NovelToon NovelToon
Aku Bukan Malaikat

Aku Bukan Malaikat

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:347.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."

Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.

Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saved by the Bell

⚠️Warning⚠️ Mature content. Ada adegan kekerasan.

“Ini satu-satunya cara agar kita bersatu lagi Farah,” ujar Ian, ia berdiri dari sofa dan mendekat ke meja Farah. Farah segera mengambil ponsel dan menghubungi siapapun untuk meminta bantuan. Nomer Sammy dan Gwen ada di dalam daftar panggilan cepat, entah siapa yang ia hubungi, Farah tidak terlalu memperhatikan. Asalkan nomer itu tersambung dan ada yang mendengarkannya Farah segera berteriak minta tolong.

“Ian, tolong jangan seperti ini.” Farah memohon dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.

Farah tak tahu apakah teleponnya sudah tersambung atau belum. Ia menyesal tak memasang alarm pada butiknya. Benda berisik itu tentu sangat bermanfaat di saat genting seperti ini.

Farah mundur lalu secepatnya berlari menuju pintu keluar. Sayang, Ian bergerak cepat dan berhasil menarik lengannya. Ian berhasil memerangkap tubuh Farah di dalam dekapannya lalu memaksa mencium Farah.

Farah meronta sekuat tenaga.

“TOLOONG!” Hanya satu kata itu yang lolos dari bibir Farah karena Ian segera membungkamnya. Ian mendorong tubuh Farah hingga mereka jatuh ke lantai. Farah merasa sakit tapi rasa takut lebih mendominasinya.

Kaki-kaki Farah berusaha menendang dan tubuhnya ia gerakkan terus agar bisa lolos dari cengkraman Ian. Tapi tenaga Ian terlalu besar. Farah tak bisa lepas darinya. “Aku tak ingin berbuat begini sebenarnya Farah. Aku ingin kita rujuk baik-baik,” kata Ian di depan pipi Farah yang telah basah. Farah memejamkan mata dan terus menangis. Ia tak tahu lagi harus bagaimana.

Ia memohon kepada Tuhan agar segera diselamatkan dari monster di hadapannya.

KRINCING!!!

Terdengar suara dua bel kecil yang Farah pasang di atas pintu butik. Bel itu akan bergerak dan berbunyi ketika seseorang mendorong pintu.

Ian dan Farah spontan menoleh ke arah pintu.

Farah yang menangis, mulutnya dibungkam dengan posisi yang ditindih oleh seorang pria, cukup menjadi alarm bagi Theo untuk segera menyerbu monster yang sedang menyakiti Farah.

Theo memukul dengan sekuat tenaga. Menyerang tanpa ampun. Ian yang badannya lebih kurus dari Theo tak mampu mengimbangi tenaganya. Ian terpelanting. Tulang hidung Ian patah dan darah keluar dari hidungnya.

Farah masih menangis tersedu tapi berusaha untuk bangkit. Dalam pandangannya yang tak terlalu jelas tertutup air mata, muka Ian sudah terlihat babak belur. “Theo,” panggil Farah dengan suara lemah.

Theo tak mendengarnya, dia terus melesakkan tinjunya ke perut Ian.

“Theo cukup!” Suara Farah terdengar lebih keras dan akhirnya Theo berhenti.

Ia menoleh ke arah Farah lalu berjalan cepat menuju ke tempatnya. “Kamu gak pa-pa, Farah?” tanya Theo. Ia segera melingkarkan lengan ke bawah lutut Farah dan lengan satunya menopang punggung Farah. Theo menggendong Farah yang masih terduduk lemah di lantai. Farah spontan melingkarkan lengannya ke belakang leher Theo.

Theo membawanya ke sofa. Ia mengusap lembut wajah Farah yang penuh air mata. “Aku ambilkan minum, ya?” Farah mengangguk. Theo menghampiri dispenser air yang terletak di salah satu sudut ruangan. Ia melangkahi tubuh Ian yang merosot lunglai ke lantai. Lalu Theo kembali kepada Farah dengan membawa segelas air dan Farah menerima gelas yang Theo berikan. Theo segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menghubungi seseorang. Ia agak menjauh dari Farah “Iya, segera ke sini,” tutupnya pada seseorang yang ia hubungi.

“Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Theo yang sudah datang kembali ke hadapan Farah. Ia bersimpuh dan mendekat ke sofa tempat Farah duduk. Ia mengamati wajah dan tubuh Farah, memeriksa seandainya ada luka terbuka yang kelihatan.

Farah menggeleng. “Tidak.”

Theo menghela napas berat. “Aku benar-benar ingin memeluk kamu sekarang. Tapi aku belum boleh.”

Farah mengerti apa maksud Theo. Ia pun sama, ia butuh siapapun untuk dipeluk saat ini. Ia butuh seseorang yang memberikan ketenangan padanya.

Theo kemudian melepas jas yang ia kenakan dan menutupkannya ke badan Farah. Harum tubuh Theo dan kehangatan yang tertinggal pada jasnya masih terasa ketika jas itu melingkupi tubuh Farah. Begitu saja rasanya seperti dipeluk oleh Theo. Rasanya sangat menenangkan.

“Gwen akan ke sini setengah jam lagi,” kata Theo kemudian.

Farah mengangguk. Theo duduk di lantai dan menghadapkan wajahnya ke Farah. Ia bisa melihat wajah Farah yang lebih tenang.

“Untung saja aku tadi ke sini. Kalau tidak, bagaimana keadaan kamu sekarang, Farah?” Theo mengepalkan telapak tangannya. Farah menatap manik biru Theo dan melihat ada perasaan terluka tercermin pada bola matanya yang indah.

“Terima kasih, Theo,” ucapnya tulus.

“Galen di mana?” tanya Theo kemudian.

“Dia di atas sedang tidur.”

Theo kemudian berdiri dan berkata, “Aku lihat dia sebentar, kamu gak pa-pa sendiri di sini?” tanya Theo. Ia melihat ke arah Ian yang tergeletak pingsan.

“Iya,” jawab Farah dengan suara serak.

“Kalau ada sesuatu langsung teriak saja, OK?” pesan Theo dan dijawab anggukan Farah. Theo kemudian menghampiri tubuh Ian untuk memastikan kalau ia benar-benar pingsan bukan pura-pura. Setelah yakin, Theo segera menuju lantai atas dengan menapaki tangga. Ia masuk ke salah satu kamar yang terbuka pintunya. Galen terlihat tidur nyenyak di dalam box-nya. Theo menarik selimut Galen yang melorot sampai menutupi dada Galen, lalu Theo keluar dari kamarnya.

Ia kembali lagi ke hadapan Farah yang terlihat melamun. “Kamu baik-baik saja, Farah?” tanya Theo seraya duduk di lantai. “Apa yang kamu pikirkan?”

Apa yang Farah pikirkan? Banyak. Farah memikirkan kejadian hari ini. Farah memikirkan kata-kata Ian. Farah memikirkan keselamatannya ke depan. Bagaimana jika Theo datang dan mengusiknya lagi. Apakah Farah harus pindah, padahal ia baru merintis usaha.

“Hei,” panggil Theo pelan. Farah menengadah dan bertemu dengan manik mata Theo. “Jangan khawatir Farah, kamu harus tenang. Kamu bisa minta bantuanku kalau butuh sesuatu.”

Farah melihat kembali mata Theo. Biru, sebiru samudera. Menawarkan ketenangan.

Suara sirine yang perlahan semakin riuh terdengar. Lalu mobil-mobil berisik itu berhenti di sekitar ruko. Bunyi bel terdengar dari pintu seraya pintu butik Farah terbuka. Seorang pria tinggi tegap dan agak berumur mendekat. Theo kemudian berdiri menyambutnya. “Anda sudah datang?” sapa Theo.

“Ya, Pak Theo,” jawab pria itu. Kemudian disusul dua petugas aparat berseragam dari belakangnya. Mereka bergerak cepat membawa Ian yang masih terbaring di lantai.

“Nama saya, Anwar. Saya akan menangani kasus ini Bu Farah.”

Farah mengangguk dan menerima kartu nama yang disodorkan Anwar. “Saya akan merekam pernyataan Anda. Kita harusnya di kantor untuk membuat laporan, tapi karena ini sudah terlalu malam dan Anda masih mempunyai bayi jadi saya akan mempercepat prosesnya.” Kemudian Farah menjawab beberapa pertanyaan dari Pak Anwar tentang kejadian malam itu.

Setelah Farah memberikan tanda tangannya pada sebuah aplikasi di ponsel Anwar, Theo berkata, “Untuk selanjutnya biar pengacara keluarga kami yang akan menangani hal ini.”

Anwar mengangguk. “Baik, saya akan menghubungi Pak Rahardian.” Kemudian Anwar beralih ke Farah. “Bu Farah tak perlu khawatir, saya pastikan daerah ini akan aman.” Anwar memberikan senyuman di wajah tegasnya.

______________________________

**Di antara kedua orang ini, kira-kira mana yang lebih cocok buat visual Theo.

1**.

2.

**Yang pernah ikutin Hutang Kepada Mr. Devil pasti tahu kalau castnya beda

soalnya kan ini ceritanya Theo berubah lebih tegas wajahnya. Dan cast yang dulu terlalu muda menurutku.

TBC**

1
Sunny Kwok
Luar biasa
Ran Aulia
👍😍😍😍😍
yaty
tahniahhhh author 💞💞💞💞💞
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
Sandisalbiah
jangan² emiliano yg termasuk dlm kartel narkoba itu kan jd dilema buat theo..
Lea Octa
maaf Thor aku memghalu nya ngebayangin Raihaanun bukan Adinia terlalu dewasa dibandingkan dg Gwen nya klo Adinia 🙏
Lea Octa
setelah melihat semua visual...aku jd terbayang Raihaanun kulit nya eksotis Indonesia banget.... soalnya Gwen, Zach dan Theo nya PD masih muda ....klo visual nya Adinia Wirasti ketuaan jdnya dibandingkan mrk semua nya maaf ya Thor 🙏🙏🥰
Lea Octa
Untung Farah punya temen yang bener² mendukung dan memberikan bantuan yg bisa bikin Farah kuat dan sanggup jd singel parent
Lea Octa
iya bener Farah jangan mau bertahan percuma apa lg Ian laki² egois udh tahu salah tp tetep arogan berasa paling bener
Lea Octa
baru baca aja udh kaya begini....kesellll nyebelin banget suaminya...kasian Farah
Pratiwi Lusi Arifin
kangen bang Zach😍😍
Pratiwi Lusi Arifin
bhuahahaha
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
Pratiwi Lusi Arifin
beh ga sabar euyy Theoo
Pratiwi Lusi Arifin
ngakak aseli
bumi kepada othor
bumi kepada othor
Pratiwi Lusi Arifin
emang sich kalo badan bulet trus yg mo ngelamar se ganteng ituh apa ga mikirnya becanda kalii
Pratiwi Lusi Arifin
suka mba gwen abang Zach
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
Pratiwi Lusi Arifin
Theo ichhh
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
Pratiwi Lusi Arifin
kalo sayah sih ok ma visuslisasi Farah
Pratiwi Lusi Arifin
komunikasi 2 arah itu penting
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
Liesdiana Malindu
jgan2 Theo dalang penjebakan Sandra??
kan cerita ini ada mafia2nya juga.
Hesti Ariani
galen manis banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!