Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Cemburu
Kelakuan Arsen yang menurut Ananta agak berlebihan membuat suasana seketika menjadi canggung.
"Pacarnya, ya, bu. Maaf kalo begitu." Pendidik laki laki itu menarik lagi uluran tangannya yang memegang gantungan kunci tadi. Seketika jantungnya berdebar keras ketika melihat merek jam tangan yang dikenakan pengawal itu.
Kw? batinnya mencoba mengamati lebih teliti. Tapi kilauan butiran kecil di sekeliling plakat jam itu membuat dia yakin kalo dugaannya salah.
Lagi pula kalo merek kw pun tetap tidak akan murah, batinnya lagi.
Siapa laki laki ini? Bos yang menyamar? Banyak pertanyaan bergema dalam hatinya. Karena penampilan laki laki ini sangat biasa sekali, kecuali jam tangannya.
Ananta hanya mengangguk tanpa klarifikasi yang jelas. Dia berusaha tetap tenang sambil menerima pemberian Arsen. Dia masih ragu untuk menjawab siapa Arsen baginya. Menurutnya bukankah lebih baik Arsen sendiri saja yang mengatakannya. Toh, dia yang memulai kesalahpahaman ini.
"Calon istri saya tidak menerima pemberian dari orang lain."
Akhirnya suara Arsen terdengar juga. Yang makin membuat suasana tambah ngga enak.
Harusnya Ananta senang karena keinginannya dikabulkan, tapi dalam situasi ini kalimat Arsen terasa sombong.
Kenapa dia ngga bilang iya, aja, batin Ananta mengoreksi dengan.perasaan kesal.
Arsen mengeluarkan black cardnya yang membuat orang orang di sana makin tertegun dan terkesiap.
Masa pengawal punya black card? Itu mungkin yang ada di dalam benak mereka.
Ananta menggeret cepat tangan Arsen agar menjauh bersamanya dari tatap tatap tertekan teman mengajarnya. Tentu saja setelah membayar gantungan kunci itu dengan koin yang sudah ditukarnya dengan sejumlah uang.
"Kamu kenapa, sih, pake koin aneh itu bayarnya. Memangnya laku?" Arsen memaksanya untuk berhenti.
"Memangnya kamu ngga dikasih tau atau baca papan pengumuman waktu masuk ke sini?" Ananta balik bertanya. Kelakuan Arsen sama dengan neneknya yang juga tadi mau membayar belanjaannya dengan black card. Pengawal neneknya Arsen yang akhirnya menukarkannya ke pintu masuk, menggunakan uang di dalam dompetnya. Tapi dia ngga khawatir karena neneknya Arsen membayarnya melebihi uang yang dia keluarkan.
Arsen menggelengkan kepalanya.
"Lagi pula masa di dompet kamu ngga ada uang lima puluh ribuan?" omel Ananta lagi tapi kemudian menyesalinya ketika melihat.Arsen mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan isinya sambil menyimpan black cardnya yang ngga laku tadi.
"Kalo dulu aku punya beberapa euro di dompet. Tapi sekarang aku ngga ada uang cash," sahut Arsen sambil mengenang masa lalunya saat masih menjadi model.
Tadi harusnya dia membawa Keto juga ke sini, pasti di dompetnya punya banyak uang cash, batinnya agak menyesal sambil menyimpan dompetnya ke dalam saku celananya.
Ananta terdiam. Kekesalannya lenyap. Dia tau maksud ucapan Arsen, itu pasti saat dia belum ditemukan papinya. Sekarang isi dompetnya hanya kartu kartu saja yang tidak berguna saat di sini.
Jangan jangan tadi Tante Jesi membayar belanjaannya karena dia belum menukar uangnya.
"Aku akan telpon Keto agar datang ke sini dan bawa uang cashnya." Keto pengawalnya tadi yang mengantarnya dan masih menunggunya di dalam mobil.
"Keto?"
'Tadi aku diantar Keto ke sini. Pe ," sahut Arsen sambil mengambil ponsel di dalam saku celananya. Bermaksud menelpon Keto.
"Pengawalku," lanjut Arsen setengah menyindir.
Ananta menahan senyumnya.
"Sudah, ngga usah. Aku sudah nukar cukup banyak koin." Ananta menunjukkan satu kantong plastik ukuran satu kilo yang dia keluarkan dari dalam tasnya.
Ananta sudah mengantisipasi agar kejadian neneknya Arsen tidak berulang lagi pada cucunya. Jadi setelah menemani Nyonya Widari belanja tadi, dia menukar uangnya untuk membeli koin yang akan dia serahkan pada Arsen kalo dia jadi datang.
"Kamu mengharap aku datang, ya." Arsen tersenyum miring. Perasaan sebalnya juga sudah menguap dari hatinya. Tapi tidak dengan tingkahnya.
"Enggak juga, sih. Mau kamu datang atau engga, koin ini tetap akan aku habiskan," ngeles Ananta dengan wajah merona. Dia jadi sedikit salah tingkah karena tatap tajam Arsen ke dalam manik matanya. Laki laki itu seakan tau yang ada dalam benaknya.
Arsen tertawa pelan karena gadis di depannya kelihatan sekali tidak mau jujur.
"Oke, oke. Aku hanya antisipasi kalo saat kamu datang dan kamu ngga sempat nukar koin. Jadi aku sudah sediakan." Terpaksa Ananta mengakui dengan pura pura kesal karena menahan malu. Tatapan Arsen menggetarkan hatinya.
"Ngaku, kan, ngga susah." Arsen masih menertawai Ananta yang wajahnya sudah berubah masam.
"Itu juga karena nenek kamu. Beliau tadi membayar dengan black cardnya. Sama seperti kamu," rutuk Ananta mangkel melihat Arsen yang senang sekali melihatnya harus melakukan validasi.
"Nenek udah ke sini?" Tawa Arsen terhenti, wajahnya berubah ngga nyaman.
"Ya, dia sempat nanyain kamu."
Arsen teringat beberapa kali neneknya mengirimkan pesan jangan lupa datang. Atau masih belum datang juga?
Rupanya nenek sudah datang. Pantas saja, batinnya.
Apa kata Ananta tadi? Neneknya juga mau bayar pake black card?
Seolah ada batu es yang jatuh ke hatinya. Dinginnya sangat menusuk.
"Kalian jadi mirip." Ananta tersenyum manis saat melihat Arsen terdiam.
Arsen mengalihkan pandangannya. Kalo Ega ngga wafat, dia ngga akan dipanggil untuk menikmati semua ini, batinnya ngga suka.
"Lingerienya jangan lupa kamu coba-in dulu. Aku hanya mengira ngira saja ukurannya." Arsen mengalihkan topik pembicaraan setelah beberapa lamanya terdiam. Dia senang melihat Ananta menjadi salah tingkah.
Sekarang gantian Ananta yang terdiam. Pipinya merona lagi.
"Hemm ...," jawab Ananta sambil menatap ke arah stand stand yang nantinya akan mereka tuju. Pembicaraan lingerie sangat sensitif. Apalagi Arsen membicarakan ukuran.
Ananta menghembuskan nafas kesal.
"Nanti kalo ukurannya kurang las, kasih tau aja. Aku akan beli lagi," goda Arsen. Dia lebih suka topik yang ini dari tentang nenek dan masa lalunya.
Ananta menatap garang. Gara gara ucapan vulgar tanpa sensor itu, tubuhnya jadi meremang lagi.
"Jangan salah paham. Pegawai tokonya yang ngasih tau kalo ukuran dada perempuan berbeda beda."
Warna wajah Ananta sudah sangat matang merona dan dia ingin segera masuk ke dalam perut bumi saja rasanya saat ini.
"Atau kamu mau aku tes dulu?" canda Arsen yang makin senang melihat perubahan warna kulit wajah dan leher Ananta.
Ananta mengacuhkan tawa Arsen yang berderai. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan laki laki me-sum itu.
Arsen dengan gaya coolnya, masih tetap mempertahankan tawanya, berjalan menyusul Ananta.
Sebenarnya dia hanya menggoda gadis itu aja. Saat malu, wajahnya bertambah cantik. Kalo soal ukuran, sekali lihat saja, walaupun masih dalam terbungkus pakaian, Arsen sudah langsung tau.
Pengalamannya selama jadi model membuatnya ahli menebak bagian sensitif tersebut.
Kini mereka berada di stand yang menjual lukisan yang khas anak anak banget.
Seperti tadi rekan pendidiknya menatapnya kepo. Begitu juga beberapa wali murid yang ada di sana.
Tapi Arsen sudah tidak seekstrim tadi karena tidak ada yang berani merayu Ananta seperti di stand tadi.
"Kita beli agak banyak untuk kamar anak kita nanti," bisik Arsen membuat tangan Ananta jadi terhenti saat sedang memegang satu lukisan yang cukup manis menurutnya.
"Pak Arsen?" tegur salah satu wali murid Ananta, seorang laki laki berusia empat puluh tahun.
Perhatian keduanya langsung teralihkan.
Ananta tau siapa wali murid yang barusan menyapa Arsen, beliau adalah ketua komite anak didik di sekolahnya. Pak Johan.
Arsen hanya butuh waktu satu detik untuk mengenali rekan bisnisnya. Dia pun menyambut uluran tangan laki laki itu dengan senyum ramah.
Akhirnya ada juga yang kenal, batinnya tergelak. Dia masih ngga terima dikatakan sebagai pengawal Ananta.
'Maaf, saya lama mengenali anda," jujur Pak Johan mengaku. Karena style Arsen tampak biasa saja. Beda dengan dirinya yang datang lengkap dengan jas mahalnya.
"Tidak apa apa, pak."
"Oh ya, jadi Bu Ananta calon istri anda. Saya sudah mendapatkan undangannya."
Beberapa pendidik dan wali murid yang ada di sana terlihat kaget sambil menatap Ananta yang nampak canggung.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?