NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13. Gurun pasir dan kota yang terlupakan.

Setelah menghabiskan waktu tiga hari di Pegunungan Suara, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan. Para Penyanyi Batu mengantar kami sampai ke ujung lembah, menyanyikan lagu perpisahan yang lembut namun penuh semangat lagu yang baru saja kami ciptakan bersama.

“Kapan pun kalian lewat sini, pintu kami akan selalu terbuka,” kata Guntur sambil melambaikan tangan yang terbuat dari batu kasar namun terasa hangat. “Suara kami akan selalu memanggil kalian pulang.”

Zarek melambaikan tangan dengan semangat, sambil masih membawa sepotong roti kering yang dibungkusnya rapi. “Tenang saja! Nanti kalau urusan kami sudah selesai, kami pasti kembali lagi! Aku ingin bernyanyi bersama lagi, kali ini suaraku dijamin akan lebih enak didengar!”

Liora dan Leon berjalan berdampingan di tengah rombongan. Tangan mereka masih saling bergenggam erat, seolah takut terpisah meski hanya sesaat. Semakin jauh meninggalkan pegunungan, udara yang tadinya sejuk dan segar perlahan berubah menjadi lebih kering dan hangat. Tanah yang tadinya subur dan berumput lama-kelamaan berubah menjadi hamparan pasir berwarna keemasan.

Valgus yang berjalan paling depan berhenti sejenak, menatap ke depan dengan pandangan yang serius.

“Inilah batas wilayah utara,” katanya sambil menunjuk hamparan luas yang terlihat samar di bawah cahaya matahari. “Di sana terbentang Gurun Pasir Panas. Dan tepat di tengahnya, ada sesuatu yang bahkan aku sendiri sudah lupa wujudnya. Dulu Leon pernah menulis hanya satu kalimat saja: Di utara terdapat gurun yang luas, tempat di mana matahari bersinar paling terang. Hanya itu. Tidak ada keterangan lain.”

Leon menggaruk kepalanya, kembali merasa bersalah. “Benar, aku ingat. Waktu itu aku hanya membutuhkannya sebagai latar belakang saja, jadi tidak kupikirkan detailnya. Sepertinya kebiasaan buruk inilah yang membuat banyak tempat menjadi kosong dan menimbulkan masalah.”

Semakin kami melangkah masuk ke dalam gurun, suhu udara terasa semakin menyengat. Pasir di bawah kaki terasa panas, dan angin yang berhembus membawa butiran-butiran pasir halus. Namun anehnya, di tengah panas yang terasa membakar kulit itu, tidak ada rasa haus atau lelah yang berlebihan, tanda bahwa aturan dasar dunia ini masih bekerja meski belum lengkap.

Setelah berjalan hampir setengah hari, tiba-tiba Zarek menunjuk ke depan dengan mata terbelalak.

“Wah… lihat itu! Apa bangunan besar yang ada di tengah pasir itu?”

Kami segera mempercepat langkah. Di kejauhan, menjulang tinggi di atas bukit pasir, terlihat atap dan dinding bangunan yang terbuat dari batu berwarna emas pudar. Semakin dekat, bentuknya semakin jelas, sebuah kota kuno yang megah, dengan menara-menara tinggi, gerbang raksasa, dan jalanan yang dulunya pasti sangat ramai, namun kini tertutup sebagian oleh timbunan pasir.

“Ini… Kota Permata,” gumam Valgus tak percaya. “Dahulu konon katanya kota yang paling makmur dan kaya raya di seluruh dunia. Tapi mengapa sekarang terlihat begitu sepi dan mati?”

Kami mendekati gerbang utama yang terbuka lebar, seolah sudah lama menunggu kedatangan tamu. Tidak ada penjaga, tidak ada suara, hanya keheningan yang menyelimuti setiap sudut bangunan.

Saat melangkah masuk ke dalam kota, kami tertegun melihat pemandangan di sekitar. Jalanan yang dulunya lebar dan indah kini tertutup pasir, bangunan-bangunan megah masih berdiri kokoh meski tampak usang, dan ornamen indah yang terukir di dinding masih terlihat jelas meski sudah kusam terkena terik matahari.

“Mengapa begitu sepi?” tanya Liora pelan, suaranya bergema di antara bangunan. “Di manakah penghuninya?”

Belum sempat kami menjawab, tiba-tiba dari balik pintu dan celah-celah bangunan, muncul sosok-sosok yang membuat kami terkejut. Mereka tampak seperti manusia biasa, mengenakan pakaian dari kain halus berwarna-warni, namun tubuh mereka terlihat samar, agak tembus pandang, dan bergerak sangat lambat seolah berjalan di dalam air.

Mereka menatap kami dengan pandangan kosong dan sedih, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Apakah ini… penghuni kota ini?” tanya Leon sambil mendekat dengan hati-hati.

Seorang pria tua yang berjalan paling depan mengangguk perlahan, suaranya terdengar seperti bisikan yang tertiup angin.

“Selamat datang… di Kota Permata. Kami adalah sisa-sisa penghuni yang masih tersisa. Dahulu, kota ini begitu gemilang. Kami memiliki emas, permata, makanan yang melimpah, dan cuaca yang selalu indah. Segala sesuatu yang kami butuhkan tertulis ada di sini.”

Pria itu terduduk di atas batu besar yang masih utuh, matanya menatap kosong ke arah jalanan yang sepi.

“Namun ada satu hal yang tidak tertulis,” lanjutnya dengan nada sedih. “Tidak ada cerita tentang apa yang harus kami lakukan setelah memiliki segalanya. Tidak ada tujuan, tidak ada impian, tidak ada tantangan. Seiring berjalannya waktu, hari terasa sama saja. Kami tidak lagi merasa gembira, tidak lagi merasa sedih, tidak lagi merasakan apa pun. Semua perasaan perlahan hilang, dan tubuh kami perlahan memudar menjadi seperti ini… ada namun tidak hidup, bergerak namun tidak memiliki semangat.”

Leon tertegun mendengar penjelasan itu. Ia baru menyadari bahwa memberikan segalanya tanpa disertai makna dan tujuan justru bisa menjerumuskan makhluk ke dalam kehampaan yang lebih buruk daripada kekurangan.

“Jadi kalian tidak sakit, bukan karena kutukan, melainkan karena… merasa bosan dan tidak memiliki arah?” tanya Leon untuk memastikan.

“Benar sekali,” jawab pria tua itu. “Kami memiliki segalanya, namun tidak memiliki alasan untuk terus maju. Kami selalu menunggu perintah, menunggu cerita baru, namun hal itu tidak pernah datang. Akhirnya, semangat hidup kami perlahan menguap terbawa angin gurun.”

Liora melangkah maju dengan wajah penuh rasa iba. Ia mengulurkan tangannya yang memancarkan cahaya lembut, lalu menyentuh salah satu warga yang tubuhnya paling pudar. Sesaat kemudian, terlihat sedikit kilau baru muncul di tubuh makhluk itu.

“Kalian tidak membutuhkan emas atau permata lagi,” kata Liora dengan lembut namun tegas. “Kalian membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diukur nilainya: tujuan, mimpi, dan perasaan yang nyata.”

Zarek yang sedari tadi diam mulai berbicara dengan semangat khasnya. “Benar sekali! Kalau hanya duduk diam menunggu waktu berlalu, siapa pun pasti akan menjadi lesu! Ayo kita ciptakan sesuatu yang baru! Kita ubah kota ini agar tidak lagi terasa sepi!”

Leon mengangguk setuju, lalu membuka buku catatannya. Kali ini ia tidak menuliskan perintah, melainkan sebuah kemungkinan.

“Kota Permata tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan harta,” ucap Leon dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh penjuru kota. “Mulai hari ini, kota ini menjadi pusat pengetahuan dan perdagangan yang dinamis. Kalian yang tinggal di sini bebas menentukan apa yang ingin dicapai: boleh menjelajahi gurun, boleh menciptakan karya seni baru, boleh berdagang ke daerah lain, atau boleh mengajarkan keahlian yang kalian miliki kepada orang lain. Kalian bebas merasakan lelah setelah bekerja, bebas merasakan gembira setelah berhasil, bebas merasakan rindu saat pergi jauh, dan bebas merasakan bangga atas hasil karya sendiri.”

Begitu kata-kata itu terucap, angin kencang tiba-tiba berhembus di seluruh kota, namun kali ini terasa segar dan penuh energi. Cahaya keemasan menyebar dari pusat kota, menyentuh setiap bangunan dan setiap warga yang ada.

Wajah-wajah yang tadinya kosong perlahan berubah. Tubuh mereka yang samar mulai memadat kembali menjadi nyata, warna pakaian mereka menjadi cerah, dan mata mereka yang tadinya redup kini berbinar penuh semangat.

Mereka saling berpandangan, lalu mulai menggerakkan tangan dan kaki seolah baru terbangun dari tidur panjang. Suara tawa dan obrolan yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar, kembali menggema memenuhi jalanan kota.

Pria tua tadi berjalan mendekat, tubuhnya kini terlihat kokoh dan matanya berbinar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda terima kasih.

“Terima kasih… Sang Penulis. Akhirnya kami merasa hidup kembali. Rasanya seolah beban berat yang selama ini menekan dada kami terangkat begitu saja.”

“Kuncinya sebenarnya sederhana saja,” jawab Leon sambil tersenyum. “Kekayaan dan kemudahan itu memang baik, namun tanpa tujuan dan kebebasan untuk berkembang, hal itu justru akan menjadi penjara yang indah.”

Kami pun tinggal di kota itu selama beberapa hari, membantu warga membersihkan jalanan yang tertutup pasir, memperbaiki bangunan, serta mendirikan pasar dan tempat belajar. Zarek bahkan dengan semangatnya mengajari para pemuda cara berlatih fisik dan mempertahankan diri, membuat mereka merasa sangat antusias.

Pada suatu malam, ketika suasana kota kembali tenang dan lampu-lampu minyak mulai menyala di setiap jendela, Leon dan Liora duduk di atas menara tertinggi sambil memandangi pemandangan di bawah. Kota yang tadinya terasa mati kini tampak hidup kembali, dengan cahaya-cahaya kecil yang berkelap-kelip bagaikan bintang yang turun ke bumi.

“Kau lihat?” kata Liora sambil bersandar di bahu Leon. “Setiap tempat yang kita datangi, intinya selalu sama. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk menemukan makna hidupnya sendiri.”

Leon merangkul bahunya dengan erat. “Benar. Dan aku merasa sangat bersyukur bisa mempelajari hal ini bersamamu. Tanpa dirimu, mungkin aku hanya akan terus menuliskan aturan saja, bukan memberikan mereka kebebasan untuk tumbuh.”

Tiba-tiba Valgus muncul di belakang mereka, menatap ke arah utara yang tampak semakin gelap.

“Masih ada satu wilayah terakhir yang belum kita kunjungi,” katanya dengan nada waspada. “Di ujung gurun sana, di balik pegunungan es yang terjal, terdapat wilayah yang bahkan tidak pernah disebut dalam tulisan apa pun. Wilayah yang paling gelap dan paling misterius di antara semuanya.”

Leon menatap ke arah yang ditunjuk Valgus, lalu menggenggam tangan Liora dengan lebih erat.

“Kalau begitu, besok pagi kita berangkat ke sana. Kita selesaikan semuanya sampai tuntas.”

Dan di bawah langit gurun yang dipenuhi bintang-bintang terang, kami bersiap menghadapi tantangan terakhir yang menanti di ujung perjalanan.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!