Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Kalimat itu terdengar begitu mudah diucapkan, seolah yang sedang dibicarakan hanyalah sebuah rapat bisnis. Padahal, yang diputuskan adalah hidup tiga orang sekaligus.
Pak Wira melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kalau semuanya berjalan lancar, Papa ingin prosesnya dipercepat." Ammar masih diam. "Kita tidak perlu menunda sesuatu yang memang sudah menjadi keputusan."
Suasana terasa begitu sunyi. Tak ada jawaban ataupun bantahan yang keluar dari mulut Ammar. Ammar hanya berdiri membisu, tatapannya kosong. Ia bahkan tidak lagi memiliki tenaga untuk berdebat. Seluruh emosinya terasa habis. Hatinya seperti diperas habis sejak tadi. Ia sudah melawan, sudah mencoba mempertahankan rumah tangganya dengan Salsa dan mencoba melindungi perempuan yang ia cintai. Namun pada akhirnya, justru perempuan itu sendiri yang memintanya menyerah.
Lalu, Apa lagi yang bisa ia lakukan?
Perlahan Ammar menarik napas panjang. Tanpa mengucapkan satu kata pun, ia berbalik meninggalkan ruang keluarga. Langkahnya pelan, namun setiap langkahnya terasa begitu berat. Tak seorang pun berusaha menghentikannya. Suara langkah kaki Ammar menggema di sepanjang lorong rumah hingga akhirnya menghilang ketika pria itu menaiki anak tangga menuju lantai dua sampai akhirnya suara pintu kamar terdengar tertutup.
Brak...
Tidak keras, tetapi cukup membuat dada Salsa kembali terasa sesak. Matanya terus mengikuti kepergian suaminya sampai sosok itu benar-benar menghilang dari pandangan. Air mata yang sedari tadi berhasil ia tahan akhirnya kembali menggenang. Dadanya terasa sesak, Ia mengenal Ammar lebih dari siapa pun. Laki-laki itu bukan tipe yang diam ketika marah, bukan pula tipe yang suka mengamuk. Justru, semakin terluka, Ammar akan semakin memilih diam. Dan diamnya Ammar, Jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.
Salsa menggenggam kedua tangannya sendiri.
"Maafkan aku, Mas. Aku tahu aku sudah mengecewakanmu."
Hatinya terus berbicara. Ia tahu, Keputusan tadi bukanlah keinginan Ammar. Ammar menerima semuanya bukan karena ingin, melainkan karena dirinya. Karena permintaannya, karena tangisnya, karena rasa takutnya akan kehilangan laki-laki itu. Salsa memejamkan kedua matanya dan membuat air matanya kembali jatuh. Ia sadar, Hari ini, Ia baru saja meminta laki-laki yang paling mencintainya untuk melakukan sesuatu yang paling dibencinya.
Betapa egoisnya dirinya. Namun, Apa lagi yang bisa ia lakukan? Kalau ia terus mempertahankan keadaan sekarang, Pak Wira tidak akan berhenti mengganggu kehidupan rumah tangga mereka. Setiap hari akan ada pertengkaran. Setiap hari akan ada ancaman. Setiap hari Ammar harus berdiri di antara dirinya dan keluarganya sendiri. Salsa sudah lelah. Bukan lelah mempertahankan Ammar, tetapi lelah melihat Ammar terus terluka karena dirinya. Ia hanya ingin semuanya selesai, walaupun harus mengorbankan hatinya sendiri.
"Ratih." Suara Pak Wira memecah keheningan.
Ratih menoleh. "Kamu siapkan semua yang diperlukan."
Ratih mengangguk pelan.
"Iya."
Pak Wira lalu mengalihkan pandangannya kepada Salsa. Tatapannya tajam namun kali ini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
"Salsa."
Perempuan itu segera mengusap air matanya.
"Iya, Pa."
"Pergilah temui Ammar." Salsa mengangguk kecil, namun sebelum ia sempat melangkah, Pak Wira kembali berkata, "Dan satu hal lagi."
Salsa kembali menoleh. "Pastikan Ammar tidak mengubah keputusannya." Kalimat itu membuat Salsa membeku dan membuat Pak Wira melanjutkan perkataannya, "Kamu yang paling mengenalnya. Jangan sampai dia membatalkan niatnya. Karena malam nanti kita akan datang melamar Aisyah."
Salsa menundukkan kepalanya perlahan.
"Iya, Pa."
Jawaban itu terdengar begitu lirih. Entah kenapa, perkataan ayah mertuanya yang mengatakan akan melamar Aisyah untuk menikah dengan Ammar kembali membuat dada Salsa terasa nyeri. Ia masih belum terbiasa mendengarnya. Masih terasa asing, masih terasa seperti mimpi buruk. Namun, janji sudah diucapkan. Aisyah sudah mengiyakan dan Ammar pun sudah menyerah. Kini semuanya tinggal menunggu waktu.Perlahan Salsa menghela napas panjang kemudian ia melangkah menuju lantai dua.Tangga demi tangga ia naiki dengan langkah yang terasa semakin berat.
Lorong menuju kamar mereka tampak begitu sepi. Tak biasanya rumah sebesar ini terasa begitu sunyi. Sesampainya di depan pintu kamar, Salsa berhenti. Tangannya menggenggam gagang pintu, namun ia tidak langsung masuk. Ia memejamkan kedua matanya terlebih dahulu untuk mengumpulkan keberaniannya. Sebab ia tahu, Orang di balik pintu sana pasti sedang terluka.
Dan penyebab luka itu adalah dirinya sendiri.
Perlahan Salsa membuka pintu.
Ceklek...
Ruangan itu tampak begitu tenang. Pendingin ruangan masih menyala. Tempat tidur tetap tertata rapi. Semuanya sama seperti biasanya, hanya saja, suasananya terasa berbeda. Di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang rumah, Berdiri seorang laki-laki tinggi dengan punggung membelakanginya. Orang itu adalah Ammar yang masih mengenakan jas kantornya. Dasi hitamnya masih terpasang rapi, namun kedua tangannya mengepal begitu kuat di samping tubuhnya. Rahangnya mengeras. Bahu lebarnya tampak naik turun menahan napas.
Ia tidak bergerak, hanya berdiri menatap keluar jendela.
Entah apa yang sedang dipikirkannya. Salsa menatap punggung suaminya cukup lama.
Punggung yang selama ini selalu menjadi tempat paling aman baginya. Namun hari ini, Punggung itu tampak begitu kesepian dan begitu rapuh. Perlahan, dengan langkah yang hampir tak bersuara, Salsa mendekatinya sampai akhirnya ia berdiri tepat di belakang Ammar. Tanpa mengatakan apa pun, kedua tangannya perlahan melingkari pinggang suaminya, lalu ia memeluk Ammar dari belakang dengan sangat erat. Tubuhnya gemetar sementara pipinya menempel di punggung lelaki itu.
Untuk beberapa detik, tak ada satu pun yang berbicara. Hanya keheningan dan isak napas Salsa yang mulai terdengar.
"Mas..." Suara itu terdengar begitu pelan dan nyaris seperti bisikan. "Aku minta maaf." Kalimat pertama itu langsung membuat kedua mata Ammar perlahan terpejam dan membuat Salsa kembali berbicara. "Aku tahu kalau aku sudah membuat Mas kecewa." Air matanya mulai membasahi punggung jas Ammar. "Aku tahu Mas tidak pernah menginginkan semua ini. Tapi..." Suara Salsa kembali pecah. "Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi." Pelukannya semakin erat. "Di rumah ini," Salsa berhenti beberapa saat. "Cuma Mas yang benar-benar peduli sama aku." Tangisnya kembali pecah. "Mas yang selalu membelaku, mas yang selalu berdiri di depanku, mas yang selalu jadi orang pertama yang melindungi ku." Salsa menundukkan wajahnya. "Kalau suatu hari nanti Mas benar-benar menikah dengan perempuan lain yang tidak pernah aku kenal,"
Salsa menggeleng pelan. "Aku takut. Aku takut dia akan membuat Mas menjauh dariku. Aku takut dia akan membenciku. Aku takut dia akan merebut semua perhatian Mas." Napasnya mulai tersengal. "Tapi kalau Aisyah," Salsa tersenyum pahit di sela tangisnya. "Aku mengenalnya. Aku tahu dia. Aku percaya dia. Aku tahu dia tidak akan pernah berniat menyakitiku." Salsa memejamkan kedua matanya. "Maafkan aku, Mas. Aku tahu kalau aku egois. Aku benar-benar egois. Aku hanya ingin mempertahankan satu-satunya orang yang selalu membuatku merasa aman. Aku cuma ingin mempertahankan kamu."