Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Pagi setelah penculikan, halaman depan villa Keira berubah menjadi taman mawar.
Tiffany yang pertama melihatnya. Gadis kecil itu berlari turun masih memakai piyama bergambar bintang, lalu berhenti di depan pintu dengan mulut terbuka.
"Mommy!"
Keira keluar dari ruang kerja. Ethan menyusul dengan rambut acak-acakan. Rio berdiri di dekat pagar, tampak antara ingin tertawa dan ingin melapor sebagai ancaman keamanan.
Di depan pintu, 999 mawar merah tersusun dalam kotak-kotak besar. Di tengahnya ada amplop hitam dengan tulisan tangan rapi.
Keira mengambil amplop itu.
Terima kasih sudah menyelamatkan Darren.
Di bawah kalimat itu, ada kartu tambahan Black Card. Tulisan berikutnya membuat alis Keira naik.
Hanya ada satu kartu tambahan. Mulai hari ini, milikmu.
Kevin Hartono.
Ethan bersiul kecil. "Mommy, orang kaya itu sedang mengejar Mommy."
"Jangan panggil orang kaya itu."
"Baik. Pak Kevin yang sangat kaya sedang mengejar Mommy."
Tiffany sudah masuk ke antara bunga. "Daddy romantis!"
Keira menatapnya. "Tiffi."
Tiffany membeku, lalu tersenyum manis. "Maksud Tiffi, calon Daddy romantis."
Rio menutup mulut dengan tangan.
"Kembalikan," kata Keira.
Rio mengangguk. "Bunganya juga?"
Keira menatap mawar yang memenuhi halaman. Aroma manisnya menyebar sampai ke ruang tamu. Ia ingin berkata iya. Ia benar-benar ingin.
Namun di kepalanya muncul gambar Kevin masuk ke gudang dengan wajah pucat karena takut kehilangan Darren. Pria itu tidak bertanya kenapa Darren memanggilnya Mommy di depan semua orang. Ia hanya menyampirkan jas dan memastikan anaknya aman.
"Kartunya saja," kata Keira akhirnya.
Ethan menatap Tiffany.
Tiffany menatap Ethan.
Keduanya tersenyum.
Setengah jam kemudian, Kevin datang sendiri membawa tiga kotak hadiah. Keira menerimanya di ruang tamu dengan wajah yang berusaha tetap dingin, sementara anak-anak duduk terlalu rapi di sofa.
"Aku datang untuk berterima kasih langsung," kata Kevin.
"Anda sudah mengirim satu kebun."
"Mawar lebih sopan daripada mengirim tim keamanan."
"Keduanya berlebihan."
"Untuk Darren, tidak ada yang berlebihan."
Keira tidak bisa membantah kalimat itu.
Kevin meletakkan kotak pertama di depan Ethan. "Untukmu."
Ethan membuka sedikit. Matanya langsung berbinar. Tablet edisi terbatas dengan spesifikasi yang bahkan belum masuk pasar Indonesia.
"Ini suap?"
"Hadiah."
"Bedanya tipis."
Kevin menatapnya. "Kalau suap, aku minta imbalan."
"Apa?"
"Jaga Mommy-mu. Jangan membuatnya khawatir dengan masuk sistem keamanan sembarangan."
Ethan menutup mulut. "Mommy melapor?"
Keira menatap langit-langit.
Kevin memberikan kotak kedua kepada Tiffany. Di dalamnya ada gaun kecil warna biru muda dengan bordir bintang, persis seperti gambar yang pernah Tiffany unggah di akun live kecilnya.
Tiffany memekik. "Cantik sekali!"
"Katanya kamu suka bintang."
"Pak Kevin lihat live Tiffi?"
"Sekali."
Feng pasti yang menemukan, tetapi Kevin tidak merasa perlu menjelaskan.
Tiffany memeluk gaun itu. "Terima kasih, Daddy."
Ruangan hening.
Keira menutup mata sebentar. Ethan pura-pura batuk. Rio mendadak sangat sibuk melihat tanaman.
Kevin menatap Tiffany. Ada sesuatu yang lembut di wajahnya.
"Sama-sama, Tiffi."
Kotak ketiga lebih kecil. Kevin meletakkannya di meja.
"Untuk Darren. Aku akan bawa pulang nanti. Tapi aku ingin kamu melihatnya."
Di dalamnya ada mobil-mobilan hitam yang sama modelnya dengan mobil kecil yang sering Darren pegang, tetapi versi logam buatan tangan. Di bawahnya ada ukiran kecil: Ren.
Keira menyentuh ukiran itu. "Dia akan suka."
"Aku tahu." Kevin menatap Keira. "Aku juga tahu dia menyimpan saputanganmu."
Keira terdiam.
"Dia tidur sambil memegangnya."
Dada Keira terasa ditarik.
Kevin melihat perubahan kecil di wajahnya, lalu menahan pertanyaan yang hampir keluar. Ia datang bukan untuk memaksa hari ini. Setelah gudang itu, ia mengerti satu hal: jika ia ingin jawaban dari Keira, ia tidak bisa merebutnya. Ia harus membuatnya memilih untuk bicara.
"Aku tidak akan mengambil apa pun darimu," katanya pelan.
Keira menatapnya.
"Termasuk anak-anak," tambah Kevin.
Kalimat itu menghantam tempat paling rapuh dalam diri Keira.
"Anda belum tahu kebenarannya."
"Belum. Tapi aku tahu cara seorang ibu melihat anaknya."
Keira memalingkan wajah. "Terima kasih untuk hadiah. Tapi Black Card itu saya kembalikan."
"Simpan."
"Pak Kevin."
"Tidak ada limit."
"Justru itu masalahnya."
Kevin tersenyum sedikit. "Kalau kamu tidak mau memakai, anggap saja kartu itu jaminan. Jika suatu hari kamu butuh sesuatu untuk anak-anak dan aku tidak ada, pakai."
Keira ingin menolak lagi, tetapi Tiffany sudah berbisik kepada Ethan, "Mommy kalah."
Ethan berbisik balik, "Belum. Mommy sedang loading."
Kevin mendengar. Untuk pertama kalinya di rumah Keira, ia tertawa pelan.
Suara itu membuat Keira menoleh.
Pria ini jarang tertawa. Ketika tertawa, wajahnya yang dingin berubah begitu singkat sampai berbahaya. Terlalu mudah membuat orang lupa bahwa ia adalah pria yang bisa mengguncang Jakarta.
Kevin berdiri. "Aku pergi dulu. Darren menunggu."
Tiffany melambai. Ethan mengangkat tablet barunya dengan wajah masih curiga tetapi puas.
Sebelum benar-benar keluar, Kevin berhenti di ambang pintu.
"Keira."
Keira menoleh.
"Darren ingin bertemu denganmu lagi. Aku tidak akan melarang, selama kita atur dengan aman."
Keira terdiam. Ia sudah menyiapkan begitu banyak cara untuk melawan. Ia belum menyiapkan jawaban untuk izin yang diberikan tanpa diminta.
"Terima kasih," katanya akhirnya.
Kevin mengangguk singkat. "Untuk anak-anak, kita tidak perlu selalu perang."
Kalimat itu tinggal di ruang tamu bahkan setelah Kevin pergi.
Setelah Kevin pergi, Ethan membuka kamera ponsel dan mengambil foto Kevin dari jendela. Ia menaruh foto itu berdampingan dengan foto Darren.
Wajah ayah dan anak itu memang mirip. Terlalu mirip.
Ethan memperbesar garis mata, bentuk bibir, dagu.
"Mommy," katanya pelan, "Pak Kevin... mungkin Daddy kita."
Keira menatap mawar di halaman.
Aroma bunga memenuhi rumah yang baru mereka tempati, terlalu manis untuk rahasia sebesar itu.