NovelToon NovelToon
Hidupku Kurebut Kembali

Hidupku Kurebut Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Rumah Tangga / Selingkuh / Kebangkitan pecundang
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Sofia Grace

“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”

Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.

Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.

Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.

Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Sam

Akhirnya Ron membeli rumah dua lantai dan berpagar hitam yang disukainya. Pria itu mengajak istrinya memilih perabotan di toko furniture. Dua bulan kemudian mereka meninggalkan rumah kontrakan dan pindah ke rumah baru. Pasangan suami istri itu mengadakan acara selamatan kecil-kecilan dengan mengundang Bu Widya, Pak Den, dan beberapa rekan kerja Ron. Bos Ron tidak bisa datang karena sedang berada di luar negeri.

Pendeta yang menikahkan Ron dan Mey juga diundang untuk memberkati rumah tersebut. Bu Widya berdecak kagum, “Kamu benar-benar diberkati, Mey. Ibu turut senang.”

“Terima kasih, Bu,” balas Mey sembari tersipu. “Sepertinya benar kata Bang Ron. Semenjak Cyll lahir, rezeki kami semakin lapang. Tuhan sungguh baik.”

Bu Widya mengangguk setuju. “Cyll memang bayi yang cantik, pintar, dan lucu. Bikin gemas siapapun yang melihatnya. Pantas Ron sangat menyayanginya. Ibu cuma berharap kamu jangan sampai mengabaikan Liani, Nak.”

“Ga akan, Bu,” sahut Mey tegas. “Kalau ga ada Liani, Mey juga ga akan ada di kota ini dan bertemu dengan Bang Ron. Ibu jangan kuatir. Mey ga akan pernah mengabaikan Liani. Percayalah....”

Bu Widya mengangguk. Dia percaya perkataan perempuan di hadapannya. Dalam hati dia berdoa semoga Ron dibukakan pintu hati agar bersedia menerima kehadiran Liani dalam keluarganya. Kasihan Mey harus pontang-panting membagi waktu antara mengurus keluarga dan menjenguk Liani di panti asuhan.

Tiba-tiba Bu Widya ingat sesuatu. “Oya, Mey. Mana ibu mertuamu? Kok ga kelihatan. Dia pasti senang sekali kalian sekarang sudah punya rumah sendiri.”

Yang ditanya cuma nyengir. “Ibunya Bang Ron ga datang. Keponakannya di Surabaya masuk rumah sakit karena demam berdarah.”

Bu Widya bengong. “Lho, apa hubungannya?”

Mey tergelak. “Keponakan yang sakit itu kan anaknya Tante Ika, adiknya ibu Bang Ron. Si tante jadi ga fokus jaga toko, karena bolak-balik jenguk anaknya di rumah sakit. Akibatnya ibu Bang Ron harus stand by terus jaga toko karena ga ada orang lain yang bisa dipercaya.”

“Oh, toko keripik yang dulu pernah diceritakan Bu Yuna?”

Mey mengangguk. “Yah, padahal Ibu di sana cuma sekedar bantu-bantu aja. Ga nerima gaji, kok. Rasanya sih, buat ngisi waktu luang aja biar ga nganggur. Kan kebutuhan Ibu di Surabaya sepenuhnya ditanggung Bang Ron. Tapi ya sudahlah, kalau dia ga mau datang ya ga papa. Terakhir Ibu ke sini, kami berantem soalnya.”

Bu Widya syok. “Berantem kenapa, Mey? Dia itu ibu mertuamu, lho.”

“Soalnya Mey sudah ga tahan sama sikapnya, Bu. Kalau ada masalah selalu menghindar. Ujung-ujungnya melarikan diri ke Surabaya. Ya sudah, kalau maunya begitu. Mey juga lebih tenteram kalau ga ada dia, kok.”

Bu Widya geleng-geleng kepala. Ah, keributan klasik antara mertua dan menantu. Lebih baik dia tak ikut campur. Dia dulu juga tidak cocok dengan ibu mertuanya.

***

Rumah tangga Ron dan Mey berjalan dengan tenteram di rumah baru. Tiga tahun kemudian mereka dikaruniai seorang putra. Ron dan Mey memberinya nama Sam, yang artinya berkah Tuhan. Kebahagiaan keluarga itu terasa semakin lengkap.

Bu Widya yang datang menjenguk ke rumah sakit takjub melihat wajah Sam. “Anak ini mukanya kelihatan baik dan sabar.”

Mey tergelak. “Masih bayi, Bu. Mana bisa ketahuan sabar.”

“Eh, Ibu kan sudah melihat puluhan muka bayi di panti. Langsung tahu mana yang sabar mana yang ga,” tukas Bu Widya mempertahankan pendapat. Tapi kemudian dia sendiri tergelak. “Suamimu pasti senang punya anak laki-laki. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kalian. Ada anak perempuan dan laki-laki.”

“Bang Ron malah bilang sama aku supaya nanti ga pilih kasih sama anak. Sekarang zaman modern, anak laki-laki dan perempuan sama saja. Cyll jangan sampai merasa diabaikan karena kehadiran Sam.”

Bu Widya manggut-manggut setuju. Tapi kemudian dia menyindir, “Ibu setuju sih, sama pendapat Ron. Tapi apa dia tidak terpikir bahwa sudah membuatmu pilih kasih terhadap dua anak kalian dibanding Liani?”

Mey tak sanggup berkata apa-apa. Dia merasa sangat malu.

Bu Widya jadi menyesal. “Maafkan kata-kata Ibu ya, Nak, sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Mulut ini kadang memang susah kompromi dengan situasi. Lupakan perkataan Ibu tadi, Mey. Oya, ibu mertuamu mana? Dia pasti senang punya cucu lagi.”

Mey meringis. “Ibunya Bang Ron ga datang.”

Bu Widya kaget. “Hah? Kok bisa? Cucu keduanya lahir kok ga dijenguk?”

“Dia bilang anaknya Tante Ika kena tipes dan masuk rumah sakit....”

“Terus ibu mertuamu ga bisa ninggalin toko karena Tante Ika mesti bolak-balik jenguk anaknya di rumah sakit?” potong Bu Widya dengan nada bergurau.

Mey mengiyakan. Mereka tertawa barengan. “Yah sepertinya ibunya Bang Ron masih marah sama aku, Bu,” cetus Mey geli. “Sudah tiga tahun kami ga ketemu. Aku malas ke Surabaya dan dia juga ogah ke Bandung. Ya sudahlah. Yang penting di telepon kami masih bisa bicara baik-baik. Bang Ron sih, ga masalah ibunya mau datang atau ga. Yang penting dia tahu ibunya sehat dan baik-baik saja di Surabaya.”

“Cyll dimana sekarang, Mey? Apa di rumah sama Ron?”

Mey tersenyum. “Cyll di rumah sama baby sitter.”

Bu Widya ternganga. Tak disangkanya Mey mampu mempekerjakan baby sitter. Sepengetahuannya sejak Mey hamil Sam, Ron mengusulkan sang istri mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah. Akhirnya Mey berhasil mendapatkan Mbak Ti dari sebuah yayasan. Selama ini Mey berkata perempuan berusia tiga puluh enam tahun itu bekerja dengan baik. Eh, sekarang malah nambah baby sitter, wow!

Seperti bisa membaca pikiran Bu Widya, Mey bertutur, “Bang Ron bilang Mbak Ti itu bagus buat ngurus rumah tangga, tapi kalau jaga anak kurang. Jadi Mey disuruh nyari baby sitter khusus buat jagain Cyll atau Sam saja, Bu. Kalau buat dua-duanya, Bang Ron belum sanggup bayarin.”

Bu Widya menyeletuk, “Tapi kalau suamimu sudah mampu bayar baby sitter berarti penghasilannya sudah meningkat lagi, Mey. Sepertinya pepatah banyak anak banyak rezeki itu cocok buat kalian. Hahaha....”

“Semoga, Bu,” sahut Mey tersipu. “Mey akhirnya nyari baby sitter buat Cyll saja. Biar Sam diurus sendiri sama Mey. Seperti Cyll dan Liani waktu baru lahir dulu.”

Bu Widya menggenggam tangan Mey. “Kamu ibu yang baik, Mey. Anak-anak beruntung punya ibu seperti kamu.”

“Anak yang mana, Bu? Mungkin Liani ga berpikir begitu.”

Bu Widya mendesah. Kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Mey. Entah sampai kapan Liani terpisah dari ibu dan saudara-saudaranya. Hanya Tuhan yang tahu.

***

Ternyata mengasuh Sam tak semudah mengasuh Cyll waktu masih bayi. Sam anak yang sensitif. Tatap muka dengan orang tak dikenal auto mewek. Digendong orang yang bukan ibunya langsung nangis. Waktu tidur dengar suara orang ngomong sontak bangun dan nangis ngejer.

Ron tak tahan menghadapi anak laki-lakinya. “Aduh, Sam. Kamu ini anak cowo kok sensi banget, sih. Dikit-dikit nangis. Cengeng. Banyak drama, woy!”

Dengan gusar disodorkannya bayi laki-lakinya yang sedang menangis itu pada Mey. Perempuan itu geleng-geleng kepala. Dasar suaminya ga sabaran menghadapi kerewelan bayi. Maunya yang gampang-gampang saja kayak Cyll dulu yang jarang nangis dan justru banyak ketawa. Karakter anak kan beda-beda. Jadi perlakuan terhadap mereka juga ga bisa dipukul rata. Bukankah dia sendiri yang dulu bilang supaya ga pilih kasih sama anak! Haizzz....

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!