Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari Bersama-sama
Malam hari demam Shakeel sudah lumayan mendingan, dia sudah tidak lagi mengigau dan mengeluh nyeri seperti sebelumnya.
Adhi menyarankan Maya untuk menginap malam ini, Adhi kebingungan kalau tiba-tiba Shakeel kembali demam tinggi dan tidak ada Maya disana. Dan lagi Shakeel tidak mungkin dibawa ke rumah Maya dengan kondisi yang masih belum pulih sepenuhnya.
Tapi Adhi tidak memaksa wanita itu, ia hanya menyarankan dengan sedikit memaksa. Dan karena tak ada pilihan lain Maya pun memilih menginap di kediaman Adhi sampai Shakeel sembuh.
Adhi pun meminta Maya tidur di kamarnya menemani Shakeel, sedangkan ia akan tidur di ruang tamu, Adhi tak mau membuat Maya merasa tak nyaman.
Pukul sembilan malam Maya pergi ke dapur, ia ingin membuat kopi agar bisa bergadang menjaga sang putra.
Maya berjalan menggunakan pakaian tidur milik Adhi yang pria itu pinjamkan, karena sejak datang kesini Maya tak membawa pakaian ganti, tak mungkin ia memakai pakaian formal ketika hendak mengistirahatkan diri.
Maya memasuki dapur dengan ragu-ragu, tampilan dapurnya juga masih sama setelah dua tahun Maya tidak kesini. Ia masuk dan membuka laci dapur tempat dulu ia menyimpan gelas.
Ketika lemari terbuka benar saja, gelas berjejeran disana. Maya mengambil satu gelas berukuran sedang.
Kemudian membuka lemari tempat menyimpan kopi dan bahan minuman lainnya, tempatnya pun masih sama, tak ada yang berubah sedikitpun.
Maya mulai meracik kopi yang biasa ia buat, sambil berkelana di dalam pikirannya, memikir banyak hal semenjak ia masuk ke dalam bangunan megah ini.
Sangking asyiknya melamun Maya tak sadar jika ada seseorang yang berdiri di ambang pintu.
"May....."
Maya terlonjak, ia berbalik dan mendapati Adhi disitu.
"Astaga....! Mas kamu mengejutkan ku saja" pekik Maya memegang dada kirinya yang berdetak cepat.
"Maaf.... "
"Sedang apa?" Tanyanya mendekat.
"Aku sedang membuat kopi, malam ini aku harus bergadang untuk menjaga Shakeel. Maaf aku tidak izin dulu pada mas, aku kira mas sudah tidur tadi"
"Tidak masalah, seharusnya kamu panggil saja pelayan jangan repot-repot membuatnya sendiri" Adhi terlihat santai mengobrol dengan Maya.
"Aku lebih suka meraciknya sendiri" ungkap Maya.
Adhi beralih pada gelas yang sedang diaduk itu, aroma kopi racikan Maya memang sangat berbeda, aromanya saja tercium hingga keluar, menarik perhatian Adhi yang baru saja keluar dari kamar tamu.
"Kenapa mas belum tidur?" Ucap Maya bertanya balik.
"Tidak bisa tidur, kepikiran Shakeel terus" ungkap Adhi.
Maya mengangguk paham, sepertinya Adhi memang tidak akan tenang jika Shakeel belum benar-benar sembuh, mungkin rasa bersalahnya yang membuat Adhi seperti ini.
"Mau aku buatkan kopi?" Tawar Maya.
"Hah?" Adhi ternganga.
"Bagaimana? Mumpung aku masih disini, sekalian saja"
Adhi menimang-nimang, ia memang jadi tergiur dengan aroma kopi tersebut. Mungkin ia bisa menikmatinya sekali-kali, kapan lagi ia akan meminum minuman kesukaannya ini.
"Kalau tidak merepotkan mu, aku ingin satu"
Dona tersenyum lalu kembali mengambil bubuk kopi di lemari dapur.
"Semuanya masih sama" seru Maya.
"Apanya?" Adhi mengangkat satu alisnya tak mengerti.
"Letak bahan dan peralatan dapurnya, aku masih mengingat semuanya" kata Maya memperjelas.
Adhi terdiam sesaat, memandang setiap pergerakan Maya. Entah kenapa ucapan Maya terdengar sendu baginya.
"Tidak ada yang aku ubah selama ini" cicit Adhi dengan raut muka yang mendadak murung.
Semenjak Maya pergi Adhi memang menyuruh pelayan yang baru ia pekerjaan untuk meletakkan barang-barang sesuai letak yang sudah di tentukan. Ia tak mau ada yang berubah, begitupula dengan kamarnya, ketika barang-barang Maya sudah tidak ada, tak ada yang Adhi tambahkan maupun kurangkan.
Mungkin karena dulu ia masih sangat mencintai mantan istrinya tersebut, tetapi kini..... Entahlah, Adhi tak bisa membaca perasaannya sendiri pada wanita ini. Yang pasti Adhi hanya ingin berhubungan baik dengan Maya.
***
Seusai meracik kopi Adhi dan Maya memilih menikmatinya di balkon kamar, sembari menjaga Shakeel yang sedang tertidur mereka menyesap kopi itu sambil memandang bintang-bintang.
Tak pernah terbayang dibenak keduanya bila mereka akan berada dalam situasi seperti ini, berdua di dalam balkon kamar yang menyimpan banyak kenangan bagi Adhi maupun Maya.
Maya ingat dulu mereka sering memandang langit malam sembari bertukar cerita tentang hari yang terlewati. Dulu seperti ini saja sudah terasa romantis, namun sekarang status mereka sudah berbeda, ada disini pun karena sebuah ketidaksengajaan.
Tetapi Maya tak akan menyia-nyiakan moment ini, ia harus bisa mengambil kesempatan di setiap moment bersama Adhi. Meski Maya tau hal ini bukan bagian dari rencananya tetapi tak ada salahnya jika ia menjadikan waktu tersebut sebagai sebuah bonus balas dendam.
"Mas...."
Adhi berdehem sambil meminum kopi.
"Hmm....?"
"Terimakasih ya mas sudah mau menghabiskan waktu bersama Shakeel selama satu tahun ini, mas sampai rela bekerja di rumah demi Shakeel" kata Maya basa-basi.
"Jangan berterimakasih, itu sudah menjadi tugasku sebagai orang tua. Aku... Justru minta maaf jika tidak dari dulu aku melakukannya" bantah Adhi, ia menyesal sudah melewatkan momen penting tumbuh kembang sang anak, banyak waktu yang terbuang sampai rasa rindu itu tak bisa di tampung lagi, akhirnya Adhi baru kembali menghubungi Maya dan meminta izin untuk bertemu Shakeel.
"Aku paham, untuk kedepannya.... Mas boleh mengunjungi Shakeel kapan saja. Tidak harus seminggu dalam sebulan, mas bisa datang kapan saja jika mas merindukan Shakeel. Aku juga tak mau menjadi tembok penghalang antara mas dan anak kita" lirih Dona menunduk, meyakinkan Adhi jika ia sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Adhi tertegun! Sedikit tak menyangka dengan apa yang di ucapkan Maya. Benarkah Maya mengizinkannya bertemu dengan Shakeel setiap waktu??? Bukankah dulu Maya memberi syarat khusus untuknya?? Sejenak Adhi mematung di tempat.
Tak ada respon dari Adhi, membuat Maya melancarkan aksi yang lain.
Maya mengambil lengan Adhi untuk yang kedua kali, menautkan jari-jari mereka satu sama lain, tak peduli terhadap apa yang akan dipikirkan oleh laki-laki ini.
"Mas.... Aku tidak ingin perpisahan kita menjadi hambatan bagi pertumbuhan Shakeel ke depan, saat-saat seperti ini anak seusianya harus mendapat dukungan dan pendamping dari orang tua yang lengkap. Meski tidak akan sama seperti dulu namun setidaknya kita bisa perbaiki mumpung belum terlalu jauh, aku juga yakin mas pasti ingin bertemu Shakeel setidaknya setiap Minggu" tutur Maya panjang lebar, mengajukan opininya selama ini. Meski sebenarnya ucapannya dilebih-lebihkan tetapi argumen Maya adalah kenyataan yang harus dilakukan.
Adhi termenung sesaat, perkataan Maya tak ada yang meleset sedikitpun. Semuanya benar! Ada perasaan bahagia yang timbul kala membayangkan jika ia bisa menemui sang anak kapanpun dirinya mau, tetapi tidakkah Maya akan merasa risih dengan kehadirannya???
"Mari kita dampingi Shakeel setiap waktu, mas. Mari kita buktikan jika perceraian bukanlah hal yang mustahil untuk kita membesarkan Shakeel bersama-sama. Ayo buat Shakeel bahagia, setidaknya.... Sampai diantara kita ada yang berencana membangun keluarga baru" tambah Maya melanjutkan.
Adhi menatap manik coklat Maya dalam-dalam, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Meski ada beberapa pertanyaan di benaknya tetapi mendengar permintaan Maya membuat Adhi tak ingin membuang waktu lagi.
"Baiklah.... Aku setuju. Terimakasih sudah memberi ku kesempatan emas ini" balas Adhi gembira.
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,