Demi mencari tahu penyebab kematian sang adik yang sangat janggal. Shasa seorang agen rahasia harus menyamar menjadi seorang aktris.
Memasuki dunia yang bertolak belakang dengan identitas nya,membuat Shasa harus berhadapan dengan berbagai rahasia gelap dibalik kemerlapan dunia entertainment itu.
Mampukah Shasa membalas dendam atas kematian adiknya ketika Shasa harus berurusan dengan para mafia kelas kakap.
Apakah ia akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diburu Atau Memburu
Dan sesuai tebakan, Shasa sedang bersiap untuk menemui sosok penting itu yang identitasnya sudah dikantongi. "Paulo coelho, aku tidak sabar mendapatkan informasi darimu."
"Shella! Sudah belum?" Tanya seseorabg yang bersiap membawa Shasa ke tempat Paulo berada.
"Iya, aku sudah siap." Dengan gaun putih gading serta rambut yang terurai membuat Shasa sungguh memukau.
"Bagus! Kau belajar dengan cepat rupanya, ayo! Segera temui dan jangan membuat tamu besar itu kecewa dengan layanan mu, mengerti?"
"Iya pak."
"Bawa dia!" Shasa mengikuti langkah pria yang membawanya, ada sedikit terkejutan darinya karena melihat mobil hitam yang terparkir cantik dengan pintu terbuka seolah menanti seseorang yang memasuki nya.
"Apalagi? Masuk! Tempat nya bukan disini, cepatlah!" Sambil masuk dan mendudukkan bokong indahnya, Shasa mengamati jalanan yang dilewati.
Sekitar 30 menit, mobil itu akhirnya berhenti di sebuah rumah yang cukup luas dengan bergaya barat. Shasa dapat melihat ada penjagaan yang ketat mengelilingi rumah itu dan sekitarnya.
"Ini dia, bawalah! Tuan Paulo sudah menantinya." Shasa dioper bak bola yang dibawa ke sana dan kemari.
Tujuan akhir Shasa akhirnya berlabuh di sebuah kamar yang langsung disambut oleh wajah mesum pria keturunan barat itu. Bahkan, tampaknya ia sudah sangat bersiap dengan kemeja yang sudah terbuka dan menampilkan dada bidang berbulu nya yang bagi wanita manapun itu adalah sangat menggoda, tapi bagi Shasa tentu saja tidak.
"Akhirnya.... kau datang juga. Aku sudah menunggu cukup lama, kau sangat cantik dilihat dari dekat." Jari pria itu langsung berjalan-jalan menelusuri pipi hingga dagu Shasa dengan beraninya.
"Matamu sangat indah. Seperti....." pria itu tidak melanjutkan ucapannya ketika ia menghubungkan dirinya dengan orang lain yang merupakan anak buahnya melalui saluran komunikasi di dalam kamar mewah itu.
"Jangan ada yang berjaga di dalam rumah. Aku ingin bermain di ruangan rumah ini. Kalian mengerti?" Tak lama panggilan terputus dan manik abu-abu itu menatap lekat Shasa yang masih berdiri.
"Kemari! Tubuhmu sangat indah dan empuk. Bagaimana kadar empuk disini?" Shasa kali ini menghadapi pria yang begitu agresif, mungkin karena usianya yang tak jauh beda dari Shasa.
"Kau terlalu terburu-buru tuan tampan. Bagaimana kalau kita minum atau menonton dulu?" Tawar Shasa dengan wajah menggoda dan suara mendayu-dayu.
"Oh ternyata kau sudah ahli nampaknya. Sangat berbeda dengan wanita yang aku temui dan bermain bersama dengan ku. Apa kau akan sepanas yang aku bayangkan? Atau pasif? Hmmmmmm....." Jari Paulo kembali bermain di dagu Shasa.
"Rambut mu sangat halus, matamu sangat memabukkan. Kau terlihat seperti seseorang yang pernah aku temui."
"Sungguh? Apa wajah ku terlihat pasaran?" Tanya Shasa sambil menyingkirkan jari itu dengan gaya elegan.
"Tidak! Kau sangat cantik! Tidak seperti kebanyakan wajah yang aku lihat. Tapi matamu serta senyuman di bibir indah ku ini, membuat ku teringat akan seseorang. Tapi pastinya tubuh kalian tidak akan sama bukan?" Tangan Paulo langsung merekuh pinggang ramping Shasa dengan nafas yang sudah memburu.
"Ayu kita mulai dengan pembukaan dulu, bagaimana dengan bibir atau bongkahan mu ini?" Shasa yang masih sangat penasaran dengan sosok yang dibicarakan oleh pria ini tentu tidak akan membiarkan berlalu begitu saja.
"Tuan tampan bisa mulai dari mana saja! Tapi yang jelas, aku baru mendapat pria yang tampan seperti tuan. Aku jadi berpikir untuk mengabadikannya dalam berbentuk foto. Apa tuan tidak keberatan?" Shasa mendorong tubuh Paulo hingga mereka membentuk posisi yang sangat intim dengan Shasa yang berada diatasnya.
Paulo yang melihat wajah serta dada indah yang masih terbungkus rapi itu langsung tersenyum bahagia. "Tentu saja! Kau tau, sebelumnya aku yang mengambil gambar mereka dengan berbagai macam reaksi. Dan yang masih ku ingat adalah dengan tangisan kencang! Padahal dia sudah tidak perawan lagi saat denganku, tapi dia menangis seperti baru pertama kalinya. Tapi..... tubuhnya tidak membuat ku kecewa. Kau mau liat?" Shasa langsung mengangguk.
Tampak Paulo menggeser layar ponselnya mencari dimana letak kumpulan foto mainan ranjang nya. 'Cepatlah! Aku rasanya ingin mencabut akar pohon miliknya yang berani bangun dan menyapa paha ku! Siaaall!'
"Ini dia! Wajah nya berulang kali ia coba tutupi, tapi aku mengancam nya dan membuat dia setidaknya melepaskan tangannya dari wajahnya sejenak." Shasa mengalihkan maniknya menuju layar ponsel yang memperlihatkan wajah yang membuat jantung nya terasa diremas.
'Shella, adikku!'
"Jika dilihat dari beberapa sisi. Kau terlihat mirip dengannya."
"Ada apa?" Shasa langsung batuk sambil menahan amarahnya yang telah menggebu-gebu.
"Ambil air disana!" Shasa mengikuti arah yang diberikan oleh Paulo, sedangkan Paulo yang melihat tubuh indah Shasa merasa gerah dan melepaskan kemeja nya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Kalau begitu menuju lah ke neraka!" Teko yang terlihat antik itu membuat Shasa merasa senang, dia memasukkan bubuk racun yang tersembunyi di dalam butiran kalung nya yang seperti penyimpanan khusus.
Menggunakan teknik melalui teko, maka teko itu akan mengalirkan air dan jika menutup lubang yang lain, akan membubuhkan racun.
Dengan sedikit melepaskan resleting yang menutupi bongkahan padat nya, Shasa melenggang dengan lenggak-lenggok yang membuat dirinya semakin seksi dan menggairahkan.
"Apa tuan tampan ingin minum? Aku masih merasa sangat haus." Dengan gaya yang menggoda, Shasa meminum air dengan membiarkan beberapa tumpahan mengenai dirinya.
"Kau sangat seksi! Tuangkan untuk ku juga, sebelum aku melahap bibir seksi mu!" Inilah yang ditunggu oleh Shasa, ketika dirinya bersiap menuangkan air yang mengandung racun. Matanya yang berhadapan dengan sebuah cermin tampak memantulkan seseorang dari tempat yang cukup jauh dengan sebuah senapan menuju ke arah mereka berdua.
'Musuh?' Shasa yang lebih mementingkan kematian pria ini langsung memberikan minuman yang langsung diteguk habis oleh Paulo.
"Manis! Sekarang berikan aku ciuman....."
Bunyi senapan langsung terdengar dan membuat Shasa mendorong tubuh mereka berdua karena Shasa ingin racun itu terlebih dahulu bekerja dan benar saja, Paulo merasakan sesak napas dan mendekati Shasa karena dirinya diracuni.
"Dan sekarang...."
Dor! Dor! Dor! Suara tembakan langsung terdengar dan menuju Paulo serta Shasa yang membuat peluru itu akhirnya mengenai sasaran.
Suara tembakan langsung membuat anak buah Paulo yang berjaga bergerak menuju tuan mereka dan ketika pintu dibuka....
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
makasih author 🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️
gitu juga orang yg kamu aniaya, juga terasa sakit..