NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri yang Tak Bisa Dibeli

Kenan meletakkan tabletnya perlahan, lalu mencoba menata sikapnya agar terlihat baik dan sopan, berusaha memperbaiki kesalahannya semalam. Ia mengukir senyum lembut di bibirnya, nada bicaranya terdengar ramah dan santun.

“Selamat pagi, Kinasih. Maaf kalau semalam ada kata atau sikap Kakak yang membuatmu tersinggung. Kakak tidak bermaksud menghinamu sama sekali,” sapanya dengan nada yang lembut, berbeda sekali dari sikapnya semalam.

Kinasih hanya menoleh sebentar, menatap sekilas lalu segera membuang muka lagi dengan wajah dingin. Ia tak menjawab sepatah kata pun, hanya diam sambil meremas ujung bajunya.

Amara yang tak tahu apa-apa hanya tersenyum cerah. “Lihat tuh Kin, Kak Kenan baik banget kan? Pagi-pagi sudah menyapa dengan sopan.”

Kenan masih terus menatap Kinasih, berharap gadis itu mau memaafkannya dan mau menjawab sapaannya. Ia tahu ia harus bersabar, perlahan-lahan meluluhkan hati Kinasih yang sudah terluka karena kata-katanya semalam.

Meski Kenan sudah berbicara dengan nada lembut dan meminta maaf, Kinasih tetap membekukan wajahnya. Ia hanya diam seribu bahasa, matanya terus menunduk memandang makanan di piringnya, tak mau melirik sedikit pun ke arah pria itu. Di hatinya masih terasa perih dan marah mengingat kata-kata Kenan semalam yang menganggap dirinya bisa dibeli dengan uang.

Kenan menghela napas pelan, lalu mencoba pendekatan lain. “Kalau sudah selesai sarapan, Kakak antar kalian ke kampus sekalian ya. Pagi ini jalanan pasti macet, lebih cepat kalau pakai mobil Kakak.”

Tanpa menunggu Kinasih menjawab, Amara langsung bersorak senang. “Wah boleh banget! Makasih Kak! Gue kan lagi malas banget bawa mobil sendiri pagi-pagi begini,” jawabnya antusias, sama sekali tak curiga ada ketegangan di antara dua orang itu.

Setelah beres semuanya, mereka bertiga berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil mewah milik Kenan. Amara langsung duduk nyaman di bangku belakang, dan Kinasih pun mengikutinya, duduk tepat di samping sahabatnya itu.

Begitu Kenan masuk ke kursi pengemudi dan menutup pintu, ia melirik ke belakang lalu tersenyum nakal. “Wah, kok berdua di belakang? Rasanya gue kayak sopir saja nih. Salah satu harus pindah ke depan, biar adil dan nggak canggung.”

Kinasih segera menoleh ke Amara, mendorong pelan bahu sahabatnya itu. “Mara, kamu saja yang pindah ke depan ya.”

Namun Amara langsung menggeleng keras sambil cengengesan. “Nggak mau ah! Kak Kenan itu rese, suka cari gara-gara. Lebih aman gue di sini, kamu saja yang duduk di depan Kin. Kan kamu yang paling baik, nggak bakal dia ganggu,” jawabnya santai.

Kinasih terdiam, tak punya alasan lagi untuk menolak. Dengan perasaan sangat enggan dan hati berdebar kencang, ia pun mengalah. “Ya sudah… baiklah,” gumamnya kesal sambil pindah tempat duduk ke samping Kenan.

Begitu tubuh Kinasih duduk manis di sebelahnya, senyum lebar penuh kemenangan terukir di bibir Kenan. Matanya bersinar gembira, merasa rencananya berjalan lancar sekali.

Perjalanan dimulai. Tak lama kemudian, Amara yang semalam begadang menonton drakor mulai mengantuk berat. Kepalanya terkulai ke samping, lalu tak lama berselang sudah terlelap pulas di bangku belakang, bahkan terdengar dengkuran halusnya.

Begitu yakin Amara sudah tidur nyenyak, Kenan mulai bertindak usil. Ia menggerakkan tangan kirinya perlahan, lalu menyelinap ke atas pangkuan Kinasih, menggenggam tangan gadis itu dan meremasnya lembut namun erat.

Kinasih terkejut seketika. Ia segera menarik tangannya hendak menepis, tapi ia ragu — takut gerakannya akan membangunkan Amara atau membuat keributan. Akhirnya ia hanya bisa menegang dan membiarkannya, wajahnya memerah padam menahan rasa kesal dan gugup.

Kenan makin merasa diizinkan, ia makin berani saja. Tak puas hanya memegang tangan, saat mobil berhenti mendadak karena lampu lalu lintas berwarna merah, ia segera menggeser tangannya turun, melewati pinggang, lalu menyentuh paha mulus Kinasih tepat di bawah roknya. Tanpa ragu, jarinya langsung masuk menyelinap ke dalam rok, menyentuh kulit halus dan hangat di bagian dalam paha gadis itu.

“Aduh… jangan Kak!”bisik Kinasih pelan dan tergesa, tangannya segera menahan pergerakan tangan Kenan dengan erat, matanya melotot ketakutan.

Namun Kenan malah mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Kinasih dengan nada mengancam namun tetap lembut dan menggoda. “Kalau kamu berani menolak atau berteriak… nanti Kakak ceritakan saja ke Amara dan semua orang apa yang terjadi antara kita di kamar hotel malam itu. Mau?”

Ancaman itu langsung melumpuhkan seluruh tenaga Kinasih. Tubuhnya menegang kaku, wajahnya pucat pasi. Ia tahu Kenan benar-benar bisa melakukannya, dan jika rahasia itu terbongkar, hidupnya hancur habis, malu seumur hidup, bahkan persahabatannya dengan Amara pasti berakhir.

Dengan hati yang hancur dan mata berkaca-kaca, akhirnya Kinasih hanya bisa mengangguk lemah, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia membiarkan tangan Kenan terus bergerak bebas, mengelus-elus dan meremas lembut kulit paha mulusnya, membuat tubuhnya kembali meremang dan rasa panas yang memalukan mulai menjalar lagi ke seluruh tubuhnya.

Kenan tersenyum puas, terus menikmati sentuhannya sambil sesekali melirik wajah Kinasih yang terlihat menderita tapi tak berdaya, menikmati sepenuhnya kekuasaan yang ia miliki atas gadis cantik itu.

Kinasih menggigit bibirnya sekuat tenaga, berusaha mati-matian menahan desahan yang ingin meledak keluar dari mulutnya. Tubuhnya sudah terasa melemas dan panas seluruhnya, tak sanggup lagi menahan gejolak yang dipicu oleh sentuhan tangan Kenan yang semakin berani.

Tanpa ragu lagi, jari-jari Kenan terus meluncur makin ke dalam, menembus celah paling intim milik Kinasih. Di sana, ia merasakan kelembutan dan kehangatan yang langsung membuat hasratnya meledak kembali. Jemarinya bergerak lembut, memutar, mengelus, dan merangsang bagian paling peka itu dengan gerakan terampil yang perlahan tapi pasti membangunkan kenikmatan dalam diri Kinasih.

Tak lama kemudian, cairan hangat mulai mengalir membasahi jari Kenan, membuat celah itu makin licin, basah, dan siap menerima sentuhan apa pun.

“Hhh… ahhh…”

Kinasih tak sanggup lagi menahannya. Matanya terpejam rapat, kepalanya terkulai ke belakang, dan desahan pelan serta mendayu lolos begitu saja dari bibirnya yang terkatup rapat. Seluruh pertahanannya runtuh, digantikan oleh rasa nikmat yang menyebar cepat ke setiap urat nadinya, membuat lututnya terasa lemas dan tubuhnya bergetar hebat.

Saat itu juga lampu lalu lintas berubah jadi merah, membuat mobil harus berhenti sejenak. Kenan menghentikan gerakan jarinya, lalu perlahan menarik tangannya keluar dari balik rok Kinasih.

Namun, ia tak berhenti sampai di situ. Di depan mata Kinasih yang masih terpejam dan terguncang nikmat, Kenan mengangkat jari-jarinya yang masih basah dan berlumuran cairan tubuh gadis itu. Dengan tatapan penuh nafsu dan godaan yang liar, ia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu memasukkan jarinya itu ke dalam mulutnya, menjilatnya pelan, menghisapnya dalam-dalam seolah sedang menikmati rasa manis yang paling lezat di dunia.

“Hhhh… enak sekali… rasanya manis banget, Sayang…”bisik Kenan parau, matanya menatap tajam wajah Kinasih yang sudah memerah padam, berkeringat, dan terlihat sangat menggoda dalam keadaan tak berdaya itu.

Kinasih hanya bisa memejamkan matanya makin erat, menahan rasa malu yang memuncak bercampur dengan sisa kenikmatan yang masih terasa membara di tubuhnya. Ia benar-benar tak bisa melawan lagi, terperangkap sepenuhnya dalam jerat pria itu.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah mulai ramai oleh mahasiswa. Begitu roda mobil berhenti total, Kinasih seolah baru terbangun dari mimpi buruk yang memabukkan. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia segera membuka pintu dan melompat turun dengan langkah tergesa, seolah ingin segera menjauh sejauh mungkin dari pria yang baru saja membuat tubuh dan hatinya kacau balau.

Amara yang baru saja terbangun dari tidurnya mengucek matanya, lalu ikut turun sambil melambaikan tangan riang. “Makasih ya, Kak Kenan! Hati-hati di jalan!” serunya ceria.

Kenan tetap duduk tenang di balik kemudi, lalu menurunkan kaca jendela sampai terbuka lebar. Ia menyandarkan kepalanya sedikit, menatap punggung Kinasih yang berjalan cepat dengan pandangan yang tak lepas, penuh kemenangan dan kegembiraan.

Saat Kinasih tanpa sadar menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan Kenan sudah pergi, matanya langsung bertemu dengan tatapan tajam pria itu. Tanpa ragu sedikit pun, Kenan segera mendekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibirnya, lalu melayangkan ciuman terbang yang sangat jelas ke arah wajah Kinasih, ciuman rahasia yang hanya mereka berdua yang mengerti maknanya.

Wajah Kinasih seketika memerah padam sampai ke telinga, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia langsung membalikkan badan, menunduk dalam, lalu mempercepat langkahnya secepat kilat bahkan sampai hampir berlari, berharap tanah bisa terbuka dan menelannya agar tak terlihat lagi oleh pria itu.

Melihat tingkah laku Kinasih yang panik dan malu luar biasa, Kenan hanya tertawa lebar dan renyah. Suara tawanya terdengar bahagia, puas sekali berhasil membuat gadis cantik itu terguncang lagi. Ia melambaikan tangan perlahan, tetap memandangi punggung Kinasih sampai menghilang di antara kerumunan mahasiswa, baru kemudian menginjak gas mobilnya dan melaju pergi dengan hati yang terasa ringan dan gembira.

Sesampainya di kantor megahnya, Kenan masih tak bisa menghilangkan senyum dan bayangan Kinasih dari pikirannya. Semua yang terjadi di dalam mobil tadi hanya membuat hasrat dan perasaannya makin membuncah, ia sadar, ia takkan pernah rela melepaskan gadis itu begitu saja. Ia ingin memiliki Kinasih sepenuhnya, bukan sekadar transaksi sesaat atau hubungan rahasia yang tak jelas.

Segera ia duduk di kursi kerjanya, meraih ponselnya, lalu mengetik pesan dengan hati-hati namun penuh kepastian:

“Kinasih, aku tahu kamu masih marah dan menganggapku hanya memandangmu lewat uang. Tapi kali ini serius. Aku menawarkan satu-satunya jalan terhormat buat kita: jadilah istri sirriku. Mas kawinku satu miliar rupiah, cukup untuk biaya hidupmu, kuliah sampai selesai, dan pengobatan ibumu seumur hidup. Aku akan urus semuanya secepatnya kalau kamu setuju. Tak perlu khawatir soal masa depan, aku akan lindungi dan jaga kamu sepenuhnya.”

Tak lama kemudian, ponsel Kinasih bergetar di tangannya. Ia sedang duduk di bangku kelas, tapi begitu membaca isi pesan itu, darahnya langsung mendidih dan perasaannya jadi sangat dongkol.

Istri sirri? Cuma satu tahun? Dasar Kenan! Dia pikir aku ini apa? Barang yang bisa dipakai sesuka hatinya lalu disingkirkan begitu saja? Dia pikir dengan uang sebanyak itu bisa membeli harga diriku selamanya?geram Kinasih dalam hati, matanya berkaca karena campuran marah, hina, dan kecewa.

Tanpa ragu sedikit pun, jemarinya bergerak cepat mengetik jawaban yang tegas dan dingin:

“TIDAK MAU. Aku bukan barang yang bisa kau beli atau jadikan milikmu seenaknya. Carilah orang lain yang mau menerima tawaran murahan itu.”

Begitu mengirim pesan itu, Kinasih langsung mematikan layar ponselnya dan membuang wajah, dadanya terasa sesak menahan amarah yang meluap.

Di sisi lain, Kenan yang melihat balasan itu langsung mengerutkan keningnya. Rasa kesal, kecewa, sekaligus bingung meluap dalam hatinya. Ia memukul pelan meja kerjanya, napasnya terasa memburu.

Kenapa dia menolak? Bukankah ini tawaran terbaik yang bisa membuatnya hidup tenang selamanya? Kenapa dia tetap keras kepala padahal aku sudah berusaha memberinya kedudukan yang lebih baik dari sekadar hubungan semalam?

Namun, di balik rasa kesalnya itu, ada satu kenyataan yang tak bisa ia sangkal: Kinasih sudah sepenuhnya mencuri hatinya. Gadis itu bukan lagi sekadar objek hasrat semata, tapi menjadi satu-satunya yang selalu ia pikirkan, yang membuatnya gelisah jika tak ada kabar.

Kenan menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya sambil memandang langit-langit ruangan. Kalau dia menolak cara ini… bagaimana lagi caranya agar aku bisa menyatu sepenuhnya dengannya? Bagaimana cara meluluhkan hatinya yang sudah keras karena sakit hati itu?

Ia sadar, perjuangannya baru saja dimulai. Ia harus menemukan cara lain, cara yang lebih lembut dan tulus, agar Kinasih mau melihatnya bukan lagi sebagai orang yang menghinanya, tapi sebagai pria yang benar-benar mencintainya dan ingin menjaganya selamanya.

Hari berganti hari, dan beban di pundak Kinasih terasa makin berat saja seiring berjalannya waktu. Ia pikir uang dua ratus juta yang diterimanya dulu cukup untuk bernapas lega dalam waktu lama, tapi kenyataan berkata lain.

Uang itu habis tak tersisa, sebagian besar digunakan untuk melunasi biaya operasi ibunya, sebagian lagi menutupi pinjaman pada Amara dan hutang-hutang kecil lain yang menumpuk. Kini, tak ada lagi sisa uang yang bisa diandalkan.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!