NovelToon NovelToon
Fotografer Plus Plus 2

Fotografer Plus Plus 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.

Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Ritual Aneh

Tangan Adnan gemetar hebat saat menyambar kembali kamera itu dari tangan Gladys. Ujung pisau Bastian masih terasa seperti menghunus lehernya, dingin dan tajam, meski pria itu sudah menyembunyikan senjatanya kembali ke dalam saku.

Tidak ada jalan keluar. Pintu ruangan itu tertutup rapat di belakangnya, dan di sekelilingnya berdiri tujuh orang yang tampak siap melakukan apa saja demi menjaga rahasia mereka.

Dengan napas tertahan, Adnan kembali mengangkat kamera. Matanya beralih sejenak ke layar kecil itu, sosok bertanduk itu masih berdiri di sana, bayangan hitamnya perlahan bergerak seperti kabut yang tertiup angin di dalam ruangan tertutup. Matanya yang menyala merah tetap terpaku padanya, seolah makhluk itu tahu betul betapa ketakutannya sang fotografer.

"Perbaiki posisimu!" perintah Gladys dingin.

Adnan mundur perlahan ke sudut ruangan, menjaga jarak sejauh mungkin dari lingkaran lilin itu. Ia memfokuskan lensanya, berusaha sekuat tenaga untuk membiarkan mata telanjangnya melihat apa yang dilihat orang lain, namun sia-sia. Tanpa kamera, ruangan itu hanya tampak seperti ruang rapat biasa yang diredupkan cahayanya. Dengan kamera, dia sedang menyaksikan gerbang dunia lain yang perlahan terbuka.

Salah satu wanita mengambil kain putih yang tergeletak di samping meja dan menutupi wajahnya sendiri, lalu berjalan berkeliling membagikan jubah hitam panjang kepada keenam orang itu.

Tak butuh waktu lama hingga mereka semua mengenakan pakaian yang sama persis, kain tebal yang menutupi seluruh tubuh hingga ke pergelangan kaki, dengan tudung yang menyembunyikan wajah mereka sepenuhnya. Hanya suara napas berat yang terdengar di antara keheningan, disertai desis nyala lilin yang bergoyang hebat seolah ada angin kencang yang berhembus, padahal pintu dan jendela sama sekali tidak terbuka.

Bastian yang kini wajahnya tertutup tudung, mengambil alih kotak yang tadi dibuka. Ia mengangkat salah satu benda dari dalamnya. Sebuah cawan terbuat dari logam kusam yang terukir simbol-simbol aneh, penuh dengan cairan merah pekat yang berbau anyir menyengat.

"Darah persembahan," bisiknya dengan nada rendah yang terdengar bergema di ruangan itu. Ia berjalan berputar mengelilingi lingkaran lilin, menyodorkan cawan itu satu per satu kepada teman-temannya.

Adnan menelan ludah hingga kerongkongannya terasa perih. Melalui layar kamera, dia melihat sosok bertanduk itu perlahan menunduk, seolah sedang mencium aroma cairan di dalam cawan. Asap hitam menyembur pelan dari mulut makhluk itu.

Satu per satu orang itu meminum isi cawan itu. Tidak ada keraguan dan rasa jijik. Mereka meminumnya dengan gerakan ritmis, seolah telah melakukan hal ini ratusan kali sebelumnya. Bahkan Gladys, yang selama ini terlihat tenang dan berwibawa, menengadahkan kepalanya dan meminum seteguk panjang cairan itu tanpa berkedip sedikit pun.

Perut Adnan mual hebat. Ia harus menekan punggungnya ke dinding agar tidak ambruk. Ia memaksa dirinya untuk terus merekam, jari-jarinya mencengkeram pegangan kamera begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sesekali dia mengalihkan pandangan dari layar, berharap halusinasi itu hilang, namun setiap kali dirinya kembali melihat ke lensa, sosok raksasa itu masih ada di sana. Dan yang lebih mengerikan, makhluk itu perlahan mengangkat satu tangannya yang besar dan berbalut bayangan, menunjuk tepat ke arah cawan itu.

Kemudian Bastian meletakkan cawan itu kembali ke meja. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara dan mulai melafalkan kata-kata yang tidak dimengerti Adnan. Bahasa yang kasar, berat, dan terdengar seolah bukan berasal dari lidah manusia. Keenam orang lainnya menyambutnya dengan suara serempak, menggema hingga membuat lantai ruangan itu sedikit bergetar.

Adnan merasa dingin menjalar ke seluruh tulang. Kamera tua itu kini bergetar pelan di tangannya, seolah alat itu sendiri pun gemetar menghadapi apa yang sedang terjadi.

Tulisan di layar berubah warna menjadi merah menyala: Gelombang energi meningkat drastis. Koneksi entitas terdeteksi aktif.

Ia berusaha memusatkan perhatian pada objek lain, berusaha mengabaikan makhluk bertanduk itu, namun matanya terus tertarik kembali ke arah tengah lingkaran. Sosok itu kini berdiri tepat di belakang Gladys. Bayangannya menyelimuti tubuh wanita itu seolah memeluknya dari belakang.

Lalu gerakan berubah. Secara bersamaan, tangan-tangan yang tersembunyi di balik lipatan jubah hitam mulai bergerak. Satu per satu mereka membuka ikatan di leher jubah itu.

Adnan menghentikan napasnya.

Kain hitam itu meluncur perlahan ke bawah, jatuh menumpuk di lantai.

Di baliknya, tidak ada sehelai benang pun yang tersisa. Mereka melepaskan seluruh pakaian yang mereka kenakan di balik jubah itu. Kulit mereka yang terbakar cahaya lilin tampak pucat, namun tatapan mata mereka yang kini terlihat jelas di balik tudung yang juga dilepas, terpaku lurus ke arah makhluk yang tidak bisa dilihat mata telanjang itu.

Gladys berdiri tegak di posisi paling depan. Tubuhnya yang telanjang tampak tenang, tidak ada rasa malu atau ragu sedikit pun. Ia melangkah melewati tumpukan kain hitam di kakinya, mendekat ke arah meja, tepat di bawah bayang-bayang makhluk bertanduk itu. Kulitnya tampak berkilauan oleh keringat dingin, namun dia tidak pernah berkedip.

Melalui layar kamera, Adnan melihat sosok raksasa itu menunduk lebih jauh lagi. Wajahnya yang besar kini berada tepat di atas kepala Gladys. Uap hitam keluar dari mulut makhluk itu, menyelimuti kulit wanita itu seolah memberi tanda kepemilikan.

Adnan menurunkan kameranya perlahan, napasnya tersangkut di kerongkongan. Ia melihat Gladys berdiri telanjang di ruangan itu, dikelilingi orang-orang yang sama telanjangnya, dalam keheningan yang mencekam. Di sana, di balik bahu wanita itu, melalui lensa yang bergetar di tangannya, dirinya tahu, mereka sedang menawarkan diri sepenuhnya, tanpa perlindungan apa pun, kepada sesuatu yang bukan berasal dari dunia manusia.

Lilin-lilin di sekeliling meja tiba-tiba menyala terang berkali-kali lipat, memantulkan cahaya ke kulit mereka yang telanjang, sekaligus menyoroti mata merah makhluk yang kini tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi tajam seperti jarum, tepat di atas mereka.

1
Mita Paramita
mungkin Gladys mau ngadain ritual sekte ulang kn acara yang pertama gagal 🫣 Adnan gentleman banget 😍
Mita Paramita
Adnan solusi ny mending cari tau dulu siapa Gladys mungkin aja dia tau tentang kamera ajaib itu makanya bikin jebakan jadi klien 🫣
Mita Paramita
akhirnya Adnan ada yang mau bantuin masalah nya 😉 Liza muka peka sama Adnan gak cuek lagi
Mita Paramita
kasian Adnan nanggung beban sendirian gak ada temen curhat 🤨 semoga Liza peka ngebantuin Adnan
Mita Paramita
mestinya Adnan jujur aja ke Liza kalo lagi di ikuti Gladys cs dan tentang kamera juga 🤨 siapa tau bisa menyelesaikan masalah bareng
Rommy Wasini Khumaidi
waduh,kok Gladys tau tempat majikan Adnan tinggal?
Mita Paramita
Adnan balik ke setelan awal jadi supir Liza tapi kenapa ketemu lagi Sama Gladys cs apa mereka temen kuliah Liza 🤨🤨🤨 nasib sial masih aja ngikutin Adnan 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Adnan akhirnya pulang kerumahnya juga ... dapet sarapan gratis lagi dari tari. hidup Adnan selalu dikelilingi orang baik 😉
Mita Paramita
akhirnya Adnan bisa pulang juga🤨 maka ny Adnan kalo ada panggilan job tanyain dulu jangan langsung diambil
Rommy Wasini Khumaidi
deg²an aku,takut Gladys and the geng menghadang
Mita Paramita
Herman curiga seperti ny dikamar mandi ada orang lain 🤣🤣🤣 situasi Adnan terlalu dar der dor kalo sampe ketahuan
Rommy Wasini Khumaidi
aku ikut nahan nafas juga Nan,takut kamu ketahuan
Mita Paramita
Adnan sial banget ngumpet dikamar mandi trus dengerin suara desahan Sherly 🤣🤣🤣 serba salah posisi Adnan 🫡
Mita Paramita
Adnan udah merasa lega dikit ada lagi masalah baru🤣🤣🤣maju kena mundur kena nih🫡
Mita Paramita
Adnan Udah jauh jauh sembunyi malah dapet jackpot masuk ke kamar kupu2 malam 🤣🤣🤣 semoga aja gerombolan sekte itu udah bubar cape nyari Adnan
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aliran sesat kan, serem bgt. lain kali milah milah juga klo terima job jgn sampe membahayakan diri sendiri Adnan
Mita Paramita
baca bab ini bikin dar der dor Adnan akhirnya bisa juga dari kepungan anggota ritual sekte 🤣🤣🤣 semoga dia gak ketangkap Gladys
Mita Paramita
Adnan mending kabur situasi nya makin horor nih ritual sekte nyaa 😈😈😈
Mita Paramita
kamera max ajaib bisa liat setan di tengah acara sektor gini😈😈😈
Dewi kunti
hiiiiiiiiiiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!