NovelToon NovelToon
Incaran Sang Dokter Bedah

Incaran Sang Dokter Bedah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi
Popularitas:56k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.

Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.

Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.

Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!

"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Menyelesaikan Misi (revisi)

Vando mengernyit. "Tadi itu suara apa?"

Irana ikut menoleh ke arah rak-rak besi yang memenuhi ruang arsip. "Kayak bunyi ponsel, deh. Punya siapa?"

Vando melangkah perlahan. Semakin mendekati rak yang paling ujung.

Tok...

Tok...

Tok...

Setiap langkahnya membuat detakan jantung Milka berdegub dengan semakin cepat.

Ia segera mematikan ponselnya, lalu menyimpannya. Bahkan, ia merasa harus menahan napas serapat mungkin.

'Tidak! Tidak boleh langsung ketahuan,' batinnya.

Vando berhenti tepat di depan rak tempat Milka bersembunyi. Ia menyipitkan mata.

"Kayaknya dari sini."

Milka memejamkan mata sesaat. Jarak mereka kini hanya dipisahkan oleh satu tumpuk map di rak besi. Jika Vando melangkah lagi ... maka, semuanya akan berakhir.

Irana ikut mendekat lalu tangannya terulur menggaet lengan Vando. "Bang, mungkin itu suara dari luar."

"Nggak!" Vando menggeleng. "Aku yakin ada orang di sini."

Ia mulai berjalan memutar rak. Milka menggigit bibir bawahnya. Otaknya bekerja dengan cepat. Kalau terus bersembunyi, ia pasti ketahuan juga. Kalau keluar begitu saja, penyamarannya akan mudah terbongkar.

Tatapannya jatuh pada ember berisi air pel kotor yang berada di samping troli.

Dalam sepersekian detik ... Sebuah ide muncul. Saat langkah Vando tinggal satu langkah lagi, dengan sengaja Milka menyenggol ember itu dengan ujung sepatunya.

Byur!

Air pel langsung tumpah membanjiri lantai.

"Ya Allah!"

Milka buru-buru keluar dari balik rak sambil menundukkan kepala dengan dalam.

"Maaf, Pak ... maaf ... saya lagi bersih-bersih." Masker menutupi hampir seluruh wajahnya.

Topi menutupi rambutnya. Ia tampak seperti petugas kebersihan biasa yang panik karena air pel-nya tumpah.

Vando refleks mundur menghindari air kotor yang mengalir ke arah sepatunya.

"Ck! Kerja itu yang benar!" bentaknya.

Milka terus menunduk. "Maaf, Pak ... tadi saya mau membersihkan lantai di ruang ini, tapi tak sengaja menyenggol embernya."

Irana menatap sekilas perempuan itu. "Halah, cuma OG."

Ia kembali merangkul lengan Vando.

"Ayo keluar. Aku gak suka bau cairan pel, bikin sakit hidung."

Vando masih sempat melirik wajah OG itu. Entah kenapa, tatapan perempuan itu terasa sedikit familiar, di matanya.

Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, Irana sudah menarik lengannya.

"Bang ... nanti saja."

Vando akhirnya mendengus. "Besihkan ruangan ini! Jangan sentuh map-map yang ada di sini!"

"Baik, Pak."

Setelah pintu tertutup, Milka masih membungkuk selama beberapa detik.

Ia baru berani mengangkat kepala lagi setelah langkah kaki mereka benar-benar tidak terdengar.

Napas panjang langsung lolos dari bibirnya. "Hampir saja ..."

Namun wajahnya segera berubah serius, tetapi bukan karena kecewa. Hatinya telah mati untuk itu semua.

Informasi penting yang keluar dari bibir dua orang barusan, terus saja terngiang di kepalanya.

"Begitu semua uangnya cair ..."

"Kalau polisi menemukan arsip ini ..."

Kini semua bukan lagi sekadar dugaan. Ia baru saja mendengar pengakuan mereka dengan telinganya sendiri.

.

.

Setelah Vando dan Irana keluar, Milka memastikan pintu benar-benar tertutup.

Ia segera mengambil kembali map yang tadi sempat dibuka.

Klik.

Klik.

Klik.

Ia memotret beberapa dokumen terakhir. Lalu membuka laci lain. Di sana ia menemukan daftar transfer yang lebih rinci.

Nama perusahaan cangkang. Nomor rekening. Tanggal transaksi.

Semuanya difoto secepat mungkin. Saat hendak menutup laci, matanya berhenti pada sebuah map merah.

RAHASIA DIREKSI

"Apa ini?"

Ia membukanya dengan sekilas saja. Di halaman pertama hanya ada satu lembar.

PERJANJIAN KERJA SAMA KHUSUS

Tanda tangan ...

Belum sempat ia membaca lebih jauh, ternyata ada pegawai lain datang

"Eh?" Milka langsung menutup map. Dengan segera memegang pel dan posisi sedang mengepel lantai.

Seorang staf masuk. "Mbak, lagi bersih-bersih?"

"Iya, Pak," ucap Milka mengangkat wajah.

"Oh." Pegawai itu menatap tajam kepada perempuan itu. Namun, ia keluar lagi.

Setelah kepergian orang tadi, Milka baru bisa bernapas lega. Dengan segera, ia keluar dengan membawa bukti

Milka menyimpan kembali kameranya. Ia tidak mengambil satu lembar pun dokumen yang ada. Karena sebagai penyidik, ia tahu, mengambil dokumen asli tanpa izin justru bisa merusak proses hukum.

Yang ia butuhkan hanyalah bukti permulaan.

Namun, di saat ia keluar, di area koridor tanpa sengaja ia melihat Vando dan Irana keluar dari ruang yang lain.

Kali ini mereka sudah menjaga jarak. Bersikap layaknya rekan kerja biasa.

Milka tersenyum getir. "Di depan orang, mereka pandai sekali berpura-pura."

.

.

Begitu keluar dari gedung, ponsel khusus penyidiknya bergetar.

Komandan Arif menelepon. "Milka."

"Siap, Komandan."

"Apa kamu masih di lokasi?"

"Masih."

"Tinggalkan tempat itu sekarang juga!"

Milka mengernyit. "Kenapa, Pak?"

Suara Komandan berubah serius. "Identitas penyamaranmu ... kemungkinan sudah bocor."

Milka membeku. Matanya perlahan menoleh ke arah gedung PT Arga Medika.

Di lantai tiga, seseorang berdiri di balik kaca sedang memperhatikannya.

Pria itu perlahan mengangkat ponsel ke telinga.

"Lapor."

"Dia sudah keluar."

☎️ "Ikuti dia."

*bersambung*

1
Aku Rajin Membaca
jangan tamaaat duluu, penasaran mp mereka 😂😂
Aku Rajin Membaca
mentang2 juragan sawit 😂
Aku Rajin Membaca
iiihhh aku juga gemeesss
Aku Rajin Membaca
lancar kali maas..itu mas kawennya banyak amat
Aku Rajin Membaca
uwaaaauuuuwww
Aku Rajin Membaca
maalah kesemsem sendiri 🥰😭
Aku Rajin Membaca
kayak dia menyatakan cinta padaku 🥰
Aku Rajin Membaca
waaahh, dah mau tamat 😭
Aku Rajin Membaca
omaigat, si bucin
Korik Kook
last episode pengen liat Irina ngamuk pas liat Theo nikahi milka 🤣🤣
SoVay: viewnya kacau kak, nanti kita bikinin cerita lain ada Irana di kehidupan penjara yah. jd nanti ada Milka sesekali 🤣

kalau nulis kehidupan dalam penjara, ada yg minat ga ya?
total 1 replies
MomyWa
dih, tamat aja? kok rasanya gak rela ya berhenti baca kebucinan theo 😭🤭
SoVay: walah, aku malah berasa lega. hutangku habis 🤣
total 1 replies
MomyWa
aih aih... sepertinya sepertinhya..
Laila Amalia
seru banget Aku suka...
Aku Rajin Membaca: terima kasih untuk ulasannya kakakku
total 1 replies
Anbu Hasna
bonschap.... anak Milka enggak kembar, jadi rebutan para kakek 🤣🤣🤣
SoVay: wkwkwkw..gimana ya? soalnya kacau bgt nih nasib mereka retensinya. 🤣
total 1 replies
MomyWa
to tweeett 🤭🤭🤭
Laila Amalia
baper Aku thor
SoVay: bagi vote boleh ga kak? 🤣🤲
total 1 replies
Ummi Sulastri Berliana Tobing
ahhh,.....so sweet😍😍😍
SoVay: wehehehe, bagi vote nya dong kakak
total 1 replies
Rini
😍😍😍😍😍
SoVay: udah tamat kan kak 😚
total 1 replies
MomyWa
bgaimanapun aq ini seorang dokter
SoVay: dokter.mana itu? dokter cinta?
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
gimana Mil masih ragu 🤔🤔🤔
SoVay: udah nikah euy, kami udah dipaksa tamat sama authornya 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!