Sekuel novel Rain & Sunny
Cinta itu berhak memilih kepada siapa ia akan berlabuh dan juga cinta itu tidak memandang status.
Begitulah yang dirasakan pemuda bernama Cyril Orion Stevenson. Ya, ia merasakan cinta itu tumbuh dalam hatinya secara tak sadar.
Jantungnya seakan digedor paksa oleh sesuatu yang bernama cinta kala melihat Irene Cassiopeia Jonathan sang sepupu.
“Jika cinta berhak memilih, lantas mengapa cinta kita seolah ada yang menghalangi?"
- Cyril Orion Stevenson -
“Aku tahu bahwa aku juga mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan."
- Irene Cassiopeia Jonathan -
Akankah mereka dapat bersatu?
Atau justru menemukan cinta yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Usik Bintangku
Saat ini Orion sedang mengikuti kelas, banyak kaum hawa yang tengah menatap minat ke arahnya, dengan mencuri-curi pandang, sebenarnya dia menyadari hal tersebut dan sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Namun, tak pernah sekalipun ia pedulikan tatapan lapar para kaum hawa tersebut.
“Kak Orion," bisik Leo yang kebetulan sedang berada satu kelas dengannya.
“Ha?" tatapan Orion masih fokus ke depan. Namun, begitu ia tetap menjawab panggilan Leo.
“Kau lihat kumpulan singa betina itu menatap lapar ke arahmu," Leo memberitahu.
“Biarkan saja, aku tidak tertarik dengan mereka, dan mungkin saja mereka juga sedang menatapmu saat ini. Karena kau juga seorang Jonathan, memangnya siapa yang tidak mengenal keluarga Jonathan? Hanya orang bodoh yang tidak mampu memanfaatkan ponsel pintarnya dengan baik."
Leo hanya menghela napas, sepupunya satu ini memang sangat dingin. Pasalnya di usia 20 tahun, banyak anak muda yang sudah memiliki kekasih. Bahkan, Leander pun sudah sering berkencan dengan Stephanie meskipun itu baru sembunyi-sembunyi.
Bagaimana Leo bisa tahu? Tentu karena ia pernah memergoki keduanya sedang berciuman mesra layaknya seorang kekasih. Namun, sayangnya Leander mengetahuinya dan menyuruh Leo tutup mulut.
“Kak, kau tidak berniat mencari kekasih, atau kau tidak ingin memiliki kekasih?" Leo akhirnya bertanya tentang hal yang selama ini dipendamnya.
“Aku masih manusia normal. Tentunya ingin memiliki kekasih, aku sudah kode keras dia yang loading lama, aku selalu menatapnya dan memerhatikan dia, tapi dia yang tidak peka," Orion menjelaskan.
“He ... bukankah perempuan itu makhluk peka?" heran Leo saat mendengar perempuan yang disukai Orion itu tidak peka terhadap perasaan kakak sepupunya.
“Tidak semua perempuan itu peka, Nak. Kau harus tahu itu."
“Omong-omong, kau terlambat masuk kelas, Kak. Kenapa memangnya?"
“Saat aku ingin ke rumah ayahmu mengambil kekasihku, mobil Lean dikepung sekumpulan geng motor. Kami tidak tahu siapa mereka dan apa motifnya, karena mereka mengenakan helm. Mereka menembaki mobil Lean dan mengenai kaca bagian depan mobil."
“Berhati-hatilah. Bisa jadi itu saingan bisnis, Uncle. Mungkin mereka telah menyelidiki kalian dan tahu jika kalian berdua adalah pangeran kesayangan keluarga Stevenson," Leo memeringati.
“Sepertinya begitu, tapi itu bukan masalah besar. Kami bisa mengatasi makhluk-makhluk kotor itu, dengan sedikit mengorbankan jam kuliahku," Orion berucap santai, matanya masih fokus pada penjelasan dosen yang ada di depan sana.
“Jika kalian membutuhkan bantuan, kau bisa memberitahu kami. Kami akan bersedia membantu," pesan Leo sembari menepuk pundak sang sepupu.
“Tentu. Kami adalah tipe yang lebih suka membereskan masalah kami sendiri selama kami mampu, tapi terima kasih untuk penawaranmu," Orion tersenyum.
“Kita sudah saling membantu satu sama lain, bahkan orang tua kita dulu juga begitu, lagipula kita ini saudara," Leo menanggapi.
“Adik kecilku sudah dewasa rupanya, aku jadi terharu," goda Orion pada Leo sambil menepuk kepala Leo dengan sayang.
“Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil, Paman," Leo melayangkan protes, yang langsung mendapatkan hadiah geplakan dari Orion.
Plak!
“Aku sepupumu, bukan pamanmu. Dasar bodoh!"
“Astaga, apa iya, lalu siapa pamanku, oh ya ampun aku lupa jika kedua orang tuaku adalah anak semata wayang Granddad dan Grandma, adanya hanya sepupu jauh."
Orion hanya diam saja, ia sudah terlanjur kesal pada sepupunya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari bersinar terang panasnya, menyengat, terasa seperti terbakar. Cassie menyeka peluh yang membasahi dahinya. Cuaca hari ini membuatnya merasakan panas yang berlipat ganda. Selain karena panasnya udara, ia juga merasakan panasnya perlakuan sang sepupu terhadapnya.
“Ya ampun, ini semua gara-gara kau. Aku jadi tidak bisa melupakannya!" omel Cassie pada kucing kecil yang tadi ia tolong.
Kucing itu hanya memandang Cassie dengan kedua mata bulatnya yang lucu, “Meow?"
“Tentu saja ini semua salahmu, kalau saja kau tidak memanjat pohon hingga setinggi itu, aku tidak akan terjatuh saat menolongmu dan kejadian itu tidak akan pernah terjadi!" Cassie memekik kesal.
“Meow ... meow ... meow!" jawab kucing bertubuh gembul itu seolah menimpali ucapan Cassie.
“Aku baru tahu kalau kau bisa bahasa kucing, atau kau memang sedang stres?" interupsi sebuah suara.
Cassie menoleh, dilihatnya segerombolan wanita menatap sinis ke arahnya.
“Ah, atau mungkin dia memang sudah gila sampai-sampai kucing saja, ia ajak bicara," timpal gadis lain.
Cassie sudah merasakan firasat buruk ketika para gadis itu datang, dia tahu siapa mereka. Mereka adalah para penggemar sepupunya. Dan anehnya, mereka selalu mencari masalah dengannya yang tidak mengerti apa-apa.
“Guys, kebetulan sekali si gadis miskin ini tidak bersama bodyguard-nya. Bagaimana kalau kita sedikit bermain dengannya?" tanya gadis itu dengan seringai yang menurut Cassie sebagai pertanda buruk.
“Ide bagus, kita sudah merencanakan permainan seru untuknya."
“A-apa yang akan kalian lakukan padaku?" Cassie memberanikan diri untuk bertanya meski rasa takut menggerayangi dirinya.
“Bukan apa-apa. Hanya sedikit permainan kecil. Seret dia!"
Dalam sekejap kedua tangan Cassie sudah dicekal segerombolan gadis-gadis itu, kemudian mereka menyeret Cassie menuju toilet wanita.
“Lepaskan!" Cassie berusaha memberontak, tetapi sayang ia tak memiliki cukup tenaga untuk melawan.
Sesampainya di toilet Cassie didorong keras oleh para gadis itu, tubuhnya membentur dinding.
“Lepaskan aku!" teriak Cassie dirundung rasa takut.
“Diam!"
“Apa salahku, kenapa kalian melakukan ini padaku?"
“Salahmu?" beo ketua geng mereka, “salahmu adalah kau selalu menempel pada Orion seperti sebuah parasit. Kau itu penghalang Orion untuk mendapatkan kekasih kau tahu? Jauhi Orion, dia itu milikku. Gadis sepertimu tidak layak bersanding dengan laki-laki sempurna seperti Orion!"
Cassie tersentak mendengar penjelasan beserta ancaman.
“Apa salahnya aku mendekati sepupuku sendiri?" pikir Cassie hatinya menjerit ketakutan.
Gadis yang menjadi ketua di antara mereka, maju dan mencengkeram dagu Cassie serta melayangkan tamparan keras.
Plak!
Rasa panas beserta perih merambat di pipinya yang seputih susu itu. Air matanya mengalir deras tanpa diperintah.
Tidak sampai disitu saja, teman-temannya yang lain juga menarik rambut indahnya, hingga beberapa helai tercabut dengan paksa.
“Ini peringatan untukmu, karena kau berani mendekati milikku!" desis gadis itu tajam di telinga Cassie, membuat bulu kuduk Cassie berdiri.
Cassie hanya bergeming, dia sudah tak berdaya. Gerombolan gadis-gadis itu terus saja menyiksanya, mulai dari menampar, menendang, menarik rambutnya.
Terdapat beberapa lebam di beberapa bagian tubuh dan wajahnya, dan ujung bibirnya yang robek.
Siksaan itu seolah tak berujung, setelah mendapat kekerasan fisik, mereka menyiram Cassie dengan air kotor, bekas air yang digunakan untuk mengepel lantai.
Tawa kejam mengudara memenuhi sudut-sudut ruangan toilet, “Rasakan itu, itulah akibatnya jika kau mendekati Orion-ku!"
“Rion, tolong aku," batin Cassie menjerit sebelum kegelapan merengkuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelas yang diikuti Orion telah selesai beberapa menit yang lalu. Saat sedang duduk di taman kampus, dirinya dikejutkan dengan kedatangan seekor kucing gembul berwarna cokelat.
“Kucing cokelat itu, bukankah kucing yang tadi ditolong oleh Cassie?" batin Orion, matanya masih terfokus pada kucing gembul.
“Kak Rion, itu kucing milik siapa?" tanya Leo ingin tahu. Pasalnya ia bingung dari mana datangnya kucing ini.
“Aku juga tidak tahu, kucing ini kakakmulah yang menemukan. Tadi pagi ia terjebak di atas pohon, dan Cassie menyelamatkan kucing ini."
“Meow ... meow ... meow!"
Kucing tersebut mengeong dengan ribut, membuahkan tatapan bingung dari Orion dan Leo.
“Ada apa dengan kucing ini?" Leo bertanya-tanya.
“Aku tak tahu, tapi aku merasakan firasat buruk," Orion juga sama bingungnya.
Kucing itu sudah berjalan sesekali mengeong dan melihat Orion.
“Meow!"
“Kurasa kucing itu ingin kita mengikutinya," Orion segera beranjak dari duduknya mengikuti kucing tersebut dengan Leo di belakangnya.
Kucing itu sampai di sebuah toilet wanita, lalu mengeong keras, yang membuat Leo dan Orion melakukan telepati.
“Meow!"
Seakan mengerti kegelisahan si kucing, Orion membuka toilet tersebut. Kedua pasang mata pemuda tersebut seakan ingin keluar dari tempatnya kala melihat pemandangan yang mengejutkan di depannya.
“Apa yang kalian lakukan pada kakakku, brengsek?!" sentak Leo dengan wajah memerah menahan marah. Membuat sekumpulan gadis itu terkejut bukan main.
Orion melemparkan pandangan ke arah Cassie yang sudah tak sadarkan diri.
“Apa yang kalian lakukan pada Cassie?" deep voice Orion terdengar seperti nyanyian kematian bagi para gadis pelaku bullying itu.
Mereka semua ketakutan, wajah Orion terlihat sangat bengis seperti seseorang yang haus darah.
“Apa kalian menyiksanya?"
Gadis-gadis itu pun bergeming tubuh mereka membeku. Oksigen di sekitar mereka seakan diserap habis oleh suara mengerikan milik Orion. Wajah mereka menjadi sangat pucat dengan keringat dingin mengalir di dahi dan pelipis mereka.
Suara langkah kaki Orion yang mendekat ke arah mereka, membuat jantung mereka seolah berhenti bekerja.
Tanpa aba-aba tangan besar Orion mencengkram rahang gadis itu satu persatu, kemudian mengangkat mereka serta membenturkan mereka ke tembok secara bergantian.
Tidak sampai disitu saja, Orion juga membenturkan kepala mereka ke dinding toilet dengan keras. Seketika itu juga warna merah darah mulai menghiasi dinding toilet.
Orion juga menghajar mereka tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Kak Rion, hentikan. Kau bisa membunuh mereka!" pekikan Leo menyadarkan Orion.
“Bawa kakakmu ke ruang kesehatan. Ambil baju di dalam tas milikku. Aku mengurus sampah-sampah ini. Akan kususul kau nanti!" perintah Orion.
Leo dengan sigap membawa sang kakak ke ruang kesehatan dengan membawa tas Orion.
“Ingat ini baik-baik perempuan rendahan. Jangan pernah kalian usik bintang milikku, jika kau tidak menuruti perintahku, akan kupastikan kalian mati di tanganku!" desis Orion tajam.
Kemudian gadis-gadis itu jatuh pingsan.
ak bacanya nyicil hehe
aku suka banget gaya bahasanya