Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 31
Nada dering ponsel terus menggema di dalam kamar.
Mata Adista terpaku pada layar yang menyala.
Ibu Rian.
Nama itu seolah berubah menjadi mimpi buruk baru. Jemarinya gemetar hebat hingga ponsel di tangannya hampir terjatuh.
"Non..." panggil Bik Sumi pelan. "Diangkat saja."
Adista menggeleng kuat.
"Saya tidak sanggup."
Nada dering berhenti.
Ruangan kembali sunyi.
Adista mengembuskan napas panjang, berharap semuanya telah selesai. Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik.
Ponsel kembali berdering.
Nama yang sama muncul di layar.
Ibu Rian.
"Beliau pasti mencari Rian," bisik Adista dengan suara bergetar.
Bik Sumi memandangnya dengan cemas.
"Kalau tidak diangkat, nanti beliau malah semakin curiga."
Adista menutup mata sesaat.
Ia tahu Bik Sumi benar.
Dengan napas yang masih memburu, ia akhirnya menggeser layar ponsel dan mengangkat panggilan itu.
"Halo..."
Suara wanita paruh baya langsung terdengar dari seberang.
"Adista, Nak. Maaf mengganggu."
"I-iya, Tante."
"Tante mau tanya, Rian ada sama kamu?"
Pertanyaan itu membuat tenggorokan Adista terasa tercekat.
Bayangan jasad Rian yang terkubur di halaman belakang kembali memenuhi pikirannya.
"Semalam Rian bilang mau menemui kamu," lanjut ibu Rian. "Sampai sekarang dia belum pulang. Teleponnya juga tidak aktif."
Adista menggenggam ponselnya semakin erat.
"Iya, Tante... semalam memang datang."
"Lalu sekarang dia di mana?"
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Adista memejamkan mata.
"Dia... pulang sekitar jam sebelas malam."
"Oh..."
Suara ibu Rian terdengar lega, tetapi masih dipenuhi kebingungan.
"Kalau begitu mungkin ponselnya habis baterai."
"Mungkin, Tante."
"Kalau Rian menghubungi kamu, tolong suruh dia segera menelepon Tante, ya."
"Iya..."
"Terima kasih, Nak."
Sambungan telepon terputus.
Adista langsung terduduk di lantai.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
"Saya baru saja membohongi seorang ibu yang sedang mencari anaknya..."
Bik Sumi ikut menundukkan kepala.
Tidak ada kata-kata yang mampu menghibur keadaan itu.
Menjelang sore, hujan kembali turun.
Langit yang sejak pagi mendung kini berubah semakin gelap.
Adista duduk sendirian di ruang tengah.
Televisi menyala, tetapi ia sama sekali tidak memperhatikan acara yang sedang berlangsung.
Pikirannya terus dipenuhi ucapan ibu Rian.
"Kalau Rian menghubungi kamu..."
Kalimat itu terus terulang di kepalanya.
Tiba-tiba layar televisi berkedip.
Gambarnya menghilang.
Muncul garis-garis hitam putih disertai suara berdesis.
Sssshhh...
Adista mengambil remote.
Ia mencoba mematikan televisi.
Tidak bisa.
Layar justru berubah semakin terang.
Di antara gangguan gambar itu, perlahan muncul bayangan seseorang.
Seorang pria.
Kepalanya menunduk.
Tubuhnya basah.
Bajunya dipenuhi lumpur.
Adista membeku.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya.
Rian.
Matanya terbuka lebar.
Darah mengalir dari pelipisnya.
Dadanya yang berlubang tampak menghitam.
"Adis..."
Suara lirih terdengar dari televisi.
Remote di tangan Adista terjatuh.
"Rian..."
Sosok itu mengangkat tangannya perlahan.
Telapak tangannya menempel di layar televisi dari dalam.
"Dia..."
Suara Rian terdengar terputus-putus.
"...datang..."
Brak!
Layar televisi mendadak pecah.
Suara ledakan kecil membuat Bik Sumi yang sedang berada di dapur berlari ke ruang tengah.
"Non!"
Ia terkejut melihat pecahan kaca berserakan di lantai.
"Apa yang terjadi?"
Adista hanya mampu menunjuk televisi dengan tangan gemetar.
"Rian..."
Bik Sumi menoleh.
Televisi itu kini benar-benar mati.
Tidak ada apa pun di layarnya.
Malam kembali turun.
Hujan masih mengguyur tanpa henti.
Adista dan Bik Sumi memilih makan malam di dapur.
Tidak ada yang berselera.
Masing-masing hanya menghabiskan beberapa suap nasi.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ruang tengah.
Bruk!
Mereka saling berpandangan.
"Apa itu?" bisik Bik Sumi.
Adista memberanikan diri berdiri.
"Ayo kita lihat."
Perlahan mereka menuju ruang tengah.
Tidak ada apa pun yang tampak jatuh.
Semua perabot masih berada di tempatnya.
Namun ketika Adista mengangkat pandangan ke arah dinding...
Tubuhnya langsung membeku.
Lukisan Laras.
Wajah perempuan itu kini berubah.
Kepalanya yang semula menunduk perlahan terangkat.
Tatapan matanya mengarah lurus kepada Adista.
Yang lebih mengerikan...
Dari sudut mata Laras mengalir setetes darah.
Darah itu turun perlahan melewati pipinya.
"Non..."
Suara Bik Sumi bergetar.
"Itu... lukisannya menangis."
Adista tidak mampu menjawab.
Ia hanya menatap lukisan itu tanpa berkedip.
Setetes darah kedua mulai mengalir.
Lalu yang ketiga.
Tidak lama kemudian darah menetes hingga ke bagian bawah bingkai.
Tap...
Tap...
Tap...
Tetesan itu jatuh ke lantai marmer.
Namun bukannya menyebar, darah itu bergerak sendiri.
Perlahan membentuk sebuah garis.
Lalu huruf.
Adista mundur beberapa langkah.
Huruf demi huruf mulai terlihat jelas.
A... D... I... S... T... A...
Nama Adista.
Ditulis menggunakan darah.
Bik Sumi menjerit dan memegang lengan Adista.
"Non... ayo pergi dari sini!"
Belum sempat mereka bergerak, terdengar suara perempuan tertawa.
"He... he... he..."
Suara itu berasal dari dalam lukisan.
Laras perlahan tersenyum.
Senyuman yang dipenuhi kebencian.
Lalu bibirnya bergerak.
Tidak ada suara.
Namun Adista dapat membaca gerakan bibir itu dengan jelas.
Giliranmu.
Saat itu juga seluruh lampu rumah padam.
Gelap.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Hanya terdengar suara hujan di luar rumah.
Kemudian...
Tok...
Tok...
Tok...
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Pelan.
Seolah seseorang sedang berjalan tanpa alas kaki.
Adista dan Bik Sumi saling berpegangan.
Langkah itu berhenti.
Lalu terdengar suara pintu kamar dibuka.
Creeeek...
Disusul suara pintu ditutup kembali.
Brak.
Beberapa detik kemudian...
Suara langkah itu mulai menuruni tangga.
Tok...
Tok...
Tok...
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Bik Sumi mulai menangis.
"Ya Allah... siapa itu..."
Adista merasakan napasnya tercekat.
Dalam kegelapan, ia melihat sesosok bayangan putih berdiri di ujung tangga.
Rambut panjang menutupi wajahnya.
Gaun putihnya basah kuyup.
Kepalanya miring ke satu sisi.
Perlahan...
Sosok itu menuruni tangga.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tanpa suara selain bunyi telapak kaki yang menyentuh anak tangga.
Ketika cahaya petir menyambar dari luar jendela...
Wajah Laras terlihat jelas.
Matanya merah.
Darah mengalir dari pelipis yang remuk.
Tatapannya lurus mengarah kepada Adista.
Lalu, dengan suara yang lirih namun terdengar sangat jelas di seluruh ruangan, Laras berkata,
"Aku sudah mengambil satu..."
"Sudah mengambil dua..."
"Sudah mengambil tiga..."
Ia berhenti sejenak.
Senyumnya semakin lebar.
"Kini..."
"...tinggal kau."
Begitu kalimat itu selesai, seluruh rumah berguncang hebat seolah ada sesuatu yang menghantam fondasinya dari bawah.
Jeritan Bik Sumi bercampur dengan suara guntur yang menggelegar.
Sementara Adista hanya mampu berdiri mematung, menyadari bahwa teror itu belum akan berakhir.
Justru... baru saja dimulai.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi