Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Kepergian Belva
Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Venny dan juga Bondan. “Awas kalian berdua, pokoknya kalian harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan kalian,” gumam Belva sembari mengepalkan tangannya.
Belva bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak lama kemudian, dia selesai mandi dan segera memakai baju. Setelah itu, dia menggeret kopernya menuruni anak tangga.
“Belva, sebenarnya kamu mau ke mana? Mama harus tahu, supaya Mama bisa memantau kamu,” seru Mama Venny menghampiri Belva.
“Jangan sok baik, aku tahu di dalam hati Mama pasti senang ‘kan karena aku akan pergi dari rumah ini?” seru Belva dengan sinisnya.
“Belva, kenapa kamu selalu berpikiran seperti itu? Mama sedih jika kamu tidak ada,” ucap Mama Venny.
“Aku sudah muak dengar kata-kata itu, jangan pura-pura. Dari kecil sampai sekarang, Mama gak pernah ngurus aku yang urus aku dari kecil adalah Papa dan baby sitter. Sekarang aku mau pergi dari rumah ini untuk melanjutkan pendidikan aku dan Mama tidak perlu tahu aku pergi ke Negara mana, yang penting sekarang Mama hiduplah bahagia dengan mereka jangan hiraukan aku apalagi khawatirin aku karena tabunganku cukup untuk biaya hidupku,” sahut Belva.
“Kamu benar-benar keterlaluan Belva, jangan sampai baru satu bulan pergi kamu kembali lagi ke rumah ini karena uang kamu habis,” sinis Mama Venny.
“Tenang saja, itu tidak akan terjadi,” sahut Belva.
Belva pun melanjutkan langkahnya dan segera pergi bahkan Mario sudah menunggu di depan rumah Belva. Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di Bandara. Mario terlihat sangat sedih kala melepas kepergian kekasihnya itu tapi mau bagaimana lagi karena itu memang sudah menjadi keputusan Belva dan Mario tidak bisa melarangnya.
“Jaga diri kamu baik-baik, nanti jika ada libur panjang aku akan susul kamu ke sana,” seru Mario.
“Iya, aku tunggu. Kamu juga jaga diri kamu di sini dan yang terpenting kamu harus jaga hati kamu untukku,” sahut Belva.
“Tentu saja.” Mario menarik tubuh Belva ke dalam dekapannya.
Untuk sesaat, mereka berdua saling berpelukan. Entah berapa lama mereka akan berpisah karena Belva juga tidak tahu sampai kapan dia belajar di sana. Belva pun melepaskan pelukanya dan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Belva menghapus air matanya, dia takut tidak bisa pergi jika dia menoleh ke belakang. Mario hanya bisa melihat kepergian kekasihnya dengan tatapan sedih. Akahkan LDR-an mereka akan berjalan dengan lancar, atau kah malah sebaliknya?.
“Pa, kali ini Belva benar-benar sudah benci kepada Mama jadi Papa jangan marah ya, jika sekarang Belva akan hidup sendiri dan tidak akan kembali lagi ke rumah itu,” batin Belva.
***
Tissa hendak membuka pintu kamar Belva tapi ternyata pintunya terkunci. “Sial, ternyata dia benar-benar tidak ingin aku masuk ke dalam kamarnya. Asa barang berharga apa di kamar dia, sampai-sampai dikunci seperti ini?” kesal Tissa.
Saat ini Tissa memang sedang libur sekolah. Setelah pembagian rapot, biasanya anak-anak sekolah libur selama dua minggu. Tissa pun turun ke bawah dan bersikap manja kepada Mamanya.
“Ma, Tissa liburnya lama loh, masa Mama gak mau ajak Tissa liburan sih?” seru Tissa.
“Oh iya, memangnya kamu mau liburan ke mana?” tanya Mama Venny.
Tissa mulai semangat dan berpikir. “Ma, dari dulu Tissa ingin sekali liburan ke luar negeri, kalau boleh Tissa ingin pergi ke luar negeri tapi kalau gak boleh gak apa-apa di dalam negeri saja,” sahut Tissa pura-pura sedih.
Venny saling pandang dengan Bondan. “Boleh kok sayang, kamu mau pergi ke negara apa?” tanya Mama Venny.
“Aku ingin ke disney land yang ada di Jepang, Ma,” sahut Tissa antusias.
“Boleh, lusa kita berangkat ke Jepang,” ucap Mama Venny.
“Yeayyyy....terima kasih, Ma. Tissa sayang banget sama Mama.” Tissa memeluk dan mencium pipi Venny.
***
Setelah beberapa jam perjalanan, Belva pun sampai di Korea Selatan. Dia menyewa sebuah rumah sederhana di sana, kebetulan dia bisa bahasa Korea sedikit-sedikit. Dia punya kenalan di Korea, namanya Yuri.
Belva kenal dengan Yuri dan media sosial, dan ternyata obrolan mereka nyambung dan akhirnya mereka pun berteman. Rumah itu juga Yuri yang sewakan, dan Belva akan tinggal di sana bersama Yuri. “Selamat datang di Korea!” seru Yuri.
“Terima kasih. Untung ada kamu, jadi aku tidak terlalu takut tinggal sendirian di negara orang,” seru Belva.
“Tenang saja, aku siap menjadi penerjemaah untuk kamu,” seru Yuri.
Yuri merupakan Mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa melanjutkan S2-nya di Korea Selatan. Dia lumayan sudah lama tinggal di sana, sebenarnya setiap liburan Yuri bisa saja pulang ke Indonesia tapi dia sudah tidak punya siapa-siapa di Indonesia maka dari itu dia memilih diam saja. Yuri juga bekerja paruh waktu di sana, jadi dia punya uang untuk hidup sehari-hari.
“Kamu mau kuliah di mana?” tanya Yuri.
“Kuliah di kampus kamu saja deh, lagi pula kuliah bukan tujuan utama aku karena tujuan utama aku adalah ikutan kursus skincare,” sahut Belva.
“Ya, sudah besok kamu daftar di kampus aku saja soalnya di kampus aku waktunya fleksibel, jadi pulang kuliah kamu bisa ikut kelas kursus skincare,” ucap Yuri.
Belva sangat bahagia sekali bisa kenal dengan Yuri. Keduanya tidak tahu jika pertemuan mereka adalah sebuah takdir yang nantinya akan membuat keduanya menjadi sahabat yang tidak akan bisa terpisahkan. Untuk Belva, ini adalah pertama kalinya mempunyai teman dan ternyata itu sangat menyenangkan.
Keesokan harinya....
Belva bersiap-siap untuk daftar kuliah di kampus Yuri. Keduanya naik bus menuju kampus dan lagi-lagi itu pertama kalinya Belva naik kendaraan umum. “Ternyata naik bus itu enak ya, mana unik lagi ada tantangannya harus lari-lari,” seru Belva dengan napas terengah-engah.
“Serius kamu baru pertama kali naik bus?” tanya Yuri tidak percaya.
“Iya.”
“Wajar sih, kamu anak orang kaya,” seru Yuri.
Belva benar-benar sangat bahagia, selama perjalanan dia tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya. Kota Seoul begitu sangat indah, bahkan yang awalnya dia hanya bisa lihat di drakor sekarang dia bisa merasakannya sendiri. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kampus dan Belva langsung daftar.
Setelah selesai daftar, keduanya keluar dari ruangan pendaftaran. “Bel, kamu mau pulang atau bagaimana? Soalnya aku ada kuliah hari ini,” seru Yuri.
“Ya, sudah kamu kuliah saja sana aku biar lihat-lihat kampus ini dulu,” sahut Belva.
“Ok. Kalau kamu mau pulang, naik taksi saja ya dan berikan alamat rumah ini,” seru Yuri sembari memberikan secarik kertas.
“Baiklah, terima kasih ya, Yur.”
“Aku masuk dulu ya, sampai jumpa di rumah nanti!” teriak Yuri sembari berlari.
Belva melambaikan tangannya ke arah Yuri. Yuri anak yang sangat ceria, walaupun dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini tapi dia begitu menikmati hidup. “Aku harus bisa seperti Yuri, aku harus sukses,” gumam Belva dengan senyumannya.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva