Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Penampilan membuat seseorang berubah sikap
Shen Yifan berjalan ke arah paviliun kecil itu. Tidak ada tanda-tanda orang lain akan mengikuti turnamen tersebut.
"Salam Senior, apakah benar di sini sedang mengadakan turnamen membuat pil?" Setelah tiba di depan paviliun, Shen Yifan menghampiri seorang wanita cantik yang tengah memegang papan bertuliskan "Perekrutan untuk Turnamen Membuat Pil" di tangannya.
"Seperti yang kau lihat, Pemuda Lusuh. Di paviliun ini sedang mengadakan turnamen improvisasi untuk membuat pil," jawab wanita itu dengan nada ketus saat Shen Yifan memberikan hormat. Mungkin wanita itu melihat kondisi Shen Yifan yang sangat lusuh dan kotor.
"Haha, iya, aku melihatnya. Cuma memastikan saja. Aku ingin ikut juga turnamen membuat pil ini!" Shen Yifan tersenyum kecut melihat raut wajah wanita itu yang tidak enak dipandang.
"Hah? Seseorang sepertimu? Seperti pengemis jalanan, ingin ikut dalam turnamen? Apa yang kau punya? Bakat atau rasa percaya diri yang tinggi?" cetus wanita itu, meremehkan Shen Yifan murni karena penampilan fisiknya.
Memang di dunia ini, terkadang orang menilai sesuatu hanya dari penampilan. Untuk pengetahuan dan bakat, itu urusan nomor sekian.
"Jika penilaianmu terhadap seseorang hanya didasarkan pada penampilannya, maka tidak mengherankan jika jumlah alkemis berbakat di dunia ini terus merosot dari generasi ke generasi." Shen Yifan mulai merasa kesal kepada wanita ini.
"Seorang alkemis bukan dinilai dari pakaian yang dikenakannya, melainkan dari bakat, penguasaan jiwa, dan pencapaiannya dalam Dao Alkimia. Kau bahkan tidak memahami etika dasar dalam menghormati sesama." Shen Yifan seolah meluapkan kekesalannya, karena di dunia ini orang yang terlihat kekurangan akan terus-menerus dihina.
Wanita itu langsung terdiam seribu bahasa, tidak mampu membalas ocehan Shen Yifan.
"Bagaimana jika orang yang Anda pandang rendah itu justru menyimpan bakat yang melampaui seluruh jenius di kota ini? Apakah Anda tetap akan memperlakukannya dengan sikap angkuh dan penuh penghinaan? Dengan perangai seperti itu, bagaimana mungkin Anda berharap menyaring atau merekrut talenta-talenta luar biasa? Bahkan sebelum mereka menunjukkan kemampuan mereka, Anda telah lebih dulu menutup pintu dengan kesombonganmu," ujar Shen Yifan santai.
Namun di dalam hatinya, sekumpulan emosi sangat meluap-luap. Ia teringat kata-kata kakeknya: 'Kalau tidak bisa melawannya dengan kekuatan, setidaknya lawan balik dengan ucapan untuk meyakinkan diri sendiri dan menjaga kepercayaan diri!'
"Kata-katamu bagus, tapi tidak selaras dengan penampilanmu. Tuan, apakah Anda benar-benar ingin ikut dalam turnamen kecil ini?" Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat indah dari hadapan Shen Yifan—suara yang lembut, namun sedikit menusuk.
Shen Yifan mulai mengalihkan pandangannya pada orang itu. Pupil matanya seketika melebar. Menatap dari atas ke bawah, Shen Yifan menggelengkan kepala tanpa sadar, hingga isi hatinya spontan terungkap lewat kata-kata, "Bidadari dari surga mana yang datang ke kota ini? Sungguh definisi kecantikan surgawi."
Sebagai pria yang jarang sekali melihat wanita cantik, siapa pun pasti akan langsung hanyut dalam pikiran masing-masing, mengagumi definisi cantik dalam segala hal.
Wanita itu mengenakan jubah panjang berwarna putih keperakan yang ditenun dari sutra spiritual. Permukaan kainnya berkilauan lembut diterpa cahaya, dihiasi sulaman benang emas membentuk motif burung phoenix dan bunga teratai yang tampak hidup. Lengan jubahnya menjuntai panjang, berkibar lembut mengikuti setiap langkahnya, menghadirkan kesan seolah awan tipis sedang mengiringi pergerakannya.
Pinggangnya yang ramping diikat oleh sabuk giok berwarna zamrud, sementara beberapa liontin giok kecil menggantung anggun, menghasilkan denting lembut yang merdu setiap kali ia bergerak. Rok panjang berlapis-lapis menjuntai hingga menyapu lantai, memperlihatkan perpaduan kemewahan dan keanggunan khas keluarga bangsawan.
Rambut hitam legamnya terurai bak air terjun malam, sebagian disanggul tinggi dan dihiasi jepit rambut emas bertatahkan batu giok putih. Beberapa helaian rambut menjuntai lembut di sisi wajahnya, semakin mempertegas pesona yang dimilikinya. Wajahnya nyaris tanpa cela. Kulitnya sehalus giok putih yang baru dipoles, memancarkan kilau alami tanpa sedikit pun noda. Alisnya melengkung indah laksana sapuan kuas seorang pelukis agung.
Sepasang mata bening bak danau di bawah cahaya bulan memancarkan ketenangan sekaligus kewibawaan, cukup untuk membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama. Bibir merah mudanya membentuk lengkungan tipis yang samar, menghadirkan senyum lembut yang justru membuat kecantikannya semakin sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Keanggunannya bukan hanya berasal dari parasnya, melainkan dari pembawaan yang tenang dan penuh martabat. Ia berdiri tanpa perlu memamerkan kekuatan, tetapi kehadirannya saja sudah cukup menarik perhatian Shen Yifan. Bahkan cara dia berbicara membuat waktu di sekitarnya seolah berhenti. Shen Yifan secara naluriah menyadari bahwa wanita itu bukanlah sosok biasa.
Jika kecantikan di dunia fana memiliki batas, maka wanita itu seakan telah melampauinya. Ia bagaikan peri surgawi yang turun dari langit, terlalu sempurna untuk berasal dari dunia manusia. Bahkan bunga-bunga yang bermekaran di halaman tampak kehilangan pesonanya saat dibandingkan dengan sosoknya, sementara sinar matahari yang menerpa wajahnya hanya menjadi pelengkap bagi kecantikan yang sudah nyaris tak bercela.
"Tuan, ada apa?" Wanita cantik itu merasa heran melihat pria di depannya, yang tadinya sangat komunikatif, kini justru mematung saat melihatnya.
Dilanda oleh rasa kagum, Shen Yifan mendadak menyadari sesuatu; bagi manusia cacat seperti dirinya, menatap kecantikan wanita itu terlalu lama rasanya bisa memicu hukuman berat.
Tersadar oleh suaranya yang sangat indah, akhirnya Shen Yifan segera memalingkan wajahnya.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya saja... Anda sangat cantik!" Shen Yifan tersenyum sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal untuk mengalihkan rasa canggung.
"Senior, orang lus-... maksudnya, orang ini ingin mengikuti turnamen kecil kita," sahut wanita penjaga di sampingnya.
"Tidak apa-apa. Kalau mau ikut, ya ikut saja. Hei, Lan Yue, jangan melihat seseorang hanya dari penampilannya. Siapa tahu orang ini sebenarnya sangat berbakat," tegur wanita itu sembari melirik sekilas ke arah wanita ketus yang ternyata bernama Lan Yue tersebut.
Lan Yue langsung tertunduk, tetapi tatapan matanya tetap sinis saat melirik Shen Yifan.
"Tuan, berbakat atau tidaknya, mari kita buktikan di dalam!" sahut wanita itu kembali menatap Shen Yifan.
"Tentu saja, aku akan menerimanya... Namaku Yi Fan!" Karena ingin namanya diingat oleh wanita cantik ini, Shen Yifan sedikit membungkuk untuk memperkenalkan diri.
Wanita itu tersenyum tipis kepadanya. "Baiklah, namaku Nangong Yue. Nangong adalah nama keluargaku, dan Yue adalah namaku." Nangong Yue juga sedikit menundukkan kepala sebagai balasan.
Shen Yifan mengangguk paham.
"Kalau begitu, ayo kita masuk!" Nangong Yue mempersilakannya.
Nangong Yue dan Shen Yifan pun berjalan masuk bersama.
Ketika Shen Yifan melangkah masuk, ruangan di dalamnya ternyata tidak terlalu luas. Tempat itu bahkan terkesan sangat sederhana, tidak jauh berbeda dengan tempat pembuatan pil milik kakeknya dahulu. Dinding batu yang dipoles halus dipenuhi rak-rak kayu berisi botol giok, stoples obat, serta beberapa gulungan resep pil yang tersusun rapi.
Di tengah-tengah aula terdapat sekitar empat buah tungku. Tiga tungku di antaranya sudah diisi oleh peserta lain. Melihat Shen Yifan masuk, ketiga orang tersebut menahan diri untuk tidak mencela secara langsung, namun mereka menatap Shen Yifan dengan tatapan jijik karena penampilannya yang kotor dan lusuh.
"Nah, Yi Fan, masih ada satu tungku lagi yang tersisa. Silakan," ucap Nangong Yue menunjukkan tungku terakhir, yang kondisinya agak berkarat dan mulai termakan oleh rayap besi.
Dengan tekad yang kuat dan rasa percaya diri, Shen Yifan melangkah maju menghadapi tungku tersebut.
"Semuanya, sekarang tungku sudah terisi penuh. Untuk jenis pilnya, kalian harus membuat Pil Grade Dua atau setidaknya Grade Mungkin Tiga Awal, yaitu Pil Pembersih Jiwa. Dengan ini, turnamen spontan resmi dimulai!" Nangong Yue mengumumkan dimulainya pertandingan dengan suaranya yang merdu.
Namun, ada hal aneh yang tertangkap oleh mata Shen Yifan. Ia melihat peserta lain justru menelan sebutir pil terlebih dahulu sebelum memasukkan jenis-jenis tanaman herbal ke dalam tungku mereka.
Melihat kebingungan di wajah pemuda itu, Nangong Yue berjalan mendekati Shen Yifan.
"Itu adalah Temporary Flame Pill. Kegunaannya adalah untuk memicu dan mengeluarkan api spiritual dari dalam Dantian mereka secara sementara," jelas Nangong Yue.
"Eh? Aku kira mereka memang sudah memiliki api spiritual sendiri?" jawab Shen Yifan bingung. Ia mengira ketiga orang yang mengikuti turnamen pembuat pil ini sudah memiliki api bawaan untuk menyuling dan melebur tanaman herbal di dalam tungku.
"Hah, kalau kamu seorang alkemis, kamu pasti tahu bahwa seseorang yang terlahir memiliki api spiritual murni itu sangat langka sekali. Ini adalah salah satu penyebab kemunduran para alkemis saat ini," keluh Nangong Yue.
Shen Yifan mengangguk karena kini ia sudah memahaminya.
"Temporary Flame Pill adalah pil tingkat tiga, sangat jarang ditemukan dan harganya mahal. Apakah Yi Fan memiliki pil serupa?" tanya Nangong Yue kepada Shen Yifan. Melihat raut wajah pemuda itu, Nangong Yue berasumsi bahwa Shen Yifan tidak mempersiapkan barang tersebut.
Namun, ia tidak habis pikir, untuk apa seseorang bersikeras mengikuti turnamen membuat pil tanpa persiapan apa pun?
"Aku mungkin tidak punya pil api itu, tapi aku..." Jawab Shen Yifan dengan wajah yang mendadak serius.
Shen Yifan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "...aku punya ini!" lanjut Shen Yifan seraya melepaskan segel energinya.
Ia langsung mengeluarkan Flame Devouring, sebuah fenomena yang seketika membuat semua orang di dalam ruangan terbelalak syok.
"Api spiritual murni?!" Sontak semuanya berseru kaget, menatap nanar pada kobaran api merah mistis yang menari-nari di atas telapak tangan Shen Yifan.
(Flame Devouring?!) batin Nangong Yue tersentak hebat, karena ia mengenali jenis api legendaris tersebut.