Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Want U So Bad, Bos.
Arsen mengenalkan Luna kepada teman-temannya, ada sekitar orang pria yang datang bersama pasangannya. Luna yang sangat mudah mengimbangi pembicaraan dengan cepat berhasil membuat ia tampak nyambung saja meski baru mengenal.
Namun, meskipun Luna terlihat menyahut ucapan mereka, matanya sejak tadi memperhatikan Gamma yang terlihat berbincang dengan temannya, pria itu juga sejak tadi terus menempel erat dengan istrinya. Luna jadi kesal sendiri melihatnya, apakah memang harus sesakit ini rasanya mencintai pria yang sudah memiliki istri?
Terlalu larut dalam kecemburuan, Luna tanpa sadar sejak tadi sudah menegak beberapa gelas minuman alkohol yang tersedia di meja, hatinya panas sekali jika mengingat Gamma akan memiliki anak dengan Clarissa. Sungguh perasaan cemburu yang sangat menyebalkan.
"Luna, kau minum banyak sekali, kau bisa mabuk," tegur Arsen menahan tangan Luna saat wanita itu ingin menegak minumannya lagi.
"Lepasin Arsen, kau urusi saja teman-temanmu itu, jangan menggangguku," sergah Luna sudah setengah mabuk, ia kembali menegak satu gelas bir yang baru saja dituang ke gelasnya.
"Jangan terlalu mabuk Luna, itu tidak baik untukmu," tutur Arsen mengingatkan kembali.
"Aku tidak akan mabuk hanya karena minuman ini, Arsen." Luna menyahut sekenanya, mulutnya mengatakan tidak akan mabuk tapi nyatanya tiba-tiba kepalanya berdenyut pusing.
"Aaa hhh ..." Luna memegang kepalanya yang cukup sakit.
"Astaga, aku bilang apa? Jangan terlalu banyak minum, ayo kita pulang saja," kata Arsen tidak mengizinkan Luna minum, ia segera menggendong wanita itu lalu mengajaknya pergi.
"Hei, kau mau mengajakku kemana Arsen? Turunkan aku," ucap Luna merancau dalam gendongan Arsen, kepalanya terasa sangat berat sekali hingga ia enggan membuka matanya.
"Kau dalam keadaan yang tidak baik, sebaiknya menurut saja padaku," kata Arsen tiba-tiba berubah dingin, ia menatap Luna yang pasrah dalam gendongannya.
Arsen lalu membawa wanita itu ke salah satu ruangan yang terlihat terbuka, sepertinya tempat penyimpanan kursi dan meja-meja untuk pesta. Ia merebahkan wanita itu di meja yang ada disana.
"Kenapa kau membawaku kesini Arsen?" Luna bertanya diantara kesadaran yang hampir hilang.
Arsen tersenyum kecil, ia mengusap pipi Luna dengan lembut seraya menunduk. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin membuatmu lebih nyaman bersamaku," bisik Arsen tiba-tiba membenamkan bibirnya di bibir mungil Luna.
"Euhmmmm ... ." Luna yang masih setengah sadar segera mendorong Arsen dengan kasar. "Apa yang kau lakukan?!" Bentak Luna sedikit sempoyongan, ia kesal sekali karena Arsen ingin mencari kesempatan.
"Maaf, maafkan aku Luna. Kau tidak apa-apa 'kan? Ayo aku akan membantumu pulang," ujar Arsen kembali mendekati Luna, ia membantu Luna yang sudah sangat mabuk itu.
"Lepas! Nggak usah pegang-pegang!" Luna masih menolak Arsen, ia mencoba menyadarkan kewarasannya yang masih ada agar bisa keluar dari ruangan itu.
Namun, baru saja beberapa langkah, ia sudah limbung dan Arsen segera menangkapnya.
"Astaga, aku sudah bilang keadaanmu tidak baik, menurut padaku Luna," ucap Arsen menarik Luna kembali ketempat tadi, ia merebahkan Luna diatas meja yang tadi.
Kepala Luna benar-benar sangat berat, matanya seperti lengket dan enggan terbuka. Kini ia merasakan Arsen kembali mendekatinya, pria itu memegang kedua tangannya lalu mencium bibirnya kembali.
Arsen tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menciumi bibir Luna dengan sangat rakus, tangannya perlahan menyingkap rok Luna seraya mengelus pa hanya dengan lembut.
"A h ... " Luna tanpa sadar men de sah tertahan, dalam pikirannya saat ini hanya terisi sosok Gamma, jadi ia berpikir pria yang telah menciumnya ini adalah Gamma dan ia pun membalasnya.
Bak mendapatkan angin segar, Arsen semakin tidak terkendali, ia menurunkan ciumannya ke leher jenjang Luna. Ia menciumi wanita itu dengan penuh gairah. Libido nya seketika naik membuat Arsen dengan tidak sabar ingin membuka semua baju Luna.
Namun, sebelum hal itu terjadi tiba-tiba tengkuknya dipukul dari belakang hingga ia langsung pingsan seketika.
"Brengsek!" Gamma mengumpat penuh amarah demi melihat apa yang dilakukan Arsen. Pandangannya lalu beralih pada Luna yang masih terbaring pasrah dengan penampilan yang acak-acakan. Tanpa perasaan, Gamma langsung menarik tangan wanita itu dengan kasar.
"Akhhhhhhh!" Luna memekik kaget, merasa tangannya sangat sakit karena tiba-tiba ditarik seperti itu.
"Dasar wanita murahan! Berapa kali aku mengatakan padamu, jangan biarkan tubuhmu disentuh pria lain!" Bentak Gamma begitu geram, untung saja ia tidak terlambat, kalau saja terlambat sedikit saja, Arsen pasti sudah menyentuh Luna.
"Memangnya apa perdulimu? Urusi saja istrimu saja, dasar menyebalkan! Kenapa kau ini tidak mau keluar dari otakku!" Teriak Luna sudah tidak tahu apalagi yang ia katakan, ia memukul da da Gamma untuk meluapkan kekesalannya.
"Jangan banyak bicara! Ayo kita pulang." Gamma tidak mempedulikan ocehan Luna, ia langsung menggendong Luna ala bridal dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
"Hei, pak bos, kau akan membawaku kemana? Jangan menemuiku lagi kalau kau masih mencintai istrimu. Ah .. kamu memang sangat menyebalkan Pak bos, aku membencimu!" Luna berteriak-teriak seraya terus berontak dari gendongan Gamma.
"Diamlah!" Bentak Gamma.
"Tidak, aku tidak mau diam, memangnya kau mau apa? Ayo turunkan aku!" Luna malah memasang wajah menantangnya, ia berontak dengan sangat kuat hingga Gamma melepaskannya.
"Aku mau pulang, haduh kepalaku sangat pusing," ucap Luna kini beralih memegang kepalanya yang sangat sakit. Ia berjalan menjauh tanpa memperdulikan Gamma.
"Oh shittt! Berhenti perempuan keras kepala, jangan memancing amarahku!" Bentak Gamma menyusul Luna lalu menyudutkan wanita itu ditembok, ia mengunci pergerakan Luna dengan memegang kedua tangannya dengan sangat erat.
"Lepas! Kau mau apalagi ha? Biarkan saja aku pulang, kau sudah tidak butuh aku lagi." Luna berteriak penuh kekesalan dan rasa kecewanya pada pria ini, matanya bahkan terlihat berkaca-kaca saat memandang Gamma.
Gamma bisa melihat sorot mata penuh luka dari Luna, wanita ini memang senang menyakiti dirinya sendiri. Padahal Gamma sudah rela meninggalkan Clarissa demi dirinya.
"Katakanlah untuk bertahan, maka aku akan bertahan untukmu," ucap Gamma memegang kedua pipi Luna dengan lembut.
Luna mengerucutkan bibirnya, matanya yang sayu itu bergerak-gerak. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tiba-tiba perutnya sangat mual dan tanpa ragu ia langsung memuntahkan segala isi perutnya, untung tidak mengenai Gamma.
"Luna!" Bentak Gamma begitu kesal, ia segera menangkap wanita itu saat tubuhnya langsung limbung begitu saja. Setelah itu Gamma membawanya pulang kerumah Luna.
*****
Sesampainya di ruko, Gamma langsung masuk, tadi ia sudah mengirimkan pesan kepada istrinya jika ada hal penting yang harus dia urus. Padahal ia hanya ingin merawat Luna yang masih tidak sadar.
Gamma membawa Luna ke kamarnya, ia meletakkan wanita itu perlahan dikasur. Namun saat ia merebahkan wanita itu, Luna justru tiba-tiba terbangun.
"Luna, kenapa kau terbangun? Ayo tidur lagi, ini sudah malam," ujar Gamma meminta Luna untuk tidur kembali.
Luna menggeleng pelan, entah karena efek mabuk atau bagaimana, Luna tiba-tiba menarik lengan Gamma lalu mencium bibirnya dengan sangat panas.
"Luna?" Gamma sampai kebingungan dan terkejut karena sikap agresif Luna itu.
Luna tidak berhenti disitu saja, ia terus mencium bibir Gamma sampai pria itu perlahan terdorong ke kasur dan ia berada diatasnya. Luna terus menciumi Gamma sembari mengelus da danya dengan gerakan yang memancing Gamma untuk membalas ciuman itu.
Puas menciumi bibir Gamma, Luna melepaskan ciumannya lalu duduk dipangkuan Gamma yang tengah terbaring itu.
"I Want U So Bad, Bos." Luna berbisik sangat lembut lalu kembali mendekatkan wajahnya, tatapannya sangat sayu dan menggoda membuat debaran jantung Gamma tidak terkontrol.
Sesaat kemudian, keduanya sudah larut dalam peleburan cinta yang begitu membara. Luna begitu agresif sampai Gamma seperti dibuat gila oleh sektretaris cantiknya itu. Hubungan mereka salah, tapi mereka tidak bisa menahan gejolak asmara dan nafsu yang menjadi satu.
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥