NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Setelah mengganti pakaianku dengan daster rumahan yang nyaman, aku akhirnya memberanikan diri untuk melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, pandanganku langsung tertuju pada Jayan yang sedang asyik bermain robot besar pemberian Jalal. Di sampingnya, Jalal tampak begitu telaten dan gembira menemani putra kecilnya bermain.

​Begitu mendengar suara pintu kamarku terbuka, Jalal langsung menoleh ke arahku. Tatapan mata kami kembali bertemu di udara. Aku menatapnya datar tanpa senyuman, namun pria itu justru membalas tatapanku dengan sebuah senyuman hangat—jenis senyuman tulus yang teramat jarang, atau bahkan tidak pernah dia tunjukkan padaku dulu.

​Aku memilih melewatinya begitu saja dan berjalan lurus menuju dapur. "Ma, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku begitu sampai di hadapan Mama yang sedang sibuk.

​Mama menoleh, lalu mengerutkan keningnya heran. "Kenapa kau ke sini? Kau pergimi sana ke depan, temani suamimu. Biar Mama yang masak semua ini," usir Mama lembut.

​Aku mengangguk pasrah. Mataku kemudian menangkap kotak kue lapis legit hantaran Pak Jalal yang belum tersentuh di atas meja. Aku berniat mengiris kue itu, lalu membuatkan minuman hangat untuk Jalal dan Rudi yang berada di depan.

​Selesai menyeduh teh, aku berjalan kembali ke ruang depan membawa nampan. Di sana, aku melihat Jayan sudah dengan nyamannya duduk di pangkuan Jalal. Keduanya terlihat sangat fokus memutar dan menyusun sebuah kubus rubik.

​"Abang..." panggilku lembut.

​Menariknya, kedua pria beda usia itu menoleh secara bersamaan ke arahku. Aku mengernyitkan dahi sekilas, lalu memanggil nama lengkap putraku. "Jayan, kemari, Nak. Biar Bapak istirahat dulu."

​"Tidak mau..." tolak Jayan manja. Dia semakin menyandarkan punggungnya ke dada Jalal. "Aku mau sama Bapak saja. Iya kan, Bapak?"

​Jalal mengangguk mantap menyetujui ucapan Jayan. Dia lalu mendongak, menatapku dengan pandangan memohon yang sangat halus. "Izinkan dia bersamaku sebentar, Yas," ucap Jalal dengan nada suara yang rendah.

​Aku mengangguk pelan tanpa membantah. Kulangkah kaki mendekat untuk meletakkan nampan berisi minuman dan irisan kue lapis di atas meja, lalu ikut duduk di sofa tunggal tak jauh dari mereka.

​Setelah itu, kami terjebak dalam keheningan yang cukup lama. Tidak ada obrolan di antara kami, hanya ada suara celoteh kecil Jayan yang lambat laun mulai meredup. Sampai akhirnya, aku menyadari kepala anakku sudah bersandar lemas di lengan kokoh ayahnya dengan mata yang terpejam rapat.

​"Apa dia tidur?" tanyaku memecah kesunyian, nadanya tak sedingin tadi.

​Jalal mengangguk pelan, gerakannya sangat berhati-hati agar tidak mengusik tidur sang anak. Aku bangkit berdiri dan melangkah menuju kamarku, lalu membukanya lebar-lebar. "Kemari, Pak. Bawa dia masuk ke dalam," ucapku pelan.

​Jalal mengangguk patuh. Dengan cekatan namun sangat lembut, dia menggendong tubuh mungil Jayan ke dalam dekapannya lalu melangkah mengikutiku masuk ke kamar.

​"Baringkan saja dia di sini," bisikku menunjuk bagian tengah tempat tidur.

​Jalal perlahan membaringkan Jayan di atas kasur usangku. Setelah memastikan posisi tidur anaknya nyaman, dia menegakkan tubuh. Sementara itu, aku duduk di sisi tempat tidur, memandangi wajah tampan putraku yang terlelap, lalu merunduk untuk mengecup lembut pipi gembilnya.

​"Yas... bisa kita bicara?" tanya Jalal hati-hati, memecah kesunyian di dalam kamar. Nadanya terdengar sangat cemas, takut ditolak.

​Aku menghela napas panjang. Di dalam lubuk hatiku, aku sudah melunakkan ego. Aku tidak ingin terus-menerus berkeras hati dan memelihara dendam yang melelahkan ini. Biarlah yang lalu berlalu.

​Aku mengangguk pelan. "Bicaralah, Pak," ucapku lembut.

​Jalal melangkah mendekatiku. Namun, alih-alih duduk di kursi atau di tepi kasur, pria paruh baya yang terhormat dan berwibawa itu mendadak menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. Dia bersujud tepat di hadapan kakiku.

​"Pak! Apa yang Bapak lakukan?! Enggak, bangun, Pak! Jangan seperti ini!" seruku panik setengah mati. Aku syok melihat seorang Jalal Assidiq merendahkan dirinya sedalam ini di depanku.

​Namun, Jalal sama sekali tidak mengindahkan seruanku. Dia tetap bersujud di sana, mencengkeram jemari kakiku dengan gemetar.

​"Maafkan saya, Yas... Saya sangat bersalah," ucapnya dengan suara parau yang bergetar hebat karena menahan tangis. "Setelah kamu pergi meninggalkan rumah malam itu, hidup saya terasa sangat sepi, Yas. Saya seperti cangkang kosong tanpa isi. Saya jarang sekali bisa tidur tenang karena pikiran saya sepenuhnya dipenuhi oleh bayanganmu dan rasa bersalah yang menyiksa..."

​Air mata penyesalan yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah ruah, mengalir hangat mengenai punggung kakiku. Menyaksikan kerapuhan pria besar ini, benteng kemarahanku runtuh tak bersisa.

​"Bangun, Pak... Saya... saya sudah memaafkan semuanya," ucapku pelan dengan mata yang ikut berkaca-kaca. "Mau marah juga saya sudah tidak bisa. Semuanya sudah berlalu."

​Dengan kelembutan yang tulus, kedua tanganku meraih bahu tegapnya, mencoba mengangkat tubuhnya agar bangkit dari lantai.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!