Davin seorang pimpinan perusahaan yang ganteng dan dingin mendapatkan seketaris yang ya g di rekomendasikan oleh sang om karena gadis itu tak lain adik ipar sang om. Namun setelah bertemu dengan gadis itu Davin di buat kaget karena ternyata gadis itu, gadis tiga tahun lalu yang pernah dia tiduri atas permintaan teman sekaligus sahabat ya g saat ini menjadi rivalnya di dunia bisnis. Davin ya g selama tiga tahun ini di bayangi dengan rasa bersalah atas kejadian itu bahkan berusaha mencari informasi tentang gadis itu, namun kini dia di buat terkejut setelah tahu bahwa gadis itu adik ipar sang om.
Namun gadis itu tidak mengingat dengan Davin karena memang Alma tidak terlalu mengenal Davin. Alam pun bersikap biasa saja.
Apakah Davin bisa menebus kesalahannya pada Alma?
Apa yanga kan di lakukan Alma setelah tahu laki-laki ya g telah menodainya adalah bosnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rio.
"Al, sudah sampai mana persiapan pernikahan kalian? " tanya Bella saat menghampiri Alma yang sedang menemani Faiz bermain.
"Baru sampai nyobain kebaya pengantin" jawab Alma tanpa melirik sang kakak karena sedang asik main PS bersama Faiz.
"Kapan kamu nyobain baju kebaya? " tanya Erika.
"Tadi sore, makanya aku pulang malam juga" jawab nya dan masih main PS.
"Hore aku menang, tante kalah" sorak Faiz karena berhasil mengalahkan Alma.
"Sini lawan abang bisa gak? " tanya Davin tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Faiz.
Akhirnya semua orang berkumpul di ruang keluarga melihat permainan PS para pria melawan Faiz.
Alma pun beranjak untuk ke kamar karena dia merasa badannya gak enak karena seharian di luar dan sekarang belum mandi.
"Mau kemana? " tanya Davin melihat Alma pergi.
"Mandi" jawab Alma tanpa melirik Davin.
Davin pun bermain lagi sampai Erika mengingatkan ke tiga pria di hadapannya untuk menyudahi bermain PS nya.
"Udah malam, gak akan pada pulang? " tanya Erika membuat Indra melihat jam di tangannya.
"Ma, kita pulang yu! " ajaknya pada Bella.
"Lanjutin saja" jawabnya karena kesal dari tadi malah pada main PS.
"Jangan marah dong sayang" rayunya sambil menarik tangan Bella untuk di ajak pulang.
Erika dia hanya tersenyum saja melihat kelakuan kakak iparnya.
Davin pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Alma jika dirinya pulang namun tidak mendapat balasan karena Alma sudah tidur.
"Om, tante aku balik dulu" pamit Davin dan langsung melangkah ke luar dan langsung naik ke mobilnya lalu langsung tancap gas untuk pulang.
Alma dia sudah ke alam mimpi karena saking capek nya. Namun besoknya saat Alma akan berangkat kerja langsung di larang oleh mamanya.
"Hari ini kamu jangan kerja dulu sampai kalian menikah" ucap sang mama saat di meja makan.
"Kenapa? " tanya Alma yang tidak mengerti.
"Ini perintah oma nya Davin kalian di larang bertemu berapa hari sebelum akad nikah" jawab mama sambil menata sarapan.
"Ya tapi kenapa?, Alma harus ngapain kan bosen di rumah" ujar Alma yang protes.
"Kamu temani Faiz bermain saja agar tidak bosan" ucap Erika tiba-tiba yang baru turun.
"Kakak mau santai gitu, enak aja" balas Alma dan Erika hanya tersenyum ngerjain adiknya itu.
"Keperluan nikah itu banyak yang harus di urus jadi kamu gak akan bosen" ucap mama memberitahu.
"Ya udah deh terserah mama" balas Alma dengan wajah di tekuk.
Alma pun langsung memakan sarapannya dan setelah selesai dia naik lagi ke kamarnya dan langsung bermain ponsel. Namun tiba-tiba Davin menghubunginya karena sudah jam sembilan Alma belum datang. Davin marah-marah namun Alma hanya membalas tanya kan saja pada omanya.
Davin yang mendapat balasan seperti itu dari Alma langsung menghubungi sang oma dan dia malah kena semprot amukan sang oma. Davin bilang jika tidak ada Alma pekerjaannya akan kacau namun bukan Oma jika dia tidak tau trik cucunya itu.
"Ah, sial gue bisa gak fokus kerja kalau gak ada Alma. Mana masih lama tiga hari lagi kami nikah" umpatnya karena kesal.
Akhirnya karena kesal Davin pun meninggalkan kantornya dan pergi ke bengkel sahabatnya Dimas. Sampai di sana dia langsung masuk dan meluapkan kekesalan nya dengan ngomel-ngomel.
"Lo kenapa sih datang datang langsung marah-marah? " tanya Dimas yang heran melihat sahabatnya ini.
"Masa gue di larang ketemu Alma" jawab Davin lalu duduk.
"Sama siapa? " tanya Dimas tanpa melirik Davin.
"Oma gue" jawab nya lalu membaringkan tubuhnya di kursi.
"Ya wajarlah kalau kata orang dulu itu namanya di pingit, kan kalian mau nikah jadi mereka takut terjadi sesuatu pada kalian jika terus ketemu" penjelasan Dimas.
"Ya tapi masa harus tiga hari" keluhnya kesal.
"Ya mending lo tiga hari, lah gue satu minggu" balas Dimas menceritakan pengalamannya dulu membuat Davin tersenyum.
"Sialan lo" melempar pulpen.
"Oya ya, lo mau ngundang Rio sama Niko? " tanya Dimas menyebutkan kedua sahabatnya itu.
"Gak usah gue takut mereka bikin ulah karena lo tau sendiri hubungan gue sama Rio udah gak baik" jawab Davin lalu bangun.
"Tapi mereka hubungi gue dan menanyakan benar lo mau nikah" ucap nya.
Davin tidak menjawab pertanyaan Dimas dia hanya diam saja memikirkan cara bagaimana dia bisa bertemu Alma.
Namun sampai satu hari sebelum acara Davin benar-benar tidak bisa bertemu Alma namun dia pasrah saja dan besok dia baru bisa menemui Alma.
Berbeda dengan Alma sejak kemarin dia menerima pesan dari seseorang yang akan memberitahu siapa pria yang telah merenggut kesuciannya dulu. Hingga siang ini orang itu masih terus mengirim pesan dan membuat Alma penasaran hingga akhirnya dia mengiyakan untuk bertemu sore ini.
Alma dia sudah bersiap untuk keluar bertemu orang yang terus mengirimi pesan yang akan memberitahunya siapa pria itu.
"Kamu mau kemana sudah rapi begitu? " tanya Erika saat Alma turun hendak pergi.
"Alma izin bentar ada yang mau Alma beli" jawab Alma berbohong.
"Beneran kamu gak bohong? " tanya Erika yang takut Alma bertemu Davin.
"Beneran kak, aku gak akan ketemu bang Davin" jawab nya meyakinkan.
"Ya sudah jangan lama-lama, kamu minta antar Toni saja" ucap Erika menyuruh Alma pergi dengan anak buah sang Om Ilham.
"Siap kakak" ucap Alma dan langsung pergi.
Sepanjang jalan Alma merasa gugup karena dia akan bertemu dengan orang yang akan memberitahu siapa pria brengsek yang telah mengambil kesuciannya.
Mungkin setelah Alma tau dia tidak akan bisa berbuat apa-apa karena dia tidak mungkin meminta pertanggung jawaban karena dia takut saat ini pria itu sudah berkeluarga apa lagi sebentar lagi dia akan menikah dan menjadi istri seseorang.
Tak butuh waktu lama Alma sampai di restoran yang telah di sebutkan orang itu dan mejanya juga. Alma masuk dan mencari meja yang telah di beritahukan orang itu. Alam sudah menemukan meja itu dan dia melangkah mendekati namun rasa takut malah menghampirinya dan Alma pun mencoba menenangkan dirinya dulu sebelum bertemu orang itu. Setelah cukup tenang Alma langsung menghampiri orang itu.
"Maaf menunggu lama" ucap Alma dan orang itu melihat ke arah Alma dengan mengangkat kepalnya.
"Hai" ucapnya menyapa dan Alma kaget jika orang yang ada di hadapannya adalah Rio pria yang empat tahun lalu pernah sempat di sukai namun cintanya Alma tolak dengan alasan tidak mau mencari musuh.
"Apa kabar? " tanya Rio dan Alma pun tersenyum lalu menerima uluran tangannya.
Alma pun duduk lalu dia bertanya "Jadi kak Rio yang mengirim pesan pada ku? ".
" Iya dan aku akan ceritakan semuanya karena mungkin aku juga ikut adil dalam masalah itu"balasnya membuat Alma bingung.