NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kursi kosong 3

"Udah, Mah. Kasihan Haseena, nanti kebanyakan ditanya."

Aretha terkekeh kecil sambil merangkul pundak ibunya.

"Kita kan mau minta tolong Haseena."

Ayahnya ikut tertawa.

"Iya juga, ya."

Beliau kemudian menyerahkan sebuah ponsel kepada Haseena.

"Nak, boleh tolong fotoin keluarga kami?"

"Tentu, Om."

Haseena menerima ponsel itu dengan kedua tangan.

Ia berjalan beberapa langkah ke belakang agar seluruh anggota keluarga Aretha masuk ke dalam bingkai kamera.

"Om... sedikit ke kiri."

"Iya."

"Tante, senyumnya..."

Aretha sengaja membuat wajah lucu hingga kedua orang tuanya tertawa.

Klik.

Satu foto.

Klik.

Dua foto.

Klik.

Tiga foto.

"Sebentar..."

Haseena menurunkan ponselnya.

"Yang ini kurang terang."

"Ambil lagi ya, Om."

"Siap."

Kali ini Haseena mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda.

Sinar matahari sore yang mulai menghangat membuat hasil fotonya tampak lebih hidup.

"Nah..."

"Kalau yang ini bagus."

Ayah Aretha menerima kembali ponselnya.

"Wah..."

"Bagus banget."

"Iya, Haseena emang jago motret."

Aretha tersenyum bangga.

"Makasih ya."

"Sama-sama, Om."

Ayah Aretha menepuk pelan bahu Haseena.

"Nanti kapan-kapan main ke rumah lagi."

"Iya, Om."

"Jangan sungkan."

"Iya."

Haseena kembali tersenyum.

Senyum yang hangat.

Namun hanya bertahan sampai keluarga itu berjalan meninggalkannya.

---

Tak lama kemudian, Wafiza datang sambil berlari kecil.

"Maaf lama!"

"Tadi nenek aku pengen difotoin terus."

Aretha langsung menyenggol lengannya.

"Tuh kan."

"Katanya bentar."

"Eh malah satu album."

Mereka bertiga tertawa.

Untuk sesaat...

Haseena benar-benar lupa bahwa dadanya masih dipenuhi kehilangan.

"Ayo."

"Kita foto bertiga."

Mereka berdiri di depan taman kecil sekolah.

Aretha berada di tengah.

Wafiza merangkul bahu Haseena.

Seorang panitia membantu mengambil gambar mereka.

"Senyum ya!"

Klik.

Sekali.

Klik.

Dua kali.

Klik.

Tiga kali.

Selesai.

Haseena memperhatikan hasil fotonya.

Tiga gadis itu tersenyum begitu lebar.

Tak seorang pun yang melihat foto tersebut akan menyangka...

Bahwa salah satu dari mereka sedang berusaha keras menyembunyikan luka yang belum sembuh.

---

Acara perpisahan mulai usai.

Satu per satu kendaraan meninggalkan halaman sekolah.

Suasana yang sejak pagi begitu ramai perlahan kembali lengang.

Haseena berdiri sendirian di depan aula.

Tangannya menggenggam dua medali.

Satu miliknya.

Satu lagi milik Zafran.

Ia mengusap perlahan nama yang terukir pada medali sang kakak.

ZAFRAN EL RAYYAN

"Bang..."

gumamnya lirih.

"Kapan pulang?"

Tak ada jawaban.

Hanya angin sore yang berembus pelan melewati halaman sekolah.

Di kejauhan...

Tanpa disadari Haseena, sepasang mata sempat memperhatikannya selama beberapa saat.

Orang itu berdiri di balik deretan pohon ketapang.

Diam.

Lalu berbalik pergi sebelum Haseena sempat menyadari keberadaannya.

Tak ada yang tahu siapa dia.

Dan tak ada seorang pun yang menyangka...

Bahwa pertemuan mereka tinggal menunggu waktu.

---

Catatan Haseena

> Semua orang berlari menghampiri orang yang mereka sayangi.

Ada yang memeluk ibunya.

Ada yang menggenggam tangan ayahnya.

Ada pula yang tertawa bersama saudara-saudaranya.

Sedangkan aku...

Aku hanya berdiri sambil memegang dua medali.

Satu atas namaku.

Satu lagi atas nama seseorang yang entah sedang berada di mana.

Hari ini aku belajar...

Tidak semua kesepian lahir karena kita sendirian.

Kadang, kesepian justru datang ketika kita berada di tengah begitu banyak kebahagiaan.

Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap tinggal.

Aku juga tidak bisa memaksa seseorang untuk kembali.

Yang bisa kulakukan hanyalah belajar mengikhlaskan.

Mengikhlaskan mereka yang telah pergi...

Dan menguatkan diri untuk menyambut apa pun yang akan datang setelahnya.

— Catatan Haseena

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!