Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Misteri Terhubung
Hampir 1 jam lamanya Ryan memeriksa berkas-berkas yang ada di lemari tersebut. Tapi dia tidak menemukan apa yang dia cari, bahkan beberapa flashdisk yang ada di laci lemari juga dia ambil, kemudian dia periksa di komputer kerjanya.
Semua dokumen-dokumen yang ada di flashdisk tersebut, nyatanya hanyalah rekapan dari beberapa laporan pekerjaan seperti biasa. Tidak ada yang membuatnya curiga, hingga pada saat flashdisk terakhir, dia menemukan sebuah foto memo dan juga cek dengan nilai yang fantastis, tapi semua itu tidak masuk dalam laporan perusahaan.
"Sepertinya ini foto dokumentasi pribadi, yang secara tidak sengaja simpan di flashdisk ini."
Ryan kembali mencoba untuk mencari beberapa laporan, yang ada berhubungan dengan cek maupun foto memo tersebut. Tapi sampai 10 menit lamanya, dia tidak menemukan laporan yang berhubungan dengan cek dan memo tersebut.
"Deal. Ini hanya dokumen pribadi saja."
Ryan sudah memutuskan bahwa penemuannya itu hanyalah sebuah kebetulan yang tidak sengaja. Tapi pada saat tangannya menyentuh tombol zoom, dia melihat nama seseorang, yang familiar untuk ingatannya.
"Ilham Jamaludin? Ini... ini kan nama Paman?"
Ternyata cek seharga 1 miliar itu atas nama Ilham Jamaludin, adik dari ayahnya Ryan sendiri.
Sebenarnya nama Jamaludin ini adalah nama kakek dari Ryan, jadi setiap anak laki-laki dari kakeknya Ryan, nama belakangnya pasti ada nama Jamaludin, kemudian cucu laki-laki dari anak laki-lakinya, juga memiliki nama belakang Jamaludin. Sama seperti Ryan sendiri.
"Paman Ilham pernah menerima cek sebesar ini dari perusahaan ST, apa hubungan Paman dengan pemilik perusahaan?" gumam Ryan bertanya, tentang penemuannya kali ini.
Ryan tidak pernah mengetahui jika Pamannya pernah bekerja di perusahaan ST, atau setidaknya memiliki kerjasama dalam bidang apapun dengan perusahaan sebesar ST ini.
Yang menjadi pertanyaan Ryan adalah, kenapa pamannya bisa menerima cek sebesar itu dari pemiliknya langsung, yaitu direktur utama perusahaan ST, yaitu Ammy Sudiarto.
"Tidak mungkin jika paman menerima cek sebesar ini secara cuma-cuma, jika tidak ada kesepakatan yang dibuat antara mereka berdua. Apalagi cek ini bukan atas nama perusahaan ST, tapi atas nama pribadi Ammy Sudiarto."
Dari penemuannya ini, Ryan akhirnya mengembangkannya sendiri dengan memeriksa memo yang ada di sebelah foto cek. Ternyata memo itu cukup singkat, mengenai sebuah pertanyaan, dengan tugas yang diberikan pada seseorang.
"Tugasmu cukup mudah, singkirkan dia untuk selamanya!" Ryan membaca teks memo tersebut dalam hati.
"Ini... ini perintah untuk membunuh seseorang?" tanya Ryan dengan membelalakkan matanya kaget.
Secara tidak langsung, Ryan menemukan bukti kejahatan yang dilakukan oleh pamannya, Ilham, yang ternyata memiliki hubungan dengan pemilik perusahaan ST.
"Tapi siapa yang menjadi target pembunuhan ini?" tanya Ryan lagi, mencoba mengurai teka-teki yang ada di depan matanya.
Sayangnya Ryan belum sempat menemukan jawaban atas misteri ini, ada nona Elly yang datang mengetuk pintu, kemudian langsung masuk karena Ryan lupa menutup pintunya.
Tok tok tok!
"Halo! Maaf ya, Aku langsung masuk," ucap nona Elly, yang saat ini sudah berada di seberang meja kerjanya.
Ryan yang tadinya sibuk dengan dokumen yang berada dalam flashdisk, mengangkat kepalanya, sehingga matanya sedari tadi hanya melihat layar komputer, kini menemukan paras cantik nona Elly yang tersenyum padanya, setelah mengucapkan permintaan maaf.
"Ohhh, Nona Elly. Silahkan, silahkan duduk!"
Ryan mempersilahkan nona Elly untuk duduk di kursi, yang tersedia. Tapi ternyata nona Elly menggeleng cepat.
"No. Aku datang ke sini bukan untuk duduk Ryan, tapi mau mengajakmu makan siang. Apakah Kamu ada waktu?" Ryan tertegun sejenak mendengar tawaran dari Bos Besar-nya itu.
"Emhhh..." Ryan melihat jam di pergelangan tangannya, hingga matanya membulat sempurna. Ternyata saat ini memang sudah lebih dari jam 12.00 siang.
"Hehehe... Aku lupa jika ini sudah istirahat."
Ryan baru tersadar, bahwa waktunya istirahat siang sudah sedari tadi, karena jam istirahat kerja ada di jam 12.00 sampai 13.00 siang.
"Bagaimana?" tanya Nona Elly sekali lagi, dengan ajakan untuk makan siang bersamanya.
"Emhhh... tapi, tapi apakah Saya pantas untuk menemani makan siang Nona Elly?" Ryan justru balik bertanya, dengan melihat keadaannya sendiri.
"Why? Is there something wrong with this lunch invitatio? Atau kamu sedang ada janji dengan seorang gadis?" selidik Nona Elly, dengan mengerutkan keningnya, seakan-akan menebak pikirannya Ryan.
"Oh bukan. Bukan seperti itu Nona. Saya... Saya hanya merasa tidak pantas menemani Nona makan siang."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Ryan, Nona Elly justru terkekeh kecil, "hihihi... kenapa? Tidak ada yang salah kitanya makan siang lho!"
Sadar dengan sindiran Nona Elly, Ryan akhirnya tersenyum canggung. Dia nyengir kuda, karena sudah terlalu percaya diri dengan ajakan makan siang bersama ini.
"Udah yuk! Keburu jam makan siang selesai," ajak Nona Elly tidak ingin membuang waktu lagi.
Akhirnya Ryan ikut berdiri dari tempat duduknya, mengikuti langkah Nona Elly keluar dari ruang kerjanya.
Mereka berdua pergi makan siang, memanfaatkan waktu istirahat kerja mereka. Padahal karyawan yang lainnya sudah beristirahat sedari tadi.
*****
Di tempat makan siang.
Nona Elly tidak mengajak Ryan untuk mencari tempat makan yang mewah, cukup yang ada disekitar perkantoran ST saja. Mengingat waktu yang tidak banyak.
Tapi pada saat Ryan masuk bersama dengan Nona Elly, dia melihat keberadaan Alex, atasannya pada kehidupan yang lalu, sedang menikmati makan siang bersama dengan Jhonson. Bahkan di sana juga ada Bos Leo, kakak kedua dari Nona Elly.
Sepertinya mereka sengaja membuat janji temu, dengan alasan makan siang bersama di tempat ini.
Tapi Ryan pura-pura tidak tahu, dan hanya fokus pada Nona Elly saja. Dia tidak ingin membuat ketiga laki-laki tersebut curiga, jika dia memperhatikan dan mengetahui pertemuan mereka saat ini.
"Itu Kakak!"
"Kak Leo!"
Nona Elly justru menyapa kakaknya, yang sedang berbincang bersama dengan dua orang tadi, Alex dan Jhonson.
Leo menoleh cepat, saat mendengar suara adiknya yang menyapanya. "Kamu sama siapa?" tanya Leo memperhatikan sekitar.
"Aku bersama dengan Ryan."
"Ryan sini!"
Nona Elly justru memanggil Ryan, yang sudah hampir duduk di kursi lain, yang lumayan jauh dari meja mereka berada.
Akhirnya Ryan terpaksa berjalan menuju ke tempat Nona Elly berdiri, dengan maksud ingin memperkenalkan dirinya dengan kakaknya Leo.
"Kakak, ini Ryan. Ketua divisi inovasi dan game yang baru." Nona Elly memperkenalkan ryan dengan memberikan penjelasan juga.
"Dan Ryan, ini adalah Kakak Leo, Kakak kedua setelah Kakak Heri. Dia ini adalah panutan untukku, sebab dia sangat sukses mengembangkan bisnisnya."
Nona Elly memperkenalkan Leo kepada Ryan, dengan membanggakan kakaknya itu, yang katanya sukses memegang bisnis-bisnisnya.
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!