Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11_Pertemuan tak terduga
Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela dapur rumah besar Adrian.
"Bi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rani lembut. Wajahnya dipenuhi senyum hangat, sementara kedua matanya memandang Bibi Sari dengan penuh semangat.
Bibi Sari menoleh sambil tersenyum.
"Lho, Bu Rani sudah bangun? Bukannya dokter menyuruh Ibu banyak istirahat?" balas Bibi Sari ramah. Wajahnya dipenuhi rasa khawatir.
Rani terkekeh pelan.
"Saya sudah jauh lebih sehat, Bi. Kalau hanya duduk diam terus, saya malah merasa tidak enak." ucap Rani malu-malu. Pipi tipisnya memerah.
Bibi Sari menggeleng pelan.
"Ibu ini memang tidak bisa melihat orang bekerja sendirian ya?" godanya sambil tertawa kecil. Sorot matanya dipenuhi rasa sayang.
Rani ikut tertawa.
"Sejak kecil saya memang terbiasa membantu pekerjaan rumah." jawabnya jujur. Wajahnya dipenuhi kenangan.
Tak lama kemudian, salah seorang pelayan datang tergesa-gesa.
"Bibi, persediaan sayur di dapur hampir habis." ucap pelayan itu sopan. Wajahnya terlihat sedikit panik.
Bibi Sari mengangguk.
"Baik, sebentar lagi Bibi ke pasar."
Mendengar itu, mata Rani langsung berbinar.
"Bi... boleh saya ikut?" tanyanya penuh harap. Wajahnya dipenuhi antusias.
Bibi Sari tampak ragu.
"Kalau Tuan tahu nanti bagaimana?" tanyanya pelan. Dahinya sedikit berkerut.
"Saya hanya ikut jalan-jalan sebentar. Sudah lama saya tidak melihat pasar." balas Rani sambil tersenyum manis.
Saat itu...
Suara langkah kaki terdengar dari arah ruang makan. Adrian muncul dengan pakaian santai berwarna hitam.
"Pagi, Tuan." sapa seluruh pelayan serempak. Mereka langsung menundukkan kepala.
"Pagi." jawab Adrian singkat. Wajahnya tetap datar.
Tatapannya berhenti pada Rani.
"Kondisimu sudah membaik?" tanyanya tenang. Sorot matanya tampak lebih lembut dari biasanya.
Rani mengangguk.
"Alhamdulillah, sudah jauh lebih sehat. Terima kasih karena sudah membantu saya." ucap Rani tulus. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.
Adrian mengangguk pelan.
"Itu sudah seharusnya." sahut Adrian datar.
Rani mengumpulkan keberaniannya.
"Pak... kalau boleh, saya ingin ikut Bibi Sari ke pasar." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan.
Adrian menatapnya beberapa detik.
"Untuk apa?" tanyanya singkat. Alisnya sedikit terangkat.
"Saya hanya ingin membantu membawa belanjaan. Lagipula saya juga ingin menghirup udara luar sebentar." jawab Rani sambil tersenyum tipis.
Bibi Sari langsung menyela.
"Kalau Tuan tidak mengizinkan, tidak apa-apa." ucap Bibi Sari lembut. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan, sementara ia melirik Adrian dengan hati-hati.
Namun Adrian justru berkata,
"Boleh." jawab Adrian singkat. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya terlihat tenang.
Semua orang sedikit terkejut.
"Tapi jangan terlalu lelah." tambah Adrian tegas. Tatapannya tertuju pada Rani.
Rani tersenyum lebar.
"Terima kasih, Pak." ucapnya bahagia. Matanya berbinar.
Satu jam kemudian.
Pasar tradisional mulai ramai. Suara para pedagang saling bersahutan memenuhi udara.
"Tomat segar... tomatnya Bu!" teriak seorang pedagang dengan suara lantang sambil mengangkat keranjang tomat merah mengilap.
"Ikan laut baru datang!" seru pedagang ikan penuh semangat. Senyumnya ramah, sementara tangannya sibuk menunjukkan ikan-ikan segar di atas meja.
"Cabainya murah!" teriak pedagang sayur lainnya dengan wajah antusias, berharap menarik perhatian para pembeli.
Rani berjalan di samping Bibi Sari sambil membawa keranjang belanja.
"Sudah lama sekali saya tidak ke tempat seperti ini." ucap Rani pelan. Wajahnya dipenuhi rasa rindu.
"Ibu senang?" tanya Bibi Sari sambil tersenyum.
"Iya. Suasananya hangat." jawab Rani.
Beberapa pedagang mulai mengenal Bibi Sari.
"Wah, Bibi Sari! Hari ini bawa tamu cantik ya?" goda seorang penjual sayur sambil tertawa.
Rani langsung tersipu.
"Ah, saya bukan siapa-siapa." ucapnya malu. Senyumnya terlihat canggung.
Mereka pun melanjutkan belanja.
Sementara itu...
Di sisi lain pasar, sebuah sepeda motor berhenti di area parkir.
Arga turun lebih dulu, lalu membantu ibunya turun dari jok belakang.
"Ayo cepat, nanti keburu siang." ucap Bu Ratna kesal. Wajahnya terlihat tidak sabar.
"Iya, Bu." jawab Arga datar.
Sejak kehilangan Rani, hidup Arga justru semakin berantakan.
Rumahnya berantakan. Pakaiannya tidak pernah serapi dulu. Tak ada lagi makanan hangat yang selalu menunggunya. Namun, kesombongannya masih belum hilang.
Saat sedang berjalan melewati deretan kios buah... Langkah Arga mendadak berhenti.
Matanya membelalak.
"Itu..." gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Di kejauhan...
Seorang wanita sedang memilih apel bersama seorang wanita paruh baya. Wanita itu mengenakan blouse krem sederhana dipadukan rok panjang berwarna cokelat muda.
Rambutnya diikat rapi. Kulitnya tampak jauh lebih bersih. Tubuhnya sedikit lebih ramping. Wajahnya terlihat segar dan terawat.
Arga berkedip beberapa kali.
"Rani?" bisiknya pelan. Napasnya mendadak tercekat.
Ia hampir tidak percaya. Wanita yang dulu selalu memakai pakaian lusuh kini tampak begitu anggun. Wanita yang dulu ia hina gendut, sekarang jauh lebih langsing. Bahkan senyumnya terlihat jauh lebih cerah.
"Mustahil..." gumam Arga. Rahangnya mengeras perlahan.
Bu Ratna melihat putranya berhenti.
"Kenapa?" tanyanya bingung. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
Arga menunjuk ke arah Rani.
"Itu... Rani." ucapnya pelan. Matanya tak berkedip sedikit pun.
Bu Ratna ikut menoleh.
Beberapa detik kemudian...Matanya ikut membesar.
"Itu benar Rani?" ucapnya terkejut. Bibirnya sedikit terbuka.
"Dia... kok berubah sekali?" lanjutnya tak percaya.
Arga mengepalkan tangan.
"Dia jauh lebih cantik..." gumamnya lirih. Tatapannya tak lepas dari Rani.
Dalam hati, Arga mulai diliputi penyesalan yang perlahan tumbuh.
Sementara itu...
Rani sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.
"Bi, apel yang ini kelihatannya manis." ucap Rani ceria. Wajahnya dipenuhi senyum tulus.
"Iya. Ambil saja dua kilo." jawab Bibi Sari sambil tertawa kecil.
Tiba-tiba...
"Rani!"
Suara itu membuat senyum di wajah Rani perlahan menghilang. Tubuhnya membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Perlahan...
Ia membalikkan badan. Dan tepat di hadapannya...
Arga berdiri dengan tatapan penuh keterkejutan, sementara Ratna memandangnya tanpa berkedip.
Suasana pasar yang ramai mendadak terasa sunyi bagi ketiga orang itu. Babak baru yang tak pernah diduga akhirnya dimulai.