Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
"Lo emang istri gue, Tapi jangan pernah lupa kalo gue nikahin Lo hanya untuk Maura!" Dilan menatap pada Ana yang juga menatap malas ke arahnya.
"It's okee, Gue tidak akan pernah lupa. dan loe juga harus ingat kalo gue juga mau nikah sama lo juga karna terpaksa!" balas Ana tak kalah pedas.
Berawal dari pernikahan kontrak yang saling menguntungkan, Dilan dan Ana membangun rumah tangga tanpa dasar cinta. Dilan yang ingin memberikan sosok ibu untuk Maura, begitu juga dengan Ana terpaksa menerima tawaran Dilan karna butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? temani author melanjutkan kisah ini yuk
Update rutin setiap hari Rabu dan jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan untuk Dilan
Keesokan harinya, Dilan bangun sebelum alarmnya berbunyi. Rasa malu karena kegagalan pancake dan matematika semalam menerima dorongan baru. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa hanya berpura-pura—ia harus benar-benar belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Dilan tidak kembali mencoba membuat pancake . Ia tahu batas kemampuannya. Pagi itu, ia memilih strategi yang lebih aman. membeli bubur ayam langganan Maura dari warung di ujung kompleks, dan menyajikan buah-buahan yang dipotong rapi.
Ketika Hana keluar, ia melihat Dilan sedang duduk di meja makan bersama Maura, yang asyik menyuap bubur.
"Lihat, Ma! Papa hari ini beliin bubur kesukaan Maura!" seru Maura riang.
Hana melihat sajian yang rapi, ada irisan stroberi di mangkuk kecil, dan Dilan tampak santai, tidak panik seperti kemarin. Ini adalah kemajuan.
“Bagus,” komentar Hana singkat, mengambil tempat duduk dan mulai sarapan. Ia tidak memuji, tapi nadanya tidak lagi sepedas kemarin.
“Maura, setelah ini kita skincarean sebelum berangkat sekolah,” kata Dilan sambil mengambil handuk kecil.
Hana hampir tersedak air minumnya. " Perawatan Kulit ?"
"Ya," jawab Dilan, berusaha tampil percaya diri. "Maura bilang wajahnya sering kering karena cuaca. Jadi aku belikan pelembab khusus anak-anak dan sunblock., melindungi kulit itu penting kan, Sayang?" Dilan menoleh ke Hana.
Hana menatap Dilan, sedikit terkejut. Itu adalah detail kecil yang sering ia ulang kepada Maura, dan Dilan, yang selama ini seolah tuli terhadap semua percakapan rumah tangga, kini mengingatnya.
“Aku akan menyiapkan tas Maura,” kata Hana, lalu pergi, sengaja memberikan ruang bagi Dilan untuk memuatnya.
Saat Hana kembali, Maura sudah siap, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya glowing berkat pelembap.
"Papa Dilan hebat! Tak ada lagi kulit kering!" puji Maura, memeluk Dilan.
Dilan merasakan kehangatan yang tulus dari putrinya, kehangatan yang jarang ia rasakan sejak ia sibuk dengan pekerjaannya.
Siang harinya, Dilan seharusnya berada di kantor, tetapi ia memutuskan untuk bekerja dari rumah, khusus pada hari itu. Ia duduk di ruang kerja, tetapi pikirannya terusik oleh kondisi rumah.
Ia melihat tumpukan pakaian kotor di keranjang dan pakaian bersih yang belum disetrika. Selama ini, semua tugas itu dikerjakan oleh Hana tanpa dia sadari.
Dilan menutup laptopnya. "Gue harus coba."
Maka dimulailah pertarungan Dilan dengan mesin cuci. Setelah dua kali salah memilih mode (yang pertama membuat pakaian Maura hampir luntur, dan yang kedua membuat suara mesin cuci menggelegar), Dilan berhasil mencuci.
Tantangan berikutnya: Menyetrika .
Dilan mengambil setrika, mengatur suhu, dan mencoba melicinkan bajunya. Ia berhasil membuat satu lipatan tajam di lengan baju, tetapi ia juga hampir membakar sarung bantal favorit Hana.
Hana, yang kebetulan lewat saat mengambil minum, melihat Dilan bertarung dengan asap tipis yang mengepul dari sarung bantal.
"Dilan!" seru Hana, cepat-cepat mencabut kabel setrika. "Apa yang kamu lakukan?"
Dilan terlihat malu, wajahnya merah karena setrika panas dan rasa bersalah. "Aku... aku sedang mencoba menyetrika. Aku tahu aku ceroboh, tapi aku mau membantu."
Hana menatap Dilan yang berkeringat, kemejanya berantakan, dan ekspresi murni berusaha. Meski kesal, Hana tidak bisa marah. Ini adalah Dilan yang sedang berusaha, sesuatu yang tidak pernah ia lihat dalam dua tahun pernikahan mereka.
Hana menghela napas. Ia mengambil setrika dan merapikan pakaian.
"Suhu kemeja katun tidak sama dengan suhu sarung bantal satin. Dan kalau kamu mau menyetrika kemeja, kamu harus mulai dari kerah, lengan dan terakhir badan," jelas Hana, nadanya seperti instruktur yang lelah. "Kamu tidak perlu menjadi pahlawan. Cukup lakukan satu hal yang kamu bisa, tapi lakukan dengan benar."
Dilan memperhatikan setiap gerakan Hana, dari cara dia menyemprotkan udara pewangi, cara dia melipat kemeja dengan sempurna.
"Ajari aku," pinta Dilan pelan.
Hana berhenti sejenak, menatap Dilan, mencari cuplikan di matanya. Dia tidak menunjukkannya. Yang ada hanyalah kejujuran dan sedikit rasa malu.
"Baik," jawab Hana. “Tapi janji, jangan hancurkan lagi pakaianku.”
Selama setengah jam berikutnya, Hana berdiri di belakang Dilan, mengarahkan tangan Dilan. Tubuh mereka sangat dekat, tetapi fokus Hana murni pada setrika, sementara Dilan berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang karena kedekatan fisik yang sudah lama hilang itu.
Ketika Dilan sedang menyelesaikan lipatan kemeja terakhirnya, ponselnya berbunyi. Itu adalah nomor tunggal.
"siapa ini?"ucapnya
"Halo, Dilan. Ini aku. Monica." Suara Monica terdengar dingin, tapi ada nada ancaman yang tersirat.
Dilan menjauh sedikit dari Hana. "Kenapa kamu telepon? Bukannya kita sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya?"
"Tentu saja aku setuju. Aku hanya menelepon untuk mengingatkanmu, Dilan. Besok, ada pertemuan penting dengan klien Singapura, Tuan Lim. Kamu tidak bisa membatalkannya. Dan Tuan Lim hanya mau berjanji denganku, karena dia percaya aku yang mengatur segalanya di balik layar," ujar Monica.
Ini adalah masalah besar. Tuan Lim adalah klien terbesar yang akan menandatangani kontrak multi-miliar yang sangat penting bagi perusahaan Dilan.
“Monica, aku akan tangani sendiri,” kata Dilan.
"Tidak bisa. Tuan Lim mengenal kita berdua sebagai pasangan yang solid dalam bisnis, Dilan. Kalau kamu muncul tanpa aku, dia akan curiga. Dan kamu tahu bagaimana reaksi Tuan Lim terhadap kualitasnya. Kau mau kehilangan kontrak itu, Dilan? Hanya karena... istri kontrakmu?" Monica menekankan kata-kata itu.
Dilan tercekat. Dilan tahu Monica benar. Kehadiran Monica saat negosiasi memang sangat penting untuk menutup kesepakatan.
Hana yang mendengar percakapan itu, mendekat. Ia menatap Dilan dengan tatapan dingin.
“Masalah kantor?” tanya Hana setelah Dilan menutup telepon.
Dilan mengangguk. "Monica mencoba mengganggu. Ada negosiasi besar besok, dan dia bilang klien tidak akan mau bernegosiasi tanpanya."
"Dia menekanmu," kata Hana tajam. "Dia tahu kelemahanmu ada pada pekerjaan."
"Aku tahu. Tapi ini menyangkut perusahaan, Hana. Aku tidak bisa membatalkan pertemuan ini," kata Dilan kecewa.
Hana tersenyum sinis. "Lalu, bagaimana dengan perjanjian kita? Kamu akan sibuk dengan Monica lagi, dan Maura akan kembali ke daftar prioritas nomor sekian?"
"Tidak! Aku akan memastikan ini yang terakhir. Aku harus berangkat besok pagi, tapi aku janji akan pulang cepat. Aku akan membatalkan semua janji lainnya minggu ini," pinta Dilan.
Hana melipat tangan di dada. "Satu bulan, Dilan. Itu pertaruhan mu. Kalau besok kamu sibuk sepanjang hari, artinya kamu sudah streaming. Tapi..." Hana berhenti, menatap Dilan dengan pandangan yang aneh.
"Aku akan memberi jalan keluar, Dilan. Tapi kamu harus memilih. Pekerjaan, atau kesempatanmu untuk membuktikan diri di rumah ini?"
Apa keputusan yang akan diambil Dilan antara pekerjaan penting (yang melibatkan Monica) dan janji satu bulan kepada Hana?
Tapi Hana tidak merasakan itu, hatinya kerap terluka karena cintanya yang tanpa sadar tumbuh untuk Dilan, sang suami kontrak yang hanya menganggapnya hanya orang asing.
Apakan Hana akan mempertahankan cintanya atau memilih pergi...