Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EGO SANG PENUAI
BAB 7: EGO SANG PENUAI
Kesadaran Kael Ardyn perlahan terlepas dari raga fisiknya, ambles melewati batas realitas dan tenggelam ke dalam pusaran dimensi batin yang paling kelam.
Ketika sepasang kelopak matanya kembali terbuka di dalam ranah spiritual, ia mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang tanpa ujung.
Tempat itu adalah kekosongan absolut yang gulita, tanpa langit maupun bumi.
Udara di tempat ini tidak sekadar dingin, melainkan manifestasi dari konsep kematian murni yang menusuk langsung ke sumsum jiwa.
Bagi orang biasa dengan mental yang rapuh, satu detik saja menghirup atmosfer pekat ini sudah cukup untuk membuat mereka gila.
Di tengah keheningan absolut itu, sebuah suara berat, dingin, dan sarat akan kebencian purba bergaung mengguncang fondasi dimensi batin Kael.
"Bocah... akhirnya kau datang juga."
Suara itu terdengar seolah bergema dari dasar jurang terdalam.
"Apa kau datang ke sini untuk menyerahkan nyawamu secara sukarela?" tanya suara itu penuh penghinaan.
"Atau... otak naifmu itu benar-benar berpikir bahwa kau memiliki kualifikasi untuk menjalin kontrak dengan kekuatan sepertiku?"
Wuuuuhhhhhhh—!
Tekanan spiritual berskala kolosal mendadak tumpah ruah dari kegelapan.
Udara hitam bergolak hebat, menjelma menjadi beban tak kasat mata berbobot ribuan ton yang menghantam pundak Kael tanpa ampun.
Tekanan yang begitu besar membuat Kael kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menarik napas, apalagi membalas ucapan sang entitas.
Brak!
Satu lutut Kael tertekuk hebat, menghantam lantai spiritual yang dingin dan menusuk.
Garis-garis memar spiritual yang baru saja ia sembuhkan selama tiga hari meditasi kini kembali berdenyut perih, memprotes beratnya beban yang menindas raganya.
"Ugh..." Kael mengerang rendah.
Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, namun sepasang manik matanya tetap menatap lurus ke dalam kegelapan di depannya.
Ia menggertakkan gigi rapat-rapat hingga rahangnya terasa ngilu, memaksa pita suaranya yang tercekat untuk mengeluarkan suara.
"Setidaknya... izinkan aku bicara..." ucap Kael terbata-bata, namun sarat akan ketegasan yang dingin.
"Aku datang ke sini bukan untuk memohon atau memintamu menjadi peliharaan..." Kael menahan napas sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi aku datang untuk membuatmu menjadi bagian dari kekuatanku!"
Buuuussssshhhhhhh!
Hantaman energi Void berkali-kali lipat lebih dahsyat meledak sebagai respons atas kelancangan ucapan Kael.
Gelombang kejut berwarna hitam kemerahan menerjang telak, membuat tubuh kurus Kael terkapar sepenuhnya di atas lantai dimensi batin.
Dada pemuda itu naik turun tidak teratur, menahan sesak yang luar biasa.
Namun, di balik rasa sakit yang mendera kesadarannya, kilatan analitis seorang prajurit di kepala Kael tidak mati.
Kael tahu, Morthas sebenarnya masih memberinya kesempatan untuk berbicara.
Jika entitas Kelas Misterius itu memang berniat membunuhnya sejak awal, ia tidak akan repot-repot melepaskan tekanan intimidasi bertahap seperti ini.
Cukup dengan satu ayunan sabit merah pemutus sukma, jiwa Perunggu milik Kael dipastikan sudah hancur berkeping-keping di detik pertama.
Morthas hanya sedang menguji kelayakannya, memamerkan egonya yang setinggi langit semesta.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dihimpun dari dinding wadah jiwanya yang kini sekeras baja, Kael kembali bertumpu pada kedua telapak tangannya.
Otot-otot lengannya bergetar hebat saat ia berusaha keras untuk kembali bangkit, menolak untuk tetap bertiarap.
Dari balik kegelapan yang tebal, wujud samar Morthas dengan jubah compang-camping sewarna malam mulai terlihat.
Tatapan tak kasat mata dari sang Penuai Nyawa terarah sinis pada usaha Kael.
"Manusia adalah makhluk yang menyedihkan," desis Morthas, suaranya dipenuhi nada meremehkan.
"Bahkan dengan secuil kekuatan jiwaku yang bocor saja kau sudah merangkak seperti cacing. Kau tidak layak, Bocah."
Blam!
Satu sentakan aura kecil kembali dilepaskan.
Gelombang kejut itu menghantam dada Kael, mementalkan tubuhnya cukup jauh hingga terseret di atas lantai mistis.
"Uhuuukk!" Kael terbatuk keras, memuntahkan seteguk darah spiritual berwarna merah pekat yang langsung menguap menjadi partikel abu.
Namun, bukannya menyerah, Kael justru mencengkeram dadanya dan memaksakan diri untuk kembali duduk tegak.
Sepasang matanya menatap tajam ke arah siluet raksasa setinggi empat meter itu.
"Morthas..." panggil Kael, suaranya yang serak bergema memecah keheningan.
"Apa kau... tidak pernah merasakan kesepian yang membosankan selama hidup terkunci di dalam kegelapan Void ini?"
Pertanyaan yang tidak biasa itu membuat gejolak aura di sekitar Morthas sempat terhenti selama satu fraksi detik.
Kael menyeka sisa darah di sudut bibirnya, lalu melanjutkan dengan nada yang mulai stabil.
"Kau adalah perwujudan mutlak dari Kematian. Kau memiliki kekuatan luar biasa yang bisa membunuh lawan mana pun tanpa perlu berkedip," tutur Kael.
"Tapi untuk apa semua keagungan itu... kalau kau hanya tinggal sendirian di tempat gelap tanpa ujung ini, tanpa ada siapa pun yang menyaksikan atau menantang keberadaanmu?"
"Hmph. Kau terlalu banyak membual," sahut Morthas dingin, meskipun tekanan energinya tidak lagi meningkat.
"Aku adalah hukum alam. Aku tidak membutuhkan konsep fana seperti teman atau penonton. Aku bisa melenyapkanmu kapan pun aku mau jika kau terus menggonggong."
Kael tidak memedulikan ancaman kematian itu.
Tekadnya yang pantang menyerah—mentalitas keras kepala yang didapat dari didikan militer dan keputusasaan hidup di kerajaan—membuatnya terus memaksa kakinya bergerak.
Mengabaikan gravitasi spiritual yang menekan pundaknya, Kael perlahan-lahan berhasil berdiri tegak kembali di atas kedua kakinya.
"Setidaknya, jika kita bekerja sama, kau bisa keluar dari sangkar gelap ini," ucap Kael, menatap lurus ke arah sayap hitam Morthas yang melengkung agung.
"Di luar sana, ada miliaran Beast milik Vitallion yang bisa kau tuai kristalnya untuk mempertahankan eksistensimu di dunia manusia. Dan yang lebih penting... di luar dimensi gelap ini, kau bisa mengamuk dan menumpahkan hasrat membunuhmu sesuka hati."
Morthas tidak langsung menjawab. Dimensi batin itu mendadak berguncang hebat.
Tiba-tiba, kekuatan tak kasat mata mencengkeram leher Kael, mengangkat tubuh pemuda itu tinggi-tinggi ke udara tanpa menyentuhnya, lalu—
Brakkk!
—membantingnya kembali ke lantai dengan kekuatan penuh hingga Kael berada di ambang batas kesadarannya.
"Kau benar-benar banyak bicara, Bocah!" Morthas menggeram, kali ini getaran suaranya murni dipenuhi kemarahan yang meluap.
"Kau sama saja seperti manusia-manusia serakah lainnya yang hanya menganggap Anima sebagai alat untuk diperalat!" teriak Morthas murka.
"Bahkan golongan bodoh yang kalian sebut sebagai Anima Mitologi itu... mereka dengan patuh merendahkan martabat mereka untuk dimanfaatkan demi kepentingan fana kalian! Aku tidak akan sudi menjadi alat pemuas ambisimu!"
Kael terkapar, pandangannya sempat mengabur karena benturan yang teramat keras.
Jiwanya bergetar hebat, berada di titik kritis antara bertahan atau hancur.
Namun, di tengah rasa sakit yang meremukkan kesadarannya, Kael justru tertawa kecil—sebuah kekehan lirih yang terdengar ironis di tengah altar kegelapan.
Dengan sisa napas yang tipis, ia menjawab dengan nada lirih namun tajam.
"Morthas... manusia memang makhluk yang egois dan sering memanfaatkan apa saja demi bertahan hidup. Tapi, apa kau tahu? Bukan berarti setiap manusia memandang kalian hanya sebagai alat budak."
Kael mencoba mengangkat kepalanya, menatap Morthas yang berdiri tegak bak menara kematian.
"Tragedi tiga abad lalu yang menimpa Vitallion... itu adalah bukti dari keserakahan dan kebodohan sikap manusia di masa lalu. Tapi manusia adalah makhluk yang belajar, tumbuh, dan beradaptasi dari kesalahan mereka."
Kael memberikan jeda panjang, membiarkan wadah jiwa Perunggunya beresonansi penuh dengan ketulusan batinnya.
"Aku... tidak akan meminta kontrak darah yang mengikat atau merantai kebebasanmu secara paksa," ucap Kael, matanya berkilat penuh keyakinan mutlak.
"Aku memintamu untuk berdiri dan bertarung bersamaku sebagai rekan sejajar."
Kael menegaskan, "Kau bisa mendapatkan kesenanganmu untuk menuai nyawa para Beast ciptaan Vitallion sesukamu, dan sebagai gantinya, aku akan menggunakan dukungan kekuatanmu untuk terus tumbuh hingga menjadi wadah yang paling layak bagi sang Penuai!"