Tak pernah terpikirkan oleh Chiara jika hari pernikahan yang dia dambakan selama ini malah berakhir dengan kesedihan. Kesedihan yang begitu menyakitkan bagi Chiara.
Setelah satu tahun berpacaran , Chiara memutuskan menikah dengan Aldo - pria yang sudah menjadi tambatan hatinya selama ini. Bukan pernikahan indah yang dia dapatkan , tapi Chiara malah mendengar kabar kalau calon suaminya telah meninggal.
Nenek Dewi - selaku Nenek Aldo merasa sangat kasihan pada Chiara. Dia sudah menganggap Chiara seperti cucunya sendiri. Karena tamu undangan sudah banyak yang datang , Nenek Dewi lalu menyuruh Dario - cucu kesayangannya yang terkenal berandalan sebagai pengganti Aldo. Dario bersedia menjadi mempelai pengganti karena dia tidak tega melihat Neneknya yang terus memohon.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan lama ? Atau justru berpisah karena tak saling mencintai ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak tahu jalan pulang
Rintik - rintik hujan pun turun , butiran - butirannya jatuh membasahi kepalanya yang tidak berpenghalang. Chiara mengedarkan pandangannya untuk menemukan tempat berteduh. Pakaiannya yang sedikit terbuka semakin memudahkan angin kencang berhembus masuk ke pori - pori kulitnya.
"Dingin sekali," gumam Chiara seraya mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Chiara segera berlari sambil menutupi kepalanya dengan tasnya karena hujan turun semakin deras. Dia menepi ke tempat pemberhentian bus untuk berteduh.
"Ugh , kenapa hujannya semakin deras ? Lalu sekarang bagaimana caranya aku pulang ?" gerutu Chiara sembari mencebikkan bibirnya. Hanya dia seorang diri yang berteduh di halte.
Chiara memandang sendu tetes air hujan hingga air matanya kembali menggenang. Hujan mengingatkan dirinya pada masa lalu saat pertama kali Aldo mengungkapkan perasaannya. Pria itu mengungkapkan perasaannya tepat ketika sedang hujan deras.
Pria itu berjanji akan selalu setia sampai mereka menikah kelak ,tapi sayang sekali pria itu malah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dia masih mengingat dengan jelas kenangan manis itu.
Chiara melangkahkan kakinya menjauh dari halte. Biarlah tubuhnya basah karena dia ingin melupakan kenangan itu. Kepalanya tertunduk dengan air hujan yang sudah membasahi tubuhnya.
" Aldo , aku sangat mencintaimu. Sampai detik ini aku belum bisa melupakanmu. Dan sampai kapanpun aku tidak akan melupakanmu. Aku ingin sekali melihatmu berdiri di depanku , walaupun itu sangat mustahil terjadi. Andai kau ada di depanku , aku ingin bertanya padamu . Kenapa dulu kau mengatakan padaku kalau kau tidak memiliki saudara ? Padahal nyatanya kau memiliki saudari tiri yaitu Dario. Dan kenapa kau berbohong padaku mengenai kalung itu ? Aku yakin kau pasti punya alasan hingga berbohong padaku," ucap Chiara sambil terisak - isak . Semakin mencoba melupakannya justru kenangan - kenangan manis itu semakin terbayang - bayang dalam benaknya.
Chiara terus melangkah tanpa peduli dengan tubuhnya yang semakin menggigil. Dia tidak peduli jika sekarang harus mati karena hidupnya terasa sudah tidak berarti lagi. Belahan jiwanya sudah pergi untuk selamanya , lalu sekarang suaminya tidak peduli sama sekali dengan dirinya. Lengkap sudah penderitaan hidupnya .
" Hu...hu...hu..." Chiara mengencangkan suara tangisnya. Meski sudah menangis sepanjang hari, nyatanya dia tidak mampu menghapus semua kesedihannya.
" Aldo , aku merindukanmu." Teriak Chiara di sela isak tangisnya yang tidak bisa di tahan lagi .
Dia memang terlihat baik - baik saja tapi hatinya sebenarnya masih rapuh. Jika tidak mengingat kedua orang tuanya , mungkin dia sudah mengakhiri hidupnya.
Chiara tertunduk di tepian jalan, dia sama sekali tidak peduli pada orang - orang lewat yang memandang aneh tanpa ada satupun yang menghampirinya.
Perlahan Chiara merasakan tubuhnya tidak lagi basah oleh tetesan air hujan. Apa hujannya sudah reda ?
Chiara menegakkan kepalanya hingga dia melihat siluet bayangan seorang pria bertubuh tinggi di depannya sedang membawa payung. Chiara menengadahkan wajahnya ke atas dan benar saja ada payung berwarna hitam tepat di atas kepalanya. Siapa pria yang berdiri di belakangnya ?
" Bangunlah ! Apa kau tidak mau di lihat orang ? Aku dari tadi siang mencarimu kemana - mana , tapi kau malah di sini. Apa yang sebenarnya kau lakukan di tempat ini ? Tempat ini bahkan sangat jauh dari apartemenku," ujar seorang pria yang suaranya sangat dia kenal.
" Apakah karena Aldo kau jadi seperti ini ? Pakaianmu juga sangat terbuka sekali. Apa kau tak malu memakai pakaian seperti ini ? Mulai besok aku tak ingin melihatmu memakai pakaian seperti ini lagi," ujar Dario dengan suara berat sambil menatap cara berpakaian Chiara yang terlihat seksi. Dia tidak habis pikir dengan istrinya yang bertindak bodoh dan menyiksa dirinya sendiri. Apalagi pria yang dia tangisi sudah menikah dengan sahabatnya sendiri.
" Tidak usah mengurusku , lebih baik kau urus saja hidupmu sendiri," kata Chiara seraya menatap tajam Dario.
Chiara membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan Dario. Namun tiba - tiba tubuhnya terasa limbung , kepalanya berat , dan semakin berputar - putar. Pandangannya sudah mulai kabur.
Chiara memegangi kepalanya karena tubuhnya semakin sempoyongan. Bahkan kedua kakinya mulai melemas. Dalam hitungan detik tubuhnya langsung ambruk , tapi beruntung Dario dengan sigap sudah menopang beban tubuhnya.
" Chiara , bangun ! Apa yang terjadi denganmu ? " tanya Dario sembari menepuk-nepuk pipi Chiara untuk membangunkannya di bawah rintik hujan yang masih turun.
Karena tidak mendapat respon , Dario segera membopong tubuh Chiara dan mencarikannya tempat berteduh. Dia bisa merasakan tubuh Chiara yang sangat dingin seperti es ketika kulit mereka bersentuhan.
Saat ini Dario tidak bisa membawa Chiara pulang ke apartemennya karena dia hanya membawa motor. Dia lalu mencari taksi dan tak berselang lama dia pun menemukan taksi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apartemen
Setengah jam kemudian dia akhirnya sampai di apartemennya. Dario membaringkan tubuh Chiara di ranjang yang berukuran besar.
Pria itu sedikit kebingungan ketika melihat kondisi Chiara yang masih basah. Bagaimana caranya melepaskan pakaiannya ? Di sana tidak ada orang lain selain mereka berdua dan terlebih lagi sudah malam. Siapa yang harus dimintai tolong ?
Dario menatap kondisi rumahnya yang sangat berantakan. Padahal sebelum Chiara tinggal bersamanya , rumah itu selalu rapi. Akan tetapi sekarang rumahnya terlihat sangat berantakan dan tidak terurus.
" Wanita ini memang pemalas," gumam Dario seraya pergi mengambil baju milik Chiara yang ada di lemari.
Setelah mendapatkan baju , Dario berdiri sambil memandangi tubuh Chiara yang sudah di tutupi dengan selimut tapi kondisi pakaiannya dalam keadaan basah.
Haruskah dia yang mengganti pakaiannya ? Jantung Dario seperti hendak melompat membayangkan tubuh Chiara yang begitu polos . Saat malam pengantin, dia sempat melihatnya meski tidak sengaja.
Dengan hati berdebar - debar , Dario akhirnya menyibak selimut yang menutupi tubuh Chiara hingga bagian pahanya yang mengenakan rok terekspos bebas.
Dario berusaha untuk tidak melihatnya saja. Tak mungkin melepas pakaian tanpa melihat, itu sangat sulit untuk di lakukan.
Dario berulang kali menahan nafas ketika membantu Chiara memakai piyama panjang. Tubuhnya panas dingin tak menentu karena dia pria normal. Walaupun Chiara istrinya tapi dia tidak berani berbuat kurang ajar . Apalagi pada wanita yang sedang dalam keadaan pingsan.
Dario mengambil mantel tebal dari dalam lemari lalu memakaikannya di tubuh Chiara agar lebih hangat.
"Sungguh merepotkan sekali," gumam Dario lagi sambil menatap bibir Chiara yang terlihat pucat dan membiru karena kedinginan. Tak lupa dia memakaikan kaos kaki untuk menghangatkan kakinya.
" Tangannya sangat dingin sekali," kata Dario dengan wajah yang sedikit cemas.
Di genggamnya tangan Chiara kemudian di tiupnya hingga beberapa saat untuk menghangatkannya. Tadinya dia ingin tidak peduli tapi bagaimanapun juga Chiara adalah istrinya. Dia harus bertanggung jawab untuk keselamatannya meski hubungan mereka tidak tahu akan sampai kapan . Setelah ini dia akan lebih memperhatikan istrinya itu
Dia sudah berjanji pada Farhan akan menjadi suami yang baik untuk Chiara dan juga akan menjaga Chiara dengan baik.
Dario menatap Chiara. " Maaf, jika sikapku sangat menyebalkan. Aku tahu kalau kau tidak mau dekat - dekat denganku. Karena itulah aku juga berusaha menjauhimu. Aku tak ingin membuatmu marah hanya karena melihatku," gumam Dario sembari menyelipkan rambut Chiara yang masih basah ke belakang telinganya.
semoga saja Chiara akan baik2 saja dan rencana nenek Dewi tidak jadi kenyataan .
kasihan Chiara dan Dario kalo sampe itu terjadi