dalam jeratan dan habis dilahap si iblis yang berkedok sebagai bosnya di kelab malam.

Tidak ada senyum, hanya darah dan air mata yang menjadi saksi bagaimana dirinya menjadi santapan harian si iblis.

Karena masa lalunya yang kelam, benarkah si iblis akan melepaskannya atau malah mengikatnya dengan ikatan yang sulit dilepaskan?

---

- Disarankan membaca The Athlete terlebih dahulu.

- Slow update.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

After Yesterday 12

Happy reading!

***

.

Kini Lea paham. Sebesar apapun api, akan padam oleh air. Dan seberapa berharganya kehidupan tidak akan berarti jika uang adalah penilainya. Uang bisa membeli segalanya, termasuk tubuhnya yang sekarang.

Tanpa perasaan, William membuang dirinya ke kubangan serigala, tanpa rasa kemanusiaan, William melemparkan Lea ke neraka yang penuh bara api. Membuat Lea kembali menangis, menyesali kehidupan dan mengutuk dirinya yang tidak berdaya.

Ingin menyerah, tapi jalannya sudah terlalu jauh, Lea tidak bisa mengembalikan waktu. Tubuh Lea yang lemas tertutupi selimut tipis, bergetar hebat akibat perbuatan Bryan. Lelaki itu berhasil menyentuh dirinya. Lea merasa sangat kotor. Bahkan air laut yang membentang luas tak akan mampu membersihkan dirinya.

Isakan kecil lolos dari bibir Lea, terdengar memilukan, menyayat hati lelaki yang baru saja menyetubuhinya. Bryan mematikan rokoknya dan duduk di bibir sofa. Bibirnya merintih pelan, seakan ikut merasakan rasa sakit di hati Lea.

Bukan, Bryan tidak merasakan sakit itu. Dia hanya kasihan, bersimpati pada tubuh Lea yang tidak tahan pada tekanan. Kalimat yang keluar dari mulutnya menyakitkan, merobek jantung Lea yang masih berdebar kencang.

"Aku memberi William mobil Ferarri-ku. Itu harga tubuhmu," ucapnya seraya menyeringai, membelai pipi Lea yang basah oleh air mata. Warna kulit Lea yang sedikit gelap membuat warna merah akibat tamparan Bryan tersamarkan.

"Kenapa menangis? Aku rasa William lebih kasar dariku. Dia memukulmu, bukan?"

Bryan terkekeh. Matanya menatap lekat tubuh Lea yang hanya tertutupi kain tipis. Bryan susah payah menelan ludah. Benar yang dikatakan William, melihat tubuh Lea memang membangkitkan iblis dalam diri. Ada rasa ingin menyentuh lebih, menggerayangi dan merasakan lagi. Bryan tidak puas.

"Sayang sekali, kau sudah dinikmati," gumam Bryan dan menepis kain tipis itu.

Kali ini dia menahan diri, berpaling muka ketika Lea terisak keras. Bryan meyakini diri bahwa wanita malang ini sama dengan wanita yang sering dijumpainya di diskotik, murahan dan tidak berharga. Sama seperti sampah.

Tubuh Lea mungil, sangat pas dalam genggaman tangannya sehingga membutakan mata hati Bryan, menolak untuk melihat air mata dan penolakan Lea tadi. Kesakitan saat Lea menendangnya membuat Bryan brutal, mencekik leher wanita itu sehingga Lea tidak berdaya. Bermain sampai puas, karena harga mobil Ferarri-nya lebih besar dibandingkan tubuh yang sudah dinikmati orang lain. Bagai langit dan bumi.

Lea terus menangis, meratapi nasibnya yang seperti kapas yang terbawa angin. Terbang tanpa tujuan. Tidak peduli pada tubuh telanjangnya yang mungkin akan membangkitkan iblis dalam diri Bryan.

Hanya satu yang ada dalam pikiran Lea saat ini. Dia berpikir sangat keras, mengepal tangan saat bayangan William berlutut sambil memohon pengampunannya. William yang kumuh, William yang tak berdaya, dan William yang telah menjadi miskin.

Lea ingin balas dendam. Satu langkah lagi. Satu langkah lagi dia akan mencapai tujuan itu. Menyadari kenyataan yang mungkin akan lebih pahit dari ini, Lea memaksa menegakkan tubuhnya, memungut piyamanya yang terkoyak di lantai dan memakainya.

"Kau mau ke mana?" tanya Bryan yang sesaat tersadar dari lamunannya.

Lea berbalik, memandang datar Bryan. Dia menggigit bibir bawahnya dan membulatkan tekad.

"Kau harus membayarku, bukan iblis itu."

Bryan tercengang, dia memandang Lea seperti orang bodoh. "Apa?"

"Uang!"

"Kau meminta uang?" Bryan terkekeh mengejek. Dipandangnya lagi tubuh Lea yang masih berbekas karenanya, sunggingan miring terlukis. "Kau bekerja untuk William. Minta bayaranmu padanya."

"Kau yang menikmati tubuhku, Bajiingan!" Lea berteriak. Dia terisak lagi.

Bryan berdiri, memegang pundak Lea lalu berbisik. "Kau tidak pantas dibayar, Jalaang!"

PLAK!

PLAK!

Lea lantas menampar Bryan. Kilatan amarah tersorot dari manik cokelatnya, deru napasnya memburu, siap menerkam siapa pun yang berani melawan. Tidak peduli pada posisinya sekarang, Lea hanya ingin melampiaskan amarahnya pada Bryan. Terlebih pada William, Lea membenci lelaki itu.

"Aku tidak suka berhutang pada orang lain!" Dia berbalik hendak pergi.

"Fuckk! B*tch!"

"Akkkhhh!!!!"

Lea menjerit saat Bryan menarik rambut panjangnya. Lelaki itu juga memutar lehernya sehingga Lea berhadapan lagi dengan wajah Bryan. Tampan, tapi hatinya dikuasai iblis.

"Beraninya kau menyentuhku, Jalaang!"

"Akhhhhh!!!" Lea menjerit lagi ketika rasa sakit di kulit kepalanya terasa. Seolah rambut di kepalanya terlepas.

Lea terkesiap, memejamkan mata ketika tangan Bryan terangkat, ingin menampar pipinya. Jantungnya berdenyut nyeri, sakit seperti tertikam belati. Lea memiringkan kepala, siap menerima tamparan Bryan.

"Dia milikku, kau tidak berhak mengajarinya!"

Lea perlahan membuka mata saat mendengar suara yang tidak asing. Dia menegang. William menahan tangan Bryan.

Wajah lelaki itu sungguh tidak bersahabat, amarah tergambar jelas di sana. Lalu sebuah pukulan mengenai batang hidung Bryan.

"Hanya aku yang berhak melakukan itu."

William menarik Lea dari sana dan melemparkan tatapan peringatan pada Bryan. "Aku sudah tidak menginginkan mobilmu," ucapnya dan membanting pintu apartemen Bryan.

***

Hanya kesunyian mencekam yang membentang di dalam mobil. William mencengkeram kuat kemudi. Rahangnya mengeras, amarahnya sedikit lagi akan meledak, ingin melampiaskannya pada wanita yang terus terisak kecil di samping kemudi.

Melihat kulit tubuh Lea yang tergores mudah membangkitkan amarah William. Ada sesuatu yang menggelitik di bagian terdalam dirinya, ada perasaan tersembunyi yang tidak menginginkan tubuh Lea terluka.

Saat ini, otak dan hati William tidak selaras, berjalan tidak seia sekata dan berbanding terbalik, seperti magnet kutub utara dengan utara yang saling tolak menolak jika didekatkan. Dia berusaha keras menyingkirkan rasa simpati di hatinya, mengatakan pada dirinya kalau Lea tidak pantas dikasihani.

William menginjak pedal gas, melajukan mobilnya lebih cepat lagi tatkala tangisan Lea makin menyayat kalbu. Dalam hitung menit, mereka sampai di tempat tujuan. Tanpa menunggu persetujuan Lea, William membawa tubuh mungil itu masuk ke apartemen pribadinya.

Meski sangat ingin melempar Lea ke lantai yang dingin, tapi otak dan perasaan William lagi-lagi tidak sejalan. Dia mendudukkan Lea di sofa dan mengambil kotak obat untuk mengobati sudut bibir Lea yang berbekas.

"Lakukan sendiri, Jalaang!"

"Aku tidak memintanya," ucap Lea datar. Isakannya perlahan berhenti. Dia melemparkan kotak obat yang diletakkan di atas meja lalu mengumpat, "Bajiingan! Iblis!"

"Akhhhhh!"

William langsung menarik rambut Lea dan memaksa Lea mengikuti langkahnya. "Pungut kembali!" William bertitah kasar dan menekan kepala Lea untuk menunduk, memungut wadah antiseptik yang berserakan di lantai.

Mata Lea kembali memanas, perih di kulit kepala memaksanya melakukan apapun yang dikatakan William, memungut semua barang yang berhamburan di lantai apartemen itu. Tidak hanya antisepetik itu.

"Kau harus paham, Jalaang! Barang bekas tetap tidak akan berharga meskipun dipungut kembali. Setidaknya kau bersyukur karena Bryan menawari hargamu setara dengan mobil Ferarri-nya."

Lea menahan isakan. Dia hendak menegakkan kepala, tapi William menahan.

"Akhhhh! Bajiingan!"

"Kau juga harus mengerti, kau tidak akan dihargai jika kau belum bisa menghargai dirimu sendiri, Jalaang!"

.

***

1
Eviidolarr Eddo
welcome back author
akhirnya up juga
FeVey
huntet aja ya😍
Siti Ramlah
hamidun
Siti Ramlah
mara hunter😍
FeVey
emang ada ya kehidupan seperti ini... kalau pun ada, semoga penderitaannya segera di ganti dengan krbahagiaan...
semangat author...
Dewi Sariyanti
Apa lea hamil???
Rohma Wati Umam
Luar biasa
yhoenietha_njus🌴
thoor jangan lama2 up nya...makin penasaran apa Lea hamil...klo bisa crazy up ya ...hehehe
Dewi Sariyanti
Udah lupa ceritanya ini sampe mana, terakhir inget lea kabur dr william, trus gimana selanjutnya udah lupa, udah hampir 2 thn baru up lagi.
yhoenietha_njus🌴
Luar biasa
Jelita S
lanjutin dong kk
Minanu Suada
ini beneran udah end???
Parwati amiin Parwati
critanya serem
abu😻acii
kadang kesal karakter lea.. ngk tau diri ada yg baik bertahan dgn yg jahat
abu😻acii
lea kok aneh, di siksa masih bertahan
Lilis Ferdinan
apa tujuan lea sebenarnya,,,,, mau bals dendam, atw mau minta dibunuh, atw minta dilecehkan, atw minta disiksa,,,, haduhhhh,, kok ngakak smart yah,caranya lea, mngpa hrs mnyiksa diri dl,,,,,
Lilis Ferdinan
yang sebenarnya sakit jiwa tu wiliam kan,,,,
Veny Tria Kusumanita
klo aq suka lea william...soalnya dari awal pemeran utamanya kan mereka....
unt hunter diberi jodoh yg lebih baik aja kak....tp jodoh berada di tangan kak author😀😀😀😀😀
Imot Thea
sampai sini msh blm ngerti jln ceritanya 🤔😞
Ratna Galeh
ceritamu nggantung thor,aku pikir lea akan hamil trs akhirnya nikah sama willyam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!