Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Ayuna menarik dagu Davian dengan paksa karena sedari tadi pria itu terus memalingkan wajahnya.
"Om sini dulu, biar aku lihat luka Om!" Kata Ayuna dengan suara meninggi karena kesal pada Davian.
"Hah? Oh luka?" kata Davian yang merasa malu sendiri karena mengira Ayuna ingin melakukan hal lain.
"Om terluka, pasti ribut lagi kan sama Bara? Om kenapa tidak mau mengalah sih? Kayak anak kecil saja, meladeni Bara," gerutu Yuna sambil berjalan menuju nakas, mengambil kotak obat.
Davian tiba-tiba merasa kesal karena ucapan Ayuna, apalagi disuruh mengalah pada bocah kencur itu, tidak akan, Davian juga kesal karena Yuna mengatai dirinya seperti anak kecil. Tidak tahukah Yuna, jika bisa saja, Davian menunjukkannya saat itu juga bahwa dia bukan anak kecil, tapi pria dewasa yang bisa...Davian buru-buru menepis pikiran kotor yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Tidak ingin jika hal itu benar-benar terjadi pada Yuna, Davian pun bangkit dan lebih memilih meninggalkan Yuna untuk saat ini.
"Om mau kemana?" Tanya Ayuna karena Davian justru bangun sebelum dirinya mengobati luka Davian.
"Tidak perlu, Om bisa mengobatinya sendiri nanti," ucap Davian ketus.
"Om, Ayuna tahu Om pasti marah sama Yuna karena waktu di rumah sakit Yuna pergi tanpa meminta izin dari Om, tapi Ayuna tidak pamit karena tak ingin mengganggu Om yang sedang tidur nyenyak, lagian Yuna juga tidak pergi jauh-jauh, Yuna juga baik-baik saja, Om bisa lihat sendiri!"
Davian semakin kesal karena Yuna tidak juga mengerti kenapa dirinya marah, iya karena itu Davian memang marah, tapi Davian lebih marah karena Yuna diam-diam pergi dan parahnya lagi keponakannya itu, justru pergi bersama Bara.
"Sini Om!" Yuna menarik Davian agar kembali duduk di atas ranjang.
Tapi Davian kali ini tidak menurut, dia justru menepis tangan Ayuna.
"Aww!" Teriak Ayuna saat tangannya yang digips terkena sudut meja.
"Yuna kamu tidak apa-apa sayang? Maafkan Om, Om tidak bermaksud untuk melukaimu," kini giliran Davian yang menarik tangan Ayuna dan meminta gadis itu untuk duduk di atas ranjang.
"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" Kata Davian lalu buru-buru hendak mengangkat tubuh Ayuna.
Tapi dengan satu tangannya yang lain Ayuna menahan Davian, "Yuna tidak apa-apa Om, jadi tidak perlu bawa Yuna ke rumah sakit," ucapnya menatap Davian sambil meringis menahan sakit.
"Tapi kamu…"
Yuna menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan perlahan, menarik sudut bibirnya ke atas, menunjukkan pada Davian bahwa dirinya baik-baik saja.
"Baiklah," pasrah Davian dan kini dia duduk di samping Yuna.
Yuna langsung merubah posisi menghadap Davian. Tangannya terulur menyentuh bibir pria itu dengan jarinya, membuat Davian terkesiap dan spontan menatap Yuna.
Yuna mengulum senyum, memindahkan jarinya ke sudut bibir Davian yang terluka, bahkan sengaja menekannya cukup keras.
"Argh!" Davian meringis pelan saat Yuna seperti sengaja menekan lukanya.
"Kenapa sakit kan? Makanya, biar Yuna obati dulu," kata Yuna dengan sedikit kesusahan karena hanya bisa menggunakan satu tangannya.
Yuna kemudian fokus mengobati luka Davian, tapi saat menatap bibir pria itu, Ayuna sampai beberapa kali menelan salivanya. Teringat saat bibir itu menempel pada bibirnya, tidak bahkan lebih dari itu.
Tak berbeda dengan Ayuna, Davian pun kini menatap Yuna tanpa berkedip, keponakannya yang sejak kecil dia urus kini sudah sebesar ini dan tumbuh menjadi gadis yang cantik, itu kenapa Davian semakin over protektif terhadapnya, tidak ingin laki-laki lain dekat sama Yuna dan berakhir menyakitinya. Pandangan Davian beralih pada bibir Ayuna yang sedikit terbuka, ingin rasanya Davian…
Tak
Davian tiba-tiba memukul kepalanya sendiri.
"Sadarlah Davian, di depanmu ini adalah keponakanmu sendiri, masih banyak wanita yang menginginkanmu, jadi hentikan pikiran kotormu itu," monolog Davian dalam hati.
Sementara itu Ayuna yang mengingat ciumannya bersama Davian terkejut saat om nya itu tiba-tiba memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa Om?" Tanya Yuna menatap Davian.
"Tidak apa-apa, tadi sepertinya ada nyamuk," Davian buru-buru bangkit, sepertinya dia benar-benar harus menghindar dari Ayuna.
"Kamu istirahat, Om akan memasakkan makanan kesukaanmu, kamu bilang tadi lapar kan?" Kata Davian yang kemudian langsung keluar begitu saja.
Ayuna hanya bisa menatap sendu kepergian Davian. Yuna menghela nafas, menaruh kotak obat yang tadi selesai digunakannya ke tempat semula. Kemudian kembali duduk di atas ranjang, tiba-tiba teringat dengan wanita yang memeluk om nya sewaktu di rumah sakit yang membuat dada Ayuna mendadak merasa sesak. Dan entah kenapa Ayuna merasa takut jika wanita itu akan merebut Davian darinya. Yuna benar-benar tidak ingin hal itu terjadi. Yuna harus memikirkan cara agar bisa menarik om nya, ya bagaimanapun juga Yuna harus mendapatkan Davian.
Yuna tahu dengan jelas jika perasaan yang dirasakannya itu salah, tapi jika salah kenapa perasaan itu harus tumbuh di hatinya, bahkan semakin lama perasaan itu semakin menggila. Lantas siapa yang harus disalahkan? Ayuna juga tidak ingin merasakan perasaan semacam itu terhadap Davian, tapi jika sudah terlanjur tumbuh dan tidak bisa menghapusnya, bukankah Yuna harus berjuang? Berjuang hingga akhir tidak peduli hasilnya nanti. Ayuna kemudian memilih merebahkan dirinya di atas ranjang, entah karena lelah atau mengantuk gadis itu langsung terlelap begitu memejamkan matanya.
*
*
Sementara itu di sebuah ruangan dengan kaca besar yang mengelilinginya, seorang pria berkacamata yang kini sedang membaca berkas-berkas satu persatu di atas mejanya, terpaksa menghentikan kegiatannya dan mengangkat kepala saat melihat seorang wanita dengan blouse dan rok span selutut kini sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Kamu urus pertemuan kita dengan perusahan F Corp," kata pria itu.
Membuat wanita yang diajak berbicara langsung tersenyum senang, apalagi saat tahu bahwa pemimpin F Corp, adalah mantan kekasihnya yang sampai saat ini belum dia bisa lupakan, bahkan wanita itu menganggap jika hubungan mereka masih berjalan, mengingat tidak ada kata putus diantara mereka. Wanita itu memang merasa bersalah karena dulu meninggalkan pria yang dicintainya itu, karena saat itu keluarganya harus pindah ke luar kota, dan dia pun harus ikut dengan orang tuanya. Dan kini wanita itu kembali, ingin memperbaiki kesalahannya dan melanjutkan hubungan yang pernah terputus, setelah sebelas tahun lamanya.
"Jessica apa kau mendengarkanku?" Ucap pria itu karena tidak mendengar tanggapan sekretarisnya.
"Iya Pak, saya akan urus secepatnya," jawab wanita yang bernama Jessica.
"Baiklah, kau bisa kembali ke ruanganmu!" Ucap pria yang diyakini bos Jessica.
Jessica pun menunduk hormat dan pamit undur diri dari hadapan pria itu menuju meja kerjanya.
"Davian tunggu aku! Aku pasti akan bisa mendapatkan hatimu lagi," ujar Jessica yakin dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪