Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Rizky melangkah masuk ke dalam gerbong pertama Kereta Tambang Anti Gravitasi yang pintunya terbuka secara otomatis.
Srek.
Siska menyusul di belakangnya dengan langkah ragu-ragu sambil berpegangan pada pinggiran pintu masuk.
"Bos, apa kereta terbang ini benar-benar aman dan tidak akan jatuh menabrak batu di bawah sana?" tanya Siska sambil duduk di kursi kulit tebal yang sangat empuk.
"Teknologi magnetik ini jauh lebih aman daripada angkot berkarat yang sering kamu naiki ke pasar Siska," jawab Rizky santai sambil ikut duduk di sebelahnya.
Rizky melihat sebuah panel layar sentuh kecil yang menyala di dekat sandaran tangannya.
Dia menekan tombol hijau berlogo panah maju di layar tersebut tanpa ragu sedikit pun.
Tit.
Wunggg.
Suara dengungan halus dari mesin magnetik di bawah gerbong terdengar semakin jelas menyapa telinga mereka.
Kereta berwarna perak itu perlahan bergerak maju meluncur dengan sangat mulus tanpa ada guncangan sama sekali.
"Astaga Bos, rasanya seperti sedang duduk di atas awan, benar-benar tidak ada getaran roda besi sama sekali!" teriak Siska takjub sambil memegang pinggiran jendelanya.
Kereta itu melayang stabil di atas rel bercahaya biru yang melingkari seluruh area lembah bawah tanah.
Pemandangan dari dalam jendela kaca besar itu terlihat sangat luar biasa memanjakan mata.
Mereka bisa melihat hamparan atap rumah batu kuno yang berjejer rapi disinari oleh cahaya putih dari menara kristal di tengah alun-alun.
Jamur-jamur raksasa bercahaya di dinding tebing juga terlihat sangat jelas saat kereta melaju melewatinya.
Wusss.
"Ini benar-benar luar biasa Bos, kita bisa berkeliling kota bawah tanah ini tanpa perlu capek berjalan kaki seharian penuh," puji Siska dengan mata berbinar-binar.
"Kecepatan kereta ini juga bisa diatur dari panel kendali, jadi pengunjung bisa menikmati pemandangan dengan santai," jelas Rizky menunjuk layar di sebelahnya.
"Aku yakin Tuan Richard dari Singapura itu akan menangis darah kalau melihat wahana futuristik kita ini Bos," tawa Siska meledak membayangkan wajah musuh baru mereka.
Hahaha.
"Biarkan saja orang tua sombong itu membuang uangnya untuk membangun taman hiburan plastik di atas sana Siska," balas Rizky tersenyum miring.
"Kita akan menyajikan petualangan sejarah nyata yang dipadukan dengan keajaiban teknologi masa depan."
Setelah berkeliling satu putaran penuh yang memakan waktu sekitar lima belas menit, kereta itu kembali berhenti mulus di stasiun kayu semula.
Cittt.
Pintu gerbong terbuka dan Rizky melangkah keluar disusul oleh manajernya yang masih terlihat sangat kegirangan.
"Sekarang kita tinggal menyusun rute jalan kaki dari gerbang utama menuju stasiun ini agar pengunjung tidak tersesat nanti," ucap Rizky mulai merencanakan alur pengunjung.
"Siap Bos, aku akan membuat papan petunjuk arah bergaya kayu kuno agar sesuai dengan tema tempat ini," lapor Siska dengan penuh semangat kerja.
Di saat Rizky dan Siska sedang sibuk mempersiapkan atraksi baru mereka, sebuah pertemuan rahasia sedang berlangsung di desa bawah.
Sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir di depan balai desa yang bangunannya sudah cukup tua dan kusam.
Di dalam ruang kepala desa, Richard duduk menyilangkan kakinya dengan sangat angkuh di atas kursi tamu berbahan rotan.
Kepala Desa Karyo, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan kumis tebal, duduk di depannya dengan postur membungkuk hormat.
"Selamat datang di desa kami yang sederhana ini Tuan Richard, sungguh sebuah kehormatan besar dikunjungi oleh pengusaha kelas dunia seperti Anda," sapa Karyo menjilat dengan senyum palsunya.
"Aku tidak suka berbasa-basi membuang waktuku yang berharga Kepala Desa Karyo," balas Richard dingin tanpa membalas senyuman pria itu.
Richard memberi isyarat kepada asisten pribadinya yang berdiri di samping pintu kayu ruangan tersebut.
Asisten itu berjalan maju membawa sebuah koper logam berwarna perak dan meletakkannya tepat di atas meja kayu di depan Karyo.
Brak.
Koper itu dibuka dan menampilkan tumpukan uang kertas pecahan seratus ribu rupiah yang masih sangat baru dan tersegel rapi oleh pita bank.
Mata Kepala Desa Karyo seketika melotot seolah ingin keluar dari kelopaknya melihat uang sebanyak itu di depan hidungnya sendiri.
Glek.
"Ini adalah uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah sebagai bentuk perkenalan dari Konsorsium Bintang Tujuh," ucap Richard dengan nada suara yang sangat merendahkan.
"Uang ini akan menjadi milik pribadimu sepenuhnya tanpa ada potongan pajak satu sen pun."
Karyo mengusap keringat dingin di dahinya dengan tangan yang bergetar hebat menahan godaan setan di depannya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membalas kemurahan hati Tuan Richard yang luar biasa ini?" tanya Karyo dengan suara serak karena keserakahan.
"Sangat mudah, aku hanya ingin kau menutup total jalan utama desa yang menjadi satu-satunya akses menuju Gunung Sumber Abadi," perintah Richard tersenyum licik.
Karyo sedikit mengerutkan keningnya karena jalan itu adalah jalan fasilitas umum milik pemerintah daerah.
"Menutup jalan umum secara tiba-tiba pasti akan memancing protes dari warga desa dan pengunjung wisata Tuan," alasan Karyo sedikit ragu karena takut jabatannya dicopot.
"Gunakan otakmu Karyo, buatlah alasan bahwa jalan itu sedang dalam proyek perbaikan pengaspalan jangka panjang yang memakan waktu berbulan-bulan," paksa Richard memberikan solusi licik.
"Letakkan palang beton dan portal besi di ujung jalan raya provinsi agar tidak ada satu pun mobil yang bisa lewat menuju gunung itu."
Richard mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam langsung ke mata Karyo.
"Jika kau berhasil mencekik tempat wisata milik pemuda bernama Rizky itu sampai mati bulan ini, aku akan memberimu lima ratus juta lagi bulan depan," tambah Richard memberikan janji manis.
Godaan satu miliar rupiah total itu langsung meruntuhkan sisa-sisa kewarasan dan integritas Karyo sebagai seorang pemimpin desa.
"Baik Tuan Richard, saya akan memerintahkan pemuda desa untuk memasang blokade beton di jalan raya depan siang ini juga!" janji Karyo memukul meja dengan semangat menggebu.
"Saya jamin tidak akan ada satu ekor semut pun yang bisa lewat menuju gunung pemuda sombong itu."