Wan Yiran berjuang melepaskan rantai emas yang mengikat tangan dan kakinya. Kondisi Wan Yiran yang sedang tidak berdaya membuat Putra Mahkota Kong Welan segera membaca mantra Penghancur Jiwa hingga panah emas muncul dari tangannya, hanya butuh beberapa detik hingga panah itu melesat cepat menancap di Jantung Wan Yiran.
Wan Yiran terjatuh di tanah dalam kondisi sekarat, matanya hanya menatap pria yang dicintainya Jendral Muda Lin Haoran, namun sorot mata pria itu sama sekali tidak menunjukkan raut iba padanya.
Yiran kehilangan kedua orang tua dan kakaknya yang dihukum mati oleh kaisar karena kasus pembunuhan yang dilakukan keluarganya. Kini Wan Yiran juga harus mati mengenaskan karena rasa dendam di hatinya yang membawa dirinya menjadi wanita iblis.
~Wan Yiran terbangun dan menyadari semua yang ia lalui hanyalah mimpi. Mimpi yang membawa tekad Yiran untuk memperbaiki dirinya, merubah nasibnya dan melepaskan cinta serta ambisinya. Wan Yiran harus melalui perjalanan yang tidak mudah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Luzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dan Terungkapnya Pertemuan Dahulu
Wan Yiran terlihat sibuk menata dan merapikan beberapa bunga untuk diletakkan di meja-meja yang berada dekat dengan jendela. Sesekali juga Wan Yiran melap dan merapikan rak-rak yang terlihat masih berdebu.
"Nona kotak-kotak ini mau diletakkan dimana?" tanya Saji yang terlihat sedang mengangkat tiga kotak di tangannya.
"Letakkan di sana," ujar Yiran sambil menunjuk sebuah meja yang berada di tengah-tengah ruangan.
Saat ini Yiran sedang sibuk merapikan gedung toko yang dirinya beli beberapa Minggu lalu. Sudah tiga Minggu ini Yiran mempersiapkan bisnis barunya dimana ia membuka toko untuk berjualan Kain dan beberapa perhiasan wanita.
"Nona beberapa barang pesanan sudah datang," teriak Ara sambil berlari dari luar gedung toko menuju ke arah Yiran.
"Dimana barang-barangnya?" tanya Yiran setelah Li Ara sudah berada di depannya.
"Sedang diangkat oleh petugas," jawab Ara.
Yiran segera melihat ke arah pintu masuk dan menemukan beberapa petugas kurir sedang mengangkat kotak-kotak besar untuk dibawa masuk ke dalam gedung.
Sambil tersenyum Yiran berjalan menuju ke arah petugas kurir yang mengantar paket pesanannya kemudian mengarahkan mereka untuk meletakkan pesanan-pesanan kainnya di dalam gudang, sebelum nantinya akan ditata di area toko.
Setelah semua pesanan sudah dimasukkan Yiran tersenyum puas. Ia melihat sekeliling area lantai bawah gedung tokonya yang saat ini sedang dibersihkan oleh beberapa pelayan, Saji dan Ara juga terlihat sibuk menata dan mengatur segala hal.
Yiran berusaha menyiapkan bisnisnya ini sematang mungkin. Ia tersenyum puas karena sudah sampai di tahap ini. Yiran yakin jika ia masih dirinya yang dulu, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Dirinya pasti masih sibuk bersantai di kediamannya atau sibuk pergi ke pasar untuk membelanjakan benda-benda yang tidak penting dengan uang pemberian ayahnya.
Seorang pria muda yang mengenakan pakaian pengawal keluarga Wan terlihat berjalan memasuki gedung toko milik Yiran. Setelah mengitari pandangannya dan menemukan sosok yang dicarinya, ia segera berjalan menuju orang tersebut.
"Nona Wa Yiran," panggil Pria tersebut.
Yiran segera berbalik dan menemukan Li Nao adik Li Ara yang berjalan menuju ke arahnya.
Setelah tiba di hadapan Wa Yiran, Li Nao segera memberi hormat pada majikannya tersebut.
"Salam Nona Muda."
Wan Yiran tersenyum sambil menatap pria muda seumurannya dengan tubuh tegap dan wajah tampan yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Bagaimana, apa kamu sudah melakukan perintahku?" tanya Yiran pada Li Nao.
"Sudah Nona."
"Ikut aku."
Yiran segera berjalan mendahului Li Nao menaiki tangga menuju lantai dua gedung tokonya ini. Di lantai dua dikhususkan sebagai kantor, tempat beristirahat serta ruang kerja Yiran.
Setelah sampai di ruang kerjanya Yiran segera duduk di kursi dan mulai mendengarkan laporan yang akan disampaikan Li Nao.
"Saya sudah menyelidiki beberapa orang mantan pelayan keluarga Su yang anda berikan datanya pada saya. Dari keempat pelayan tersebut mereka semua langsung memberikan laporan ini setelah saya menunjukkan surat yang anda tulis dengan stempel resmi Keluarga Wan," lapor Li Nao sambil menyerahkan empat lembar laporan padanya.
Yiran segera membuka kertas-kertas tersebut. Itu merupakan kertas laporan yang berisi laporan pembelian bubuk mesiu oleh Ayahnya untuk kemudian diserahkan kepada empat pelayan keluarga Su yang sudah Ayahnya perintahkan.
Beberapa hari yang lalu Yiran diam-diam masuk ke ruang kerja Ayahnya dan berhasil menemukan data empat pelayan keluarga Su yang berkhianat dan bekerja sama dengan Ayahnya. Yiran segera menyuruh Li Nao untuk menemui keempat pelayan tersebut untuk meminta bukti kejahatan mereka.
Wan Yiran menyadari keempat pelayan tersebut tidak akan begitu mudah memberikan bukti pada Li Nao. Maka dari itu dia meminjam stempel resmi Keluarga Wan pada Ayahnya dengan alasan untuk membuka toko lalu membuat surat palsu seakan-akan Ayahnya yang menuliskannya.
Yiran menatap puas laporan-laporan di tangannya itu kemudian melipat keempat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam laci di samping mejanya. Yiran langsung mengunci laci tersebut dan kuncinya ia masukkan ke dalam kantong kecil yang selalu ia gantung di pinggangnya.
"Bagaimana dengan tabib Kwan? Apa dia masih tidak mau berbicara?" tanya Wan Yiran pada Li Nao.
"Dia masih tidak mau membuka mulutnya Nona."
Yiran kemudian memicingkan matanya melihat sesuatu di lengan Li Nao, "Apa kamu terluka?" tanya Yiran pada pengawalnya itu.
Mendengar pertanyaan Yiran membuat Li Nao segera menyembunyikan lengannya ke belakang tubuhnya, "tidak apa-apa nona? Ini bukan luka yang serius".
Yiran segera berdiri dan berjalan menuju Nao. Setelah berada di hadapan pria itu ia segera menarik lengan Li Nao dan memperhatikan luka yang ada pada lengan pria tersebut.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan luka ini tidak serius" ujar Yiran sambil menatap Li Nao kesal.
Yiran segera menarik Li Nao untuk duduk di sebuah kursi yang ada di ruang kerjanya. Ia kemudian berjalan menuju laci yang ada di dekat jendela dan mengambil peralatan obat miliknya.
Yiran kembali berjalan menuju Li Nao dan berjongkok di hadapan Pria tersebut.
Li Nao yang terkejut segera berdiri, "apa yang anda lakukan Nona? bagaimana mungkin anda duduk di bawah saya?"
Yiran dengan wajah kesal menarik Li Nao untuk kembali duduk, "tidak usah banyak berkomentar," ucap Yiran memperingatkan.
Yiran segera membuka kotak peralatan obatnya. Ia mengambil kain bersih kemudian menyiramnya dengan alkohol lalu mulai membersihkan luka Li Nao.
"Aku senang selama beberapa Minggu ini kamu selalu melakukan tugas yang kuberikan dengan baik. Tapi kamu juga harus belajar menjaga dirimu sendiri. Bagaimana bisa kamu membiarkan luka ini tanpa diobati sama sekali," ujar Yiran sambil tetap sibuk mengobati luka Li Nao.
"Saya sudah terbiasa mendapatkan luka seperti ini Nona. Luka-luka tersebut biasanya akan sembuh sendiri tanpa perlu diobati," jawab Li Nao sambil menatap gadis cantik dihadapannya yang masih sibuk membersihkan lukanya ini.
"Selama bekerja denganku aku tidak ingin kamu mengabaikan lukamu seperti ini. Mungkin selama ini luka-lukamu bisa sembuh sendiri. Tapi bagaimana jika suatu saat luka seperti ini mengalami infeksi. Apapun yang terjadi kamu harus berjanji akan selalu mengobati lukamu. Ini Perintah!" tegas Yiran
Li Nao tersenyum mendengar nasihat Yiran, "Baik Nona. Saya akan mengikuti perintah anda."
Li Nao memandang lekat Wan Yiran yang sedang memasang wajah serius sambil mengobati lukanya. Setelah membersihkan lukanya Yiran langsung mengambil obat untuk dioleskan ke luka tersebut kemudian mulai diperban. Yiran tersenyum puas melihat hasil kerjanya pada tangan Li Nao.
Wan Yiran dan Li Nao dikagetkan dengan suara batuk seseorang. Yiran segera berbalik dan menemukan Putra Mahkota yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
Yiran dan Li Nao segera berdiri dan memberi hormat pada Putra Mahkota.
"Salam Yang Mulia," ucap Wan Yiran memberi salam pada Putra Mahkota.
"Sepertinya aku menganggu aktifitas kalian berdua."
Yiran langsung mengangkat pandangannya menatap Putra Mahkota, "Tidak Yang Mulia. Saya sudah selesai mengobati luka pengawal saya. Anda sama sekali tidak menganggu."
Putra Mahkota tertawa kecil, "sepertinya pengawalmu ini cukup istimewa sampai harus kamu sendiri yang mengobati lukanya."
"Li Nao bukan hanya pengawal. Ia sudah saya anggap seperti sahabat saya Yang Mulia," ujar Yiran sambil menatap Li Nao yang berdiri di sampingnya.
"Saya mohon undur diri," Ucap Li Nao sambil memberi hormat pada Wan Yiran.
Pria itu segera berjalan menuju pintu ruang kerja Wan Yiran untuk keluar. Saat berdiri di hadapan Kong Welan pria itu memberi hormat namun dengan tatapan datar kemudian langsung berjalan melewati Kong Welan.
Setelah kepergian Li Nao, Kong Welan segera berjalan masuk ke dalam ruangan Wan Yiran.
"Baiklah jadi apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?" tanya Kong Welan.
"Maaf Yang Mulia. Bukankah saya mengirim surat permintaan untuk bertemu anda? harusnya anda memberikan surat panggilan sehingga saya bisa datang menemui anda. Anda tidak perlu harus repot-repot datang menemui saya."
"Aku kebetulan lewat gedung tokomu. Jadi sekalian saja aku mampir. Bukankah ini lebih menghemat waktumu?"
Yiran mengangguk tanda mengerti. Setelah itu Yiran segera berbalik ke arah meja di samping jendela kemudian membuka laci meja tersebut dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya.
Yiran melangkah mendekati Putra Mahkota Kong Welan sambil memegang kotak kecil di tangannya. Setelah berada di hadapan Putra Mahkota, gadis tersebut segera menyodorkan kotak tersebut padanya.
Kong Welan menatap bingung Wan Yiran serta kotak ditangannya bergantian, "apa ini?" tanya Kong Welan.
"Ini hadiah sederhana untuk Master Wu. Siapa tahu setelah menerima ini aku bisa segera diijinkan pergi ke kuil Sanja," ucap Yiran.
Kong Welan tertawa kecil, "apa kamu pikir guruku adalah tipe orang yang bisa disogok?"
Wan Yiran segera menggeleng cepat, "Aku tidak sedang menyogok Master Wu, aku hanya memberikan dia sebuah hadiah" , Yiran membuka kotak di tangannya kemudian menunjukkan isinya pada Kong Welan, "lihat Yang Mulia. Ini adalah kristal biru Quzi, dikirim langsung dari Kerajaan Tudi. Katanya Kristal ini bisa membantu mempercepat pemulihan tenaga dalam".
Kong Welan menatap Kristal biru Quzi tersebut. Ia segera mengambil kotak yang ada di tangan Yiran kemudian menutup kotak tersebut, "baiklah aku akan menyerahkan ini pada guruku. Selain itu ada yang ingin kutanyakan padamu."
Yiran tersenyum puas melihat Putra Mahkota telah menerima kotaknya tersebut, kemudian gadis itu mengangguk, "Apa yang ingin anda tanyakan Yang Mulia?"
"Apa alasan kamu menyelidiki Ayahmu Tuan Wan?" tanya Putra Mahkota.
Wan Yiran tentu saja terkejut dengan pertanyaan Putra Mahkota, namun ia berusaha mengontrol dirinya agar tidak dicurigai oleh pria tersebut.
"Apa maksud anda Yang Mulia? Bagaimana mungkin aku menyelidiki Ayahku sendiri," jawab Yiran dengan tenang sambil tetap tersenyum.
"Sepertinya kamu tetap akan mengelak bagaimanapun aku bertanya."
Putra Mahkota Kong Welan segera mengangkat lengan bajunya sehingga tangannya terekspos. Kemudian pria tersebut menunjukkan lengannya pada Yiran.
Yiran hampir saja kehilangan keseimbangannya untuk berdiri saat melihat lengan Putra Mahkota. Di lengan pria tersebut terdapat sebuah bekas luka gigit yang sangat dikenali Yiran.
"Kamu pasti tahu luka gigitan ini berasal darimana Nona Wan Yiran."
tapi bagus si ceritanya 👍