NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Air Mata Seorang Ibu

Ruangan masih dipenuhi keheningan. Tatapan Mas Viyan tidak lepas dari wajah Bu Mirna. Sementara buku catatan arisan itu masih berada di tangannya.

"Ma." Suara Mas Viyan terdengar pelan. "Jawab pertanyaan Viyan."

Bu Mirna berkedip beberapa kali. Kemudian beliau menarik napas panjang.

"Iya. Uangnya memang Mama pakai."

Aku menatap beliau tanpa berkedip. Jadi... Uang itu memang tidak pernah hilang.

"Kenapa tadi bilang hilang, Ma?" tanya Mas Viyan.

Bu Mirna menundukkan kepalanya. "Mama malu."

"Malu karena apa?"

"Mama malu kalau dibilang enggak punya uang."

"Tapi kenapa harus sampai bikin Fitri dicurigai?"

Belum sempat Bu Mirna menjawab, air matanya tiba-tiba jatuh. "Apa sekarang Mama selalu salah?"

Aku memejamkan mata pelan. Lagi. Beliau kembali menggunakan cara yang sama.

"Yan...Mama itu capek. Seumur hidup membesarkan kamu sendiri. Ayah kamu kan jarang pulang. Sekarang sedikit saja Mama salah..langsung diinterogasi."

Mas Viyan mengusap wajahnya. "Ma. Ini bukan soal salah. Ini soal Fitri. Mama tadi menuduh Fitri."

"Mama enggak nuduh tadi Mama cuma tanya."

Aku menghela napas pelan. Kalimat itu memang benar. Beliau tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa aku pencurinya. Namun setiap pertanyaannya selalu mengarah kepadaku. Sehingga orang lain akan menyimpulkan sendiri. Dan itulah yang paling berbahaya.

Dinda langsung memeluk ibunya.

"Sudah, Ma. Jangan nangis. Mbak Fitri juga pasti enggak sengaja bikin Mama sedih."

Aku menoleh. "Bikin sedih?"

"Iya. Kalau Mbak enggak ngomporin Abang..enggak mungkin Mama diperlakukan begini."

Aku tersenyum tipis. "Dinda.aku enggak pernah ngomporin. Mas melihat sendiri."

"Ah, alasan." Dinda memalingkan wajah.

Mas Viyan kemudian menutup buku catatan itu. "Ma. Mulai sekarang...kalau ada kebutuhan uang...tolong jujur. Jangan bilang hilang. Apalagi sampai membuat Fitri dicurigai."

Bu Mirna mengusap air matanya. "Iya. Mama minta maaf."

Aku sedikit terkejut. Ini pertama kalinya beliau mengucapkan kata maaf. Namun... Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak tulus.

Malam harinya. Aku sedang melipat pakaian di kamar ketika Mas Viyan menghampiriku.

"Sayang."

"Iya mas?"

"Maafin Mama ya."

Aku menggeleng. "Mas. Yang harus minta maaf bukan Mas."

"Aku tahu. Tapi Mas tetap merasa bersalah."

Aku tersenyum kecil. "Yang penting Mas percaya sama aku."

Mas Viyan mengangguk. "Lambat ya?"

Aku tertawa pelan. "Enggak. Lebih baik terlambat daripada enggak pernah."

Mas Viyan memelukku. "Terima kasih masih bertahan."

Aku membalas pelukannya. "Aku bertahan karena aku menikah sama Mas. Bukan sama masalahnya."

Mas Viyan tersenyum. Kalimatku membuatnya sedikit lega.

Di luar kamar. Bu Mirna berdiri sambil membawa segelas air. Beliau kembali mendengar percakapan kami. Wajahnya perlahan berubah kesal.

"Fitri..." Gumamnya lirih.

"Kamu benar-benar mulai mengambil hati anakku." Beliau mengepalkan gelas di tangannya.

"Kalau begini terus..lama-lama Viyan enggak akan percaya Mama lagi. Dan enggak bisa memanjakan mama lagi dengan uang nya."

**

Keesokan harinya, sebelum aku berangkat, aku lebih dulu menyelesaikan cucian ku dan kini beralih untuk memasak. Disaat yang sama, mertuaku melewati ku dengan membawa cucian baju nya dengan Dinda.

"Ma.. Biar aku" Ucap ku menawarkan bantuan.

"Enggak usah.." jawabnya dengan datar.

Beliau berjalan ke depan rumah untuk menjemur pakaian.

Saat aku sedang menyajikan makanan di meja makan, aku melihat ibu-ibu lain sedang berbicara dengan mertuaku. Namun karena masakan ku yang lain hampir gosong, aku pun berlari kecil ke dalam dapur lagi.

**

Sore harinya, Aku berjalan pulang seorang diri. Langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Tadi di warung depan gang, Aku di teriaki oleh ibu-ibu dari kompleks paling ujung. mereka berkata bahwa aku adalah menantu paling buruk dan mereka juga menyumpahi ku dengan sumpah serapah mereka. karena mereka sudah benar-benar percaya pada cerita mertuaku.

Sesampainya di rumah, Mas Viyan ternyata sudah pulang.

"Sayang."

"Iya, Mas."

"Kok tidak bilang mas, kan mas bisa jemput.. mukanya kok lesu? Marah sama mas?"

Aku tersenyum kecil. "Capek."

Mas Viyan menatapku beberapa saat. "Lihat Mas. Kamu lagi bohong."

Aku akhirnya duduk di sampingnya. Lalu menceritakan semua yang terjadi di pengajian. Dari awal sampai akhir. Tanpa menambah ataupun mengurangi. Mas Viyan mendengarkan dengan wajah yang semakin serius.

Setelah aku selesai bercerita, beliau terdiam cukup lama.

"Aku enggak nyangka..." gumamnya lirih.

"Aku juga enggak mau percaya."

"Tapi ini sudah mulai keterlaluan."

Aku menggenggam tangan suamiku. "Mas. Jangan ribut sama Mama. Aku masih kuat."

Mas Viyan menggeleng. "Bukan soal kamu kuat atau enggak."

"Lalu?"

"Kalau dibiarkan....lama-lama semua orang akan percaya."

Aku menunduk. Aku tahu... Itulah yang sedang diinginkan Bu Mirna. Malam itu, setelah semua orang tidur, Mas Viyan keluar kamar untuk mengambil minum. Tanpa sengaja, langkahnya terhenti di depan ruang tamu. Lampunya masih menyala. Dari balik dinding, terdengar suara Bu Mirna sedang menelepon seseorang.

"Iya, Bu...menantu saya itu pintar cari muka. Kalau depan orang baik sekali. Kalau di rumah beda."

Mas Viyan langsung membeku. Beliau tidak jadi melangkah. Masih dari balik dinding, suara Bu Mirna kembali terdengar.

"Makanya saya pelan-pelan kasih tahu ibu-ibu. Biar mereka tahu sifat aslinya."

Jantung Mas Viyan berdegup kencang. Untuk pertama kalinya... Beliau mendengar sendiri pengakuan ibunya. Bahwa semua cerita yang selama ini disebarkan...Memang dilakukan dengan sengaja. Dan malam itu juga... Kepercayaan Mas Viyan kepada ibunya kembali runtuh sedikit demi sedikit.

**

Mas Viyan masih berdiri di balik dinding ruang tamu. Gelas yang hendak diambilnya masih berada di atas meja. Beliau sama sekali tidak bergerak.

"Iya, Bu...orang-orang sekarang kan gampang percaya kalau kita ngomong pelan."

Suara Bu Mirna kembali terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.

"Kalau saya marah-marah, nanti malah dikira saya mertua jahat. Tapi kalau saya cerita sambil nangis...mereka sendiri yang menyimpulkan."

Mas Viyan mengepalkan tangannya.

Dadanya terasa sesak. Selama ini... Semua perkataan Fitri ternyata benar. Bukan Fitri yang terlalu sensitif. Bukan pula Fitri yang membesar-besarkan masalah. Melainkan ibunya sendiri yang memang sengaja membentuk opini buruk.

"Pokoknya....sedikit demi sedikit saja.Biar semua orang tahu seperti apa menantu saya."

Bu Mirna kemudian tertawa pelan. Tawa yang selama ini tidak pernah didengar Mas Viyan saat beliau sedang "bersedih". Beberapa detik kemudian, telepon ditutup. Mas Viyan buru-buru masuk ke dapur sebelum ibunya keluar. Ia mengambil segelas air putih, lalu kembali ke kamar dengan wajah yang sangat muram.

Aku yang masih membaca buku di atas tempat tidur langsung menoleh.

"Mas?"

"Iya."

"Kok lama?"

"Tadi ambil minum."

Aku memperhatikan wajahnya. Tatapannya kosong.

"Mas..."

"Ada apa?"

Mas Viyan duduk di sampingku. Ia memegang kedua tanganku.

"Sayang."

"Iya?"

"Maafin Mas."

Aku tersenyum bingung.

"Lho, kenapa lagi?"

"Karena selama ini...Mas terlalu sering meminta kamu bersabar."

Aku mulai merasa ada sesuatu yang terjadi. "Mas habis dengar apa?"

Mas Viyan menarik napas panjang. Lalu menceritakan seluruh percakapan yang baru saja ia dengar. Tak satu kalimat pun yang ia lewatkan. Aku hanya bisa terdiam. Bukan karena terkejut. Melainkan karena akhirnya... Ada saksi yang mendengar sendiri.

"Jadi...Selama ini benar ya?" Tanya Mas Viyan lirih.

Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas."

"Makanya aku sering bilang...Mama enggak pernah memfitnah secara langsung.Tapi beliau membiarkan orang lain menyimpulkan sendiri."

Air mata Mas Viyan mulai menggenang. "Aku benar-benar enggak kenal Mama lagi."

Aku menggenggam tangannya. "Mas...Beliau tetap Mama Mas.Tapi apa yang beliau lakukan memang salah."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!