Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Supermarket
“Buk. Buk,” Bik Puspa melongokkan kepalanya di samping pintu. Terlihat Asmara sedang duduk di pinggir ranjang tamu-nya, sambil berdiam diri melepas lelah. Di sofa di sudut jendela, ada Kitty yang sedang menonton film seri dari laptop.
Ya, Akhirnya berkat desakan Andra, Asmara pun tidak jadi menginap di hotel. Karena masalah keuangan, juga kepraktisan. Apalagi, rumah Andra banyak kamar kosong.
“Saya boleh pulang, tidak?” pertanyaan aneh dari Bik Puspa. tentu saja boleh, apalagi rumahnya di perkampungan belakang.
“Tidak, menginap sampai tahun depan saja Bik,” timpal Asmara bermaksud bercanda.
“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata Bik Puspa.
“Ha?”
“Ijab kabul Bu Asmara yaaa, hihihi.”
“Duh duh, saya nyerah lah kalau sama Bibik.Pulang aja Bik, saya terganggu.” kata Asmara masih bercanda.
Bik Puspa masih cekikikan mengibaskan tangannya, ”Senang saya kalau menggoda Bu Asma, ih! Lagi cemberut saja tetap cantiiik, hihi,”
“Besok datang pagi ya, saya mau masak sop buntut.” kata Asmara sambil beranjak ke kamar mandi.
“Kenapa Bu Asma yang masak? Tapi okelah! Porsi kawinan ya bu! Saya mau bawa pulang sop nya!” sahut Bik puspa senang. Walaupun sebenarnya, hari Sabtu adalah hari liburnya, tapi mendengar kata Sop Buntut sudah merupakan rejeki nomplok untuknya. Dan mak-emak paruh baya itu pun pulang dengan perasaan bahagia menanti datangnya hari esok.
“Mah, emang kita ada bahan buat bikin sop buntut?”
“Sekarang sih nggak ada.”
“Lah terus?”
“Ini habis mandi Mamah belanja ke supermarket.”
“Sama siapa?”
“Sama om-om ganteng yang di lantai bawah. Sop buntut juga request-an nya dia kok.” dengus Asmara.
“Om-om ganteng itu… Om Andra? Dih Pamali loh Mah! Bisa kesirep nyebut dia ganteng, sampai kebawa mimpi loh!”
“Kok kamu tahu? Udah pernah mimpiin dia?”
Kitty bungkam, lalu senyum-senyum.
“Yang pamali siapa sekarang? Gede dulu baru berani lancang. Dasar anak cantik, pinter, baik hati, InsyaAllah solehah…” ini sebenarnya sindiran, tapi kalau terhadap Kitty, karena ucapan seorang ibu adalah doa, jadi dia harus berkata-kata yang baik-baik saja. Sulit memang, tapi bisa karena biasa.
***
Saat Asmara turun ke lantai bawah, waktu sudah menunjukkan pukul 19, sebenarnya sudah terlalu malam untuk belanja kebutuhan dapur namun seperti halnya kota metropolitan, banyak supermarket yang buka sampai larut malam. Dan sudah pasti bahan makanan yang dijual di sana lebih mahal dari di pasar, dan umumnya dijual dalam keadaan beku.
Asmara sebenarnya tidak terlalu suka belanja kebutuhan pangan di supermarket. Selain tidak ramah di kantong, kebanyakan daging-dagingan tidak fresh.
Namun wanita itu merasa tak enak kalau menginap gratis selama beberapa hari di rumah Andra, setidaknya yang ia bisa lakukan adalah memasak untuk Andra.
Dan saat ditanya mau makan apa, Andra bilang, sop buntut.
Dengan potongan wortel yang besar dan empuk.
Lumayan sederhana untuk pria sekelas Andra, namun ya itu, butuh effort untuk belanja kalau akan disajikan besok pagi.
Tapi ya pria itu bersedia mengantarnya dan menanggung semua pengeluaran. Tak ada ruginya.
Andra sudah duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian casual, parfumnya yang wangi lembut namun maskulin sudah tercium dari jarak beberapa meter. Sampai-sampai Asmara jengah sendiri karena ia hanya pakai deodorant saja. Tapi daripada perang aroma, lebih baik begini, mungkin.
Wanita itu mengamati sosok Andra dari jauh, lalu mengernyit.
Bagaimana bisa Andra selalu tampil serapi itu? Kalau melihat perilaku Bik Puspa yang cenderung selenge'an, sepertinya kecil kemungkinan akan menyetrika kaos polo sampai sehalus itu. Bahkan di celana jeans Andra tidak tampak kerutan.
Andra menoleh saat mendengar langkah kaki Asmara dan tersenyum lembut. Asmara sampai menarik nafas menenangkan hatinya karena memang senyum pria itu semanis gula. Menenangkan namun harus waspada, karena jantung ini menjadi berdebar.
Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuk Asmara, sebelum membuka pagar dan masuk ke kursi pengemudi. Asmara harus menunggu sebentar saat Andra mengunci kembali pagar karena sudah pasti Kitty dan Revan tidak akan perhatian mengenai keselamatan rumah.
Mereka ditinggal berdua di satu rumah?
Tenang saja…
"Ayang Beb," Kitty mengintip dari balkon lantai 2. Revan di sebelahnya dengan barbel 7kg-nya untuk membentuk otot sepanjang lengan, juga sedang mengintip ke bawah.
"Tenang, Beb, pasti berhasil. Kamu nggak liat sih muka ayahku waktu aku ngegodain mamah kamu." desis Revan sambil meringis saat barbelnya mulai terasa lebih berat.
"Mereka berdua anti keromantisan loh. Bakalan kaku nggak sih?!" Kitty berjalan di matras yoganya dan perlahan membentuk tubuhnya pose kupu-kupu. Semacam gaya untuk mengecilkan perut dengan duduk dan menekuk lutut lalu menyatukan kedua telapak dan diam beberapa menit.
"Nggaaaaak, kalau masalah obrolan kayaknya ayahku punya banyak. Tinggal mamah kamu aja tegang atau nggak."
Lalu mereka berdiam diri sambil lihat-lihatan. Sebenarnya keduanya sama-sama tak yakin.
"Mas Revaaaan, Mbak Kittyyyy, Nasi goreng nggaaaaak?!" terdengar suara abang-abang nasi goreng di bawah sana.
"Pedes Asin!" seru keduanya berbarengan.
**
Setelah perjalanan ke supermarket yang hening karena keduanya saling diam, mereka memasuki pintu masuk supermarket yang nyatanya masih ramai.
Fokus Asmara langsung ke jajaran roti manis yang beraneka macam di samping kanan, namun ia merasa tak enak kalau harus minta ke Andra.
"Ambil saja bu kalau mau," kata Andra menyadari arah pandangan Asmara.
Wanita itu menoleh sekilas ke Andra, lalu langsung melengos ke arah konter roti, "Buat cemilan Kitty," sahutnya pendek dan segera mengambil nampan.
"Kitty ngemil manis malam-malam?" Andra berdiri di belakang Asmara yang kini sibuk memilih-milih croissant.
"Besok pagi saya hangatkan di microwave. Dia kurang suka makan berat kalau pagi. Pak Andra suka yang mana? Sekalian saja."
"Saya apa saja yang ibu pilih."
"Hm… Untuk Revan…" Asmara mengernyit sambil memilih jajaran roti isi daging. Lalu memutuskan mengambil 2 potong roti dengan slice daging tebal.
"Kok tahu Revan suka yang itu?" nada suara Andra berubah menjadi nyinyir.
"Saya kenal Revan sejak dia 5 tahun." kata Asmara. "Dari mulai dia me-ngerecoki kotak bekal Kitty sampai minta dibikinkan bekal hamburger. Karena itu Kitty belajar bikin hamburger, karena Revan suka itu."
"Hanya karena itu?"
Asmara mengernyit sambil memandang Andra, "Saya bukan Tante Girang, Pak Andra. Walaupun capable kalau mau nyari, tapi berondong bukan type saya."
"Saya hanya mencium hawa-hawa mencurigakan." Andra akhirnya mengakui karena ia butuh informasi dengan cepat. daripada kepikiran berlarut-larut.
"Coba tanyakan ke Revan apa tujuannya. Saya pikir dia hanya kehilangan sosok ibu. Dia sedang berduka, Pak." kata Asmara sambil berjalan ke kasir.
Wanita itu sempat melirik ke beberapa wanita lain di sekitarnya yang matanya tertuju ke arah Andra. Terang-terangan mereka mengamati Andra dari atas sampai bawah. Lalu saat mata mereka beradu dengan Asmara, mereka langsung buang muka.
Asmara menatap dirinya di kaca pantulan etalase, lalu agak menyesal kenapa dia hanya memakai kaos putih dan celana baggy. Mana pakai sandal jepit pula. Rasanya tidak sebanding dengan gaya Andra.
Sementara Andra sebaliknya, dari tadi dia menatap tajam ke arah pria-pria di sekitarnya yang sampai harus melekatkan matanya ke arah Asmara. Dalam balutan baju casual, wanita di sampingnya ini malah semakin menawan. Dan kenapa dia harus pakai kaos putih?! Makin berfantasi yang tidak-tidak saja otak ini!
Sampai saat di kasir, ada pria dengan gaya perlente yang menatap Asmara dengan mata berkilat dari arah kiri. Andra langsung ambil posisi di samping kiri untuk memblokade pandangan.
"Lagipula setelah sekian lama kenapa mencurigai saya? Itu Revan juga akrab dengan Bik Puspa dan ibu-ibu komplek lain."
"Ya jelas saja semua nggak sebanding,"
"Sebanding bagaimana? Coba jelaskan dengan jujur? Apa karena status saya janda?"
"Karena gaya Ibu terlalu menggoda."
"Gaya saya terlalu menggoda?!" Asmara membulatkan matanya. "Saya sedang pakai kaos dan sandal jepit, lagi nggak pakai dress mini kurang bahan!"
"Kenapa harus pakai warna putih?!"
"Ada apa dengan warna putih?!"
"Ya kan jadi berbayang isi dalamnya,"
"Mungkin pikiran Pak Andra saja yang kotor. Seperti biasa."
Andra dengan tak sabar memanjangkan tangannya dan mencengkeram bahu Asmara agar dapat lebih dekat dengannya, lalu kembali berbisik, "Ibu dari tadi sadar tidak sih kalau lagi diliatin banyak laki-laki?!"
Asmara kembali membulatkan matanya, "Bukannya Pak Andra yang tak sadar?! Itu cewek-cewek di sana sampai natap Pak Andra dari atas ke bawah sambil gigit bibir!"
Andra hampir saja menengok saat jemari Asmara sigap menahan rahang pria itu. "Jangan nengok ke sana dooong," keluh Asmara. Tapi berikutnya wanita itu buru-buru menarik tangannya karena merasa sudah terlalu diluar batas.
"Saya perlu membuktikan kalau ucapan ibu bukan pengalih perhatian." kata Andra.
"Astaga, isi pikiran Pak Andra ini menarik sekali ya…" sindir Asmara sambil menyerahkan nampan rotinya ke kasir. "160ribu." desisnya sebal. Dan Andra pun menscan ponselnya lewat pembayaran metode Qris.
**
Sambil mendorong troli Andra menelusuri jajaran rak yang menjual berbagai kebutuhan elektronik untuk rumah tangga. Andra menimbang apakah perlu membeli bohlam isi 4 dengan merk lokal atau bohlam isi 2 dengan merk terkenal. Sampai tepukan Asmara di punggungnya membuatnya menoleh.
"Saya ke bagian daging dan sayuran, di ujung dalam. Jangan jauh-jauh trolinya. Daging lumayan berat, apalagi sayurannya banyak."
"Kan cuma kentang dan wortel ?"
"Cuma kentang dan wortel, dan tangan saya hanya ada 2. Dagingnya gimana bawanya? Saya gigit, gitu?!"
Alih-alih kesal dengan sahutan Asmara yang agak sewot, Andra malah tertawa membayangkan Asmara menggigit seplastik daging dengan kedua tangan penuh mengangkat sayuran.
"Kayak ibu kucing habis nyolong daging, Hahaha!" bahaknya.
"Kalau tertawa saya bikin pedas ya supnya. Biar nggak bisa makan." ancam Asmara.
"Siapa bilang saya nggak bisa makan pedas, saya cuma nggak suka saja."
"Ya udah saya bikin pedas lah,"
"Eh, jangan dong bu, sia-sia perjuangan saya belanja sambil diomelin ibu kucing kalau akhirnya saya hanya makan sedikit."
"Pak Andra ini ternyata aslinya nyebelin ya!" gerutu Asmara sambil berlalu menuju ke sesi daging di belakang supermarket.
Akhirnya Andra mengikuti Asmara, namun dengan berjalan lebih pelan sambil melihat-lihat sekelilingnya. Terus terang saja, gerak Asmara yang cekatan tak akan mampu ia tandingi. Asmara bagai tahu harus kemana kakinya melangkah, memilih berbagai bumbu dan keperluan. Seakan ia sangat mengenal seluk beluk supermarket.
Sambil mengawasi wanita itu dari kejauhan, Andra kembali memilih barang, sampai di ujung koridor Andra bertemu dengan wanita tua yang sedang berusaha meraih minyak Zaitun di rak paling atas, tampak kesulitan dengan tubuh ringkih mungilnya.
Reflek, Andra mengulurkan tangannya ke atas dan menyerahkan botol kaca berisi minyak berwarna hijau bening ke nenek-nenek itu.
"Loh? Andra?!" panggil si wanita tua.
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer