NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BOLEH AKU PANGGIL KAU YUKARI?

Yukari sedang jongkok sendirian, sibuk menyalakan mercon banting dengan wajah super serius sekaligus penuh semangat.

Mendadak sebuah pertanyaan terucap begitu saja dari bibir Takagi. "...Kau menyukainya?"

Daiki tidak bisa berkata, Pandangannya jatuh pada gadis itu yang mendadak tertawa sendirian di kejauhan karena merconnya meletup, sudut bibir Daiki perlahan terangkat, membentuk seulas senyuman yang teramat hangat.

"Tentu saja," jawab Daiki pelan, suaranya terdengar tulus tanpa beban "Tapi kami... cuma sebatas sahabat tidak lebih."

Alis takagi terangkat sedikit "Kenapa? Kalian Sangat cocok."

Daiki mengembuskan napas panjang. Selama beberapa detik, dia cuma memandangi kobaran api unggun.

"Aku cerita padamu mumpung anaknya lagi sibuk di sana," ujar Daiki akhirnya dengan nada kasual. "Sebenarnya... aku sudah dua kali menyatakan perasaan padanya."

"Sekali pas kami masih SMP, dan sekali lagi pas SMA." Daiki tersenyum pahit, menertawakan nasibnya sendiri. "Dua-duanya ditolak" Takagi menoleh, merasa tertarik dengan kelanjutan ceritanya. "Serius?"

Takagi menunggu kelanjutan kalimat pria di depannya, sesekali melirik gerak gerik yukari yang masih asik sendiri.

Daiki menarik napas pelan, menirukan kembali ucapan Yukari bertahun-tahun lalu. "Malam itu dia bilang begini... 'Daiki... kamu itu orang yang sangat berharga di hidupku. Dan justru karena alasan itulah... aku sama sekali tidak ingin kehilangan dirimu.'"

Daiki tersenyum tipis mengenang momen melankolis tersebut. "'Kalau kita tetap menjadi sahabat... sebesar apa pun kesalahan mu, aku akan memaafkanmu. Kalau suatu hari kamu tersesat lagi, aku yang akan berjalan mencarimu"

Suara Daiki perlahan mengecil, ada nada emosional yang tertahan di sana. "'Tapi, kalau kita nekat menjadi sepasang kekasih... lalu suatu hari hubungan kita gagal dan kita saling menyakiti... aku sangat takut kita berdua bakal berakhir jadi dua orang asing yang tidak saling kenal lagi. Dan aku... beneran tidak akan sanggup kehilangan dirimu dengan cara seperti itu.'"

Daiki menatap kobaran api sambil terkekeh pelan, Ia mengangkat bahunya santai. "Tapi, ya... begitulah seorang Yukari Honami. Dia selalu lebih takut kehilangan orangnya daripada kehilangan perasaannya sendiri."

Takagi terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan Daiki. Sepasang matanya kembali bergerak mencari sosok Yukari di kegelapan halaman. Gadis itu sekarang lagi cemberut sambil menghentakkan kakinya karena gagal menyalakan mercon banting kesekian kalinya, sebelum akhirnya mencoba lagi dengan korek api baru.

Perlahan, Takagi mulai memahami sesuatu. Di balik senyum hangat, wajah polos, dan tingkah cerobohnya sehari-hari... Yukari ternyata selalu menjaga orang-orang yang dia cintai dengan caranya sendiri. Bukan dengan cara mengikat atau mengekang mereka, melainkan dengan memastikan kalau mereka bakal selalu memiliki tempat yang aman untuk pulang. Gadis itu menolak Daiki bukan karena tidak peduli, tapi justru karena dia terlalu menyayangi sosok sahabat terbaiknya.

"Lalu..." suara Takagi terdengar memecah keheningan di sela letupan api unggun. "pilihan mu...? "

"Tentu saja!" Daiki langsung terkekeh lebar, seolah jawaban itu sama sekali tidak butuh waktu semenit pun untuk dipikirkan. "Aku jelas memilih seperti yang sekarang ini."

Dia menyandarkan kedua tangannya ke belakang balok kayu, mendongak menatap langit malam Oku-Nikko yang bertabur bintang. "aku bisa memeluknya, memarahinya, Atau menyeretnya pulang"

Daiki tertawa kecil Tatapan matanya perlahan melembut. "Yang paling penting buatku... aku tidak akan pernah kehilangan dia dari hidupku selamanya."

Takagi kembali membisu. Dia menatap bara api yang bergoyang pelan diterpa embusan angin malam yang makin dingin. Hubungan Daiki dan Yukari ternyata jauh lebih kuat dan dewasa daripada sekadar urusan cinta yang tidak terbalas. Mereka berdua memilih untuk menjaga sesuatu yang lebih abadi daripada sekadar memiliki.

Dari kejauhan, lengkingan suara Yukari tiba-tiba merusak momen syahdu mereka.

"Hei! Lihat itu, marshmallow-nya gosong!"

Daiki spontan menoleh ke arah tusuk bambunya. "Astaga!"

Yukari langsung tertawa puas dari seberang halaman melihat wajah panik sahabatnya. "Tuh, kan! Makanya jangan mengobrol terus!"

Daiki mendengus kesal sambil membersihkan bagian yang gosong. "Ini semua salah Takagi-san. Dia yang mendadak bikin topiknya jadi seserius ini."

Sudut bibir Takagi terangkat, mendengarnya. Bahkan sebelum dia menyadari, senyuman kecil belakangan ini sudah lebih sering muncul di wajahnya dibanding hari-hari pertama dia menginjakkan kaki di rumah ini.

"Hei, Yukari!" Daiki melambaikan tusuk bambu yang baru dengan heboh. "Sini cepat. Yang ini matangnya sempurna, masih lumer!"

Yukari menghampiri mereka dengan langkah kaki yang ringan, lalu menerima marshmallow bakar itu dengan gembira. "Hmm... manisnya pas sekali." Dia tersenyum puas setelah menggigitnya. "Oh ya," Yukari menoleh penuh ke arah Daiki. "Kau beneran jadi menginap di sini malam ini, kan?"

"Iya, jadi," Daiki mengangguk mantap.

"Syukurlah kalau begitu." Yukari tampak benar-benar lega mendengarnya.

Tepat saat itulah, Takagi tiba-tiba membuka suara. "Kau tidur di kamarku saja malam ini."

Daiki mengerjap, agak kaget. "Eh? Beneran?"

"Kamar tamu itu cukup luas," ucap Takagi lempeng seperti biasanya. "Masih muat kalau cuma untuk tidur dua orang pria."

Yukari langsung menjentikkan jarinya dengan ceria. "Benar juga! Di dalam lemari kamar tamu masih ada futon cadangan yang tebal"

Daiki terkekeh geli, lalu menyenggol pelan bahu pria di sampingnya. "Malam ini bakalan begadang deh kita taka--"

"Akira."

Kalimat Daiki langsung dipotong, mata gadis itu sedikit membulat. Suasana di sekitar api unggun mendadak berubah hening

"Kalian..." Ia menarik napas perlahan menata hatinya. "...boleh Panggil Akira saja."

Yukari dan Daiki saling berpandangan sejenak, seolah melempar kode, lalu senyum super lebar muncul di wajah mereka berdua hampir bersamaan.

Akira kemudian menatap ke arah Yukari. "Kalau begitu... boleh aku memanggilmu Yukari?" nada suaranya Akira kini terdengar jauh lebih berbisik

Dia mengangguk cepat berulang kali sampai rambut kuncirnya bergoyang. "Tentu saja boleh! Mulai sekarang panggil saja Yukari!"

Daiki langsung tertawa keras melihat perkembangan itu. Ia menepuk bahu tegap Akira sampai tubuh pria itu sedikit terdorong ke depan. "Selamat datang di kehidupan kami yang berisik, Akira!"

Akira cuma bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah heboh Daiki, sambil menyunggingkan senyum tipis. Namun kali ini, dia tidak lagi berusaha memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyuman itu dari mereka.

...----------------...

Malam makin larut, dan api unggun di luar sudah padam sepenuhnya. Ruang tengah rumah kayu keluarga Honami kini kembali dipenuhi oleh keheningan malam yang menenangkan. Yukari tampak duduk bersandar santai di sofa kain tua sambil menenggelamkan diri dalam halaman-halaman novel yang lagi dibacanya.

Tidak lama kemudian, suara pintu geser kamar mandi terbuka. Daiki berjalan keluar dari sana sambil sibuk mengusap rambutnya yang masih agak basah menggunakan handuk kecil. Setelah menguap lebar-lebar tanpa tahu malu, dia berjalan menghampiri area sofa tanpa ada rasa sungkan sedikit pun.

Bruk!

Daiki langsung menjatuhkan tubuh bongsornya tepat di samping Yukari, lalu dengan santainya menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu sambil ikut melirik isi halaman novel yang sedang terbuka.

"Kamu lagi baca cerita apa sih?" tanya Daiki dengan artikulasi suara malas khas orang yang sudah diserang kantuk berat.

"Hanya novel drama biasa," jawab Yukari singkat, sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari barisan tulisan di bukunya.

Daiki melirik ke samping, menatap wajah sahabatnya dari dekat. "Jam segini belum tidur juga? Biasanya kamu paling anti begadang."

Dia perlahan menutup novel tebalnya, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar agak berat

"Daiki..."

"Hm? Kenapa?" sahut Daiki, ikut menegakkan posisi duduknya mendengarkan nada bicara Yukari yang mendadak berubah serius.

"Aku akan tetap menjual rumah ini ," ujar Yukari pelan.

Daiki yang semula terlihat santai dan mengantuk langsung melek sepenuhnya. "Kapan? "

Yukari mengangguk lemah. "Setelah akira sembuh! "

Melihat perubahan raut wajah Yukari yang mendadak lesu, Ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Yukari, "Jujur saja... aku berharap rumah tua penuh kenangan ini tidak kamu jual Yukari."

Yukari mendengus geli. Belum sempat ia membalas ucapan Daiki, pintu kamar mandi kembali terbuka. Akira melangkah masuk ke dalam ruang tengah .

Begitu mendongak dan melihat sosok pria itu, Yukari kembali terdiam selama beberapa detik di tempat duduknya. Entah kenapa, wajah bersih Akira dari jarak sedekat ini membuat detak dada Yukari berdesir pelan tanpa alasan yang jelas.

"Akira-san!" Yukari menepuk-nepuk di sisi kirinya yang masih muat diduduki orang. " duduk di sini dulu."

Yukari tersenyum lebar menatap pria itu. "Besok subuh kita mulai misi baru, Bagaimana, sudah siap?"

Akira mengangguk mantap satu kali tanpa keraguan. "Siap."

"Bagus sekali!" Yukari langsung memutar tubuhnya menghadap Daiki. "Daiki, dengar ya. Besok pagi-pagi sekali, aku dan Akira-san yang bakal membantu mengantar seluruh hasil panen sayuranmu ke kota!"

"Apa?!" Daiki spontan membelalakkan matanya kaget.

Bukan cuma Daiki, bahkan Akira sendiri ikut menoleh cepat ke arah Yukari dengan ekspresi wajah yang tidak kalah terkejut.

"Kau serius, Yukari? Jangan bercanda, kebunku itu lagi panen besar," tanya Daiki memastikan kalau pendengarannya tidak salah.

"Tentu saja aku serius" Yukari mengangguk mantap penuh keyakinan.

Daiki mengusap tengkuknya sesaat, menimbang-nimbang tawaran itu sebelum akhirnya sebuah senyum lebar terukir di wajahnya. Bantuan tenaga dari pria bertubuh tegap seperti Akira jelas bakal sangat memangkas waktu kerjanya besok. "Oke kalau begitu! Jam enam tepat, semua orang sudah harus siap di lokasi, tidak ada alasan kesiangan!"

"Deal!" Yukari mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat.

Kemudian, dia kembali menoleh ke arah pria di sisi kirinya. "Akira-san."

"Hm? Ada apa?"

"Akira-san , Buku memo kuningmu dimana?"

"ada." Akira segera meraba sakunya, mengeluarkan buku catatan berukuran saku tersebut, lalu menyerahkannya kepada Yukari.

Yukari mengambil pulpen yang tadi terselip di balik halaman novelnya, membuka lembar halaman ketiga yang masih kosong, lalu mulai menuliskan beberapa baris kalimat, dia mengeluarkan sebuah cap kayu hanko kecil berbentuk bulat dari saku celemeknya.

Cekrek

Bunyi ketukan cap kayu itu terdengar memecah keheningan ruang tengah malam, Daiki kepo, memajukan tubuhnya ke depan, berusaha mengintip.

Gadis itu menarik garis lengkung bibirnya, menyodorkan kembali buku memo kuning itu kepada sang pemilik. "Selamat ya, Akira-san. Halaman ketigamu resmi dinyatakan selesai malam ini."

Akira menerima buku itu, lalu membaca tulisan tangan Yukari perlahan-lahan di dalam hatinya.

Misi 3

Judul : Identitas Baru yang Mempesona

[ LULUS 🌻 ]

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!