NovelToon NovelToon
Love And Scandal

Love And Scandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:174.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nicegirl

Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.



Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Ingin Memiliki Anak

Makan malam berjalan dengan biasa saja, setidaknya untuk Rania dan mama Tian, tapi tidak demikian dengan Rana dan Rangga. Mereka hanya dapat sesekali mencuri pandang, dan mengulas senyum samar di bibir mereka, seolah hal ringan seperti itu dapat sedikit menghibur suasana hati mereka.

"Oh iya, Rania. Bagaimana kabarnya Jingga? Aku rindu sekali dengan keponakan aku itu. Tidak bisakah kamu mengajaknya serta ke rumah ini?"

Pertanyaan tiba-tiba Rania tentang Jingga yang merupakan putrinya sendiri itu tidak hanya berhasil menghentak Rana, tapi juga Rangga dan mama Tian. Mereka saling bertukar pandang sebelum akhirnya mama Tian yang lebih dulu memberikan jawaban atas pertanyaan Rania tadi,

"Ada bagusnya juga Jingga tidak ikut, Rana sayang. Jadi Rania bisa fokus merawat kamu. Mungkin nanti setelah Samu mendapatkan cutinya, dia bisa membawa Jingga ke sini."

Seolah inghin menguatkan jawabannya itu, mama Tian menoleh sedikit ke arah Rana, "Bukan begitu Rania?"

Rana mendesah pelan. Lagi-lagi ia harus berbohong, dan seperti biasa, ia tidak memiliki pilihan lain selain dari menguatkan ucapan mamanya itu.

Semoga saja Samu dan Jingga tenang di alam sana.

"Ya, Ma. Kalau nanti Mas Samu berhasil mendapatkan cuti, Mas Samu pasti akan membawa Jingga ke sini."

"Pasti rasanya menyenangkan memiliki seorang anak di antara kalian," gumam Rania pada dirinya sendiri sebelum meraih tangan Rangga untuk menggenggamnya dengan mesra,

"Rasanya aku juga ingin menghadirkan seorang anak juga ke dalam pernikahan kita, Mas. Terutama setelah aku nyaris meninggalkan dunia ini, aku belum mau pergi tanpa adanya keturunan. Aku mau pernikahan kita dilengkapi dengan hadirnya buah hati kita, Mas."

Sontak saja mendengar keinginan Rania itu membuat tatapan Rangga tertuju pada Rana. Matanya seolah berkata 'See?' Apa yang Rangga khawatirkan pada akhirnya akan terjadi juga. Dan hal itu membuat Rana menjadi panik karenanya,

"Na ... Kamu masih belum pulih betul. Sebaiknya untuk saat ini kamu fokus saja lebih dulu pada kesehatanmu, baru memikkirkan anak kemudian," saran Rana, ia tidak akan membiarkan keinginan Rania itu terwujud.

Mungkin karena selama ini Rana sering mencurahkan isi hatinya pada Rania perihal masalah rumah tangganya, termasuk juga masalah Rangga yang ingin menunda memiliki momongan lebih dulu sebelum mereka benar-benar mapan, sehingga Rania bernar-benar menjadi sosok Rana seutuhnya.

Karena semua permasalah yang Rana hadapi, Rania mengetahuinya dengan sangat jelas. Pun demikian dengan masalah mama Tian yang selalu mendesak Rana dan Rangga untuk segera hamil, hingga Rangga menjadi sedikit kesal dengan mertuanya itu.

"Na, kenapa kamu tiba-tiba ingin memiliki anak? Sebelumnya kamu selalu menolak setiap kali Mama memintamu untuk melakukan program kehamilan." tanya mama Tian dengan lembut.

"Tadi sudah aku bilang, kalau setelah nyaris saja bertemu dengan Tuhanku, aku baru menyadari kalau aku belum memiliki keturunan, Ma. Aku kasihan dengan Mas Rangga kalau aku meninggalkannya seorang diri tanpa adanya anak yang dapat menghiburnya," jawab Rania.

"Benar yang Rana ucapkan barusan, untuk saat ini kesehatanmu jauh lebih penting."

Ucapan lembut Rangga membuat perhatian Rania teralihkan sepenuhnya padanya,

"Rana? Maksudmu aku? Justru aku yang ingin segera memiliki keturunan, Mas."

"Eh, maksudku ucapan Rania. Ya, Rania ucapan Rania barusan ada benarnya juga, Rana. Lebih baik kita fokus saja dulu dengan pengobatanmu. Lagipula kamu harus terus terapi kan supaya kamu bisa berjalan lagi?" ralat Rangga.

"Dengarkan suami kamu itu, Rana. Tidak baik untuk kandunganmu nantinya kalau kamu terus mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan selama masa kehamilan. Apa kamu tidak kasihan dengan calon janinmu itu nantinya?"

"Tapi ... "

Rana menangkup mulutnya saat telapak tangan Rangga yang bebas diletakkan di atas punggung tangan Rania yang tengah menggenggam tangannya itu,

"Rana dengarkan aku. Setelah kamu sepenuhnya pulih dan dapat beraktifitas dengan normal lagi, baru aku akan mewujudkan keinginan kamu itu, bagaimana?"

"Tapi prosesnya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan Mas," sungut Rania.

"Mau satu tahun sekalipun aku akan terus berada di sampingmu untuk selalu mendukungmu. Jadi, apa lagi yang kamu khawatirkan? Toh aku juga memang belum mau memiliki anak lebih dulu, setidaknya sebelum kita benar-benar mapan, Rana."

"Kenapa kamu memanggilku Rana? Mana panggilan sayangmu untukku?"

Terdengar helaan napas berat Rangga sebelum akhirnya mengucapkan apa yang ingin Rania dengar,

"Baiklah, Beb. Bagaimana? Apa kamu mau menuruti keinginanku untuk menunda anak lebih dulu?"

Tangan Rana yang tengah memegang sendok pun seketika bergetar, rasanya ia tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan mereka. Meski demikian, Rana tetap berusaha menahan dirinya untuk tidak segera menghambur pergi dari sana.

Mendengar suami sendiri memanggil wanita lain dengan panggilan yang hanya dikhususkan untuknya itu membuat hati Rana seolah terbakar. Meski ia tahu kalau semuanya hanya karena sandiwara belaka, demi Rania tentunya.

Namun hati tidak dapat bersandiwara pada apapun yang akan membuatnya terluka.

"Ya sudah, aku akan menundanya. Sekarang aku sudah menyelesaikan makananku, aku mau kembali ke kamar."

Rangga meraih tissue untuk membersihkan mulutnya sebelum berdiri dan membopong Rania yang langsung bergelayutan manja padanya,

"Kami ke kamar dulu Ma, Nia!" serunya tanpa mengalihkan perhatiannya pada wajah tampan Rangga.

"Lain kali, kendalikan dirimu saat sedang bersama Rania!" perintah tegas mama Tian yang terdengar di telinga Rana saat Rangga dan Rania sudah tidak terlihat lagi.

"Maksud Mama?"

"Mama tadi melihat tanganmu yang gemetar, dan bersikap seolah ingin menusukkan garpu di tangan kamu itu ke Rania. Ingat, Rana. Ini hanya sementara saja. Lagipula Mama yakin, Rangga pasti dapat menjaga kesetiaannya padamu."

"Aku pun meyakinkan demikian, Ma," lirih Rana.

"Lalu kenapa kamu memperlihatkan kecemburuan kamu barusan? Kamu cemburu pada adik kamu sendiri yang tengah berjuan untuk segera pulih?"

"Ya Tuhan, tentu saja tidak Ma," sangkal Rana.

"Kalau kamu tidak dapat menahan dirimu di depan mereka, lebih baik kamu makan di dapur saja! Mama tidak mau kesehatan Rania terganggu karena kecemburuan konyol kamu itu. Kamu selalu saja cemburu pada Rania!"

Rana anak pungut! Ya, pasti Rana anak pungut, karena jelas sekali perbedaan kasih sayang yang mama Tian tujukan padanya dan pada Rania.

Tapi, ia dan Rania adalah saudara kembar. Jadi sekali lagi Rana harus menelan pil pahit dari kenyataan itu.

"Mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Bagaimanapun hal ini baru untukku, selanjutnya mungkin aku akan terbiasa melihatnya. Aku janji, aku tidak akan menampakkan perasaanku di depan mereka, Ma."

"Bagus. Mama tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai Rania kembali koma lagi akibat dari tingkahmu itu. Bersikaplah dewasa, sesuai dengan usia kamu itu!"

1
Nia Rahmi
upp lg thor🙏
Nuryanto Yanto
lanjut kak 💪
Nuryanto Yanto
lanjut up kak
Yusi Lestari
akhirnya ketahuan juga perbuatan bejat rangga dan rania.ngapain kamu mikirin emakmu lha wong emakmu udah tahu semua
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
uppppppp
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
rangga rania klian akan sengsara
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
kasian kmu rana😭😭😭😭😭 smua pda nyakitin kmu termasuk mama mu
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
duhhhh ananta ago rebut lgi milikkk mu dri rangga
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
kan kan kthuan kan😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
berharap rana balik lagi krmh nya dgn bgitu kthuan
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
gila kmu rangga aku sumpahin klian hancur se hancur nya nanti😭😭😭😭😭😭😭😭
raa
yey.. ketahuan...
Nia Rahmi
gak usah deh mikirin mama gila kamu itu,dialh biang semua kesengsaraanmu
Yusi Lestari
aku kok gak yakin kalau rangga dan rania bakal ketahuan kayaknya ini masih dibuat rahasia sama author
Nia Rahmi
benci banget dgn mereka bertiga ini...thor kasi karma yg setimpal ya sama rania rangga dan mama tian..mereka ini pengkhianat dan gak punya hati
raa
ketauan gk nih..
anggel
cerai ajah lki model gitu
Wasni
Hah sedih aq bacanya😭😭
falea sezi
males bertele. tele
Wasni
Kpn update lg kk??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!