Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4. Membuat Masalah
Mendengar jawaban dingin Laila, Arjuna malah makin terhibur. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyum tengil yang tak pernah hilang.
“Kerja? Hah… jadi lo cari uang di sini ya?” godanya sambil menatap Laila dari atas ke bawah seolah menilai sesuatu yang baru ditemukan. “Pantesan tampilannya biasa aja, ternyata harus banting tulang cari duit sendiri.”
Laila tidak tersinggung sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, memegang buku catatan erat-erat, dan menatap Arjuna dengan tatapan datar tanpa emosi. “Kalau sudah lihat-lihatnya, silakan sebutkan pesanan lo. Kalau nggak mau pesan, silakan keluar. Di sini bukan tempat buat mengamati orang sembarangan.”
Mendengar ketegasannya, Rian dan yang lain menahan tawa sambil saling pandang. Baru kali ini mereka melihat ada gadis yang berani menjawab ketus ketua mereka.
Arjuna mengangkat satu alisnya, lalu mulai membuka permainan barunya. Ia sengaja berbicara dengan nada lambat dan mempersulit. “Oke… denger baik-baik ya. Gue mau nasi goreng, tapi bumbunya jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit, pedasnya pas, nggak gosong, nggak lembek, nggak berminyak. Terus minumnya es teh manis, tapi gulanya harus larut sempurna, esnya jangan terlalu banyak tapi juga jangan kurang, dan gelasnya harus dingin saat sampai di meja. Paham?”
Laila mencatat semuanya dengan tenang, tidak mengubah ekspresi sedikit pun. “Siap. Pesanan lain?”
“Gue juga mau tahu, masaknya harus baru dimasak setelah dipesan, bukan yang sudah ada di pemanas. Kalau sampai rasanya nggak pas… gue bisa komplain sampai ke pemiliknya,” tambah Arjuna lagi, sengaja menambah syarat yang tidak perlu.
Teman-temannya yang lain pun ikut memesan dengan gaya yang sama meniru tingkah Arjuna agar makin menyulitkan gadis itu. Namun Laila tetap menjawab “siap” dan pergi ke dapur dengan langkah tenang.
“Wah, bos ini serius mau ganggu dia sampai kapan?” tanya Bowo sambil terkekeh.
Arjuna menyeringai. “Dia bikin gue dapat hukuman, sekarang gue balas sedikit saja. Masih adil kan?”
Tak lama kemudian, pesanan satu per satu mulai diantarkan. Laila datang membawa nampan besar, menaruh setiap piring dan gelas dengan rapi tanpa tumpah setetes pun.
“Ini pesanannya. Silakan dinikmati,” ucapnya datar sambil meletakkan hidangan di depan Arjuna terakhir.
Begitu Laila hendak berbalik pergi, Arjuna sengaja menggerakkan sikunya sedikit. Bruk! Gelas es teh yang baru ditaruh terguling, isinya tumpah membasahi meja dan sebagian baju seragam Arjunanya.
“Woy! Hati-hati dong!” bentak Arjuna keras, membuat pengunjung di meja sebelah menoleh lagi. “Lo mau bunuh gue pakai air panas?!”
Padahal jelas-jelas es teh itu dingin.
Laila menatap meja yang basah, lalu menatap Arjuna yang pura-pura marah. Ia tahu persis laki-laki ini sengaja melakukannya hanya untuk mencari kesalahan. Tanpa berdebat panjang, Laila mengambil kain lap yang ada di pinggangnya dan mulai membersihkan meja dengan cepat dan teliti.
“Maaf. Saya ganti minumannya sekarang juga,” ucapnya singkat, nada bicaranya tetap tenang meski dalam hatinya sudah kesal luar biasa.
Setelah meja bersih, Laila berbalik hendak mengambilkan gelas baru. Namun saat ia melangkah mundur, Arjuna sengaja menjulurkan kakinya sedikit.
Duk!
Laila tersandung, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Ia melangkah cepat menahan diri agar tidak jatuh, tapi napasnya mulai memburu menahan emosi. Ia menoleh tajam ke arah Arjuna yang pura-pura sedang meniup makanannya seolah tidak tahu apa-apa.
“Maksud lo apa tadi?” tanya Laila akhirnya, suaranya tetap rendah tapi terdengar dingin dan mengancam.
Arjuna mendongak, memasang wajah polos yang dibuat-buat. “Maksud apa? Gue cuma duduk saja, lo yang ceroboh sampai tersandung sendiri. Mungkin karena lo buru-buru mau selesai kerja, jadi nggak hati-hati.”
Rian dan yang lain sudah tidak tahan lagi menahan tawa. Namun mereka berhenti seketika melihat tatapan Laila yang berubah tajam...lebih tajam dari biasanya.
Laila melangkah mendekat sedikit, membungkukkan badannya setinggi wajah Arjuna, dan berbisik hanya agar didengar olehnya saja.
“Arjuna Baskoro… jangan kira gue nggak tahu apa yang lo lakuin. Lo bisa bikin ulah sepuasnya di sekolah atau tempat lain, tapi di sini… gue punya aturan sendiri. Kalau lo terus mengganggu kerja gue, jangan salahkan gue kalau lo nggak bisa pulang dengan selamat malam ini.”
Arjuna tertegun sesaat. Ia merasakan dinginnya ancaman itu masuk ke dalam tulang sumsumnya, padahal gadis itu jauh lebih kecil darinya. Namun bukannya takut, Arjuna malah makin terpesona dan penasaran. Senyumnya kembali muncul, kali ini lebih dalam dan berbahaya.
“Wah… ternyata mulutnya tajam juga ya. Gue makin penasaran sama lo, Laila Arsyila.”
Belum sempat Laila menjawab lagi, suara manajer kafe memanggil dari arah kasir. “Laila! Ayo bantu antarkan pesanan ke meja nomor tiga!”
Laila segera berdiri tegak kembali, membenahi bajunya, lalu melirik Arjuna terakhir kali dengan pandangan penuh peringatan.
“Nikmati makanannya. Semoga tidak ada kejadian lagi,” ucapnya datar sebelum pergi melangkah cepat.
Begitu Laila menjauh, Arjuna menyandarkan kepalanya dan menatap punggung gadis itu yang makin menjauh. Rian menyenggol lengannya lagi.
“Gimana, Bos? Berhasil bikin dia marah?”
Arjuna mengangkat sudut bibirnya tinggi. “Marah? Belum sama sekali. Dia malah makin terlihat menarik saat begitu. Tugas gue selanjutnya… bikin dia benar-benar kehilangan kendali dan teriak menghadap gue. Tantangan baru yang paling seru.”
Malam itu, Arjuna menghabiskan makanannya dengan senyum yang tak pernah hilang. Ia tahu benar permainan ini baru saja dimulai.