NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suara ketukan pintu penthouse mewah itu bergema pelan, memecah keheningan malam yang biasanya terasa dingin dan kaku bagi Rania. Saat itu, Rania dan Rangga duduk bersebelahan di dekat jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota dari ketinggian lantai lima puluh.

Pintu terbuka.

Bukan suara angin atau pelayan malam yang menyambut, melainkan derit koper bermerek mahal yang bergesekan dengan lantai marmer putih. Aroma parfum Prancis yang sangat familier menyeruak masuk, memenuhi udara ruangan tamu yang luas itu dalam sekejap.

Rania mengangkat kepalanya sebab tadi dia bersandar di bahu Rangga. Matanya mengerjap perlahan, menatap sosok yang berdiri di ambang pintu dengan balutan mantel musim dingin bergaya chic dan kacamata hitam besar yang digeser ke atas kepala.

Resti.

Wanita itu berdiri di sana, tersenyum tipis dengan wajah yang masih tampak memukau, meskipun ada guratan kelelahan di matanya. Di hari pernikahan mereka yang kacau beberapa bulan lalu, Resti memilih kabur ke Paris demi impian semu dan kebebasannya, meninggalkan noda hitam di keluarga Pratama serta memaksa Rania—sang adik tiri—untuk mengenakan gaun pengantin demi menanggung malu. Dan sekarang, tanpa sepatah surat peringatan, wanita itu berdiri di hadapan mereka seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Seketika, atmosfer di dalam penthouse berubah menjadi sangat padat, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis.

Rangga, yang tadinya duduk dengan postur kaku menghadap jendela, langsung membalikkan kepalanya. Pria itu terpaku di tempat. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan. Matanya melebar sempurna, menatap wanita yang dulu pernah sangat ia agungkan, wanita yang sempat membuatnya hampir kehilangan akal sehat karena nekat meninggalkan altar suci pernikahan mereka.

Di dalam dada Rangga, terjadi perang batin yang sangat hebat dan instan. Ada gelombang kelegaan dan kebahagiaan yang tiba-tiba melonjak naik—sebuah refleks emosional dari sisa-sisa cinta masa lalu yang belum sepenuhnya terkubur. Namun, di saat yang bersamaan, hantaman rasa kecewa, harga diri yang sempat diinjak-injak, dan kepahitan atas pengkhianatan di masa lalu bergolak keras menghantam ulu hatinya.

Namun, di detik-detik pertama keterkejutan itu, tubuh Rangga bergerak secara naluriah. Tanpa sadar—sebuah gerakan refleks yang tidak melibatkan logika sadarnya—jemari tangan Rangga yang tadinya menggenggam pergelangan tangan Rania secara perlahan melonggar, lalu terlepas sepenuhnya.

Genggaman itu terlepas.

Rania, yang sedari tadi berdiri di sisi Rangga setelah perdebatan kecil mereka mengenai perusahaan keluarga, merasakan kehangatan itu lenyap seketika dari kulitnya. Perubahan kecil itu begitu nyata. Rania menunduk sejenak, menatap telapak tangannya sendiri yang mendadak kosong.

Ada nyeri yang tajam, menusuk langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam. Namun, alih-alih menjerit atau menangis histeris seperti wanita lemah pada umumnya, sudut bibir Rania justru terangkat membentuk sebuah lengkungan tipis. Senyuman itu begitu kecut, penuh dengan kepahitan yang pekat, dan sarat akan penerimaan yang menyakitkan.

Tentu saja, batin Rania berbisik getir. Bagaimanapun kuatnya aku mencoba berdiri di sisinya, segelap apa pun masa lalu yang coba ia kubur, darah tetaplah lebih kental daripada air. Dan aku... di matanya, tetaplah sekadar bayangan. Sebuah ban serep. Pengganti darurat yang sewaktu-waktu bisa disingkirkan saat pemilik aslinya kembali.

Rania menarik tangannya pelan-pelan ke sisi tubuhnya, mengepalnya erat di balik lipatan kain gaun rumahnya untuk meredam gemetar yang mulai menjalar ke ujung jemarinya.

"Rangga..." panggil Resti dengan suara bergetar manja yang dibuat-buat, sengaja dilembutkan untuk memancing memori lama pria di depannya. Resti melangkah masuk, melepaskan koper mewahnya begitu saja di dekat pintu, lalu merentangkan tangan seolah-olah dia adalah ratu yang baru saja pulang dari medan pertempuran.

Rangga tidak bisa menahan diri lagi. Dengan langkah lebar yang diliputi rasa antara percaya dan tidak, pria itu mendekati Resti.

"Resti... kau... bagaimana bisa?" suara Rangga tercekat, terdengar jauh lebih lembut daripada nadanya yang biasanya dingin dan otoriter kepada siapa pun, termasuk kepada Rania.

Melihat antusiasme yang terpancar jelas di mata Rangga, sudut bibir Resti terangkat dalam senyuman kemenangan yang disembunyikan dengan sangat rapi. Di dalam hatinya, sebuah kepuasan yang luar biasa membuncah. Resti tahu betul sorot mata itu. Sorot mata seorang pria yang masih dikuasai oleh bayang-bayangnya. Resti merasa sangat diatas angin; dia menyadari bahwa sekuat apa pun Rangga mencoba berpura-pura move on, pria itu pada dasarnya masih takluk di bawah pesonanya.

"Di Paris tidak seindah bayanganku, Rangga," lirih Resti, langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Rangga, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. "Hidupku di sana berantakan. Uang saku dari ayah menipis, dan... dan aku terus memikirkanmu. Aku menyesal, Rangga. Aku sangat menyesal telah pergi meninggalkanku hari itu..."

Rangga tertegun sejenak. Tangannya sempat tergantung di udara, ragu-ragu, namun pada akhirnya perlahan-lahan melingkar di punggung Resti, menepuknya pelan untuk memberikan ketenangan. Sentuhan itu... sentuhan yang dulunya adalah seluruh dunianya.

Rania, yang berdiri beberapa meter di belakang mereka, menyaksikan pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri. Pemandangan yang begitu klise namun menyiksa. Rasanya seperti melihat adegan film romantis murahan, di mana pemeran utama pria kembali kepada cinta pertamanya dan melupakan wanita yang telah menemaninya merajut pecahan asa di tengah badai.

Sadar bahwa kehadirannya di sana kini mendadak menjadi hal yang paling tidak diinginkan dan janggal, Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa semakin tipis. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap dinding marmer putih yang memantulkan bayangan dirinya sendiri—seorang wanita berbalut status istri sah yang tidak memiliki arti apa-apa di dalam rumah suaminya sendiri.

Setelah beberapa detik terbuai dalam pelukan itu, Rangga akhirnya teringat akan keberadaan seseorang di ruangan tersebut. Pria itu melepaskan pelukan Resti dengan perlahan, berdehem pelan untuk menetralisir suaranya yang sempat serak, lalu menuntun Resti melangkah ke ruang tengah yang luas.

"Duduklah dulu di sini, Resti. Perjalanan dari Prancis pasti melelahkanmu," ucap Rangga, suaranya terdengar begitu perhatian—sebuah nada bicara yang hampir tidak pernah Rania dengar selama berbulan-bulan mereka tinggal satu atap.

Rangga menunjuk ke arah sofa panjang bergaya Italia berona krem yang berada di tengah ruangan. Resti menurut, duduk dengan anggun sambil merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan karena angin malam. Namun, sebelum Rangga sempat memanggil pelayan untuk membawakan segelas air hangat, mata Resti menyapu seluruh sudut ruangan.

Pandangan mata Resti yang tajam dan penuh rasa ingin tahu itu akhirnya berhenti pada satu titik.

Di sana, berdiri seorang wanita dengan pakaian rumah yang sederhana namun anggun, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan—datar, kosong, namun menyimpan sejuta luka yang membeku.

Resti menyipitkan matanya, ekspresi wajahnya yang tadi terlihat memelas dan rapuh perlahan-lahan berubah menjadi seringai penuh keheranan, yang kemudian disusul oleh kilatan ketidaksukaan yang amat sangat. Alisnya yang terbentuk sempurna beraut tajam.

Resti mendongak menatap Rangga yang berdiri di samping sofanya, lalu kembali menoleh tajam ke arah Rania. Dengan nada suara yang sengaja dibuat nyaring, penuh rasa tidak terima dan cibiran yang merendahkan, Resti bertanya dengan nada menusuk:

"Rangga... tunggu dulu. Kenapa dia ada di sini? Kenapa anak manja tak berguna ini—kenapa Rania—ada di penthouse-mu?"

Jangan lupa like ya😉

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!