NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Disclaimer: No plagiat, no boom like❗

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Ship name

Empat motor memasuki area parkiran SMA Harapan secara bersamaan. Deru mesin yang sejak tadi memenuhi perjalanan perlahan menghilang begitu keempat motor itu berhenti di tempat parkir khusus siswa.

Sekilas, pemandangan itu tampak biasa saja. Empat sahabat datang ke sekolah di waktu yang hampir bersamaan, sesuatu yang sudah sering terlihat setiap pagi.

Namun, siapa pun yang melihat mereka tentu tidak akan pernah menyangka bagaimana suasana sepanjang perjalanan tadi. Di motor paling depan, Faris dan Tya nyaris tidak berhenti berdebat sejak keluar dari rumah.

"Pelan dikit bisa, gak?!" Omel Tya ketika Faris melewati polisi tidur tanpa mengurangi kecepatan.

"Bawel amat! Ini juga udah pelan!" Seru Faris.

"Pelan dari mana?!" Balas Tya. "Lo kalau mau mati, jangan ngajak gue!"

"Gak usah teriak juga, woi!" Sahut Faris sedikit mengernyit. "Sakit telinga gue dengerin suara lo yang cempreng itu."

"FAARIISSS!!"

Sementara tiga motor di belakang menjadi saksi hidup pertengkaran yang seolah tidak ada habisnya. Dhyo yang mengendarai motornya sendiri bahkan beberapa kali tertawa sampai motornya sedikit oleng.

"Woi!" Teriak Lex dari samping sambil ikut tertawa. "Ketawa boleh, jangan nyium aspal!"

Dhyo mengangkat satu tangan, memberi isyarat aman. Sementara Andre yang melaju di sisi lain hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Heran," gumam Andre. "Gak capek apa, ribut mulu."

Sepanjang perjalanan, Tya mengomel sementara Faris tak mau mengalah. Anehnya, meski terus bertengkar, motor itu tetap melaju mulus tanpa insiden apa pun.

Begitu mesin dimatikan, suasana memang kembali tenang. Tidak ada percakapan lagi di antara Faris dan Tya. Ya, setidaknya untuk sementara waktu.

Faris masih duduk di atas jok motor setelah mesinnya benar-benar mati. Tangannya melepas helm dengan gerakan santai. Di belakangnya, Tya buru-buru turun setelah melepas helmnya. Wajahnya masih ditekuk sejak perjalanan tadi. Jangankan mengucap terima kasih, melirik Faris aja ia enggan.

Namun, hari sial memang tidak pernah meminta izin untuk datang. Baru saja satu kakinya menapak paving block, ujung rok seragam Tya tiba-tiba tersangkut pada pijakan kaki penumpang motor.

"Eh!"

Tubuh Tya langsung kehilangan keseimbangan. Motor yang masih ditahan Faris sedikit ikut miring ke samping. Refleks, tanpa sempat berpikir, Faris langsung meraih lengan Tya dengan tangan kirinya. Sementara kakinya sigap menopang motor yang nyaris ikut oleng.

Tya terbelalak. Selama beberapa saat, posisinya nyaris jatuh ke arah Faris. Pemandangan itu tentu tidak mungkin lolos dari tiga pasang mata yang berdiri di dekat mereka.

"Ekhem, ekhemm!" Seru Dhyo paling keras. "Kemarin di gendong, sekarang malah pegangan tangan, sial!"

Lex langsung menunjuk mereka sambil tertawa. "Cieee... Refleks banget, ketua!"

Andre menepuk dahi pelan sambil terkekeh. "Gue gak liat apa-apa."

Faris seketika tersadar. Ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari lengan Tya. Ia langsung berdecak sambil memalingkan wajahnya.

Sementara Tya yang sudah berhasil berdiri tegak buru-buru melepaskan rok yang masih tersangkut di pijakan kaki motor. Begitu berhasil, ia langsung menoleh tajam ke arah Faris.

"Lo ngapain sih pegang-pegang gue?!" Kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Heh! Siapa juga yang pegang lo. Gue refleks!"

"Refleks, refleks!" Ulang Tya sambil merapikan tali tasnya dengan gerakan kasar.

"Kalau gak refleks, mungkin lo udah nyium paving block sekarang!" Sahut Faris.

"Bodo amat," ujar Tya ketus.

Di belakang mereka, teman-teman Faris itu kembali pecah dalam tawa. "Bener-bener," ujar Andre sambil menggeleng kecil. "Dua orang ini kalau gak ribut, bukan Faris sama Tya namanya."

Dhyo yang masih tertawa tiba-tiba berhenti. Tatapannya bergantian menatap Faris dan Tya, seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang. "Eh," gumamnya pelan sambil mengusap dagu sok berpikir keras. "Gue baru kepikiran."

Lex mengangkat sebelah alis. "Apaan?"

Dhyo menunjuk Tya dan Faris bergantian. "Nama mereka kalau digabung keren juga."

Faris langsung menaikkan sebelah alis. "Jangan mulai."

"Faris... Tya," lanjut Dhyo dengan senyum lebar. "Faristya. Nah, cocok, kan?"

Lex butuh beberapa saat untuk mencerna perkataan Dhyo, lalu pada akhirnya terkekeh. "Mantap juga!"

Andre ikut mengangguk sambil menahan tawa. "Lumayan enak didengar."

Sementara itu, Tya dan Faris langsung kompak mendelik tajam ke arah Dhyo. "Apa sih?!" Gerutu Faris.

"Ih, gak jelas banget!" Sahut Tya tak kalah kesal.

Melihat reaksi keduanya, Dhyo justru semakin bersemangat. "Tuh, kan! Bahkan namanya aja udah berjodoh."

"DHYOO!" Teriakan Faris dan Tya menggema hampir bersamaan.

Bukannya takut, Dhyo justru terbahak-bahak sambil mundur beberapa langkah. "Nah, kompak lagi." Ujarnya dengan wajah penuh kemenangan. "Fix! Ship name kalian mulai hari ini Faristya."

Lex langsung tertawa sampai menepuk pundak Dhyo. Sementara Andre hanya bisa menggeleng-geleng kepala sambil ikut tersenyum.

Di sisi lain, Tya dan Faris saling melirik sekilas, lalu sama-sama mendengus kesal sebelum akhirnya serempak memalingkan wajah ke arah berlawanan. Yang satu kesal karena terus diledek, sementara yang satu lagi kesal namanya disatukan dengan musuh bebuyutannya.

Suasana parkiran yang semula biasa saja perlahan mulai berubah. Kehadiran GMA memang bukan pemandangan yang asing. Empat badboy itu selalu menarik perhatian kemana pun mereka melangkah.

Namun, pagi itu ada satu hal yang terasa berbeda. Di sisi Faris, Tya berdiri — pemandangan yang selama ini mustahil terjadi.

Beberapa murid yang berjalan melewati area parkiran tanpa sadar memperlambat langkah mereka. Tatapan heran bergantian mengarah pada Faris, lalu Tya.

"Eh," bisik pelan seorang gadis pada temannya. "Itu, Faris sama Tya, kan?"

Temannya mengangguk kecil. "Bukannya mereka musuh bebuyutan?"

Tak jauh dari sana, dua siswi yang semula hendak melewati area parkiran justru saling pandang.

"Udah, lewat sana aja."

"Hah? Kenapa?"

Gadis itu menunjuk ke arah GMA dengan dagunya. "Itu."

Seketika, teman gadis itu langsung paham. Tanpa banyak komentar, keduanya memilih memutar arah, mencari jalan lain. Berpapasan terlalu dekat dengan empat badboy SMA Harapan bukanlah ide yang ingin mereka coba pagi-pagi begini.

Sementara itu, bisik-bisik kecil masih terus terdengar dari berbagai arah.

"Aku lihat tadi Tya turun dari motor Faris."

"Jangan-jangan... Mereka pacaran?"

Kalimat itu memang tidak diucapkan dengan nada keras. Namun, cukup terdengar sampai ke telinga dua orang yang sedang dibicarakan. Tya lebih dulu menoleh dengan sorot mata tajam, disusul Faris yang menoleh dengan ekspresi tak kalah dingin.

Murid-murid yang berada di sekitar mereka mendadak terdiam beberapa saat. Empat siswa siswi yang tadi asyik bergosip langsung salah tingkah. Mereka buru-buru berbalik, berpura-pura sibuk membahas hal lain sambil mempercepat langkah meninggalkan parkiran.

Sementara itu, bahu Dhyo mulai bergetar pelan. Lex buru-buru menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Sementara Andre menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan tawa.

Tya yang baru saja menghela nafas panjang perlahan mengalihkan pandangannya ke arah tiga sahabat Faris. Melihat reaksi mereka, sebelah alisnya langsung terangkat. "Jangan ketawa!" Hardiknya sambil menunjuk ketiganya bergantian.

Ucapan itu membuat pertahanan Dhyo runtuh. "Hahaha... Ampun, Mbak Tya!" Ujarnya sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Jangan ngamuk, ampun!"

Lex langsung menyenggol lengan Dhyo pelan sambil terkekeh. "Wih, galak amat ibu bos!"

Andre hanya mengangkat kedua tangannya tanpa berkata sepatah kata pun, seolah menyatakan dirinya sama sekali tidak ikut campur.

Bibir Tya mengerucut tipis, bahkan pipinya sedikit menggembung. Ia mendengus kesal, lalu memutar badan begitu saja. Tanpa menoleh lagi, Tya langsung meninggalkan mereka menuju gedung sekolah.

Faris menghela nafas panjang. Sebelah tangannya mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Sementara tatapannya masih mengikuti punggung Tya yang semakin menjauh menuju gedung sekolah.

"Sial," umpat Faris frustasi. "Makin ribet aja hidup gue."

Dhyo yang sedari tadi masih menahan tawa langsung menyeringai lebar. "Bro?" Panggilnya pada Faris.

Faris melirik sekilas. "Apa?"

Dhyo menyilangkan tangan di depan dada, lalu mengangguk-angguk sok mengerti. "Gue baru sadar, lo ternyata perhatian juga ya sama Tya."

"Perhatian pala lu," bantah Faris cepat.

Dhyo menaik-naikkan alisnya, jelas memancing reaksi Faris. "Tadi jelas nangkep dia," ujarnya.

"Itu refleks," ujar Faris datar.

"Nah," Dhyo tersenyum semakin lebar. "Berarti alam bawah sadar lo perhatian. Kalau gak perhatian, ya dibiarin jatuh."

"Ngaco, lo!"

Lex yang sejak tadi mendengarkan ikut menimpali. "Kalau menurut gue sih," ujarnya sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Ketua kita udah masuk fase denial."

Faris mengusap wajahnya kasar. Lalu menatap Dhyo dan Lex secara bergantian. "Lo berdua bisa diem, gak?"

"Kalau kami diem, hidup lo sepi, bos!" Sahut Dhyo.

Faris menatap langit sejenak, seolah sedang berusaha meredam kekesalannya terhadap temannya itu. Tatapannya kembali pada Dhyo dan Lex, jari telunjuknya menunjuk ke arah mereka. "Gue kasih waktu lima detik buat kabur."

Dhyo langsung memasang wajah polos. "Kalau enggak?"

"Gue tonjok lo berdua." Ujar Faris datar, namun sorot matanya begitu tajam.

"Widihhh, update ancaman, cuy!" Ujar Dhyo sambil menepuk pundak Lex.

Lex mengangguk setuju. Sementara Andre hanya berdiri beberapa langkah di samping mereka. Ia menggeleng pelan sambil menahan senyumnya, jelas menikmati kekacauan pagi itu.

Rahang Faris tampak mengeras. Tidak ingin menanggapi lagi, ia akhirnya melangkah meninggalkan mereka. Di belakangnya, Dhyo dan Lex saling adu tos pelan.

"Misi pagi berhasil," ujar Lex.

Sementara itu, Tya melangkah cepat menaiki tangga demi tangga. Sepasang sepatunya menghentak sedikit lebih keras dari biasanya setiap kali menginjak anak tangga.

Beberapa murid yang berpapasan dengannya spontan menyingkir memberi jalan. Tanpa sengaja, bahu Tya menyenggol lengan seorang siswi yang baru menuruni anak tangga.

Siswi itu hanya melirik sekilas. Temannya ikut menoleh, lalu berbisik pelan. "Udah, biarin aja. Kayaknya lagi badmood."

"Iya, keliatan dari mukanya."

Tya sama sekali tidak menanggapi. Ia terus melangkah dengan langkah cepat. Hari ini, kesabarannya benar-benar sedang diuji. Mulai dari terpaksa berangkat bersama Faris, diledek GMA tanpa ampun, hingga beberapa orang mulai mengira dirinya berpacaran dengan Faris.

"Mau pacar kek, mau suami kek," gerutu Tya dalam hati. "Denger namanya aja gue udah pengen emosi."

Tak lama kemudian, Tya akhirnya tiba di depan kelas. Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke dalam. Tasnya dijatuhkan begitu saja ke atas meja, lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi sedikit lebih keras dari biasanya.

Suara itu membuat dua sahabatnya yang sejak tadi mengobrol langsung menoleh bersamaan.

"Lho, Tya," gumam Megan. Ia memutar badan menghadap Tya sepenuhnya. "Lo kenapa? Kok kayak emosi banget?" Tanyanya heran.

Starla mengangguk setuju sambil mengamati wajah sahabatnya. "Iya. Muka lo udah kayak orang pengen nyakar seseorang."

Tya menghela nafas panjang. Ia meniup anak rambut yang jatuh menutupi dahinya, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil bersedekap dada.

"Sumpah," gumam Tya pelan. "Itu GMA isinya eror semua."

Starla dan Megan saling berpandangan. Dengan wajah masih kesal, Tya mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi di parkiran.

"Terus," lanjut Tya sambil mengusap pelipisnya pelan. "Si Dhyo malah bikin teori aneh."

Starla mulai penasaran. "Teori apaan?"

Tya menghela nafas kasar. "Dia bilang nama gue sama Faris cocok kalau digabung," ia memutar bola matanya malas. "Katanya, Faristya."

Sesaat Tya terdiam, lalu kembali menggerutu. "Bayangin aja, gue malah di-ship sama tuh manusia nyebelin. Mana mereka semua bertiga ketawa lagi," Tya menggeleng frustasi. "Ya jelas, kesel lah gue!"

Starla mengangguk kecil sambil berpikir. "Kalau dipikir-pikir," ujarnya spontan. "Emang cocok sih kalau digabung. Faristya, enak didengernya."

"Star!" Megan langsung menyenggol pelan lengan Starla.

Starla menoleh, sementara Megan menggeleng kecil sambil memberi kode lewat tatapannya, 'jangan nambah bensin ke api'.

Starla yang baru sadar langsung nyengir tipis. "Oh, maksud... Maksud gue bukan gitu," ujarnya sambil buru-buru mengangkat kedua tangan. "Lupa, lupa. Anggap aja gue gak ngomong apa-apa."

Tya hanya memejamkan mata beberapa saat sambil mengusap wajahnya pelan. "Lo ini sebenarnya ada di pihak siapa sih, Star?"

"Ya, sorry," ujar Starla cepat. "Gue keceplosan."

Tya kembali menghela nafas panjang. Ia kemudian mengambil buku pelajarannya, berusaha mengalihkan rasa kesalnya saat ini. Megan hanya tersenyum tipis, sementara Starla masih menggaruk tengkuknya sendiri, menyesali celetukannya barusan.

Tak berselang lama, bel masuk berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Satu per satu murid mulai berdatangan, memenuhi ruangan dengan obrolan khas sebelum pelajaran dimulai.

^^^Bersambung...^^^

1
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
yg kuat tya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti ayahnya pun sedih. tapi berusaha untuk selalu tegar. dan ini rasanya susah bngt
RahmaYesi
Tya, kamu memang kehilangan ibu mu. Tapi tuhan ganti dengan sosok ibu mertua yang sangat tulus sayang sama kamu.
RahmaYesi
Walau memang saat kondisi seperti ini, perut benaran tidak terasa lapar sama sekali. Tapi tetap harus makan sih Tya....
RahmaYesi
Sedih banget pastinya....
M. T🌻
sumpah, aku sampe nangis di tempat kerja thor😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Tapi kamu egois bu😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku dah terbiasa baca novel perjodohan anak Sma. tapi cuma ini yang paling nyesek sih
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
tapi ini semua atas kemauan kalian
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
sedih sekali
Mingyu gf😘
yang tabah ya tya😭
Mingyu gf😘
kasihan banget kamu tyz😭
Europa.
Tya sudah terlalu kosong pikirannya akan semua hal yang begitu cepat terjadi/Frown/
Europa.
kamu terlalu muda untuk mengerti semua ini faris/Frown/
Europa.
nooo Tya juga ikutan meningsoy dan dibacain yasin😭😭
Europa.: iya juga wkwk😂😂
total 2 replies
Alia Chans
Kasihan Tya... Tapi yang penting permintaan terakhir mamanya sudah dia lakukan..
THE GIRL COOL😑
semangat😘
RahmaYesi
Huwaaaa 😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Yang kuta ya Tya. Kehilangan seorang ibu seperti dunia telah hancur.... 😭😭
RahmaYesi
Alam bawah sadar Faris, ingin melindungi Tya. Lanjutkan ya dek. semoga kamu jadi suami yang bertanggung jawab dan menjaga Tya selamanya hingga maut memisahkan kalian berdua.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!