Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tubuh Yasmin terasa tak bertenaga, kakinya lemas seketika hingga duduk terkulai di lantai dingin. Ketika ingat perjalanan hidupnya.
"Yasmin, ada apa, Nak? Jangan duduk di bawah," Ibu Maryam cemas, segera berlutut di hadapannya dan menyentuh bahu putrinya.
"Tidak apa-apa, Bu..." Yasmin segera mengusap air matanya, tiba-tiba bibirnya terasa terkunci dengan sendirinya. Ia ingin bicara, ingin meluapkan semua rasa sakitnya, tapi kata-kata tak sanggup keluar. Hanya air mata yang menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangannya di luar sana.
"Sebaiknya kamu makan bersama anak-anak, ayo Ibu temani," Maryam membantu Yasmin berdiri lalu duduk di sofa panjang, tapi Yasmin tetap menolak mana mungkin ia berselera makan dalam keadaan pikiran kacau seperti sekarang.
"Nanti saja, Bu... belum lapar," jawab Yasmin, buru-buru menyeka air matanya, berusaha menahan agar tidak terlihat rapuh di depan ibunya, ingin terlihat kuat dan juga tidak mau membebani pikiran sang ibu.
"Ayah kemana, Bu?" Yasmin mengalihkan.
"Ayahmu sebentar lagi pulang sayang..." jawab Ibu Maryam. Ia duduk lebih dekat di samping putrinya, tangannya mengusap punggung tangan Yasmin penuh kasih sayang. Dia tidak menyangka bayi mungil 24 tahun yang lalu, kini sudah menjadi ibu.
Sesak dada Maryam, anak gadis nya 18 tahun tapi sudah harus menghadapi peliknya hidup. Yang membuatnya menyesal karena tidak bisa berada di samping putrinya karena harus tunduk dengan aturan suami.
Masih hangat dalam ingatan Maryam saat putrinya diusir dalam keadaan hamil entah bagaimana kehidupan di luar sana, dan bagaimana pula saat melahirkan bahkan membesarkan dua anak sudah pasti berat. Bu Maryam menatap putrinya berkaca-kaca, ingin segera tahu bagaimana putrinya setelah pergi dari rumah.
"Yasmin, Ibu minta maaf," ucap Maryam meneteskan air mata. "Karena tidak ada di sampingmu saat berjuang sendirian selama bertahun-tahun. Lalu bagaimana caranya kamu bisa bertahan di luar sana, Nak?"
"Sudahlah Bu... tidak usah di ingat-ingat yang penting saat ini aku dan anak-anak baik-baik saja," Yasmin sebenarnya ingin berbagi cerita, tapi emosinya sedang naik turun. Ia takut kata-katanya melukai hati wanita yang melahirkan.
"Yasmin... cerita Nak," paksa Maryam.
Yasmin menarik napas panjang, sekuat apapun menahan untuk tidak bercerita tapi ibunya harus tahu, sebagai orang tua seharusnya bisa bijaksana. Tetap harus merangkul seburuk apapun keadaanya anaknya. Pada akhirnya pertahanan Yasmin untuk tetap menjadi anak yang santun pun runtuh. Dengan hati hancur ia mulai bercerita bagaimana hidupnya di luar sana. Setiap kata yang Yasmin ucap menembus hati Maryam seperti pisau yang tajam.
"Ayah tega Bu. Hari itu menyuruhku pergi, tak peduli perutku yang sudah mulai menonjol. Aku tak diberi sepeser uang pun, tak dibolehkan membawa apa-apa selain baju yang kukenakan. Berjalan kaki meninggalkan rumah ini, aku tak tahu harus ke mana. Hujan turun deras saat itu, dan aku hanya bisa berteduh di jembatan tua, memeluk erat perutku sambil berdoa agar janin di perutku tetap kuat meski ibunya tak punya tenaga karena menahan lapar."
"Yasmin..." ucap bu Maryam, air matanya mulai mengalir penuh penyesalan.
"Maaf Bu, jangan bersedih jika Ibu ingin tetap mendengar kisah anak semata wayang keluarga Amir Danindra. Tetapi peristiwa itu justru membuat aku mengerti bagaimana sulitnya hidup di bawah."
Yasmin ingat bagaimana dulu, di sekolah SD hingga SMA, bahkan kuliah. Ia paling menonjol dalam keuangan, tidak pernah merasa kekurangan, maka kesulitannya selama ini justru membuatnya lebih dewasa bagaimana ia harus mendidik dan membesarkan anak-anak.
"Tapi ngomong-ngomong apa selama di Jakarta kamu pernah bertemu pria dari anak-anak kamu?" Bu Maryam yakin
"Tidak Bu," Yasmin menjawab cepat, lalu minta bu Maryam untuk tidak mengingat pria itu lagi. Yasmin juga mengatakan jika saat ini ada pria yang ingin serius menjadi ayah Fatir dan Fathia.
"Benarkah..." Ibu Maryam tampak bahagia lalu minta pria itu agar mengenalkan dirinya ke rumah ini.
"Sebenarnya Dia tadi mau mengantar kami ke sini Bu, tapi aku takut Ayah justru mengusir kami," jujur Yasmin, tiba-tiba wajahnya sedih, baginya untuk saat ini sang ayah tidak mengusirnya pun sudah bersyukur. Bu Maryam ingin mengucap sesuatu tapi langkah kaki kecil-kecil berjalan ke arah mereka.
"Bundaaaa... Fatir makan sampai habis, makananya enak," ucap Fatir membawa piring kotor bekas dia makan.
Yasmin dan bu Maryam seketika menghentikan cerita, pandangannya tertuju pada Fatir dan Fathia yang berjalan ke arahnya.
"Aku juga, pasti Nenek yang masak," lanjut Fathia. Melihat hal itu, Maryam tersenyum lebar menatap dua cucunya sangat cerdas.
"Bukan Nenek yang masak, tapi Bi Ijah, sekarang cucu Nenek mau minum apa sayang?" Bu Maryam berdiri lalu menuntun cucunya mendekati kulkas ambil susu kotak.
"Kalau habis makan kami nggak minum susu Nek, minum air putih saja," tolak Fatir.
"Oh, kalau gitu makan buah saja," Maryam segera meletakkan susu di dalam kulkas lalu minta cucunya untuk memilih buah.
"Apel..." ucap Fathia, keduanya ambil buah tersebut.
"Nanti kalau mau susu ambil sendiri di kulkas ya." lanjutnya.
"Terima kasih Nek..." Fatir dan Fathia pun berjalan ke arah sofa dan duduk di sana sambil menggigit apel.
"Anak-anak kamu pintar sekali Yasmin..." ucap Maryam, lalu ambil air putih menyusul cucunya.
Yasmin hanya tersenyum dipaksakan, ia berdiri di depan kulkas melihat deretan susu dan buah-buahan segar lagi-lagi hatinya teriris. Ironis memang, untuk membeli susu dan buah ia harus menunggu uang lembur atau uang tip dari pelanggan restoran, sementara di rumah orang tuanya melimpah, entah untuk siapa susu itu. Yasmin menarik napas sesak, lalu bergerak ke kamar mandi.
Sementara itu Fatir dan Fatir ngobrol di depan televisi. "Di kulkas Nenek banyak buah ya, Dek," ucap Fatir sambil mengunyah apel.
"Susu juga, tapi kan sekarang Om Marco sering membelikan susu sama buah untuk kita, Kak."
Mendengar percakapan cucunya, Maryam pun ikut bergabung bersama mereka.
"Di rumah kalian tidak ada susu sama buah?" Maryam memastikan.
"Nggak ada Nek, kulkas Bunda isinya kangkung, tempe, sama telur," jujur Fatir, membuat dada Maryam syok.
"Sayang... Kita shalat dulu terus bobo ya..." ucap Yasmin dengan wajah basah selesai wudhu.
"Iya Bun, sedikiiitt lagi..."
Dua anak itu menghabiskan apel kemudian ikut shalat bersama Yasmin, selesai shalat dzuhur Yasmin mengantar anak-anaknya bobo di kamarnya dulu atas permintaan Maryam. Tidak menunggu waktu lama, Fatir dan Fatir pun pulas.
Yasmin mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kamar, beberapa foto dirinya bersama ayah dan ibu yang dibingkai rapi tidak bergeser dari tempatnya. Saat wisuda SMP, SMA, dan juga beberapa foto ketika dirinya mendapat penghargaan di sekolah. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan, karena Yasmin merasa sudah gagal.
Yasmin pun keluar kamar hendak melanjutkan ngobrol dengan ibunya, tapi sudah tidak ada di tempat. Mendengar deru mesin mobil di halaman rumah, Yasmin segera bergerak ke arah pintu menatap pria yang keluar dari kendaraan dadanya bersebar kencang.
...~Bersambung~...
bingung....tu...Marco mo jawab apaan....
jgn kan knyataan dlm mimpi juga Marco GK bkln blik Karo kwe tau....🤣🤣🤣🤣🫣
bnyak bgt ....bikin syok nya....dri kmrin 🤣🫣