Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Keputusan
Pov. Rama
Rama melihat wanita yang di sebut ibu oleh Lina, pergi dengan pandangan heran karena terlihat jelas kalau ibu Lina sangat pilih kasih terhadap Lina dan adiknya.
Ibu Lina terkesan lebih menyayangi harta benda dan adik Lina, dari pada putri dan mantan suaminya. Jika mantan suami, Rama bisa maklum mungkin sudah gak ada perasaan, tapi Lina kan anaknya sendiri sungguh aneh menurut Rama.
"Apa jangan-jangan Lina bukan anak kandungnya?"
Setelah memastikan mobil mewah itu pergi, barulah Rama keluar dari tempat persembunyiannya dan duduk kembali di depan Lina. Terlihat jelas mata Lina yang berkaca-kaca, tapi Lina berusaha tegar dan mengalihkannya dengan meminum air minum dari tumblr, hingga kepalanya menengadah ke atas.
"Jika ingin menangis, menangis lah!"
"Dia tertawa, tapi jelas itu tertawa getir," ucap Rama di dalam hatinya.
***
"Menangis," ulang ku mendengar ucapan pak Rama membuatku tertawa miris, sambil menghabiskan air minum di dalam botol minum, menahan rasa sesak di dadaku.
"Menangisi ibu yang tidak menganggapku, buat apa?" getir ku, mengingat sejak kecil ibu emang lebih sayang dengan adiku dan bodohnya aku, kenapa baru menyadarinya sekarang.
Saat ada acara ke luar rumah, aku selalu di tinggal di rumah bersama dengan pembantu, kecuali jika pergi satu keluarga bersama ayah. Tapi, saat itu aku tidak terlalu berpikir, karena meski begitu ibu akan selalu membawakan aku oleh-oleh.
"Aku jadi ragu, kalau dia ibumu?"
"Tapi itu faktanya, dia ibu kandungku. Sudahlah pak, gak usah bahas dia, bukannya kita mau bahas mengenai ayah yang berniat membatalkan tuntutannya?"
"Tapi sepertinya ini ada hubungannya," ujarnya menjeda ucapannya, sambil mengetuk-ngetuk jari tangannya ke mejaku.
"Ada pihak yang menekan ayahmu dan kamu secara bersamaan." sambungnya membuatku terdiam dan membenarkan di dalam hati.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Maksudnya?" heran ku.
"Ya siapa tahu, meski di mulutmu tadi menolak, tapi hatimu tergerak untuk membantu ibumu, bagaimana pun dia orang tuamu."
Aku hanya mendengus, mendengar ucapan pak Rama. Meski sikap ibu mulai aku rasakan setelah kami tinggal terpisah, tapi aku bukan orang baik yang mudah melupakan sesuatu, apalagi jika itu di lakukan beberapa kali.
"Sepertinya hubunganmu dengannya juga kurang baik, bukan selayaknya hubungan ibu dan anak."
Aku pejamkan mata ku, mendengar ucapan Pak Rama yang seperti mengorek informasi, membuatku berusaha untuk tidak terpancing olehnya, bagaimanapun dia adalah orang lain dan hubungan kami hanya hubungan kerja.
"Tidak usah sok tahu deh, pak."
"Bukan sok tahu, tapi semua terlihat jelas dari ucapan yang saya dengar tadi."
Aku memicingkan mataku melihatnya, lalu melihat arah tempat duduknya tadi yang lumayan jauh.
"Sok tahu. Dengan jarak yang lumayan jauh, sangat tidak mungkin bisa mendengarkan obrolanku." gerutuku.
Pak Rama tertawa kecil dan membalik ponselnya yang ada di atas meja, yang ternyata menyala dan sedang melakukan panggilan telepon. Kemudian aku lihat pak Rama mengeluarkan ponsel dari kantongnya, di susul melepas headset bluetooth dari telinganya.
"Jadi!" kagetku melihat caranya nguping pembicaraan ku.
"Sungguh tidak sopan," kesalku.
Terlihat pak Rama mengangkat sudut bibirnya sinis, yang malah membuatnya terlihat tampan seperti CEO dingin dan kejam, dari novel yang pernah aku baca. Membuatku langsung memaki diriku sendiri, yang sempat terpesona dengannya.
"Tidak usah menggeleng, ini bisa di jadikan bukti karena sudah mengancammu."
"Emang otak pengacara, beda ya." kagum ku, karena pak Rama kepikiran hal sekecil itu.
"Bujuk ayahmu untuk tidak menarik tuntutannya, karena bulan depan sudah mulai sidang."
"Baik Pak!"
**
"Ayah tidak perduli dengan diri ayah sendiri, tapi ayah kuatir denganmu." jelas ayah.
Aku sengaja tidak tidur lagi setelah sholat subuh, supaya bisa ngobrol berdua dengan ayah. Aku menemani ayah yang sedang membuat nasi goreng, lebih tepatnya menonton ayah yang sedang membuat sarapan.
"Tapi aku juga ingin membuat mereka jera, yah. Adam itu ponakan om Nichole, yah. Bahkan ibu sampai datang untuk membujuk ku, supaya membujuk ayah." lirih ku diakhir kalimat.
Ayah tersenyum dan mematikan kompor, lalu menuangkan nasi goreng ke baskom bersih dan membawa ke meja kecil yang ada di dapur, membuatku bergegas mengambil piring bersih dan air minum.
"Ya sudah kita tarik aja tuntutannya, anggap aja kamu berhasil membujuk ayah. Pasti jika ibumu tahu, dia akan berterima kasih padamu."
"Tidak, yang ada ibu jadi besar kepala nantinya. Aku harap, ayah jangan tarik tuntutannya."
"Maaf, ayah kali ini tidak akan menurutimu, karena bagaimanapun nyawamu itu lebih penting dari segalanya. Harta bisa di cari, tapi kamu putri ayah satu-satunya dan tak ada saingannya."
"Yah,,, " rengek ku yang ingin protes, dengan keputusan ayah.
"Keputusan ayah sudah tidak bisa di ganggu lagi, jika terjadi apa-apa denganmu ayah akan menyesal seumur hidup ayah, karena nyawa mu tidak pernah ada gantinya!" tegas ayah, membuat Lina menundukkan kepalanya lesu.
"Siang ini, ayah akan temui langsung pak Rama untuk pembatalannya."
"Ayah jangan nyerah, kebenaran harus di tegakkan, yah." rengek ku.
Ayah menggeleng dan menikmati air minumnya, sebelum memulai sarapan dengan tenang pertanda tidak mau di ganggu lagi. Membuatku tidak semangat dan hanya bisa, memainkan nasi goreng karena kehilangan nafsu makan.
"Jika tidak mau di makan, simpan di kotak bekal nanti biar di makan orang yang lebih membutuhkannya, jangan hanya bisa di mainin makanannya!" tegas ayah membuatku makan dengan hati dongkol.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in