Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Ritual Aneh
Tangan Adnan gemetar hebat saat menyambar kembali kamera itu dari tangan Gladys. Ujung pisau Bastian masih terasa seperti menghunus lehernya, dingin dan tajam, meski pria itu sudah menyembunyikan senjatanya kembali ke dalam saku.
Tidak ada jalan keluar. Pintu ruangan itu tertutup rapat di belakangnya, dan di sekelilingnya berdiri tujuh orang yang tampak siap melakukan apa saja demi menjaga rahasia mereka.
Dengan napas tertahan, Adnan kembali mengangkat kamera. Matanya beralih sejenak ke layar kecil itu, sosok bertanduk itu masih berdiri di sana, bayangan hitamnya perlahan bergerak seperti kabut yang tertiup angin di dalam ruangan tertutup. Matanya yang menyala merah tetap terpaku padanya, seolah makhluk itu tahu betul betapa ketakutannya sang fotografer.
"Perbaiki posisimu!" perintah Gladys dingin.
Adnan mundur perlahan ke sudut ruangan, menjaga jarak sejauh mungkin dari lingkaran lilin itu. Ia memfokuskan lensanya, berusaha sekuat tenaga untuk membiarkan mata telanjangnya melihat apa yang dilihat orang lain, namun sia-sia. Tanpa kamera, ruangan itu hanya tampak seperti ruang rapat biasa yang diredupkan cahayanya. Dengan kamera, dia sedang menyaksikan gerbang dunia lain yang perlahan terbuka.
Salah satu wanita mengambil kain putih yang tergeletak di samping meja dan menutupi wajahnya sendiri, lalu berjalan berkeliling membagikan jubah hitam panjang kepada keenam orang itu.
Tak butuh waktu lama hingga mereka semua mengenakan pakaian yang sama persis, kain tebal yang menutupi seluruh tubuh hingga ke pergelangan kaki, dengan tudung yang menyembunyikan wajah mereka sepenuhnya. Hanya suara napas berat yang terdengar di antara keheningan, disertai desis nyala lilin yang bergoyang hebat seolah ada angin kencang yang berhembus, padahal pintu dan jendela sama sekali tidak terbuka.
Bastian yang kini wajahnya tertutup tudung, mengambil alih kotak yang tadi dibuka. Ia mengangkat salah satu benda dari dalamnya. Sebuah cawan terbuat dari logam kusam yang terukir simbol-simbol aneh, penuh dengan cairan merah pekat yang berbau anyir menyengat.
"Darah persembahan," bisiknya dengan nada rendah yang terdengar bergema di ruangan itu. Ia berjalan berputar mengelilingi lingkaran lilin, menyodorkan cawan itu satu per satu kepada teman-temannya.
Adnan menelan ludah hingga kerongkongannya terasa perih. Melalui layar kamera, dia melihat sosok bertanduk itu perlahan menunduk, seolah sedang mencium aroma cairan di dalam cawan. Asap hitam menyembur pelan dari mulut makhluk itu.
Satu per satu orang itu meminum isi cawan itu. Tidak ada keraguan dan rasa jijik. Mereka meminumnya dengan gerakan ritmis, seolah telah melakukan hal ini ratusan kali sebelumnya. Bahkan Gladys, yang selama ini terlihat tenang dan berwibawa, menengadahkan kepalanya dan meminum seteguk panjang cairan itu tanpa berkedip sedikit pun.
Perut Adnan mual hebat. Ia harus menekan punggungnya ke dinding agar tidak ambruk. Ia memaksa dirinya untuk terus merekam, jari-jarinya mencengkeram pegangan kamera begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sesekali dia mengalihkan pandangan dari layar, berharap halusinasi itu hilang, namun setiap kali dirinya kembali melihat ke lensa, sosok raksasa itu masih ada di sana. Dan yang lebih mengerikan, makhluk itu perlahan mengangkat satu tangannya yang besar dan berbalut bayangan, menunjuk tepat ke arah cawan itu.
Kemudian Bastian meletakkan cawan itu kembali ke meja. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara dan mulai melafalkan kata-kata yang tidak dimengerti Adnan. Bahasa yang kasar, berat, dan terdengar seolah bukan berasal dari lidah manusia. Keenam orang lainnya menyambutnya dengan suara serempak, menggema hingga membuat lantai ruangan itu sedikit bergetar.
Adnan merasa dingin menjalar ke seluruh tulang. Kamera tua itu kini bergetar pelan di tangannya, seolah alat itu sendiri pun gemetar menghadapi apa yang sedang terjadi.
Tulisan di layar berubah warna menjadi merah menyala: Gelombang energi meningkat drastis. Koneksi entitas terdeteksi aktif.
Ia berusaha memusatkan perhatian pada objek lain, berusaha mengabaikan makhluk bertanduk itu, namun matanya terus tertarik kembali ke arah tengah lingkaran. Sosok itu kini berdiri tepat di belakang Gladys. Bayangannya menyelimuti tubuh wanita itu seolah memeluknya dari belakang.
Lalu gerakan berubah. Secara bersamaan, tangan-tangan yang tersembunyi di balik lipatan jubah hitam mulai bergerak. Satu per satu mereka membuka ikatan di leher jubah itu.
Adnan menghentikan napasnya.
Kain hitam itu meluncur perlahan ke bawah, jatuh menumpuk di lantai.
Di baliknya, tidak ada sehelai benang pun yang tersisa. Mereka melepaskan seluruh pakaian yang mereka kenakan di balik jubah itu. Kulit mereka yang terbakar cahaya lilin tampak pucat, namun tatapan mata mereka yang kini terlihat jelas di balik tudung yang juga dilepas, terpaku lurus ke arah makhluk yang tidak bisa dilihat mata telanjang itu.
Gladys berdiri tegak di posisi paling depan. Tubuhnya yang telanjang tampak tenang, tidak ada rasa malu atau ragu sedikit pun. Ia melangkah melewati tumpukan kain hitam di kakinya, mendekat ke arah meja, tepat di bawah bayang-bayang makhluk bertanduk itu. Kulitnya tampak berkilauan oleh keringat dingin, namun dia tidak pernah berkedip.
Melalui layar kamera, Adnan melihat sosok raksasa itu menunduk lebih jauh lagi. Wajahnya yang besar kini berada tepat di atas kepala Gladys. Uap hitam keluar dari mulut makhluk itu, menyelimuti kulit wanita itu seolah memberi tanda kepemilikan.
Adnan menurunkan kameranya perlahan, napasnya tersangkut di kerongkongan. Ia melihat Gladys berdiri telanjang di ruangan itu, dikelilingi orang-orang yang sama telanjangnya, dalam keheningan yang mencekam. Di sana, di balik bahu wanita itu, melalui lensa yang bergetar di tangannya, dirinya tahu, mereka sedang menawarkan diri sepenuhnya, tanpa perlindungan apa pun, kepada sesuatu yang bukan berasal dari dunia manusia.
Lilin-lilin di sekeliling meja tiba-tiba menyala terang berkali-kali lipat, memantulkan cahaya ke kulit mereka yang telanjang, sekaligus menyoroti mata merah makhluk yang kini tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi tajam seperti jarum, tepat di atas mereka.