Kanvar Anderson
Ya, memiliki arti nama seorang pangeran muda. Anak tunggal dari seorang pembisnis batu berlian yang sangat besar bernama Tuan Carson Anderson dan Nyonya Elisabeth Anderson. Kanvar adalah seorang lelaki yang hampir dibilang sempurna.
Dan aku…. Azia Helena, seorang wanita biasa yang bekerja di butik Nyonya Elisabeth Anderson dan mempunyai impian menjadi seorang designer terkenal, tetapi jatuh hati dengan putra sang pemilik butik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Berita Duka
"Tok.... Tok.... Tok...., permisi tuan", Ujar Vigo yang mengetuk pintu ruangan Kanvar.
" Silahkan", jawab Kanvar singkat.
"Tuan, ada kabar duka dari keluarga Dominik, Vincen Dominik Ayah dari Rangga Dominik meninggal pagi ini", ucap Vigo.
" Sungguh berita yang sangat tidak menyenangkan, kapan pemakamannya? ", tanya Kanvar.
" Menurut undangan dan informasi sore ini pemakaman akan berlangsung tuan", sahut Vigo.
"Baiklah, siapkan jas hitamku nanti. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat hari ini", ujar Kanvar.
" Baik tuan", sahut Vigo.
"Ohiya, satu lagi. siapkan juga gaun hitam untuk Azia kita akan menjemputnya nanti untuk ikut ke pemakaman", ujar Kanvar lagi.
" Baik, segera dilaksanakan tuan", jawab Vigo segera pergi dari situ.
Drrrrttttt....
Suara ponsel Azia berdering yang masih dengan nama Tuan Kanvar dilayar ponselnya.
"Halo", sambut Azia.
" Halo saja? Sambutan yang tidak hangat", sahut Kanvar.
"Serba salah", ucap Azia lagi.
" Apa yang sedang kau lakukan sekarang? ", tanya Kanvar.
" Bekerja, apa kau ingin mempunyai calon istri pengangguran? ", jawab Azia ketus.
" Sepertinya lebih baik begitu mengurus anak dirumah bukankah menyenangkan? ", ujar Kanvar .
" A.... Apa yang kau bicarakan", ucap Azia gagap karena malu.
"Kenapa? Kau tidak mau anak dariku? ", tanya Kanvar.
" Terserah kau saja, kalau untuk pembahasan yang seperti itu kau tidak perlu repot-repot menelpon", ucap Azia ketus.
" Kau benar-benar buat mood jadi tambah runyam saja", jawab Kanvar.
"Baiklah, ada apa menelpon pagi-pagi begini? ", tanya Azia.
" Kau akan ikut denganku sore nanti untuk berkabung", ucap Kanvar.
"Berkabung? Apa ada berita duka?", tanya Azia.
" Barusan saja mendadak sekali, Vincen Dominik Ayah dari Rangga Dominik meninggal dunia pagi ini dan melangsungkan pemakaman sore ini. ", jawab Kanvar.
" Astaga, sungguh malang. Baiklah aku akan cepat bersiap nanti", ucap Azia.
"Aku yang akan membawakan gaunmu nanti, Vigo sedang menyiapkannya", jawab Kanvar langsung menutup telponnya.
" Huh dasar, jadi siapa yang tidak romantis aku atau kau? ", lirih Azia kesal.
" Azia, apa aku bisa minta tolong desainkan gaun pengantin kebaya yang modern sekarang? Aku perlu cepat", ucap bu Elie yang sedang sibuk melayani tamu VIPnya.
"Baik bu, akan segera Zia gambar", sahut Azia.
Sore pun tiba, Vigo sudah ada dibutik untuk memberikan gaun hitam untukku.
" Ini Nona gaunnya sudah siap", ucap Vigo.
"Terima kasih", jawab Azia.
" Tuan Kanvar berpesan Dia menunggu di mobil saja, jadi dia harap nona bisa cepat bersiap", ujar Vigo.
"Iya sabar, tunggu sebentar", ucap Azia.
" Bu maaf, saya ijin pamit terlebih dahulu. Saya dan tuan Kanvar pergi untuk berkabung", ucap Azia kepada Elie.
"Iya Azia, tidak apa-apa hati-hati dijalan ya. Salam untuk Tuan Anderson", jawab Elie.
" Baik bu, akan Zia sampaikan", ucap Azia langsung meninggalkan butik.
Kami pun langsung pergi ke pemakaman. Disana sudah banyak orang bahkan dari perusahaan ternama pun banyak datang.
"Oh kalian sudah datang rupanya", ucap Carson.
" Iya Ayah, bagaimana dengan Rangga? ", tanya Kanvar yang sebenarnya masih peduli dengan sahabatnya itu.
" Dia terpukul tapi syukurlah ada Lita yang menghiburnya disana", jawab Elisabeth.
"Kau tidak ingin menemui mereka? ", tanya Carson.
" Tidak Ayah, aku dan Zia disini saja", jawab Kanvar yang masih sekitar seratus meter dari tempat pemakaman Vincen Dominik.
"Kau tidak pergi mengunjungi Ayahmu? ", tanya Kanvar.
" Mungkin besok pagi saja, aku juga libur. Banyak sekali orang disana sampai kuburan Ayah pun tidak terlihat", jawab Azia yang kuburan Ayahnya tidak jauh dari kuburan Vincen.
"Aku akan berusaha menemanimu lagi", sahut Kanvar.
" Tidak perlu, aku ingin sendiri", ucap Azia.
"Kau masih kesal padaku? ", tanya Kanvar lagi.
" Ah tidak, aku hanya ingin berbicara dengan Ayah", jawab Azia.
"Baiklah, kuhargai privasimu", jawab Kanvar.
Pemakaman pun selesai, semua orang bersalaman dengan mengucapkan duka kepada keluarga Dominik.
Kanvar yang masih canggung dengan sahabatnya itu.
" Kau benar-benar tidak kesana? ", tanya Azia kepada calon tunangannya itu yang sedikit gelisah.
Kanvar hanya terdiam dan langsung menarik tangan Azia, " Ayok kita pulang saja", ucapnya dingin.
Keesokan harinya, Azia langsung pergi ke makam Ayahnya.
"Azia... Harinya mendung, sepertinya akan turun hujan", ucap Susi kepada Azia.
" Iya bu, tidak apa-apa. Azia sudah berjanji ingin mengunjungi Ayah pagi ini", jawab Azia.
"Baiklah, hati-hati. Maaf Ibu belum bisa menemani hari ini", ucap Susi.
" Tidak apa-apa bu, Zia akan bawa payung hitam ini", jawab Azia yang sudah memegang payung pemberian Rangga waktu itu.
"Bagaimana kabar Rangga ya, aku jadi sedikit kepikiran", lirih Azia dalam hati.
Azia akhirnya memesan taksi online. Dia sudah lama menunggu bus di halte tapi tak kunjung datang. Sesampainya di Makam Azia melihat sosok lelaki yang tidak asing.
" Rangga?! ", lirih Azia dalam hati tetapi Dia diam dan berusaha tidak menyapa terlebih dahulu seperti pura-pura tidak melihat Rangga.
" Pa, Rangga rindu sekali dengan papa, papa selalu banyak mengajarkan Rangga banyak hal, bagaimana jika perusahaan papa tidak berjalan lancar?", lirih pelan suara dari Rangga terdengar dan sama sekali tidak melihat Azia di sebelahnya.
Hujan pun turun tiba-tiba begitu derasnya. Azia pun langsung membuka payungnya dan mendekatkan diri kepada Rangga agar keduanya tidak kehujanan.
"Papamu pasti bangga padamu, dan perusahaanmu pasti berjalan dengan baik karena Papamu pasti percaya dari sana", ucap Azia yang mengejutkan Rangga.
" Azia?!.... Sejak kapan kau disini? ", tanya Rangga.
" Baru saja", jawab Azia singkat.
"Apa yang kau lakukan disini? ", tanyanya lagi.
" Ayahku juga sudah lama tiada, aku hanya ingin mengunjunginya", jawab Azia.
"Benarkah? Sendirian? ", tanya Rangga.
" Seperti yang kau lihat, kau mau ikut ke makam Ayahku", tanya Azia karena mereka hanya punya satu payung.
"Ku terima tawaranmu", jawab Rangga.
" Ayah, hari ini Azia bawa teman lagi, bukankah dia pria yang tampan? ", ujar Azia menatap makam Ayahnya dan membuat Rangga terdiam tersipu malu.
" Bawa teman lagi? Memang berapa banyak temanmu yang kau bawa untuk berkunjung ke makam Ayahmu? ", tanya Rangga penasaran.
" Hanya dua orang selain ibuku, kau dan Kanvar", jawab Azia.
"Jadi Kanvar sudah menemui Ayahmu ya? Kukira aku yang pertama", ucap Rangga sedikit ada mulai rasa cemburu.
" Maksudnya? " tanya Azia.
" Selamat pagi om Haris Fareson, perkenalkan saya teman Azia, Rangga. Semoga om Haris bisa berteman baik dengan Papa saya disana ya om", ucap Rangga dengan senyum langsung mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun sama-sama terlarut dengan kesedihan masing-masing.
Hujan semakin derasnya membuat mereka sedikit basah walaupun sudah memakai payung.
"Azia, ayok kita pulang akan ku berikan tumpangan", ucap Rangga kepada Azia.
"Tidak usah aku bisa memesan taksi online lagi", jawab Azia.
" Jangan membuatku merasa bersalah meninggalkanmu sendiri disini", ujar Rangga.
"Baiklah terima kasih", jawab Azia.
Saat Azia hendak masuk dalam mobil langsung terdengar suara klakson dari belakang mobil Rangga.
" Kanvar ?! ", ucap Azia terkejut. " Apa yang kau lakukan disini? ", tanya Azia kepada Kanvar yang keluar membawa payung.
" Aku sudah datang jauh-jauh, menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat, kepikiran karena kau pasti kehujanan begini, bagaimana keadaanmu dan ternyata kau malah berduaan dengan lelaki lain", sahut Kanvar yang langsung menarik Azia.
"Kau tidak perlu kasar seperti itu Anderson!", ucap Rangga menarik Azia lagi.
" Siapa kau berani menyentuh tunanganku Dominik! ", balas Kanvar lagi.
" Hentikan! ", teriak Azia hampir mengalahkan suara hujan yang sudah tidak terlalu lebat.
" Kanvar ayok kita pulang, dan Rangga terima kasih untuk hari ini maaf atas keributannya", ucap Azia langsung menarik Kanvar pergi.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan canggung.
"Kenapa kau membelanya? ", tanya Kanvar.
" Bukan membela, tapi melerai", jawab Azia.
"Ah terserah kau saja", jawab Kanvar langsung melaju meninggalkan Azia di depan rumahnya.
" Ada apa dengan mereka, rumit sekali", lirih Azia dalam hati.