Naura Aurora, (18thn). Gadis SMA yang memiliki nasib menyedihkan, karena selalu diremehkan oleh ketiga kakaknya bahkan dia nyaris dijual untuk membayar hutang sang kakak.
Arnold William Maxime (35thn). Seorang pengusaha besar, tampan dan gagah yang memiliki hobi membawa racun serangga kemanapun dirinya pergi, memiliki tangan ajaib, takut ketinggian, dan hal-hal aneh yang belum pernah dia lihat.
Kira-kira, bagaimana jadinya jika mereka disatukan secara tidak sengaja dalam satu rumah? Ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Mendengar pertengkaran Laila dan suaminya yang begitu menegangkan, Naura terus memeluk keponakannya yang sedang menutup kedua telinganya.
"Sandi, Tante punya lagu bagus. Kamu mau dengar?"
Sandi menganggukan kepalanya.
Naura meraih ponselnya, dan memasangkan headset ketelinga Sang keponakan agar sandi tidak bisa mendengar pertengkaran kedua orang tuanya yang banyak mengeluarkan bahasa kebun binatang.
Sambil menunggu perang antara Laila dan suaminya usai, Naura membuka buku pelajarannya sementara sandi sibuk mengangguk-anggukkan kepalanya karena mendengar musik.
Awalnya bocah berkulit coklat itu hanya menganggukkan kepalanya, tapi lama-lama Sandi mulai berdiri dan menggoyangkan badannya mengikuti irama musik yang dia dengar.
Naura menatap sandi yang sedang berjoget pargoy sambil mengerutkan keningnya. Naura heran, perasaan dia memutar lagu anak-anak kenapa sandi berjoget pargoy? Memangnya lagu tirex bisa dibuat pargoy? Naura bertanya-tanya heran.
"Sandi, kamu lagi ngederin lagu apa?" tanya Naura penasaran.
"Ini loh, yang biwir bereum-bereum jawer hayam, panon coklat kopi susu," ucapnya sambil bernyanyi.
"Astaga! Masa anak tujuh tahun dengerinnya lagu runtah," seru Naura menepuk jidatnya.
"Nggak apa-apa tante, ini itu lagi viral tahu," ujar sandi yang menggerakan badannya maju mundur.
Naura hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bocah tujuh tahun yang sudah banyak tahu itu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya Naura merasa sedikit lega karena dengan musik itu Sandi jadi melupakan rasa takutnya terhadap pertengkaran kedua orangnya.
Pertengkaran itu pun diakhiri dengan suara dentuman keras dari pintu yang dibanting oleh suami Laila.
"Pergi sana! Aku tidak butuh pria yang selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan keluarga!" teriak Laila pada suaminya yang pergi.
"Sandi!" teriak Laila lagi memanggil putranya.
Naura yang mendengar kakaknya memanggil sandi, langsung menepuk sang keponakan. Mengambil ponselnya dan menyuruh sandi untuk menghampiri sang ibu.
Awalnya sandi menolak, karena takut tapi Laila yang terus berteriak membuat sandi mau tidak mau harus menghadap ibunya.
Tak berselang lama setelah kepergian sandi dari kamarnya, Laila tiba-tiba datang menendang pintu kamar Naura sampai gadis itu terperanjat karena terkejut.
Brak ...
"Kamu ngomong apa sama, si Junaedi!" bentak Laila tiba-tiba.
Naura mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kakaknya.
"Jawab Naura! Kamu sengaja mau membuat rumah tangga aku hancur hah!" Laila meraih botol minum sandi yang masih terisi penuh dengan air, dan melemparkannya ke arah Naura.
Botol itu berhasil mengenai bahu gadis cantik yang sedak duduk di dekat ranjangnya.
"Dasar a*njing, goblok mau kamu apa sih! Dasar pembawa sial, pembuat onar." Laila terus mencaci maki Naura sambil menarik dan menggoyang-goyangkan kepala Naura sekuat tenaga.
"A-ampun kak, ampun ... aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun," ucap Naura sambil menangis.
"Pembohong! Pasti kamu kan yang sudah mengadu kalau aku sering membawa laki-laki ke rumah ini, kamu memang an*jing Naura! Argh." teriak Laila yang membenturkan kepala adiknya ke tembok.
Gadis itu meringis sambil menangis, entah dosa apa yang telah ia perbuat selama hidupnya sehingga ia selalu di rundung masalah dan di fitnah.
"Pergi kamu dari sini! Aku tidak mau melihat muka kamu lagi, kamu pembawa sial ... Aku akan menelpon juragan jaka supaya dia menjemput kamu kesini," tutur Laila yang masih terisak, wajahnya terlihat begitu merah karena emosi sedang menguasainya.
Naura merangkak ke kaki laila dan bersujud di kaki sangkakak. "Jangan kak, aku mohon jangan suruh aku kesana lagi. Aku tidak mau menikah dengan juragan jaka."
Laila menendang Naura, sampai gadis dengan perawakan kurus itu tersungkur. "Aku tidak mau tahu, kau harus kesana lagi agar rumah ini tidak di sita."
"Nggak kak, aku nggak mau. Aku nggak mau kak, beri aku waktu ... aku akan membayar hutang-hutang kakak dengan cara lain, aku mohon jangan kirim aku ke rumah juragan jaka lagi," pinta Naura. Ia memohon sambil memeluk kaki kakaknya berharap hati sang kakak luluh dan berubah pikiran.
"Oke, aku tidak akan mengirimmu ke rumah juragan jaka. Asalkan kamu benar mau membayar semua hutang-hutang ku pada juragan jaka."
Naura mengangguk cepat. "I-iya kak, aku akan berusaha untuk melunasi semua hutang-hutang kakak."
Laila yang masih merasa kesalpun menghentakkan kakinya, lalu menyambar kunci motor dan pergi meninggalkan rumah tanpa membawa sandi.
Naura kembali menangis dan berteriak, merasakan hidupnya yang selalu saja disalahkan dengan apa yang tidak pernah ia lakukan.
Gadis itu menangis histeris sejadi-jadinya, ia benar-benar merasa frustasi dengan kehidupannya. Dijual, difitnah, dibully dan sekarang dituduh ingin menghancurkan keluarga kakaknya.
Ah, hidup Naura sudah benar-benar hancur lahir batin, saking hancurnya gadis itu hanya bisa merasakan sesak yang seakan mencekik lehernya dan sulit untuk di ceritakan.
"Tante." Sandi menyentuh bahu Naura dengan mata yang berkaca-kaca.
Naura menatap nanar keponakannya, dan kembali menangis sambil memeluk tubuh kecil sandi.
"Tante jangan menangis, maafkan Mama," ucap Sandi yang juga ikut menangis dalam dekapan Naura.
Gadis itu tak menghiraukan ucapan Sandi, karena saat ini ia hanya sedang ingin menangis untuk meluapkan emosinya.
🌸🌸🌸
Keesokan paginya, setelah semalaman Naura tidak tidur karena harus membereskan rumah yang berantakan akibat pertengkaran Laila kemarin. Kini Naura terlihat sibuk mengurus sandi yang mau berangkat ke sekolah.
Laila dan suaminya tidak pulang tadi malam, jadi Naura yang harus mengurus sandi dari mulai memakai seragam dan mengantarkannya ke sekolah.
"Sandi sekolah yang pinter ya, jangan nakal oke."
"Iya Tante." Sandi mencium tangan Naura dan masuk ke dalam kelasnya.
Setelah melihat keponakannya masuk ke dalam kelas, Naura memutar tubuhnya dan bergegas untuk pergi ke sekolah dengan menaiki ojeg yang tadi ia pesan untuk mengantar sang keponakan.
Setelah membayar ongkos pada mamang ojek, Naura yang masih sibuk menatap ponselnya sambil berjalan tanpa sengaja menabrak Farel yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.
Bruk ...
"Eh, sorry," ujar Naura tanpa melihat pada lawan bicaranya dan melanjutkan langkah kakinya.
"Hei, janda. Lo nggak punya mata apa, jalan sampe nubruk- nubruk gitu," teriak Farel pada Naura yang berjalan sudah cukup jauh darinya.
Naura menghentikan langkahnya, menarik napasnya dalam dan kembali menghampiri Farel.
"Tadi lo bilang apa? Gue nggak punya mata?" Naura tersenyum kecut dan berdehem. " Ekhem, Ini mataku mata kanan mataku, mata kiri mataku mata mata huaaahhh," setelah memelototkan matanya pada Farel dengan gerakan seperti yang ada di video viral, Naura langsung memasang wajah datarnya dan pergi dari hadapan Farel yang sedang tercengang dengan tingkah Naura yang random.
"W-what the f*uck, dasar cewek prik," umpat Farel pada Naura yang berhasil membuatnya tak berkedip sedikitpun. Dia menggelengkan kepalanya cepat untuk meraih kesadarannya.
Bersambung.