NovelToon NovelToon
BUNGA TANPA MAHKOTA

BUNGA TANPA MAHKOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Pengganti
Popularitas:59.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.

Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.

Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.

Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam kelulusan sekolah

Aku menjatuhkan kepala di atas meja, menguap beberapa kali, lamat-lamat mataku mulai terpejam, tidur jam 3 pagi dan dibangunkan Mak Eva pukul 4 membuatku kurang tidur dan sangat mengantuk saat berangkat sekolah.

"Selamat, pagi, my angel,"

Sontak aku membuka kedua mataku lebar, mengangkat kepala dan mendapati Arshaka ada di di sampingku, hampir saja bibir kami bertemu andai aku tak berhenti.

Senyum manis Arshaka mengembang, dia datang, membisikkan ucapan selamat pagi tepat di telingaku dan menyebutku dengan my angel.

"Arshaka?"

"Merindukanku?" tanyanya saat menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di bangkunya yang bersebelahan denganku.

"Tidak," jawabku ketus, padahal aku sangat senang Arshaka datang.

"Bohong, kau bahkan menghubungiku semalam, dan Kak Bara yang mengangkatnya."

"Kakak?" tanyaku terkejut mendengar ucapan Arshaka.

"He em, apa saja yang kalian bicarakan?" tanyanya sambil mengeluarkan sesuatu dari tas.

"Tidak ada, dia sangat ketus dan galak, membentakku, menyuruhku untuk cepat tidur, aku bahkan memanggilnya Om, kupikir itu Papahmu."

"Usia kami memang terpaut cukup jauh, Kak Bara sudah berusia 30 tahun, terpaut 12 tahun dari usiaku,"

"Ya Tuhan,,,, pantas saja jika suaranya sudah seperti Om Om."

terdengar tawa kecil dari Arshaka menanggapi ucapanku.

"Jangan salah, dia pria dewasa yang sangat tampan, hampir semua gadis desa menginginkannya untuk dijadikan suami, kau tahu? Dia mendapat lamaran beberapa kali yang ia tolak mentah-mentah,"

"Berhenti membicarakannya, aku tidak peduli,"

Sepertinya Arshaka sangat membanggakan kakaknya itu, dan aku tidak mau tahu. Aku cukup senang Arshaka datang.

"Sini," dia menarik tanganku.

"Apa?" tanyaku kaget.

Arshaka memakaikan sebuah gelang di pergelangan tanganku. Warnanya putih dengan hiasan seperti kristal Yeng berbentuk hati.

"Aku mengingatmu saat melihat ini di sana, terima ya?"

Kuamati gelang pemberian Arshaka, cantik.

"Suka?" tanyanya. Aku mengangguk sungkan sebagai jawaban.

"Aku cinta sama kamu, Ca."

Pandangan kami saling bertemu dan mengunci, bahkan aku baru menyadari cara bicaranya padaku berbeda, begitupun aku yang menanggapinya, aku, kamu, kemana sebutan lo gue di antara kami kemarin?

Kedatangan Bu Wati membuyarkan kami, aku membenarkan posisi duduk, tegak menghadap ke depan, begitu pun dengan Arshaka, pelajaran dimulai.

Awalnya semua berjalan baik, sampai rasa kantuk yang teramat berat kembali menyerangku, beberapa kali aku mengalami Microsleep, gerakan akibat terlalu mengantuk dan tidur singkat dalam posisi duduk, hingga kepalaku mengangguk-angguk, kembali tersadar dengan kadar 0,1% lalu kembali mengangguk lagi sambil tidur. Hingga kurasakan wajahku menabrak sesuatu, sesuatu yang lembut, hangat, harum, dan,,,,

Kedua mataku sontak terbuka, aku mendongak, mendapati kepala Arshaka yang sudah ada di atas mejaku sambil tersenyum manis penuh Arti.

"Arshaka?" teriakku kesal karena tanpa sengaja dengan kata lain aku mencium pipinya.

'DAMN!'

Aku lupa jika kami masih di dalam kelas dan jam pelajaran tengah berlangsung, Arshaka memejamkan kedua matanya mengernyit saat aku meneriakkan namanya.

"Yaressa, ada apa?" tanya Bu Wati yang juga menarik perhatian teman satu kelas ke arah kami karena teriakanku.

"Arshaka, Bu!" aduku spontan.

Bodoh, memangnya apa yang akan aku katakan? Aku yang ketiduran dan mencium Arshaka, begitu? Aku menutup mulutku sendiri dengan kedua tangan.

"Ada apa dengan Arshaka? Arshaka?" tanya Bu Wati berpindah pada Arshaka yang perlahan mendongak sambil menampakkan senyum cengir kuda.

"Pena saya jatuh, Bu. Saya tidak sengaja menginjak kaki Eca saat mengambilnya tadi."

Great, Arshaka adalah pembohong terbaik. Screenshoot.

***

Aku dan Arshaka berada di perpustakaan, duduk di pojokan yang terhalang oleh rak buku besar tinggi menjulang, bukan sekedar belajar, tapi kami juga butuh tempat untuk berduaan, yah, aku sudah menerimanya sebagai pacar, kami jadian.

Arshaka adalah cinta pertamaku, pacar pertamaku yang kuharapkan akan menjadi jodohku, semoga hubungan dan cinta kami terjaga.

Bagas dan Firman? Mereka terkesan menjauhiku sekarang, aku bisa merasakannya, mendengar kabar kami berpacaran, membuat mereka enggan untuk dekat lagi atau sekedar mengajakku bicara, mungkin mereka kecewa karena aku tak mendengarkan nasehat yang mereka berikan.

"Arshaka, hentikan!" bisikku lirih.

Tangan Arshaka sangat nakal, ia terus mengelus lututku dan sesekali menyentuh paha atasku, bahkan bergerak naik andai tak segera kucegah.

"Kau tahu, dalam ilmu biologi ini disebut apa? Ketika adanya perubahan aliran darah dalam punyaku, saraf membuat pembuluh darah di dalam sana melebar, aliran darah yang masuk akan lebih banyak dibandingkan yang keluar dari jaringan, mengakibatkan jaringan korpus kavernosum mengeras." bisik Arshaka panjang lebar yang intinya hanyalah satu, dia sa.nge.

"Arshaka, diam. Hentikan tanganmu," aku menepisnya kasar. Arshaka mendengkus kesal, menarik tangannya dari pahaku dan bersedekap dada.

"Sudah satu bulan kita pacaran, tapi sekalipun kita bahkan belum pernah ciuman, apa kau tidak mencintaiku?" keluh Arshaka.

"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu," jawabku tanpa menoleh padanya.

"Okay, seperti lirik lagu." sahutnya membuatku terkikik pelan.

"Tapi bukan berarti kita harus ini itu, lagi pula, sekarang kita sedang mempersiapkan diri buat ujian, kamu berhenti deh mikir nge.res, mending kamu konsentrasi belajar."

Arshaka berdiri, melenggang pergi meninggalkanku.

"Arshaka!"

"Sssttt,,,,!"

Aku melirik sekeliling, beberapa teman yang juga berada di dalam ruang perpus merasa terganggu karena aku.

Skip.

***

Hari demi hari kami lalui sedikit tegang dan terasa adanya tekanan. Ujian berlangsung selama beberapa hari, Dan selama itu aku dan Arshaka memutuskan untuk tidak bertemu, kami harus berkonsentrasi dengan ujian.

Setelah libur beberapa hari, pihak sekolah mengumumkan kelulusan kami, kami semua dinyatakan lulus dengan nilai baik. Sorak sorai terdengar menggema di seluruh penjuru sekolah menyambut kabar gembira ini.

Dan acara malam perpisahan berlangsung khidmat dan meriah. Inilah yang kutunggu-tunggu, pengumuman Siswa-Siswi terbaik, yang jatuh pada diriku sebagai bintang sekolah, menggeser posisi Arshaka.

"Ananda Yaressa Hermawan, atas wali Bapak Nasir Sudirman."

Tepuk tangan riuh bergemuruh menyambut namaku yang disebut untuk naik ke atas panggung menerima piala dan hadiah berupa beasiswa untuk melanjutkan kuliah, meski njlainya tak seberapa tapi itu sangat berarti bagiku, apalagi aku bisa membanggakan Lek Nasir dan Mak Eva yang bertepuk tangan sangat antusias di kursi mereka, kulihat Lek Nasir bahkan menitikkan air mata dan buru-buru dia menyekanya, mengacungkan jari jempol beberapa kali ke arahku, seolah mengatakan, 'Hebat kamu, Nak, kami bangga padamu.'

Namun, Arshaka? Di mana dia? Tadi aku melihatnya ada di tengah kumpulan para wisudawan teman sekelas kami, tapi sekarang bangku itu kosong, Arshaka tidak ada.

Acara usai saat pukul 12 malam, kami semua pulang dan tak henti-hentinya Lek Nasir yang menggendong Aldy -yang sudah tertidur- terus menyerukan namaku dengan bangga.

"Kau dengar itu, Mak? Ananda Yaressa Hermawan, atas wali Bapak Nasir Sudirman,,,," Lek Nasir mengulang terus kalimat pembawa acara yang menyerukan namaku dengan penuh kebanggaan.

Aku sangat senang, melihat Lek Nasir yang bahagia atas prestasiku, tapi Arshaka? Di mana dia? Semua teman mengucapkan selamat padaku, termasuk Bagas dan Firman, namun Arshaka,? Dia malah menghilang sebelum acara usai.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam menjelang pagi, aku tak bisa tidur, Arshaka tak menerima panggilanku, tak membalas pesanku, ada apa? Kenapa dengannya? Hingga panggilan yang entah sudah ke berapa puluh kali, dan dia akhirnya menjawabnya.

"Apa? Kau juga ingin menertawakanku? Hah,,,, ya,,,, selamat atas prestasimu, pacarku sayang, kau berhasil menjadi bintang sekolah, menjadikanku seorang pecundang yang terkalahkan."

"Arshaka? Kau kenapa? Kau,,,, mabuk?" tanyaku panik.

"Aaahh,,,, apa pedulimu? Kau begitu berambisi untuk mengalahkanku, membuatku dipandang rendah oleh keluargaku, apa kau senang sekarang, Yaressa?"

"Arshaka, apa maksudmu?"

"Aku membencimu, Yaressa! Aku membencimu!" teriak Arshaka penuh rasa kecewa, mencubit hatiku yang merasa kecewa atas ucapannya.

"Arshaka, kamu di mana?"

"Kenapa? Lo mau nertawain gue, hah?"

"Arshaka, please! Jangan seperti ini." tangisku mulai luruh, disalahkan Arshaka dan dibentaknya membuat hati kecilku terasa sakit, selain itu, aku juga khawatir dengan keadaan Arshaka sekarang, jelas jika dirinya tidak sedang baik-baik saja.

"Arshaka, kamu di mana? Pulanglah."

"Untuk apa aku pulang? Jika namaku tak dapat kusandingkan dengan nama kak Bara? Dan itu semua karena kau, kau yang salah, Yaressa."

Aku tak begitu mengerti apa yang Arshaka katakan, dan aku tak peduli, aku lebih mengkhawatirkan keadaannya sekarang, kualihkan panggilan menjadi video, Arshaka menerimanya, dia nampak kacau dengan wajah merah nan basah karena peluh, rambutnya yang acak-acakan, dan matanya hanya terbuka sipit, Arshaka mabuk.

Gedung itu, adalah bangunan kosong tidak jauh dari sekolahan, aku bisa mengenali tempat itu dari beberapa coretan karya anak-anak di dindingnya yang kusam. Beberapa kali aku melihatnya saat melewatinya.

Kumatikan sambungan telepon dan keluar dari rumah tanpa meminta izin Lek Nasir maupun Mak Eva.

Dalam pikiranku saat ini hanyalah, aku mengkhawatirkan Arshaka, dia tidak baik-baik saja, dan itu karena aku.

***

1
Nona Aan Chayank
sedih banget jadi Yaressa. 😥
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
Teguh Sayangnya
lanjut
Atik Nurdiana
ayo dong kak up lagi,,jgn lama"
Sue ciutt..
Bila sambungan ceritanya...
Frida Fairull Azmii
semoga author nya dalam keadaan sehat dan karena Lg sibuk yaa...
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
Erlin Novianti Ahmad
3bln..nggk up.. up... digantung trs.. smoga authornya sehat selalu jd bsa berkarya lagi... aamiin...
andima
apa thor nya sakit yaa
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
andima: iyaa
kan kesel yaaa , udah terlanjur gini
setengah jalan
paling ngga kasih lha pnjelasan ke qta2
total 2 replies
Ridha Anugrah
Ayo dong Thor up lagi ceritanya😭😭😭😭😭😭
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln nih..
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln night..
Ridha Anugrah
ayo dong lanjut lagi Thor lagi seru-serunya nihh
Mohammad Badrul
baik
Mohammad Badrul
lanjutan
Mohammad Badrul
lanjutan donk
Emelia Franciska Silalahi
aduhhhh.....digantung
Nona Aan Chayank
kenapa gk dilanjutkan up ya??
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,
Emelia Franciska Silalahi
yachh...digantung..
Emelia Franciska Silalahi
lama menunggu tak kunjung up..
Emelia Franciska Silalahi
udah ga up lg yach thor
Emelia Franciska Silalahi
belom up ya thor...ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!