"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Nafas Ruby mendadak tercekat, kala melihat senyum Marco yang tak seperti biasanya, senyum itu memperlihatkan Marco bak seperti iblis yang ingin menerkam mangsanya saat ini juga.
Dengan tangan yang sudah terikat, Marco menggendong tubuh Ruby bak membawa sekarung beras lalu melangkah menuju kamarnya.
Susah untuk Ruby bisa memberontak karena keadaan tanganya yang terikat.
Sampainya di kamar, Marco melempar tubuh Ruby ke atas kasurnya yang empuk.
"Aww.." pekik Ruby karena tanganya yang mulai memerah akibat sedikit tergores tali.
Marco menanggalkan jas dan juga kemeja putih yang ia saat ini masih menempel di tubuhnya.
Sontak Ruby membulatkan kedua matanya, ia terkejut melihat kembali tubuh sixpack dan berotot Marco yang tadi pagi bahkan belum bisa ia lupakan.
Dengan susah payah Ruby mencoba menelan salivanya, dan keringat dingin yang mulai bercucuran.
"Santailah baby, aku tidak akan menyakiti mu." Ujar Marco yang saat ini sudah setengah berdiri di atas ranjang dan berhadapan dengan Ruby.
"Kau bilang tak menyakiti ku? Lalu apa yang terjadi dengan pergelangan tanganku ini? Apa kau pura-pura buta dan tak mau melihat?" Sarkas Ruby mencoba memberanikan diri untuk memperlihatkan goresan pada lengannya yang masih terikat tali.
Kini Marco duduk tepat di depan Ruby dan sedikit mengikis jarak, tangan Marco terulur lalu meraih tangan Ruby, ia melihat memang ada sedikit goresan hingga membuat kulit Ruby yang tampak putih mulus bening itu mulai kemerahan.
Marco mencium telapak tangan Ruby. Dan itu membuat Ruby kembali terkejut dengan sikap Marco yang tak dapat di tebak.
Sampai dimana Marco tak berhenti hanya di telapak tangan Ruby. Kecupan Marco mulai merambat ke tangan, sampai nafas Ruby kembali tercekat kala bibir Marco menempel di ceruk lehernya.
Otot-otot pada leher Ruby terlihat sekali ketika sang empu merasa tegang, netra keduanya bertemu kala Marco mulai menatapnya dengan intim.
Saat Marco mulai mendekat wajahnya. Tiba-tiba Ruby mempunyai ide agar aksi Marco kali ini gagal.
Bugh
Karena posisi yang sudah dekat, Ruby yang tak kehabisan akal pun menendang junior Marco dengan satu kakinya lalu dengan sukses mengenai junior Marco yang masih berada di dalam sangkarnya.
"Aawww.." jerit Marco karena tendangan Ruby tepat mengenai sasaran.
Marco menjatuhkan tubuhnya di samping Ruby dengan memegang junior nya yang terasa berkedut dengan kencang akibat tendangan kaki Ruby.
"Kau benar-benar harus di hukum gadis nakal." Racau Marco yang mencoba berjalan walau susah payah ke arah bathroom.
Pria itu segera berendam ke air dingin untuk mentralkan rasa sakit pada junior nya.
Melihat Marco masuk ke dalam bathroom, Ruby segera berlari keluar kamar dan meminta pelayan untuk membuka talinya dengan sebuah pisau ketika sudah sampai di lantai dasar.
Tapi saat batu saja Ruby hendak kabur, satu pelayan tadi yang memergoki Ruby masuk ke dalam ruangan yang sangat di larang oleh tuannya itu menahan lengan Ruby.
"Non mau kemana?" Tanyanya dengan wajah yang sudah memelas.
"Mau pergi." Cuek Ruby yang akan melanjutkan untuk melarikan diri. Namun pelayan tersebut ternyata sangat kuat untuk menahanya agar tetap berada di rumah tuan nya, yaitu, Marco.
"Lepasin.!!" Kini Ruby tidak merasa sungkan lagi untuk berteriak dan sedikit menghempaskan tangan pelayan tersebut, namun nihil. Karena tenaga pelayan itu ternyata lebih kuat dari dirinya.
"Ohh.shit!!" Umpat Ruby kala melihat Marco menuruni anak tangga dengan celana yang amsih basah dan mempertontonkan setengah badanya yang bertelanjang dada.
Para pelayan yang ada disana tak berani menatap ke arah Marco. Semua pelayan yang saat ini ada disana, semua menundukkan kepalanya karena merasa segan dan takut kepada tuanya yang terknenal sebagai Mafia yang kejam.
"Terimakasih, kerja bagus! Kalian boleh pergi sekarang." Ucap Marco berterimakasih karena sudah menahan Ruby untuk masih di dalam kediaman nya, lalu kemudian menitah para pelayan itu untuk segera pergi dari hadapannya.
Dengan sopan. Semua pelayan itu membungkukkan tubuhnya sebekum mereka pergi.
"You are really wild baby, bagaimana aku harus memperlakukan dirimu dengan baik jika kamu terus lancang?" Dengan nada yang selalu penuh penekanan, Marco kembali meraih kedua tangan Ruby dengan mudahnya, lalu kembali mengikatnya dengan dasi yang ia pakai tadi.
"Bunuh saja aku!! Jika itu mau mu." Tegas Ruby yang merasa Marco akan bersikap luluh terhadap nya kali ini.
"Baiklah, jika itu mau mu. Aku akn membunuh mu dengan tangan ku sendiri." Sarkas Marco yang tak kalah kejam dari ucapan gadis di hadapannya itu.
Susah payah Ruby menelan salivanya, apakah benar Marco akan membunuhnya? Bukankah dia akan membantu nya untuk mencari informasi atas meninggalnya sang ibunda? Tapi mengapa malah dirinya yang menjadi korban saat ini? Atau jangan-jangan ayahnya lah yang sudah menjual dirinya kepada pria tua mesum dan seperti iblis ini? Melihat beberapa kali Marco berbincang dengan sang ayah bahkan terlihat sangat serius. Semua pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Ruby sambil berhalan dengan sedikit di seret oleh Marco kembali ke arah kamar.
Tepat berada di balkon kamar dan dengan kedua tangan yang masih terikat, tatapan Marco yang tak pernah melembut saat menatapnya seolah hilang dan terganti menjadi tatapan yang mengerikan bak iblis ingin memakan mangsanya.
Marco menyipitkan kedua matanya kala melihat buliran kecik jatuh membasahi pipi gadis liarnya ini.
"Apa dia menangis?" Gumam Marco yang masih tak percaya jika gadis ini memang sedang menangis.
"Jika aku benar-benar harus mati saat ini, aku rela Ma. Asal aku bisa bertemu dengan mu dengan secepatnya, walau aku harus rela mati di tangan pria tua dan mesum ini." Gumamnya yang berfikir akan mati dan bertemu mendiang sang ibunda di dunia lain nanti.
Tangan Marco yang awalnya dengan tegas ingin mencekik leher Ruby. Kini sedikit melonggar dan menghapuskan buliran air mata yang jatuh membasahi pipi hingga ke bibir gadis itu.
Dengan mata terpejam, Ruby pasrah juka tiba-tiba Marco akan mendorong tubuhnya agar terjatuh dari balkon kamar tersebut.
"Jatuh dari lantai tiga, bukankah tubuhku akan hancur?" Gumamnya lagi dengan mata yang masih terpejam.
Namun siapa sangka jika apa yang di lakukan Marco bukanlah mendorong rubuh kecik itu agar terjatuh, melainkan Marco menarik ceruk leher Ruby dan kembali melumat bibir gadis itu.
Kedua mata Ruby kembali terbelalak saat dengan kasarnya Marco melumay bibirnya secara begantian.
Entah apa yang tiba-tiba merasuki perasaan Marco yang merasa iba melihat buliran yang jatuh dari kedua mata gadis itu.
Marco menarik tangan Ruby yang masih terikat untuk melingkar di lehernya laku menggendongnya ala koala.
Marco membawa tubuh Ruby kembali ke dalam kamar tanpa melepas tautan di bibir mereka berdua.
Ruby yang masih dalam keadaan bingung pun mencoba menelaah semua perlakuan Marco terhadap dirinya.
Di rebahkannya tubuh Ruby dengan pelan ke atas kasur, lalu Marco menarik tangan Ruby yang masih terikat tersebut ke atas dan memegangnya agar gadis itu tak berontak lagi karena Marco juga menghimpit kedua kaki Ruby dengan kakinya saat ini.
Marco menatap netra hingga bibir Ruby yang sudah terlihat bengkak karena ulahnya itu lalu kembali meraubnya dalam lumatan yang sedikit lebih lembut.
Agar Ruby tak merasa kesakitan dan sedikit merasa nyaman.
"Bukankah kau ingin membunuhku?" Tanya Ruby saat nafas keduanya mulai tersengal karena kehabisan oksigen.
"Ya, aku akan membunuhmu, tapi tidak untuk sekarang.!" Marco kembali melumat bibir Ruby. Bahkan saat ini lumatan Marco turun hingga ke tulang selangka gadis itu.
Membuat nafas Ruby semakin tercekat karena Marco memberikan hisapan kecil sampai menbuat Ruby merasakan hal aneh dan membuat tubuhnya bergeliyar.
"Aah.. shit. Perasaan apa ini?" Gumam Ruby yang sudah hampir kehilangan akalnya karena perilaku yang ia terima dari Marco.
Marco sedikit menurunkan kaos yang di pakai Ruby hingga bahunya terekspos, tak mau membuang-buang waktu lagi, Marco kembali memberikan kecupan-kecupan yang membuat perasaan Ruby seolah terbang bak kupu-kupu.
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya