Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Apresiasi
Suara lirih Siti perlahan menghilang bersama kesadarannya. Tubuh wanita itu terbaring tak berdaya di atas lantai kayu yang dingin. Napasnya terdengar lemah dan tidak beraturan, sementara tangan kanannya masih berusaha meraih ranjang seolah berharap dapat kembali berdiri. Namun tenaga yang tersisa sudah habis. Kelopak matanya akhirnya menutup, meninggalkan rumah kecil itu dalam keheningan yang mencekam.
Beberapa menit berlalu tanpa ada siapa pun yang mengetahui keadaan Siti. Hingga terdengar suara seseorang memanggil dari luar rumah.
"Bu Siti? Ini saya, Nuri."
Tidak ada jawaban. Wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu kembali mengetuk pintu sambil membawa sebuah rantang makanan di tangannya.
"Bu Siti? Faris?"
Tetap tidak ada sahutan. Nuri mengernyitkan dahi. Ia merupakan tetangga yang tinggal beberapa rumah dari kediaman Faris. Sejak mengetahui kondisi kesehatan Siti semakin memburuk, sesekali dia menyempatkan diri mengantarkan makanan jika memiliki rezeki lebih. Ia juga mengenal Faris sebagai anak yang sopan dan pekerja keras. Selama ini, pemuda itu tidak pernah sekalipun meminta bantuan kepada siapa pun meskipun hidupnya serba kekurangan. Akan tetapi, kali ini suasana rumah terasa berbeda. Pintu depan ternyata tidak terkunci rapat.
"Permisi..." Nuri mendorong pintu perlahan. Saat memasuki ruang tamu, dia langsung memanggil lagi.
"Bu Siti?"
Masih sunyi. Perasaannya mulai tidak enak. Dengan langkah cepat dia menuju kamar. Begitu melihat ke dalam, wajahnya langsung pucat.
"Ya Allah!"
Rantang makanan yang dibawanya hampir terjatuh. Siti tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Bu Siti! Bu Siti!"
Nuri segera berlutut dan menggoyangkan tubuh wanita itu dengan hati-hati. Tidak ada respons. Napas Siti memang masih ada, tetapi sangat lemah. Tanpa berpikir panjang, Nuri berlari keluar rumah.
"Tolong! Tolong! Ada yang pingsan!"
Beberapa warga sekitar langsung berdatangan.
"Ada apa, Bu Nuri?"
"Bu Siti pingsan!"
Mendengar itu, dua orang pria segera membantu mengangkat tubuh Siti ke atas sebuah mobil bak milik tetangga. Tidak ada waktu untuk menunggu ambulans. Kondisi Siti sudah terlalu mengkhawatirkan.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Nuri terus menggenggam tangan Siti. "Bu Siti, bertahan ya."
Namun di dalam hati, dia justru memikirkan satu hal. Di mana Faris?
Selama mengenal pemuda itu, Nuri tahu Faris hampir tidak pernah meninggalkan ibunya sendirian terlalu lama. Bahkan ketika bekerja, Faris selalu pulang untuk memastikan ibunya sudah makan dan minum obat.
"Tolonglah, Faris... cepat pulang...."
...***...
Di workshop penjara, suasana masih dipenuhi pembicaraan mengenai lemari buatan Faris. Beberapa tahanan bahkan berkali-kali membuka dan menutup rak geser yang dibuatnya.
"Hebat juga anak baru."
"Kalau dijual di luar pasti mahal."
"Rak lipatnya keren."
Instruktur workshop, Pak Adi, masih berdiri di depan lemari itu sambil mengamati setiap detail sambungan kayunya. Semakin lama dia memperhatikan, semakin kagum pula dirinya.
Selama bertahun-tahun mengajar keterampilan di lembaga pemasyarakatan, ia sudah melihat banyak hasil karya para narapidana. Namun desain seperti ini benar-benar baru baginya.
Bukan hanya indah dipandang. Tetapi juga efisien. Sambungan kayunya presisi, penggunaan materialnya hemat, dan mekanisme rak gesernya bekerja sangat halus.
Pak Adi akhirnya menoleh kepada Faris. "Sini kamu!"
Faris sedikit gugup lalu menghampiri. "Ada apa, Pak?"
Pak Adi menepuk permukaan lemari itu beberapa kali. "Ini benar-benar hasil pikiranmu?"
Faris sempat ragu menjawab. Kalau mengatakan ada sistem, tentu tidak mungkin dipercaya.
"Iya... saya hanya mencoba membuatnya sedikit berbeda."
Pak Adi tersenyum tipis. "Sedikit berbeda katanya."
Ia menggeleng pelan. "Kalau semua tukang kayu berpikir seperti kamu, industri furnitur kita mungkin sudah jauh berkembang."
Faris hanya tersenyum canggung. Pujian seperti itu terasa asing baginya. Seumur hidup, dia lebih sering mendengar hinaan daripada apresiasi.
Pak Adi kemudian melipat kedua tangannya. "Aku ingin kamu membuat satu lagi."
"Satu lagi?"
"Iya."
Pak Adi menunjuk lemari itu. "Nanti hasilnya akan dipamerkan saat ada kunjungan dinas. Aku ingin melihat apakah ini memang kemampuanmu atau hanya kebetulan."
Faris tidak langsung menjawab. Ia sebenarnya senang mendapat kesempatan itu. Namun pikirannya kembali melayang kepada ibunya. Sudah berhari-hari dia tidak bisa memberi kabar. Entah bagaimana keadaan ibunya sekarang.
Melihat raut wajah Faris berubah murung, Pak Adi mengernyitkan dahi. "Ada masalah?"
Faris menarik napas panjang. "Pak..."
"Hm?"
"Kalau saya bersedia membuatnya... Bolehkah saya meminta satu bantuan?"
Pak Adi menatapnya beberapa saat. "Bantuan apa?"
Faris menundukkan kepala. "Saya hanya ingin seseorang memeriksa keadaan ibu saya."
Suasana mendadak hening. Pak Adi tidak langsung menjawab.
"Ibu saya sedang sakit. Beliau tinggal sendirian di rumah. Sejak saya ditahan, saya sama sekali tidak tahu bagaimana keadaannya." Nada suara Faris mulai bergetar. "Saya tidak meminta dibebaskan. Saya juga tidak meminta uang. Saya hanya... ingin tahu apakah ibu saya masih baik-baik saja."
Pak Adi terdiam cukup lama. Sebagai seorang ayah, dia bisa merasakan kecemasan yang sedang dialami pemuda itu. Ia sudah membaca berkas kasus Faris. Memang belum ada putusan pengadilan, tetapi entah mengapa sejak awal dirinya merasa anak ini berbeda dengan tahanan lain. Tatapan matanya tidak seperti seorang pengedar narkoba. Tatapan itu lebih menyerupai seseorang yang kehilangan masa depannya.
Pak Adi akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Saya akan mampir ke rumahmu setelah pulang kerja."
Mata Faris membesar. "Sungguh, Pak?"
"Iya."
"Terima kasih."
Pak Adi mengangkat tangan. "Tapi jangan terlalu berharap. Aku hanya bisa memastikan keadaan ibumu."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Sore harinya, kegiatan workshop selesai. Saat para tahanan kembali ke sel masing-masing, beberapa di antara mereka masih membicarakan Faris.
"Hei."
Seorang tahanan paruh baya menghampirinya.
"Kamu memang tukang kayu?"
"Bukan."
"Lalu kok bisa?"
Faris tersenyum tipis. "Mungkin cuma beruntung."
Di dalam kepalanya, suara sistem kembali terdengar.
[Ding!]
[Pengguna kembali merendahkan kemampuan sendiri.]
Faris mendengus pelan. "Diamlah..."
Tahanan di sebelahnya langsung menoleh. "Kamu bicara sama siapa?"
Faris baru sadar ucapannya terdengar keras. "Eh... bukan apa-apa."
[Sistem menyarankan pengguna berhenti berbicara sendiri di depan umum.]
[Risiko dicap aneh meningkat 23%.]
Sudut bibir Faris berkedut. "Kamu memang menyebalkan."
[Terima kasih atas pujiannya.]
"Itu bukan pujian."
[Data tidak sesuai.]
Faris menggeleng pelan sambil berjalan menuju sel. Entah mengapa, suara sistem yang awalnya terasa mengganggu kini justru membuat suasana penjara yang suram sedikit lebih hidup.
Malam kembali tiba. Setelah makan malam sederhana, para tahanan mulai beristirahat.
Faris duduk bersandar di sudut sel seperti malam sebelumnya. Bedanya, kali ini ia tidak lagi berusaha mengabaikan layar biru yang melayang di hadapannya. Ia justru memandanginya cukup lama.
"Apa sebenarnya kamu?"
[Sistem Profesi Terhebat.]
"Itu aku juga tahu."
[Terima kasih.]
"Aku tidak memuji."
[Sistem memahami pengguna memiliki kesulitan mengungkapkan rasa kagum.]
Faris menarik napas panjang. "Kenapa rasanya aku ingin memukulmu?"
[Pengguna tidak dapat memukul sistem.]
"Tidak lucu."
[Sistem tidak sedang bercanda.]
Faris memijat pelipisnya. Percakapan dengan sistem selalu berakhir membuat kepalanya pening. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak bisa lagi dia bantah. Lemari tadi, desain itu, dan cara kerjanya, semuanya nyata. Ia memang berhasil membuat sesuatu yang bahkan membuat seorang instruktur kagum. Artinya sistem benar-benar memiliki kemampuan yang tidak bisa dijelaskan.
"Apa tujuanmu membantuku?"
Beberapa detik berlalu sebelum jawaban muncul.
[Tujuan sistem adalah membantu pengguna menjadi Insinyur Terhebat.]
"Kenapa harus aku?"
[Karena pengguna memenuhi seluruh syarat.]
"Syarat apa?"
[Tekad kuat.]
[Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.]
[Kemampuan analisis tinggi.]
[Keinginan mengubah dunia melalui teknologi.]
Faris terdiam. Untuk pertama kalinya dia merasa sistem tidak sedang bercanda. Jawaban itu terdengar sangat serius. Ia mengepalkan tangan perlahan.
"Kalau begitu... Apa kamu juga bisa membantuku mencari orang yang menjebakku?"
Layar biru itu langsung berkedip.
[Pertanyaan diterima.]
[Jawaban: Bisa.]
Mata Faris langsung menyipit. "Benarkah?"
[Namun pengguna harus menjadi lebih kuat terlebih dahulu.]
[Saat ini kemampuan pengguna masih terlalu rendah untuk menghadapi target.]
Faris mendecakkan lidah. "Selalu saja begitu."
[Pengguna tersinggung?]
"Sedikit."
[Bagus.]
"Hah?"
[Rasa tersinggung dapat meningkatkan motivasi belajar.]
Faris tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Sangat aneh. Padahal beberapa jam lalu dia menganggap sistem ini hanyalah halusinasi. Kini dia justru mulai mengajaknya berbicara. Ia menatap langit-langit sel yang gelap.
Wajah Yudi, Arman, dan Zaki perlahan terbayang di benaknya. Mereka telah merampas segalanya. Faris perlahan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku akan menemukan kalian. Satu per satu."