Menceritakan keluarga sombong yang sangat kaya di kota namun di benci banyak orang.
Ada seorang petani yang pernah datang untuk meminjam uang pada keluarga yang kaya ini untuk berobat anaknya yang sedang sakit parah.
Tak di sangka bukannya pertolongan yang di beri oleh keluarga kaya ini tapi tindasan yang bertubi-tubi pada petani ini.
Karena tersinggung dan tidak terima akan perlakuaan keluarga kaya, petani membantai semua keluarga sombong itu.
Hingga akhirnya rumah itu sangat angker, arwah keluarga yang kaya dan sombong itu penuh dengan kebenciaan dan dendam.
Berpuluh tahun kemudian ada sepasang suami istri yang membeli rumah keluarga sombong itu dengan harga murah, tak di sangka ternyata rumah itu berhantu.
Namun sang istri ternyata bisa berkomunikasi dengan arwah yang penuh dendam itu, Apa yang akan terjadi dengan sepasang suami istri serta keluarganya? Akankah misteri di balik pembantai itu akan terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alsya suci maesya putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Pasca kebakaran
**Hai readers tercinta! Apa kabarnya? Semoga selalu sehat ya.
"Gimana? Kangen gak sama aku?
Hehehe... Makasih ya sudah kangen aku ya readers♡" Author.
"Uuu siapa juga yang kangen author ^,^ kita cuman kangen kelanjutan ceritanya saja, blekkk!!" Readers.
"Aihhh T.T, maaf deh maaf, ni bagi yang kangen kelanjutan ceritanya, selamat baca readers setiaku walau aku tidak di kangenin T.T" Author.
"Hehehe" Readers.
Readers ku tercinta jangan lupa beri like dan vote sebanyak-banyak ya.
Dan jangan lupa juga di jadikan favorite ya readers.
Salam hangat dari author
#alsya suci maesya putri**
Ibu, Cia dan Vivian terkejut mendengar kabar rumah mereka terbakar dari Lio.
Ibu Lio yang terkejut pingsan mendengar kabar rumahnya terbakar.
"Ibu!" Lio, Vivian dan Cia serentak menghampiri ibu yang pingsan.
Lio menggendong Ibu nya pindah ke kasur pasien yang bersebelahan dengan kasur pasien Vivian.
"Cia apa kamu ada minyak angin?" Tanya Lio khawatir.
"O ada ada Kak! Tunggu sebentar aku ambil dulu!" Cia mengambil minyak angin di tasnya.
"Cepat Cia!" Teriak Lio khawatir.
"Iya ini ini Kak!" Cia berlari tergesa-gesa mengantar minyak angin pada Lio.
Lio segera mengambil minyak angin dari Cia lalu memoleskan ke kepala Ibu dan mendekati minyak angin ke hidung Ibu agar terhirup oleh Ibu.
"Huhuhu Ibu bangun! Jangan buat aku takut! Ibu bangun!" Cia menangis memeluk Ibunya yang terbaring pingsan di atas kasur pasien.
"Aduhh kepalaku sakit sekali!" Ibu terbangun menyentuh kepalanya.
"Bagaimana keadaan Ibu?" Tanya Cia dan Lio serentak.
"Ibu tak apa nak! Cuman Ibu sedikit terkejut saja." Tutur Ibu lemah.
"Ibu dan Vivian di rumah sakit saja dulu ya! Aku dan Cia mau melihat rumah kita Bu." Pinta Lio memegang lembut tangan Ibunya.
"Tidak Yo, Ibu mau ikut juga." Jawab Ibu gelisah.
"Tidak! Jangan Ibu, Ibu sedang tidak sehat, lebih baik Ibu istirahat saja ya dengan Vivian di sini, Yo mohon Ibu! dengarkan Yo ya bu!" Lio memohon pada Ibu.
"Huhh, baik lah hati-hati ya!" Ibu pasrah tak berdaya mendengar permohonan dari Lio.
"Terima kasih Ibu." Lio mencium tangan Ibunya.
"Ibu, kami pamit dulu ya bu!" Cia memeluk erat ibunya.
"Iya hati-hati ya nak." Tutur Ibu pada Lio dan Cia.
Lio menghampiri Vivian.
"Vi, tunggu Kakak pulang ya! Banyak istirahat! Jangan banyak pikiran, kamu tinggal di sini dulu dengan Ibu nanti sore Kakak jemput kamu dan Ibu" Lio mencium kening Vivian.
"Baik Kakak, hati-hati ya!" Tutur Vivian lembut.
"Iya." Lio tersenyum memandang istrinya.
Lio dan Cia berangkat ke rumahnya.
Tak berapa lama Lio dan Cia sampai di rumahnya.
Rumahnya hangus tiada sisa.
"Kakak, huhuhu." Cia menangis melihat tempat tinggalnya sudah abis di lahap si jago merah dan hanya meninggalkan hitam arang.
"Tenang Cia, kan masih ada Kakak, hari ini kita tinggal di hotel dulu, besok kita tinggal di rumah yang Kakak beli ya, jadi kamu jangan menangis lagi." Lio memeluk adik kesayangannya yang sedang menangis mencoba menenangkannya.
"Hisk hisk hisk.. Tapi rumah ini merupakan peninggalan dari ayah Kak, aku jadi sangat sedih Kak" Cia menangis tersedu-sedu di pelukan kakaknya.
"Sudahlah adik kakak yang baik, kita harus menerima kenyataan ini, jangan menangis lagi, nanti adik kakak jadi jelek lo." Lio mencoba menghibur Cia.
"Biarin hisk hisk hisk" Cia menggosok-gosok matanya.
"Sudah jangan di pikirkan lagi! Kita balik yuk ke rumah sakit? O ya kamu mau apa biar Kakak belikan?" Lio mengajak Cia untuk membeli apa yang ia suka.
"Hisk hisk hisk, itu aku mau fried chicken Kakak, hisk hisk hisk " Sambil menangis Cia menyebutkan keinginannya.
"Pufff, hahaha.. Sudah ayo kita beli fried chicken dulu!" Lio mencubit hidung Cia gemes dengan tingkah lucu adik kesayangannya.
"Aduh hu hu hu, kakak jahat!" Cia mencubit balik hidung kakaknya.
"Aw iya iya, maaf ya Tuan putri, sekarang kita berangkat beli fried chicken ya." Lio berjalan perlahan sambil memegang tangan Cia menuju mobil.
Beberapa waktu kemudian.
"Ni uangnya Cia, kamu yang beli ke dalam ya! Kakak mau telpon seseorang dulu." Lio menyodorkan beberapa helai uang tunai berwarna pink.
"Baik kakak, beli berapa Kak?" Tanya Cia mengambil uang yang di sodorkan Lio.
"Terserah kamu, tapi jangan lupa juga untuk Ibu dan Vivian ya!" Jawab Lio menglihat ponsel.
"Siap Kakak." Cia membuka pintu mobil meninggalkan Lio di mobil.
Lio menghubungi bawahannya untuk membersihkan dan menyiapkan segala kebutuhan di rumah barunya.
Tak lama setelah Lio selesai menghibungi bawahan nya Cia pun kembali ke mobil membawa bungkusan makanan yang ia beli.
"Kakak, aku sudah kembali, lihat yang aku bawa ini, banyak kan kak!" Cia memamerkan 2 kantong bungkusan yang baru saja ia beli.
"Wahh, banyak sekali, apa sekarang Tuan putri sudah merasa senang?" Tanya Lio memanjakan adik kesayangannya.
"Iya aku senang sekali Kakak." Cia tersenyum meletakan bungkusan yang baru ia beli di kursi belakang dan kembali duduk di kursi depan.
"Sekarang kita ke rumah sakit ya." Lio menjalankan mobil.
"Iya Kak." Jawab Cia mengantuk.
"Kamu ngantuk ya Cia? Tidur saja dulu, nanti kalo sudah sampai di rumah sakit Kakak bangunkan kamu ya." Lio serius mengemudikan mobil.
"Zzzzzzz" Cia tertidur.
Kok diam saja? Lio melirik ke samping.
Eh, cepat sekali tertidurnya.
Mungkin Cia lelah karena menangis tadi.
Lio mengambil ponselnya dan menghubungi bawahannya sekali lagi.
Lio menyuruh bawahannya untuk membooking hotel.
Tak lama setelah itu Lio dan Cia pun sampai di rumah sakit.
"Cia! Cia! Bangun dek! Kita sudah sampai di rumah sakit." Lio membangunkan Cia yang tertidur.
"Hmm, iya Kakak, aku ke toilet dulu ya, Kakak duluan saja ke ruangan Ibu dan kak Vivian, nanti aku nyusul Kak." Cia mengucek-ngucek matanya turun dari mobil yang sudah di buka Lio.
"Oke, kakak duluan ya!" Lio pergi membawa bungkusan yang di beli Cia.
Cia pergi ke toilet sedangkan Lio langsung menuju ke ruangan Vivian dan Ibunya.
!!!!!! Itu bukan nya Vivian! Mengapa ia jalan sangat cepat dan ingin kemana dia?
Vivian! Tunggu aku!
Teriak Lio sambil mengejar Vivian.
Vivian tidak menyahut Lio.
"Ah aaa, lelahnya aku, akhirnya ke kejar juga." Lio lelah mengatur napas di belakang Vivian.
Vivian diam tidak ada respon.
"Kamu mau kemana Vi kenapa? Mengapa berjalan cepat sekali?" Tanya Lio kelelahan.
Vivian masih diam tidak ada respon.
"Vi, ayo kita balik ke ruangan, kasihan ibu tinggal sendiri." Lio mengajak Vivian kembali ke ruangannya.
Plakk! Tangan seseorang tiba-tiba menyentuh bahu Lio.
!!!!!!!!!! Lio terkejut.
Bersambung....
vivian jg ga bilang aja ke suaminya klo dia bisa lihat mereka 😔😔