NovelToon NovelToon
Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa

Status: tamat
Genre:Petualangan / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Jogja jadi pilihan Seti setelah kelulusan SMAnya bersama Joe, dan Asri. Hening memilih Jakarta. Lalu Bening dan Joko menikah. Sementara Seto masih dengan pelayarannya. Terlintas persinggungan cerita-cerita hidup yang melintas dan membekas di benak Seti. Seperti roda pedati. Waktu terus berputar, dan Seti masih dengan kedekatan Joe, Asri, dan Hening. Bersama mereka cerita itu terus mengalir...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Jakarta

Masih kebingungan memilah-milah lukisan yang akan diserahkan untuk seleksi pameran kampusnya, Hening mondar mandir di kamar kost-nya.

Membaca literasi tentang kritik sosial yang dijadikan tema pameran membuatnya bolak balik memelototi koleksi lukisan lamanya yang dibawanya dari rumah jengki.

Berkali-kali lukisan pertarungan ayam jago wiring kuning-nya dipisahkan.

Tetapi setiap kali mengamatinya, masih ada sedikit keraguan untuk mengikutkannya dalam seleksi kampusnya yang tinggal beberapa minggu lagi.

Lukisan itu mengalir begitu saja dari pikirannya .... Tentang pertarungan si kuat melindungi si lemah .... Cerita awal yang tak akan mudah begitu saja dilewatkannya.

Cerita yang selalu mengingatkan sosok laki-laki muda yang telah melindungi dirinya, dan Bening kakaknya ....

Suara ketukan pintu depan membuyarkan alas narasi tema cerita lukisan yang sedang disusunnya.

Pak pos yang sudah dihapalnya terlihat di pagar depan, menyerahkan sepucuk surat dari Jogja setelah dihampirinya.

Surat-surat yang rutin diterimanya itu seperti kucuran air yang menyiram kuncup bunga di hatinya.

Menjaganya tak layu di tengah kesibukan panas Jakarta.

Tak mau berlama dengan keingin tahuan isinya, Hening beringsut menenteng surat itu ke kamarnya.              

...***...

Berharap dirinya baik-baik saja di Jakarta, Seti menanyakan pameran pertama yang akan coba diikuti Hening.

Tentu saja keseruan Jogja diceritakan Seti dalam runtutan paragraf-paragraf suratnya.

Tentang kesibukan kampus, tentang kost Samirono, tentang keseruan lapak Malioboro, tentang Joe, dan lalu tentang kost Mantrijeron yang mulai menyinggung Asri ternarasi beraturan.

Rencana Joe ke Jakarta jika lukisannya lolos seleksi pameran juga diungkapkan Seti.

Tulisan tangan Seti di surat memabuk-kan Hening .... Seperti candu tatapan laki-laki yang terbingkai di atas meja belajarnya.

Foto laki-laki yang selalu mengingatkan kedekatannya dulu di SMA dan rumah jengki.

Jika saja Jakarta Jogja hanya sepelangkahan kaki, ... saat itu juga dirinya pasti akan melangkahkan kaki menemui laki-laki itu untuk melampiaskan ruang rindunya.

Memang ada sedikit rasa ingin tahu di hati Hening ketika Seti menyinggung Asri di surat itu. Teringat kata-kata Bening kakaknya menjelang kepergiannya ke Jakarta, rasa itu tak terlalu merisaukannya lagi.

Toh Seti sudah berjanji untuk mengatakan langsung kepada dirinya jika tiba saatnya memilah sebuah pilihan yang lebih dewasa tentang hubungan laki-laki dan perempuan.

Kewanitaan Hening merasakan Seti sudah menjatuhkan pilihan .... Dan dirinya-pun sudah bersiap untuk tidak terjerambab dalam kepatah hatian asmara berkepanjangan seperti Bening kakaknya yang bisa berdamai dengan masa lalunya.

...***...

Makan siang di jam yang sama butuh kesabaran untuk mengisi perut yang lapar.

Warteg di sepanjang jalan Kali Pasir seperti biasanya ramai di jam makan siang penuh oleh rombongan Anak IKJ yang kost di sekitarnya.

Menengok kanan kiri, Hening masuk ke salah satu warteg yang sudah tidak terlalu berjubel bersama seorang teman kampusnya di siang panas agak berdebu itu.

Memesan nasi sayur ikan dan segelas es teh, kedua perempuan itu duduk berhadapan di dekat pintu masuk.

Duduk disitu setidaknya mengurangi rasa pengap di warung sempit itu .... Dan tentu saja melupakan surat Seti yang baru dibaca Hening.

"Selamat ya Hen, lukisanmu lolos." Obrolan pameran yang akan dibuka terlontar di meja itu saat makan. 

"Makasih Yun. Lukisanmu juga lolos."

Hening menanggapi Yuni teman kampusnya yang datang ke kost dan mengajaknya makan siang setelah pengumuman seleksi lukisan pameran di kampus mereka.

Yuni tinggal di Ancol. Bapaknya seniman lukis di sana.

Sejak masuk IKJ bareng Hening, keduanya akrab setelah perploncoan dan kebetulan sama-sama di kelas seni rupa.

Jika Hening masih menyempatkan memoles kecantikannya dengan pulasan bedak dan lipstik tipis ketika jalan ke luar, Yuni sebaliknya .... Tetap terlihat cantik dengan dandanan yang seadanya.

"Kamu sengaja buat lukisan itu untuk seleksi ?" tanya Yuni.

"Sudah lama sih kubuat .... Iseng saja kupilih. Tak kusangka lolos," jawab Hening.

"Punyaku seminggu yang lalu kubuat .... Tiba-tiba saja melintas saat kulihat teman Bapak datang ke sanggar meminta makan."

Yuni menceritakan lukisan laki-laki tua kurus berkaos putih yang sedang makan di atas piring seng yang akan diikut

"Tapi kena banget menurutku," Hening mengomentari lukisan Yuni." Urban, ..." lanjutnya lagi.

Yuni tertawa. "Begitulah pasar seni Bapak sehari-hari .... Senimannya lebih memilih membeli cat minyak atau kanvas daripada buat beli makan."

Pasar seni mengalihkan topik obrolan keduanya di sela makan siang.

Tentang pelitnya teman Bapak Yuni untuk urusan makan, sampai antrian panjang di hari Minggu memesan lukisan wajah.

Ajakan Yuni yang menyuruh Hening main sanggar bapaknya jika kesibukan kuliah mereka berkurang menambah keseruan obrolan.

...***...

Kipas angin yang berputar menambah kesejukkan kamar yang sudah terbuka lebar.

Hening dan Yuni mengeluarkan satu-satu lukisan yang ada dari dalam kamar itu, lalu memindahkan ke loteng atas dengan hati-hati.

Setelah makan siang tadi, Yuni singgah lagi ke Kali Pasir rumah kost Hening untuk membantunya membersihkan kamar dari tumpukan koleksi lukisan. 

"Banyak juga lukisanmu. Pajang saja di sanggar Bapak. Siapa tahu laku."

Yuni mengingatkan ajakannya tadi dan menghitung lukisan yang sudah tertumpuk rapi di loteng

"Nantilah .... Siapa tahu masih kubutuhkan jika ada pameran lagi." Hening menutup tumpukan lukisan itu dengan sprei lalu menaruh bungkusan silica gell dan kapur barus di sela-sela kayu penopang lukisan.

"Benar juga katamu. Aku malah tidak punya koleksi sama sekali. Kebanyakan pesanan orang."

Seperti bapaknya, melukis bagi Yuni adalah untuk mencari uang. Tak heran lukisan wajah menjadi hobi sekaligus profesinya.

Dari SMA, lukisan wajah yang dibuat Yuni sudah lumayan menghasilkan. 

Turun dari loteng, pandangan Yuni tertarik dengan foto laki-laki di atas meja belajar Hening.

"Pacarmu Hen ?" Yuni menunjuk foto itu.

"Hahaha, ... entahlah, ... kami dekat saja.

Wajah Hening terasa panas mendengar pertanyaan Yuni.

"Kalau bukan pacar kenapa kamu pajang ? Pasti dia lebih dari teman dekatlah ...."

"Bener Yun, kami cuma berteman dekat .... Dia baik banget sama aku dan kakak-ku."

Yuni lalu menyimak cerita Hening tentang Seti .... Obrolan koleksi lukisan kini beralih ke laki-laki yang diharapkan masing-masing.

Ada tawa kegembiraan di situ tentang perbedaan sudut pandang laki-laki yang bisa menarik hati masing-masing.

Yuni seperti anak muda Jakarta .... di balik celana jeans robek, berkaos oblong, tato mawar kecil di tangan putihnya dan penampilan cuek-nya tetap saja tak menyembunyikan kecantikannya.

Masih tentang laki-laki .... Enteng saja Yuni bercerita tentang dua kali pacarannya yang bubar. Tertawa bangga bahwa dialah yang memutuskan hubungan itu.

"Aku sih gampang .... Cowok bikin mumet kuputus saja."

Yuni lalu menyalakan rokok yang diambilnya dari tas kulitnya. " Rokok Hen ?" ujarnya sambil menawarkan sebatang rokok ke arah Hening.

"Enak ?" Sedikit ragu, Hening mau juga menerima tawaran rokok itu.

"Coba saja."

Tertarik tawaran Yuni, diambilnya sebatang. "Kok kayak permen ya," kata Hening setelah mencoba menghisapnya.

Yuni tertawa. "Hahaha, ...iya, ... itu rokok menthol, ... rokok perempuan."

Sejak SMP setelah ibunya meninggal Yuni mengenal rokok. Suatu saat bapaknya pernah memergokinya merokok di kamar. Tapi Bapak tidak marah. Hanya menyuruhnya untuk tidak merokok diam-diam dan di sekolah.

Bapak Yuni dulu kuliah di Asri Jogja. Tapi tidak diselesaikannya. Lalu pindah ke Jakarta menjual lukisan wajah dan menetap di pasar seni setelah menikah.

"Jadi sekarang kamu gak pacaran Yun ?"

Kali ini Hening ingin tahu tentang kedekatan Yuni dengan laki-laki.

"Gak ... males aja .... Mending kayak gini. Gak ada yang nglarang dan ngatur ini itu ... Aku bebas, ...hahaha .... " Yuni tertawa lebar. "Tapi temenmu di foto itu boleh juga Hen ...." lanjutnya sambil terkekeh lagi dan mengembalikan pembicaraan pada sosok yang ada di foto meja belajar Hening.

Tidak ada yang lebih menyenangkan jika dalam kesendirian ada yang menemani kekosongan hati.

Keluh kesah Jakarta tidak harus melulu diratapi. Mengoloknya menjadi terasa menyenangkan. Hening dan Yuni kini merasa tidak sendiri lagi dalam urusan laki-laki.

...***...

                 

1
Dhatu Lukita
🌹🌹🫰🫰
Dhatu Lukita
🌹
Dhatu Lukita
gara2 kulino dilarani aku wis ra percoyo karo sing jenenge 'tresno'🤭
Wawan: Ahahaha .... what is the name
total 1 replies
Nawadipta
baru tau🙃
Nawadipta
mitos efektif melindungi pohon 🤣 manusia generasi baru memang gak ada takut-takutnya... 😂
Dhatu Lukita
🌹🫰🫰🫰🫣
Dhatu Lukita
di pikiranku malah tergambar "mengonsumsi kecubung" bukan jamur😄,
koyoe podo halusinasi ne 😄
Wawan: Yups ... bedanya kecubung gak dijual... tinggal petik karena gak perlu diolah 🤭✍️
total 1 replies
Nawadipta
makin kecil porsi makin mewah loh 😂 ta kira karena banyak kucing liar buat di elus. pecinta kucing kecewa 😽
Wawan: Lets go angkringan... miyong rice 🤣🤭
total 1 replies
Nawadipta
mitos populer nih, cukup di bantu tongkat (buta kan) bisa tuh. kalau gak indra arah hilang sama gampang jatoh, bukan di ganggu makhluk halus ya 🤣🤣
Wawan: Setan kok... bener loh 🤭🤣
total 1 replies
Nawadipta
rindu nilai rupiah dulu 🤣
Wawan: Pokoknya wesel sebulan empatpuluh ribu tuh dah kayak sultan 🤭
total 1 replies
Dhatu Lukita
🌹buatmu
Dhatu Lukita
nihh 🌹🫰
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Dhatu Lukita
mawar untukmu biar semangat💪💪💪
Dhatu Lukita
juga mengingatkanku 2010 lalu🤭. haiisshhhh
Wawan: Apa tuh ... 🤭🤭🤭
total 1 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Keren deh💪👍
SANG
Semangat👍💪
SANG
Di rumah👍💪
SANG: Oke bro💪👍
total 2 replies
SANG
Kanjut👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!