Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : Altar Dingin
Hari yang digadang-gadang sebagai pernikahan termegah tahun ini akhirnya tiba. Namun bagi Natalia Oliver Smith, atmosfer di dalam gereja katedral yang megah itu tidak terasa hangat, melainkan sedingin es.
Di altar pernikahan, pria yang kini resmi menjadi suaminya, Ethan Noah Taylor, berdiri dengan ketampanan yang mematikan. Namun, kehangatan dan binar posesif yang Ethan tunjukkan di malam pesta aliansi beberapa waktu lalu telah menguap tanpa sisa. Sikapnya kembali ke setelan pabrik—bahkan jauh lebih dingin dan berjarak.
Saat jemari Natalia gemetar menyematkan cincin di jari manis Ethan, pria itu bahkan tidak menatap matanya. Sorot mata kelam Ethan lurus menatap dinding altar, seolah Natalia hanyalah sebuah kewajiban bisnis yang berhasil ia selesaikan.
"Kau sah menjadi istriku, Natalia," bisik Ethan sangat rendah saat mereka berbalik menghadap para tamu. Suaranya datar, tanpa emosi, kontras dengan gemuruh tepuk tangan yang menggema di seluruh ruangan. "Tapi jangan pernah berharap aku akan menjadi suami yang kau impikan."
Natalia mengepalkan tangannya di balik gaun pengantin putihnya yang menjuntai indah. Di barisan kursi terdepan, Rey—kakak kandungnya—serta Alex dan Elex menatap altar dengan pandangan tajam penuh selidik. Mereka bisa merasakan ada yang tidak beres dari bahasa tubuh Ethan yang terlampau kaku.
Ketegangan itu mencapai puncaknya saat resepsi pernikahan dimulai. Di tengah pesta yang dihadiri ribuan kalangan elite, seorang wanita bergaun satin merah muda pucat melangkah mendekati pelaminan dengan keanggunan yang dipaksakan.
Dia adalah Sophia, sepupu Ethan. Wanita yang di malam sebelum pesta lalu sempat mencium Ethan di bawah pengaruh obsesinya sendiri. Ia tahu Sophia sangat mencintai Ethan sejak lama, cinta sepihak yang membakar warasnya, meski Natalia tak tau bahwa Ethan sendiri tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar ikatan saudara.
"Selamat atas pernikahanmu, Ethan," suara Sophia terdengar bergetar, matanya yang berkaca-kaca hanya tertuju pada Ethan, mengabaikan keberadaan Natalia di samping pria itu. "Aku harap kau bahagia dengan pilihan keluarga ini."
Natalia memperhatikan interaksi itu dengan dada yang berdenyut nyeri. Ia teringat konfrontasi mereka di rooftop waktu itu tentang siapa yang mencium siapa.
Melihat Sophia, ekspresi Ethan sedikit melunak—bukan karena cinta, melainkan karena rasa bersalah atau tanggung jawab keluarga yang Natalia sendiri belum pahami. Ethan mengangguk pelan. "Terima kasih, Sophia. Kau harusnya tidak perlu memaksakan diri datang jika sedang tidak sehat."
"Bagaimana mungkin aku melepaskan hari pentingmu?" Sophia tersenyum getir, lalu matanya perlahan beralih menatap Natalia. Tatapan itu penuh dengan kilat kecemburuan yang tak lagi disembunyikan. "Jaga Ethan dengan baik, Natalia. Dia pria yang sangat berharga... untukku."
Sebelum Natalia sempat membalas, Ethan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Natalia dengan sedikit tarikan yang tegas. Bukan genggaman mesra, melainkan sebuah instruksi diam agar Natalia tidak memperpanjang obrolan.
"Kami harus menyapa tamu yang lain, Sophia. Permisi," potong Ethan dingin, lalu menarik Natalia menjauh dari sana.
Saat mereka berjalan membelakangi Sophia, Natalia berbisik dengan nada menyindir di balik senyum formalnya yang melelahkan. "Jadi, wanita itu masih mengharapkanmu, Tuan Taylor? Dan kau bersikap sedingin ini padaku hanya untuk menjaga perasaannya?"
Ethan menghentikan langkahnya sebentar, menoleh sekilas dengan tatapan yang mampu membekukan darah Natalia. "Urus saja urusanmu sendiri, Natalia. Pernikahan ini sudah terjadi. Jalani saja bagianmu, dan jangan mencampuri bagianku."
BAB 9: Jamuan Malam Dua Dinasti
Malam resepsi mewah itu akhirnya ditutup dengan jamuan makan malam privat di private dining room hotel bintang lima. Ruangan itu hanya diisi oleh petinggi dari dua dinasti besar yang baru saja bersatu melalui ikatan pernikahan.
Di satu sisi meja panjang, duduk Noah Taylor dan Isabella Taylor yang memancarkan aura otoriter. Sebagai anak tunggal mereka, Ethan Noah Taylor duduk di sebelah Talia dengan ekspresi sekeras batu.
Sementara di sisi lain, Oliver Smith dan Emma Smith menatap putri mereka dengan binar mata cemas. Di belakang kursi Talia, berdiri Reymond, Alex Barack Johnson, dan Elex Barack Johnson. Kehadiran tiga pemuda itu seperti barisan prajurit yang siap menarik Talia kapan saja jika keluarga Taylor bertindak semena-mena.
"Pernikahan ini adalah awal dari kejayaan baru bagi Taylor Group dan Smith Corp," ujar Noah Taylor, suaranya berat dan penuh kepastian, memecah keheningan ruangan.
"Kami hanya berharap Ethan bisa menjaga Natalia dengan baik," sahut Oliver Smith, suaranya tenang namun sarat akan peringatan tersembunyi. "Dia adalah permata di keluarga kami."
Ethan hanya mendengus sangat tipis, hampir tak terdengar. Ia menuangkan wine ke gelasnya tanpa berniat merespons mertuanya. Sikap dingin Ethan yang terlampau kentara itu membuat rahang Reymond di sudut ruangan mengetat.
Suasana kian canggung ketika pintu ruangan terbuka, memperlihatkan kedatangan Adam Betrice dan Amelia Betrice, diikuti oleh putri mereka, Sophia Adam Betrice. Sebagai kerabat dekat keluarga Taylor, mereka mendapatkan akses khusus malam itu.
Sophia melangkah dengan dagu terangkat. Meskipun Ethan berulang kali menegaskan bahwa ia tidak pernah menganggap Sophia lebih dari sekadar sepupu, obsesi di dalam dada Sophia tidak pernah padam. Di matanya, Talia hanyalah gadis beruntung yang menumpang di atas takhta keluarga Taylor.
"Bibi Isabella, Paman Noah, maaf kami terlambat," ucap Sophia dengan suara yang dibuat semaniz mungkin, langsung mengambil tempat duduk di dekat area keluarga Taylor. Matanya melirik Talia dengan tatapan merendahkan. "Selamat atas pernikahannya, Ethan. Aku masih tidak menyangka kau akhirnya harus menyerah pada perjodohan ini." Dia mengucapkannya lagi.
Kalimat Sophia yang bermakna ganda itu langsung memicu ketegangan. Elex Barack Johnson yang berdiri di belakang menyilangkan dadanya, bersiap melangkah maju, namun Alex dengan halus menahan lengan kembarannya, memberi isyarat untuk tetap tenang di bawah kendali Reymond.
"Sophia, jaga bicaramu di depan keluarga Smith," tegur Isabella Taylor, meskipun nadanya tidak benar-benar tegas karena ia terlalu memanjakan keponakannya itu.
Talia, atau yang kerap dipanggil Talia oleh orang-orang terdekatnya, hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan garpunya dengan anggun, lalu menatap Sophia lurus-lurus.
"Terima kasih atas kedatanganmu, Sophia," ujar Talia, suaranya tenang namun tajam. "Pernikahan atau perjodohan, kenyataannya Ethan sekarang adalah suamiku. Aku harap sebagai kerabat, kau bisa menghormati posisi itu."
Ethan menoleh cepat ke arah Talia, sedikit terkejut dengan keberanian istrinya di depan kedua orang tuanya. Bukannya membela Talia, Ethan justru bergeser, memutuskan kontak mata dengan sang istri dan beralih menatap Sophia dengan dingin.
"Sudahlah. Jangan bahas hal yang tidak penting di meja makan," potong Ethan dingin, menghentikan perdebatan namun secara tidak langsung membuat Talia merasa tidak dibela di depan wanita yang jelas-jelas mengincarnya.
Melihat adiknya diabaikan oleh Ethan, Reymond tidak bisa lagi menahan diri. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di pundak kursi Talia, menatap Ethan dengan pandangan yang siap membunuh.
"Jika kau merasa berbicara dengan istrimu adalah hal yang tidak penting, Ethan... aku bisa membawa Talia pulang ke rumah Smith malam ini juga," desis Reymond, memicu ketegangan baru yang siap meledak di ruangan itu.