NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Bawah Lampu Temaram

Udara malam mendadak terasa hampa dan menyesakkan dada.

Rian melangkah maju setengah langkah, menyeringai puas di bawah temaram lampu jalan.

Ia mengira ancamannya kepada Kirana akan membuat Andra bertekuk lutut seketika.

Namun, ia salah besar membaca siapa pria yang berdiri di hadapannya saat ini.

Andra tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun di wajahnya.

Sebaliknya, tatapan mata pria itu berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.

Suhu di lorong sempit itu seolah membeku dalam hitungan detik.

Para pengawal bayaran Rian bahkan mulai merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

"Kau salah memilih sandera, Rian," suara Andra berbisik pelan namun tajam menyayat malam.

Sebelum Rian sempat membalas ucapan itu, Andra sudah bergerak secepat kilat.

Tubuhnya melesat maju menembus jarak di antara mereka dalam kedipan mata.

Satu tendangan keras langsung menghantam telak dada pemimpin pengawal di sebelah kiri Rian.

Bugh!

Pria berbadan tegap itu terpental ke belakang, menabrak dinding kayu hingga ambruk tak sadarkan diri.

Suasana yang tadinya tegang mendadak berubah menjadi kekacauan brutal.

"Habisi dia sekarang juga!" teriak Rian panik sambil melangkah mundur menjauh.

Tiga orang pengawal berjas hitam langsung menyerang secara bersamaan dari berbagai arah.

Mereka mengayunkan pisau taktis tajam untuk melumpuhkan Andra.

Andra sama sekali tidak gentar menghadapi serangan keroyokan tersebut.

Ia menunduk menghindari tusukan pertama yang mengarah ke lehernya.

Lalu ia memutar tubuhnya dengan gesit, menyikut rahang penyerang di sebelah kanan.

Kriet!

Suara tulang berderik pelan diiringi erangan kesakitan dari sang preman bayaran.

Pria kedua tersungkur mencium tanah dengan hidung berdarah-darah.

Andra menangkap pergelangan tangan penyerang ketiga yang memegang pisau.

Dengan gerakan tangkas, ia memutar lengan itu ke belakang hingga terdengar bunyi retakan.

Pisau tajam itu langsung berpindah tangan ke genggaman Andra.

Dalam waktu kurang dari satu menit, tiga orang profesional langsung lumpuh tak berdaya.

Rian yang melihat kejadian itu dari jarak dekat menelan ludahnya dengan susah payah.

Wajah pucat pasi menghiasi raut muka pria licik tersebut.

Ia tidak menyangka mantan bosnya itu masih memiliki kecepatan dan insting membunuh yang setajam dulu.

"Setan... kalian semua benar-benar tidak berguna!" maki Rian pada sisa anak buahnya yang mulai gemetar.

Andra melangkah perlahan mendekati Rian dengan pisau di tangan kanannya.

Ujung pisau itu menyeret aspal jalanan, memercikkan sedikit bunga api kecil di kegelapan.

Setiap langkah kaki Andra terdengar seperti lonceng kematian bagi Rian.

"Mau lari ke mana lagi, Rian?" tanya Andra dengan nada suara datar tanpa ampun.

Rian terus mundur hingga punggungnya membentur bodi mobil SUV hitam miliknya.

Ia meraba saku jasnya dengan tergesa-gesa, mencari sesuatu untuk menyelamatkan nyawanya.

"Jangan mendekat, Andra! Atau wanita itu benar-benar bernasib buruk!" teriak Rian putus asa.

Rian menekan sebuah tombol kecil pada alat komunikasi di tangannya.

"Masuk ke dalam warung sekarang dan tangkap perempuan itu!" perintah Rian.

Mendengar instruksi itu, mata Andra melebar seketika.

Ia menyadari masih ada satu regu cadangan yang menyelinap dari arah belakang warung.

Jantung Andra berdegup kencang memikirkan keselamatan Kirana di dalam sana.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Andra mengabaikan Rian yang ada di hadapannya.

Ia berbalik badan dan langsung berlari kencang menuju pintu masuk warung.

"Kirana!" batin Andra berteriak cemas di dalam hati.

Di dalam warung yang sunyi, suara pintu belakang terdengar terbuka perlahan dengan bunyi derit yang menyeramkan.

Kirana yang berdiri di dekat meja kasir langsung menoleh dengan mata terbelalak ketakutan.

Dua orang pria asing berbadan besar tampak melangkah masuk ke dalam ruangan dengan seringai jahat di wajah mereka.

Kirana melangkah mundur hingga tubuhnya membentur rak botol sirup di sudut ruangan.

"Mau apa kalian?!" suara Kirana bergetar hebat menahan rasa takut yang teramat sangat.

Salah satu penyusup tertawa kecil sambil mendekatkan langkahnya ke arah Kirana.

"Bos kami hanya ingin menitipkan pesan untuk suamimu, Nyonya," ucap pria berbadan gempal itu.

Pria itu mengulurkan tangan kasarnya untuk mencengkeram pergelangan tangan Kirana.

Kirana menjerit kecil sambil berusaha meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri.

Namun tenaga wanita itu tentu tidak sebanding dengan postur tubuh preman bayaran tersebut.

Tepat saat tangan kotor itu hampir menyentuh kulit Kirana, dinding kayu di samping mereka mendadak jebol.

Brakkk!

Kayu-kayu lapuk berhamburan ke segala arah diiringi hantaman tubuh manusia yang sangat kuat.

Andra melompat masuk menembus dinding warungnya sendiri dengan kemarahan yang sudah di ubun-ubun.

Pria yang hendak menyentuh Kirana itu bahkan belum sempat berbalik ketika tinju maut Andra telak menghantam wajahnya.

Wajah preman itu hancur seketika, tubuhnya terpental jauh menabrak meja makan hingga hancur berkeping-keping.

Satu preman lainnya tertegun kaget melihat temannya tumbang dalam sekali pukul.

Sebelum ia sempat mencabut senjata dari pinggangnya, Andra sudah menerkam leher pria itu.

Andra membanting tubuh preman tersebut ke lantai keramik dengan suara dentuman yang sangat keras.

Preman itu langsung kejang-kejang dan pingsan seketika tanpa sempat melawan.

Suasana di dalam warung mendadak kembali hening setelah kekacauan singkat yang menegangkan itu.

Napas Andra memburu hebat, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap-luap.

Ia segera berbalik badan untuk memastikan kondisi istri tercintanya.

Kirana berdiri mematung di sudut ruangan dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.

Tubuh wanita itu gemetar hebat karena syok luar biasa menyaksikan kekerasan di depan matanya sendiri.

Andra melangkah cepat mendekati Kirana, lalu merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam dekapan hangatnya.

"Sstt... tenanglah, Kir. Aku ada di sini. Tidak ada yang boleh melukai kamu," bisik Andra lembut sambil mengelus rambut istrinya.

Kirana memeluk pinggang suaminya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Andra.

"Aku takut, Mas... aku takut sekali..." tangis Kirana pecah dalam pelukan sang suami.

Andra mengecup puncak kepala Kirana dengan penuh rasa bersalah dan kasih sayang yang mendalam.

Ia sadar betul bahwa musuh-musuhnya tidak akan pernah berhenti selama ia masih berada di tempat ini.

Perlindungan sederhana yang ia bangun bersama Kirana kini telah terancam sepenuhnya.

Namun, di balik rasa tenangkan yang ia berikan kepada sang istri, pikiran Andra berputar sangat cepat.

Rian pasti tidak datang seorang diri dan masih menyimpan rencana cadangan yang lebih mematikan.

Andra perlahan melepaskan pelukan Kirana, lalu menatap lekat-lekat mata istrinya yang basah karena air mata.

"Kir, dengar baik-baik," kata Andra dengan suara tegas namun penuh kelembutan.

"Kamu harus tetap di dalam ruangan rahasia di bawah lantai ini sekarang juga."

Kirana menggelengkan kepalanya cepat, menolak perintah tersebut dengan isak tangis.

"Nggak mau, Mas! Aku mau ikut sama kamu! Kita pergi dari sini sekarang!" mohon Kirana dengan suara parau.

"Kita akan pergi, tapi tidak sekarang," jawab Andra sambil memegang kedua bahu istrinya erat.

"Ada urusan yang harus aku selesaikan sampai tuntas di luar sana supaya kita bisa hidup tenang selamanya."

Sebelum Kirana sempat membantah kembali, suara ketukan sepatu pantofel yang ramai tiba-tiba terdengar mendekat dari halaman depan warung.

Prok... prok... prok...

Suara tepukan tangan yang bernada mengejek memecah keheningan malam dari arah pintu yang terbuka lebar.

Andra menolehkan kepalanya perlahan ke arah pintu depan dengan tatapan yang kembali menajam.

Di ambang pintu yang rusak akibat hantaman tadi, Rian berdiri tegak sambil tersenyum lebar.

Di belakang Rian, puluhan orang berbadan tegap dengan senjata lengkap kini telah mengepung seluruh area warung kecil itu.

Mereka membawa senjata api laras pendek yang diarahkan langsung ke dalam ruangan.

"Luar biasa pertunjukan yang kau berikan, Tuan Besar," puji Rian dengan suara lantang bernada sarkastis.

"Tapi sayangnya, permainan kecil ini harus segera diakhiri demi kebaikan kita semua."

Rian melangkah masuk lebih dekat, matanya melirik sekilas ke arah Kirana yang masih berlindung di belakang punggung Andra.

"Serahkan wanita itu dan dokumen perusahaan yang kau sembunyikan, atau tempat ini akan rata dengan tanah bersama kalian berdua."

Andra tidak menjawab ancaman tersebut.

Ia perlahan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam pekat, lalu menekan sebuah tombol tersembunyi di atasnya sambil tersenyum dingin.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!