AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
"Gampang, nanti malam kita gas. Udah ya," Al mematikan sambungan telepon.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku.
"Roda sudah berputar, dan kali ini, gak akan ada satu orang pun yang bisa nendang aku jatuh lagi," bisik Al penuh tekad, siap menikmati hidup barunya sebagai orang kaya raya.
Ting!
Sebuah notifikasi berbunyi. Al segera meraih ponselnya. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Pak Hilman.
Pak Hilman: "Al, pak Dion ingin mengtransfer uang ganti rugi, ada nomor rekening mu?"
Amirul menaikkan sebelah alisnya.
"Berapa yang mau dia ganti pak?" tanya Amirul langsung pada intinya.
Tidak butuh waktu lama bagi Pak Hilman untuk mengetik.
"Katanya 10 juta," balas Pak Hilman.
Amirul spontan terkekeh geli. "Sepuluh juta?" desisnya tak percaya.
Dia kembali mengetik dengan ketukan jari yang sedikit lebih bertenaga, menyalurkan rasa kesalnya.
"10 juta? Motor itu saja seharga 1 milyar lebih, Pak. Dan saya baru pake dua hari! Sekarang kondisinya rusak parah begitu. Saya minta ganti minimal dua ratus juta untuk biaya perbaikan total ke bengkel resminya. Kalau mereka nggak sanggup ganti segitu, saya minta belikan saja motornya sekalian. Saya jual murah ke mereka 1 Milyar aja net. Motor hancur itu terserah jadi milik mereka," balas Al panjang lebar.
Di seberang sana, Pak Hilman tertegun membaca balasan Al. Layar ponselnya sampai ia jauhkan beberapa senti dari wajahnya, memastikan dia tidak salah membaca angka nol yang berderet di sana.
"Satu... milyar?" bisik Pak Hilman pelan di ruang tamunya sendiri, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Tak berapa lama kemudian, setelah berdiskusi singkat dengan pihak Pak Dion yang tampaknya langsung pucat pasi mendengar tuntutan itu, Pak Hilman kembali mengirim balasan kepada Al.
"Dia kaget sekali, Al. Katanya dia akan pikirkan dan bicarakan dulu dengan keluarganya nanti."
Al membaca pesan itu sambil tersenyum sinis. Dia tidak membalas lagi pesan dari Pak Hilman, melainkan langsung mengunci layar ponselnya.
"Pikirkan nanti? Awas saja kalau dia berani kabur atau mengulur waktu. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya sekarang. Akan ku kejar sampai ke lubang semut pun kalau sampai uang itu nggak cair," gumam Al.
Al mengembuskan napas panjang.
Dia berjalan masuk ke dalam kamar utamanya, mengempaskan tubuhnya yang tegap ke atas ranjang berukuran king size.
Suasana kamar yang sejuk oleh AC perlahan membuatnya rileks.
Sambil memejamkan mata, bayangan motor sport langkanya yang ringsek kembali melintas, namun Al memilih membuang pikiran negatif itu.
Dia menarik selimut tebalnya, bersiap untuk istirahat dan mengumpulkan energi demi menghadapi Pak Dion esok hari.
*****
Triring! Triring!
Terdengar Suara nada dering standar ponsel pintarnya.
Ponsel di atas meja kayu itu bergetar hebat, bergeser sedikit demi sedikit karena getaran, dan sedikit lagi terjun bebas ke lantai.
Al melenguh. Matanya masih lengket. Dengan kesadaran yang baru terkumpul, tangannya meraba-raba permukaan meja secara membabi buta.
Setelah menyenggol sebuah gelas kosong hingga berdenting, jemarinya berhasil mencengkeram ponselnya tersebut. Tanpa melihat layar, ia menggeser ikon hijau.
"Halo..." jawab Al. Suaranya serak, berat, dan khas orang yang baru bangun tidur.
"Al! Gimana? Jadi nggak malam ini kita keluar? Aku udah rapi nih, tinggal starter motor!" kata Saka dari seberang telepon, penuh semangat.
⛹️♂️