Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Dalam diamku kuberharap hatimu masih sebening embun pagi. Sehingga bayang wajahku masih bisa terpantul disana.
Begitu aku sampai di rumah ibu mertua. Tanpa banyak bicara aku memulai pekerjaanku. Lumayan banyak juga jenis makanan yang akan di masak. Tapi karena bumbu-bumbu sudah lengkap semua, aku tinggal meracik saja dengan takaran yang dibutuhkan.
Kumulai dengan merebus daging sapi dengan metode 5:30:5 yang pernah aku baca di sebuah group memasak. Juga telah pernah kupraktekkan, dan hasilnya memuaskan. Daging lebih empuk dan tidak butuh waktu lama saat proses merendangnya.
Aku juga melihat ikan mas yang akan dimasak arsik. Untunglah ikannya telah dipotong-potong. Aku tinggal membersihkanya saja.
Sambil merebus daging sapi, aku merajang beberapa sayur kulanjutkan mengupas kentang. Membuat acar dan sambal terasi. Semua pekerjaan itu aku kerjakan sendiri. Ibu mertua hanya bolak-balik mengawasi apa masih ada bahan yang kurang. Terkadang mencek rasa bumbu pada masakanku.
Ibu mertua mengangguk puas, atas hasil kerjaku.
Tak lupa juga aku memasak puding sebagai makanan penutup. Puding coklat kesukaan ibu mertua dan teman arisan ibu.
Menjelang sore, semua kegiatan masakku telah selesai. Semua hasil masakanku telah kutata rapi dan sebagus mungkin di atas meja.
Karena saat jamuan makan nanti, peserta arisan mengambil sendiri lauk dan makanan kesukaannya.
Ketika acara arisan tengah berlangsung, aku pergi ke toilet, karena sedari tadi aku menahan pipis. Saat aku keluar dari kamar mandi kulihat, Sarah, kakak iparku tengah memerhatikan makanan yang tersaji di meja. Sarah membelakangiku, sehingga tak menyadari kedatanganku.
Awalanya kupikir dia hendak mencicipi makanan itu, tapi dia tidak memegang piring atau apapun.
"Kakak mau makan, ya?" tegurku mengagetkannya. Aku jadi curiga ketika dia buru- buru menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Ih, kamu Ren, datang dari mana kamu datang. Bikin kaget saja," serunya.
"Kakak ipar ngapain?" tanyaku curiga.
"Gak, ngapa-ngapain kok," sahutnya. Tapi mimik wajahnya makin membuatku curiga.
"Kak ipar menaruh sesuatu pada masakan itu, ya?" sergahku. Langsung kutarik tangannya yang dia sembunyikan. Refleks, Sarah, menghindar dan tak sengaja menyenggol salah satu tutup panci. Sehingga jatuh dan menciptakan suara yang lumayan, mendengking.
Acara arisan kena interupsi. Dengan langkah tergesa ibu mertua menyusul ke dapur. Melihat aku dan ibu yang saling tarik menarik. Karena aku benar-benar penasaran apa yang di sembunyikan, Sarah.
"Kalian berdua, hentikan!" seru ibu antara berbisik dan mau berteriak. "Ada apa ini, Reny, dan kamu Sarah, sejak kapan kamu di sini," plotot ibu mertua heran.
"Aku barusan datang, Bu, lewat samping. Aku mau ambil makanan tapi dilarang,Reny," ucapnya berbohong. Gantian mataku yang melotot, mendengar kebohongan Sarah.
"Dia bohong, Bu. Kakak ipar mau memasukkan sesuatu ke makanan itu. Aku memergokinya, Bu. Coba ibu periksa apa yang dia sembunyikan di balik tubuhnya," aduku tak gentar.
"Betul, Sarah?" delik ibu. Sarah menunduk antara takut pada ibu dan geram padaku. "Coba ibu lihat tanganmu," ibu memeriksa tangan Sarah. Benar saja di tangannya ibu temukan bungkusan kecil.
"Apa ini?" ibu langsung merampas benda itu. Ibu memeriksanya ternyata garam. "Apa yang hendak kamu lakukan dengan garam ini, Sarah? Merusak acara arisan ibu, ya!" nampak sekali ibu tak bisa menahan amarahnya. Tapi mungkin beliau masih sadar, kalau ibu kedatangan tamu, teman arisannya.
"Apa kamu sudah membubuhkannya, pada makanan itu?" tanyaku memastikan. Sarah diam lalu menggeleng.
"Jawab Sarah!" hardik ibu dengan menekan suaranya.
"Belum, Bu. Reny, memergokinya jadi belum sempat aku masukkan."
"Bagus! Hampir saja kamu membuat malu ibu. Sekarang, cepat pergi! Sebelum tamu ibu curiga," ibu bergegas kembali ke ruang tamu. Kudengar ibu meminta maaf atas keributan kecil itu.
Sebelum Sarah, pergi. Aku sempat melihat kilatan matanya yang menatapku penuh kebencian. Aku hanya tersenyum pongah, tak gentar.
Dalam hati aku tak habis pikir, apa tujuannya melakukan itu. Jika dia berhasil tadi, tentu ibu mertua yang akan malu karena tamunya di jamu makanan asin.
Apa tujuannya hendak memperburuk hubunganku dengan ibu mertua? Ah, pusing aku memikirkan semua itu. Beruntung aku memergokinya, sehingga ibu mertua bisa melihat keculasan hati menantu kesayangannya itu.
Tapi aku ragu, ibu akan berubah sikap pada, Sarah. Mengingat kedekatan mereka selama ini.
Hanya saja aku sedikit terhibur, saat teman arisan ibu banyak yang memuji masakanku. Bahkan ada yang sudah berbisik padaku, akan menyewa jasaku memasak di rumahnya kalau dia yang dapat nomor arisan. Aku iyakan saja tawaran itu. Siapa tau ibu-ibu itu benar-benar mau memakai jasaku.
Ternyata bukan hanya teman arisan ibu yang puas. Ibu mertua juga sangat senang dan merasa puas. Sampai ibu menitip jajan anak-anak, hal yang belum pernah beliau lakukan, selama ini. Selain itu, ibu juga menyuruhku membawa sisa makanan yang belum tersentuh, untuk anak- anak. Aku bungkus saja secukupnya, karena cucu ibu masih ada yang lain.
Aku bergegas pulang, karena anak-anak terlalu lama aku tinggalkan. Devan memang sudah bisa aku andalkan jika hanya sekedar untuk mengawasi adiknya, Mitha. Tapi namanya anak- anak dia sering lupa, tak jarang adiknya ditinggal bermain.
Sekalipun aku telah minta bantuan, Bu Rani, tetangga depan rumah untuk membantu mengawasi mereka. Masih saja hatiku tidak merasa tenang.
Sesampai aku di rumah, kulihat jendela belum di tutup. Lampu juga sepertinya belum dinyalakan. Aku masuk ke dalam rumah. Anak-anak tidak ada. Lalu aku keluar, bertanya pada Bu Rani.
Aku memasuki teras Bu Rani. Sepertinya Bu Rani bersiap hendak sholat.
"Bu, ada liat anak-anak, gak?" tanyaku cemas.
"Eh, Reny, sudah pulang ya. Anak-anak sama bapaknya. Tadi papanya Devan pulang lebih cepat. Anak-anak mau dibawa main kata, Bram."
"Oh, trimakasih, Bu, infonya. Saya pamit dulu."
"Sama-sama, Bu Reny," ucapnya. Lalu aku bergegas pulang. Dengan pikiran yang diliputi tanda tanya.
Tumben, suamiku mau mengajak anak-anak jalan. Apa karena , aku ke rumah ibu untuk kerja memasak. Takut anak-anak terlantar di rumah. Apapun tujuan, Bram, membawa anak-anak ke luar rumah. Semoga saja cerita mereka nanti ungkapan rasa bahagia mereka bersama papanya. Momen terindah dalam hati mereka.
Aku telah selesai mandi, badanku terasa segar kembali. Setelah seharian berkutet dengan masakan di rumah ibu. Sambil menunggu kepulangan mereka, aku memanaskan lauk yang kubawa dari rumah ibu.
Tidak lama kemudian, kudengar suara mobil memasuki halaman. Lalu langkah kaki yang beradu menyusulku ke dapur.
"Mama!" teriak Mitha bersamaan dengan Devan. Keduanya memelukku erat, seolah sudah sebulan tak bertemu. Kulihat boneka panda besar di tangan Mitha. Devan, juga memegang raket. Benda yang sudah lama ia impikan.
Wajah kedua anakku berbinar bahagia. Hampir saja air mataku menitik haru. Ternyata, Bram, masih mau peduli untuk kebahagian anak-anak.***
"